Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 295


__ADS_3

"Pria tadi Papa kandungnya Naila?" tanya Bu Suci pada Kinan dengan suara pelan.


"Iya Ma, aku sangat takut sekali" jawab Kinan.


"Lebih baik si kembar kita gendong saja Nan, Mama takut dia berbuat sesuatu pada anak - anak ini" ujar Bu Suci.


Karena mendengar kekhawatiran mertuanya Kinan jadi ikutan khawatir. Dia segera menggendong Khansa sedangkan khalid di gendong Bu Suci.


"Lho kenapa anak - anak di gendong yank, Ma?" tanya Refan bingung.


"Kami takut Arga akan berbuat sesuatu pada anak - anak kita Mas" jawab Kinan.


"Sudah tidak apa - apa. Aku tadi melihat dia datang bersama istrinya.Aku yakin dia tidak akan berani ribut di sini karena dia pasti takut perselingkuhannya diketahui istrinya" ujar Refan.


Kinan dan Bu Suci bisa bernafas lega. Mereka melanjutkan langkah menuju ke ruang praktek dokter anak. Setelah selesai imunisasi si Kembar mereka kembali menuju mobil.


"Papa kita mau kemana setelah ini?" tanya Salman.


"Kita pulang saja ya sayang" jawab Refan.


"Biasanya kita makan di luar?" tanya Salman.


"Sayaaang lain kali ya.. Kalau kita mau makan di luar kita ajak Bik Mar dan Bik Nah, kasihan mereka tinggal di rumah" jawab Kinan.


Tak mungkin Kinan dan Refan menjelaskan kepada Salman bahwa mereka takut terjadi sesuatu dengan anak - anak mereka. Lagian Salman belum mengerti permasalahan Naila.


"Kamu mau makan apa rupanya?" tanya Refan lembut.


"Emangnya Papa mau beli?" tanya Salman dengan nada tidak semangat.


"Kita pesan drive thru ya" bujuk Refan.


"Asiiiiik... beli pizza ya Pa" pinta Salman.


Refan menyentuh kepala putranya dan membelainya lembut.


"Iya sayang.. " jawab Refan.


Refan segera melajukan mobilnya dan mampir di Pizza Hu* dan memesan dua kotak besar pizza untuk dibawa pulang.


"Papa es krim juga ya" pinta Salman.


"Ei kiiim... " teriak Naila.


"Naila juga mau es krim sayang" sahut Kinan.


"Ei kim Mam.. maaa" jawab Naila.


"Papa Naila mau es krim juga" ujar Kinan.


"Iya, sabar ya sayang" sahut Refan.


Refan juga memesan beberapa es krim untuk anak - anak dan keluarganya.

__ADS_1


"Banyak sekali pizzanya Fan, sayang kalau gak habis" ujar Bu Suci.


"Nanti panggil Reni, Bela dan Ela Ma. Siapa tau mereka mau juga" ujar Refan.


"Oh iya udah gimana kabar Ela dan Romi. Katanya kemarin mau ketemu sama Papa dan Mamanya Romi?" tanya Bu Suci.


"Udah ketemu Ma, tapi sepertinya Mamanya Romi gak setuju kalau Romi menikah dengan Ela" jawab Refan sambil menunggu pesanan mereka selesai.


"Lho kenapa? Ela kan baik, cantik juga, pintar dan solehah?" tanya Bu Suci bingung.


"Penilaian orang kan beda - beda Ma. Dan mungkin Mama Romi punya standar sendiri untuk mantu idaman kali" jawab Refan.


"Mau cari yang gimana sih, apa dia gak belajar dari rumah tangga kamu dulu" ujar Bu Suci.


"Maaa... Mama Romi kan gak tau apa - apa dengan masalah rumah tanggaku dulu" sambut Refan.


Bu Suci menarik nafas panjang.


"Baik menurut Romi belum tentu baik menurut Mamanya, Ma" ujar Kinan.


"Apa lagi sih yang mau di cari? Kalau dapat wanita glamor ya siap - siap tidak setia. Dia akan mencari pria yang lebih kaya. Di atas langit masih ada langit. Kalau tidak tau bersyukur pasti akan merasa kekurangan terus" ucap Bu Suci.


"Doakan saja yang terbaik untuk Romi dan Ela Ma" sambut Refan.


"Iya... semoga mereka bisa menikah" ujar Bu Suci.


"Aamiin..." sambut Refan dan Kinan.


Pesanan mereka sudah selesai, Refan menerimanya dan membayarnya. Setelah itu Refan melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah mereka.


"Assalamu'alaikum Fan" ucap suara dari seberang.


"Wa'alaikumsalam.. Ya Bim" Jawab Refan.


"Fan aku dapat informasi dari kenalanku di Labuhan Bajo. Polisi sudah menemukan tempat persembunyian orang yang sedang dicurigai menjadi penyebab kecelakaan Pak Reno. Polisi sedang menunggu dia lengah dan segera menangkapnya" lapor Bimo.


"Jadi bagaimana dengan kita Bim? Apa yang harus kita lakukan? Apakah kita langsung terbang ke Labuhan Bajo?" tanya Refan.


"Boleh.. " jawab Bimo.


"Lebih baik selama kita pergi Reni tinggal di rumah kami aja. Kan ada Mama dan Kinan yang bisa menemaninya" ujar Refan.


Bimo seperti sedang berpikir.


"Oke Fan, aku tanya Reni dulu. Kalau dia setuju aku jemput dia dulu ke rumah baru setelah itu kami ke rumah kalian" jawab Bimo.


"Sampai ketemu di rumah ya" balas Refan.


Refan menutup teleponnya.


"Papa mau pergi lagi?" tanya Salman.


"Iya sayang.. kamu jaga Mama dan adik - adik ya" pesan Refan.

__ADS_1


"Oke Papa" jawab Salman.


"Ada kabar dari sana Mas?" tanya Kinan penasaran.


Refan menarik nafas panjang.


"Iya, barusan Bimo di kabari dari kenalannya di Labuhan Bajo. Katanya pihak polisi sudah mengetahui alamat pelaku, kemungkinan hari ini polisi akan menangkapnya" jawab Refan.


"Jadi kamu kesana mau ngapain?" tanya Bu Suci khawatir.


"Aku dan Bimo mau mencari tau apa motif pelaku untuk mengejar Papa Reno dan mencari tau siapa dalang dibelakangnya" jawab Refan.


"Hati - hati ya Mas" pesan Kinan.


Tak lama kemudian Refan dan keluarganya sudah sampai di rumah mereka. Anak - anak diurus Bu Suci dengan dibantu oleh Bik Mar dan Bik Nah. Sedangkan Kinan menyiapkan barang - barang Refan yang akan dia bawa dan dia butuhkan selama di Labuhan Bajo.


"Berapa lama Mas disana?" tanya Kinan.


Refan memeluk lembut istrinya, sejak Naila tinggal bersama mereka kesibukan mereka bertambah karena anak mereka jadi empat orang sehingga quality time berdua mereka berkurang.


Ditambah lagi masalah Pak Reno yang menjadi beban pikiran mereka membuat mereka sudah lama tidak bermesra - mesraan. Sebelum pergi Refan ingin memeluk tubuh istrinya dari belakang dan mencium aroma khas tubuh Kinan.


"Aku belum tau pastinya berapa hari disana sayang. Mungkin sampai kami menemukan titik terang tentang permasalahan ini" jawab Refan.


"Aku takut Mas" ungkap Kinan.


"Aku sudah menambah keamanan rumah kita selama aku tidak ada di sini" ujar Refan.


"Bukan, bukan itu. Aku takut ada sesuatu dengan kamu. Aku dan anak - anak kita masih sangat membutuhkan kamu Mas" sambut Kinan.


Refan mencium Kinan tepat di leher membuat Kinan merasa geli.


"Jadi kalau kalian sudah tidak membutuhkanku baru aku boleh pergi. Cih.. kalian benar - benar kacang lupa kulitnya" canda Refan.


"Bukan begitu Mas.. Kami belum siap kehilangan Mas. Aku masih sangat membutuhkan Mas untuk sama - sama membesarkan dan mendidik anak - anak kita" jawab Kinan dengan mata berkaca - kaca.


Refan semakin mempererat pelukannya.


"Kamu jangan khawatir sayang, aku akan menjaga diriku dengan baik. Aku tidak akan membuat kamu mengurus anak - anak kita sendirian" ucap Refan.


Refan membalikkan tubuh Kinan sehingga mereka bisa saling tatap. Refan kini bisa melihat kabut dimata Kinan.


"Hei.. jangan bersedih, kamu wanita kuat. Aku tidak akan rela jika kamu hidup sendirian. Aku takut kamu akan dilirik pria lain, aku tidak pernah sudi meninggalkan kamu" ungkap Refan.


"Cih mana ada orang yang mau sama wanita punya empat orang anak" elak Kinan.


"Kamu masih muda, masih cantik dan pintar. Masih banyak pria - pria diluar sana yang suka melirik kamu dan aku cemburu. Karena itu aku akan berjuang sekuat tenaga untuk bisa kembali menemui kamu lagi" ungkap Refan.


Refan mengelus lembut rambut Kinan dan mulai mengecup lembut bibir Kinan.


"Aku mencintai kamu sayang.... " sambung Refan.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2