
Akhirnya Refan dan Kinan selesai juga belanja untuk masakan besok menyambut kedatangan teman - teman Refan yang diundang Refan untuk menghadiri makan malam bersama.
Saat mereka sudah selesai memasukkan belanjaan ke dalam bagasi mobil Kinan mengajak Refan lagi.
"Mas kesana yuk, aku mau minum es dawet" ajak Kinan.
"Di tempat seperti ini Nan. Gak mau ah, pasti jorok" sambut Refan.
"Ih siapa bilang jorok. Nggak lho Mas, tempatnya bersih" Kinan menarik tangan Refan.
Mereka berjalan masih di area pasar dan berhenti di gerobak es dawet.
"Pak es dawetnya dua ya" pinta Kinan.
"Eh Non Kinan, tumben di temenin biasanya sendiri?" tanya penjual es dawet.
"Iya Pak, lagi bisa di temenin. Kalau gak ya sendiri" jawab Kinan.
"Siapa Non, bukannya?" tanya penjual es dawet sambil sedikit berbisik tapi Refan bisa mendengar dengan jelas.
"Suami saya Pak" jawab Kinan langsung.
Refan tersenyum saat Kinan memperkenalkannya sebagai suami Kinan.
"Lho Non Kinan udah nikah lagi toh? Beruntung banget ya Non Kinan suaminya semua pada suka nemanin belanja. Yang dulu juga begitu" jawab penjual es dawet.
Jadi almarhum suami Kinan dulu sering temanin Kinan belanja ke pasar? Aku sepertinya harus sering - sering nih temani Kinan juga. Batin Refan.
"Alhamdulillah Pak, pada doyan makan jadi kalau mau aku masakin yang enak - enak harus mau donk temani aku belanja" balas Kinan sambil bercanda.
"Non Kinan ini memang istri yang baik. Udah solehah, cantik, pinter masak lagi. Gimana gak cepat dapat jodoh lagi. Banyak yang suka" puji penjual es dawet.
"Ah Bapak bisa aja" Kinan berbalik dan ikut duduk di samping Refan.
Refan memandang suasana di pasar tradisional ini. Ramai dengan para pengunjung yang ingin berbelanja.
"Kamu sering belanja ke sini?" tanya Refan.
"Lumayan sering Mas, kan rumah yang lama dekat ke sini" jawab Kinan.
"Bareng almarhum suami kamu?" tanya Refan lagi.
"Iya, Mas Bima sering temani aku belanja ke sini" jawab Kinan sambil tersenyum.
"Kapan - kapan kalau kamu mau belanja ke sini lagi ajak aku ya" ujar Refan.
"Serius Mas? Kamu gak kapok belanja ke sini? Kan kamu lebih suka belanja ke supermarket" balas Kinan.
"Awalnya aku memang gak suka. Karena aku pikir pasar tradisional itu jorok, becek dan kumuh. Tapi ternyata nggak kok. Pasar ini cukup bersih dan tertib" jawab Refan.
Kinan tersenyum mendengar penjelasan Refan.
"Syukur deh kalau kamu gak kapok. Bisa ke sini setiap minggu. Dulu aku dan almarhum Mas Bima kalau hari libur suka jalan pagi di taman sana" Kinan menunjuk sebuah taman yang terletak tak jauh dari pasar.
__ADS_1
"Setelah selesai olahraga baru kami belanja dan sarapan pagi di sini. Di sini ada soto medan yang enak lho" ujar Kinan.
"Oh ya? Kok kamu gak ajak aku ke sana?" tanya Refan.
"Kita kan udah sarapan tadi di rumah. Emangnya kamu masih lapar?" Kinan balik bertanya.
"Nggak juga sih" balas Refan.
"Besok - besok kan bisa Mas. Lain waktu nanti kita jalan pagi di taman itu baru setelah itu sarapan pagi di sini dan sebelum pulang kita belanja" ajak Kinan.
"Boleh" sambut Refan.
Tak lama penjual es dawet memberikan dua gelas es dawet untuk Kinan dan Refan.
"Ini Non, Mas minumnya" ujar penjual es dawet.
Refan dan Kinan menerima minuman yang dihidangkan dan meminumnya.
"Gimana Mas?" tanya Kinan.
"Enak" jawab Refan.
Refan langsung menyantap minumannya sampai habis.
"Mau tambah lagi?" tanya Kinan.
"Bungkus aja Nan. Sekalian untuk Salman, Bik Mar dan Bik Nah" jawab Refan.
"Pak pesan lagi lima tapi di bungkus aja. Gak usah pakai es Pak biar nanti di rumah aja di es-in" pinta Kinan.
Kinan menghabiskan minumannya. Tak lama penjual es dawet memberikan pesanan Kinan yang di bungkus.
"Betapa semua Pak?" tanya Refan.
"Tiga puluh lima ribu Mas" jawab penjual es dawet.
Refan menatap ke arah Kinan, Kinan hanya mengangguk sambil tersenyum. Refan segera membayar tagihan minum mereka.
"Kenapa kamu melihat aku seperti itu Mas?" tanya Kinan saat mereka sudah menjauh dari penjual es dawet.
"Esnya kok murah banget, kan rasanya enak gitu?" tanya Refan bingung.
Kinan tertawa mendengar pertanyaan Refan.
"Kan tadi waktu di rumah udah aku bilang. Kalau belanja di pasar itu lebih murah. Gak semua yang murah itu asal - asalan lho Mas rasanya. Kualitasnya juga bagus, kebersihannya juga terjaga" ungkap Kinan.
"Mungkin karena biaya sewa tempat jualannya lebih murah dan gak kena pajak kali ya makanya mereka bisa jual murah" sambung Refan.
"Bisa jadi Mas begitu tambah lagi kalau di supermarket itu kan namanya sudah terkenal. Makanya mahal" sambu Kinan.
"Kita pulang? Atau masih ada yang mau kamu beli lagi?" tanya Refan.
"Mau beli soto medannya gak untuk di bungkus buat makan siang kita. Udah kesiangan ini Mas. Aku sepertinya gak sempat masak. Gak apa - apa ya kalau gak masak?" pinta Kinan.
__ADS_1
"Ya sudah kita beli soto aja untuk makan siang" jawab Refan.
Kinan tersenyum membalas ucapan Refan.
"Yuk Mas kita ke sana" Kinan dan Refan berjalan menuju warung soto medan yang dimaksud Kinan.
Kinan memesan beberapa bungkus soto medan untuk dibawa pulang ke rumah. Ini akan menjadi menu makan siang mereka karena Kinan sudah capek belanja dan waktunya juga gak sempat untuk masak lagi.
Lagi - lagi sang penjual soto bertanya kepada Kinan.
"Siapa Mbak Kinan?" tanya penjual soto.
"Suami saya" jawab Kinan ramah.
"Mbak Kinan pinter banget ya cari suami. Suaminya semua ganteng dan baik - baik. Pada setia dan sabar temani Mbak Kinan belanja" puji penjual soto.
"Alhamdulillah Allah kasihnya yang begitu Bu" balas Kinan sambil tersenyum.
Refan hanya diam mendengarkan pembicaraan Kinan dengan penjual soto.
"Masnya dulu perjaka atau duda?" tanya wanita itu penasaran ingin tau, dia bertanya dengan suara berbisik.
"Duda anak satu Bu. Istri sebelumnya meninggal karena melahirkan" jawab Kinan memuaskan rasa ingin tahu wanita itu.
"Ooo.. gak apa - apa. Kan masih muda juga" sambung wanita itu.
"Soto aja ya bu gak usah pakai nasi. Saya pesan lima bungkus" Pinta Kinan.
"Baik Non, tunggu sebentar saya buatkan" sambut wanita itu.
Tak lama kemudian soto pesanan Kinan sudah selesai di bungkus. Refan berdiri dan mengeluarkan dompetnya.
"Berapa Nan?" tanya Refan.
"Tujuh puluh lima ribu Mas" jawab Kinan.
Lagi - lagi Refan melongo menatap Kinan. Dia pasti terkejut lagi mendengar harga sotonya. Kinan tersenyum menatap Refan dan mengangkat tangannya.
"Mana Mas uangnya? Kok malah bengong" pinta Kinan.
Refan segera membuka dompetnya dan memberikan selembar uang seratus ribu kepada Kinan. Setelah selesai membayar baru mereka kembali berjalan menuju mobil Refan.
"Kamu serius sotonya enak dengan harga segitu?" tanya Refan tak yakin.
"Haha... Mas ragu dengan rasa lidahku?" Kinan balik bertanya.
"Nggak sih, kamu juga kalau masak enak. Itu artinya selera lidah kamu udah terjamin" jawab Refan.
"Ya sudah kita lihat saja nanti di rumah. Kamu rasain sendiri sotonya enak atau nggak. Udah yuk kita pulang" ajak Kinan.
Refan segera menyalakan mobilnya dan melajukan mobil menuju arah pulang ke rumah mereka.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG