
"Jadi bagaimana kamu mengetahui keberadaan Kinan dan Salman dan sejak kapan kamu mulai mengikuti mereka?" tanya Pak Akarsana.
"Itu tidak sulit Pak, aku kan sempat bertemu dengan Bima terakhir kali sebelum dia kecelakaan. Bima mengatakan kalau dia bekerja dimana. Kemudian peristiwa kecelakaan Bima kan sempat viral di Bandung, aku mencari semua informasi tentang Kinan dan Salman" jawab Bimo.
"Jadi mengapa kamu datang sekarang bukan pada saat Bima baru saja meninggal?" selidik Pak Akarsana.
"Aku bersembunyi dari kejaran mereka Pak dan memastikan kalau mereka mengira aku memang sudah mati. Setelah satu tahun aku merasa aman baru aku keluar dari persembunyianku dan memberanikan diri untuk mencari Kinan dan Salman. Aku datang ke rumah Bima dan Kinan tapi mereka sudah tidak ada. Aku mencari informasi dari beberapa tetangga dimana Kinan bekerja dan mencari tau nomor ponselnya. Aku mengirim pesan kepada Kinan dan aku baru tahu mengapa Kinan pindah rumah ternyata dia sudah menikah lagi. Akhirnya aku datang ke kantor Kinan dan bertemu dia di sana" jawab Bimo.
"Lantas sekarang apa kamu sudah bebas dari kejaran mereka?" kali ini Refan yang bertanya.
"Sementara mereka masih mengira aku sudah mati. Aku gak tau apakah mereka tidak melihat berita atau bagaimana tapi satu tahun belakangan ini aku memang tidak di cari - cari lagi. Di tambah aku memang tidak menggunakan nama baruku. Aku kembali ke identitas lamaku" ungkap Bimo.
"Jadi apakah saat ini kita aman? Maksud Ibu.. Ibu hanya takut kehadiran kamu jadi... " ucap Bu Akarsana.
Bimo merangkul tubuh Ibunya dengan lemah lembut.
"Ibu jangan khawatir ya.. aku tidak akan menarik kalian dalam bahaya. Aku sudah mengumpulkan data - data mengenai kecelakaan Bima tapi harus Kinan yang menuntut mereka secara hukum. Karena Kinan adalah istrinya" ujar Bimo.
"Boleh setelah ini kita diskusi dengan pengacaraku? Langkah apa yang harus kita lakukan kedepannya. Ini kan demi keselamatan kita semua. Kalau sudah begini pasti bukan hanya keselamatan Kinan dan Salman saja yang harus kita jaga. Tapi keselamatan kita semua" ucap Refan.
"Boleh Fan silahkan saja. Aku akan memberikan semua bukti - bukti yang aku punya dan kita akan melaporkan semua ini bersama - sama" sambut Bimo.
Pelayanan datang dengan membawa semua pesanan makanan mereka dan menghidangkannya di hadapan mereka.
"Bapak dan Ibu datang bersama dengan Refan dan Kinan? kenapa munculnya belakangan?" tanya Bimo penasaran.
"Astaghfirullah Pak.. Belaaa. Kita melupakan bela" jawab Bu Akarsana.
"Iya.. sebentar aku hubungi Aril dulu ya Bu" sambut Refan.
__ADS_1
Refan segera mengirim pesan kepada Aril dan menyuruh Aril dan Bela masuk ke dalam Restoran.
Sementara di dalam mobil Aril.
"Dek Bela duduk di depan donk, Mas kok ngerasa jadi gak enak ngobrol seperti ini" ucap Aril sambil melihat Bela yang duduk di kursi belakang.
Karena Bela menghormati Aril yang sudah bersedia membantu keluarga mereka akhirnya Bela pindah duduk di samping Aril.
"Maafkan Mas Aril ya Bel udah mikir sembarangan. Mana salah lagi tebakannya. Mas malu banget" ucap Aril tulus.
Bela tersenyum karena merasa lucu dengan sikap Aril sebelumnya. Kok bisa - bisanya Aril berpikiran Bela adalah pembantu Bapak dan Ibunya.
"Hahaha.. gak apa - apa Mas. Aku gak ambil hati kok. Tapi aku malah heran kok bisa ya Mas Aril mikirnya aku ini pembantu?" tanya Bela penasaran.
"Maaf Bel. Saat Mas datang ke rumah kalian di Surabaya itu pertama kali Mas melihat kamu membawa nampan dan menghidangkan minuman untuk tamu. Mas sudah banyak bertemu relasi, biasanya yang menghidangkan makanan atau minuman di rumah mereka selalu asisten rumah tangganya. Jarang lho gadis sekarang maksud Mas anaknya tuan rumah yang memberikan hidangan untuk tamunya" jawab Aril membela diri.
"Oh pantas saja kamu yang hidangin minuman. Tapi kamu baik ya, zaman sekarang kan anak muda lebih cuek di rumah. Kerjanya hanya di kamar aja dengan segala kesibukannya dan malas keluar lagi" puji Aril.
"Mas kami di rumah hanya tinggal bertiga, kalau aku kerjanya hanya mengurung diri di kamar kasihan Bapak dan Ibu hidupnya kesepian" jawab Bela.
"Itulah bedanya tinggal di daerah dengan ibukota ya. Kalau di Ibukota hubungan keluarga sudah tidak sehangat keluarga yang masih tinggal di daerah. Keluarga di Ibukota semua pada sibuk bekerja dan sekolah. Paling antara orang tua dan anak - anak bertemunya di meja makan setelah itu mereka sibuk dengan urusannya masing-masing" ucap Aril.
"Bapak itu pria yang keras dan tertib Mas. Kalau makan itu harus bareng - bareng, shalat juga dan kami diajarkan untuk harus peduli dengan keadaan sekeliling. Itu aja bukan karena aku seorang wanita makanya bersikap seperti itu. Kalau dulu kakak - kakakku semua masih lengkap, seperti Kak Bimo dia paling sering mijitin kaki Ibu di ruang TV dan kami berkumpul dan berbincang - bincang bersama" jawab Bela.
"Keluarga kalian hangat ya, harmonis tapi maaf kok bisa Bimo jadi seperti itu?" tanya Aril.
"Semua berubah sejak Mas Bimo mengenal wanita itu. Mas Bimo jarang pulang kalau libur kuliah dan kalaupun dia pulang dia jadi jarang sekali beribadah bersama. Dia selalu pergi saat shalat maghrib dan Isya dan pulang hampir larut malam. Itulah awal - awal terjadinya peperangan di rumah antara Mas Bimo dan Bapak. Mas Bimo dan Bapak jadi sering terlibat perang mulut dan puncaknya saat Mas Bimo meminta izin menikah dengan pacarnya yang beragama non muslim. Bapak murka dan merasa gagal mendidik anaknya. Tapi Mas Bimo tidak mau mendengarkan perkataan Bapak dan Ibu walau mereka sudah melarang Mas Bimo dengan sangat keras. Seperti yang Mas Aril dengar dari cerita Bapak kemarin Mas Bimo memilih meninggalkan keluarga demi mengejar pacarnya dan ikut pulang ke kampung halaman pacarnya dan menikah di sana. Sejak saat itu kami hilang kontak, dia seperti hilang di telan bumi bahkan Bapak melarang kami untuk menyebut namanya dan membicarakan tentangnya saat di rumah. Rumah jadi semakin sepi, karena biasanya Mas Bimo yang selalu membuat suasana di rumah ramai. Kalau Mas Bima dia lebih serius dan lebih pendiam. Mas Bimo periang, usil dan suka bercanda" ungkap Bela.
"Oooh jadi begitu ceritanya" sambut Aril mengerti.
__ADS_1
Tiba - tiba ponsel Aril bergetar tanpa pesan masuk dan dia membukanya.
Refan
Ril keadaan aman. Kamu dan Bela udah bisa masuk ke Restoran dan kita makan bersama.
Aril
Oke bro.
Aril menutup ponselnya dan menyimpannya kembali ke dalam saku celananya.
"Ada apa Mas? Apa itu pesan dari Mas Refan?" tanya Bela penasaran.
"Iya Bel, Refan menyuruh kita masuk ke dalam Restoran dan makan bersama" jawab Aril.
"Ya sudah Mas, yuk kita turun" ajak Bela.
Mereka langsung keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam Restoran dan mencari meja yang dipesan atas nama Refan.
Tak lama kemudian mereka sampai di meja yang dituju. Saat melihat wajah Bimo, Bela berhenti dan diam terpaku.
"Maaaaas Bi.. mooooo" panggil Bela dengan mata yang berkaca - kaca menahan haru.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1