
"Di.. Dini masih menunggu kedatanganku Nit?" tanya Riko.
Anita tersenyum membalas tatapan Riko.
"Iya Mas, Dini masih menunggu kedatangan Mas Riko untuk berjuang mendapatkan restu Papa dan Mama" jawab Anita.
"Ta.. tapi gimana caranya Nit? Aku seperti mati langkah saat berhadapan dengan orang tua kamu. Karena apa yang mereka lakukan tujuannya adalah untuk kebaikan Dini" ungkap Riko.
"Terbaik bagi mereka belum tentu itu terbaik bagi Dini dan juga Allah Mas. Kalau Allah sudah berkata Mas adalah jodohnya Dini, pasti Papa dan Mama akan merestui hubungan kalian" balas Anita.
"Kali ini aku bingung Nit harus berbuat apa lagi" ucap Riko pasrah.
Anita tersenyum melihat sikap putus asa Riko. Lelaki playboy bisa kehilangan ide untuk mendekati wanita yang dia cintai. Anita sampai menyangsikan cerita kepiawaian Riko dalam menaklukkan hati banyak wanita.
Masak gak bisa meluluhkan hati kedua orang tuanya dan Dini, pikir Anita.
"Minggu depan kan Dini sudah berangkat ke Bandung Mas. Mas sudah bisa mulai datang ke rumah kami untuk mendekati Papa dan Mama. Mereka kan bisa menilai niat tulus Mas yang memang benar - benar serius pada Dini. Walau Dini tidak ada di rumah Mad tetap mau datang meminta restu mereka. Aku yakin cepat atau lambat prinsip kedua orang tuaku akan berubah Mas" ujar Anita meyakinkan.
Ada binar - binar harapan terpancar dari tatapan Riko. Walau harapan itu hanya kecil sekali tapi setidaknya Riko sudah mendapatkan cahaya untuk masa depannya.
"Baiklah Nit, aku akan melakukan apa yang kamu ucapkan tadi. Aku akan berjuang untuk mendapatkan restu kedua orang tua kamu. Tolong sampaikan pada Dini, aku tidak akan menyerah. Aku serius ingin menikah dengannya" tegas Riko penuh semangat.
Prok.. prok.. prok..
"Nah gitu donk semangat jangan putus asa dan patah semangat gitu, yang ada kamu akan tambah patah hati Ko. Berjuang aja dulu, perjuangan tidak akan mengkhianati hasil" ujar Romi.
Refan dan Kinan tersenyum menatap Riko. Mereka menunjukkan dukungan mereka kepada Riko.
"Aku akan sampaikan pesan kamu pada Dini Mas, selamat berjuang dan semoga istiqomah. Aku pribadi sangat mendukung niat baik Mas Riko. Pelan - pelan aku juga akan bantuin bilang ke Papa Mama" ungkap Anita.
"Terimakasih Nit, terimakasih banyak" ucap Riko.
"Naaah udah lebih tenang kan Bro... semangat" Romi merangkul bahu sahabatnya itu.
Sejak penolakan kedua orang tua Dini, Riko jadi lebih banyak diam dan mengasinhkan diri. Kini Romi mengerti mengapa Riko bertingkah seperti ini. Memang sangat sulit untuk benar - benar istiqomah di jalan yang baik.
Romi sendiri saja masih sering bulak balik terpleset. Kalau Riko targetnya sudah jelas sedangkan Romi sudah dua tahun dia penasaran dengan gadis bernama Cici yang dia temui dulu.
Tapi rasa penasarannya lambat laun memang sudah mulai hilang. Romi hanya pasrah dan berdoa kepada Allah semoga diberi pengganti yang lebih baik dari Cici.
Pelan - pelan Romi juga sudah mulai meninggalkan dunia malamnya. Apalagi para sahabatnya Riko dan Aril juga sudah jarang sekali ke diskotik. Mereka sudah mulai menemukan target bidadari surga mereka.
Sedangkan Romi merasa sepi kehilangan dua sahabat yang selalu asik di ajak havefun. Tapi semakin lama Romi memang menyadari apa yang mereka lakukan dulu salah dan dia juga sudah berjanji akan berubah.
__ADS_1
"Kita pulang yuk Nit, jam istirahat sudah selesai" ajak Kinan.
"Yuk Nan. Mas Riko, Mas Refan dan Mas Romi kami pamit ya" ucap Anita.
"Iya Nit. Hati - hati di jalan. Titip istriku tercinta ya" sambut Refan tersenyum lembut ke arah Kinan.
"Kalau aku titip salam sama Dini ya Nit. Tolong katakan padanya untuk bersabar. Aku akan berjuang" ucap Riko.
"Cie.... " goda Refan dan Romi.
"Aku kalau begitu titip salam sama Papa dan Mama kamu deh Nit" sambut Romi.
"Lho kok pada Papa dan Mamaku Mas?" tanya Anita bingung.
"Iya gak apa - apa. Titip salam Romi teman seperjuangannya Riko. Bilang sama Papa dan Mama kamu untuk segera menerima lamaran sahabat aku ini. Dia sudah sangat tidak sabar naik ke pelaminan" jawab Romi dengan senyum jahilnya.
"Ah Mas Romi ini ada - ada saja" balas Anita.
"Hahaha... Mas Romiii... Mas Romi... " sambut Kinan tertawa lebar.
"Bukan depan kita kumpul di rumah kami ya. Kami mau syukuran tujuh bulanan anak kami" pinta Refan.
"Waaah makan - makan nih" sambut Romi senang.
"InsyaAllah Mas kalau Dininya pulang ke Jakarta. Dia kan sudah mulai kerja di Bandung minggu depan" jawab Anita.
"Iya, kalau Dininya ke Jakarta aja" balas Riko.
"Ya sudah Nit cepetan balik" ajak Kinan.
Kinan dan Anita lebih dahulu keluar dari Restoran karena jam istirahat kantor mereka sudah hampir habis sedangkan Refan, Riko dan Romi masih santai di dalam Restoran.
"Gimana perasaan kamu setelah bertemu dengan Anita?" tanya Refan penasaran.
"Agak lega, ternyata Dini masih menungguku dan Anita juga mendukung niat kami" jawab Riko.
"Sabar Ko dan tetap semangat berjuang. Tiap - tiap orang memang beda - beda jalan hidupnya. Beda - beda cobaan dan masalah yang dihadapi. Tapi intinya tetap sama. Kita harus kuat, sabar dan semangat. Jangan mudah putus asa" pesan Refan.
"Benar tuh Fan, setuju banget" sambut Romi.
"Iya Fan, Rom. Makasih kalian sudah mau mendukungku penuh" balas Riko.
"Ya sudah bro balik ke kantor yuk. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku. Aku gak bisa pulang telat karena harus jemput Kinan nanti di kantornya" ajak Refan.
__ADS_1
Mereka bertiga melangkah meninggalkan Restoran menuju kantor Refan.
*****
Sore harinya sesuai dengan janji Reni dan Bimo, Reni akan menemani Bimo untuk menemui teman Reni seorang developer perumahan yang terletak tak jauh dari perumahan Refan.
Untuk memudahkan langkah mereka Bimo menawarkan untuk menjemput Reni ke kantor biar mobil Reni tinggal di kantor saja. Besok Bimo dengan senang hati akan mengantarkan Reni ke kantor.
Ponsel Reni bergetar tanda pesan masuk. Reni segera meraihnya dan membukanya.
Mas Bimo
Dek Reni, aku sudah di parkiran kantornya Dek Reni.
Reni
Baik Mas Bimo tunggu sebentar ya. Aku mau turun nih
Mas Bimo
Baik.
Reni segera membersihkan meja kemudian mematikan komputernya. Setelah itu Reni meraih tasnya dan berjalan keluar dari gedung kantornya menuju parkiran.
Reni melihat mobil Bimo sudah parkir tepat di depan pintu masuk. Dia mendekat dan masuk ke dalam mobil Bimo.
"Maaf ya Mas lama nunggunya" ucap Reni.
"Gak apa - apa Dek Reni. Lagian Mas juga belum lama kok nunggunya" jawab Bimo.
Reni memasang sabuk pengamannya.
"Sudah siap? Kita sudah bisa pergi sekarang?" tanya Bimo
"Sudah Mas" jawab Reni.
Bimo menjalankan mobilnya dan mulai melajukan mobilnya menuju pintu keluar. Sementara di loby kantor seorang pria melihat mobil Bimo pergi menjauh meninggalkan area gedung kantor.
"Bimo dan Reni pergi bareng? Ngapain mereka dan mau kemana?" tanyanya pelan.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG