
Satu jam kemudian Suci datang diantar Reni adiknya Refan.
"Assalamu'alaikum Fan, Nan" ucap Suci ketika masuk ke ruangan rawat inap Naila.
"Wa'alaikumsalam" jawab Refan dan Kinan bersamaan.
Refan dan Kinan menyambut Suci dan mencium tangannya. Suci langsung menyamperin Naila dan mengelus lembut kepalanya.
"Cucu Oma kok sakit lagi... Yang semangat ya sayang. Cucu Oma pasti kuat karena banyak orang yang sayang sama Naila. Cepat sembuh ya Naila" ujar Suci lembut.
Naila tidak terganggu dan tetap tidur dengan lelapnya mungkin karena dia memang benar - benar letih.
"Badannya masih terasa hangat Nan" ucap Suci.
"Iya Ma, tapi sudah di infus kok dan sudah dikasih obat sama Dokter. Mudah - mudahan segera turun panasnya Ma" sambut Kinan.
Refan meraih ponsel dan kunci mobilnya.
"Ren temani Mas ke rumah yuk ambil pakaian Mas dan Kinan juga beberapa barang - barang Naila yang nanti di butuhkan di sini" ajak Refan.
"Ya sudah, yuk Mas" jawab Reni.
"Kami pulang dulu ya Nan. Kamu ada pesan siapa tau ada barang penting yang mau di bawa?" tanya Refan.
"Mukena aku jangan lupa ya Mas" pesan Kinan
"InsyaAllah nanti aku bilang sama Bik Mar" jawab Refan.
"Ma kami pergi dulu" ujar Refan pada Mamanya.
"Iya kamu hati - hati ya" balas Suci.
Refan dan Renita segera keluar dari ruangan rawat inap Naila. Tinggal hanya Suci, Kinan dan Naila di dalam.
__ADS_1
"Kenapa Naila panas lagi Nan? Kalian pergi kemarin? Naila itu gak bisa kecapean?" tanya Suci.
"Nggak Ma, kami gak kemana - mana karena Mas Refan ngundang teman - temannya tadi malam, makan malam di rumah. Tapi Naila emang pergi Ma" ungkap Kinan.
"Lho Naila pergi? Tapi kamu bilang kalian di rumah saja?" tanya Suci bingung.
"Hari Sabtu sebelumnya Mamanya Almh. Renita datang ke rumah Ma. Dia mau menjemput Naila dan menginap di rumahnya karena kemarin ada acara keluarga di rumahnya. Tapi Mas Refan gak ngasi, Mas Refan cuma ngizinin Naila dibawa setengah hari dari pagi dan harus pulang sebelum malam. Alhasil kemarin pagi Mas Refan antar Naila bersama Bik Nah ke rumah Omanya dan baru pulang sebelum maghrib" ungkap Kinan.
"Mungkin Naila di sana kurang istirahat Nan dan gak keurus. Heran punya cucu suami satu kok gak di urus dengan baik. Kalau sudah sakit begini kan Naila juga yang kasihan" balas Suci.
Kinan hanya diam tidak mau menambahi omongannya lagi takut dua keluarga itu nantinya akan selisih paham.
"Kamu sudah tanyain Bik Nah gimana Naila di sana?" tanya Mama Refan.
"Ya seperti biasa Ma" jawab Kinan. Dia semakin takut masalah ini semakin melebar apalagi...
Tok.. Tok.. Tok..
Suara pintu ruangan di ketuk. Suci membukakan pintunya.
"Ya jelas donk aku disini, kan cucuku lagi sakit" sambut Suci.
"Bukan cucu kamu saja yang sakit tapi cucuku juga. Enak aja kamu mengklaim Naila sebagai cucu sendiri. Kalau bukan anakku yang melahirkannya sampai meregang nyawa Naila tidak akan lahir ke dunia ini" ujar Mamanya Renita dengan lentang.
Jantung Kinan berdetak kencang, hal ini sebenarnya ingin dia elakkan tapi sepertinya tidak bisa lagi. Ternyata mantan besan itu sepertinya memang tidak akur sejak dulu.
Mamanya Renita langsung mendekati Naila hendak menggendongnya.
"Bu maaf.. Naila baru saja tertidur, tolong di biarin aja dulu Bu biar tidurnya lebih lama sedikit lagi" cegah Kinan.
Mamanya Renita tampak tak senang di tegur Kinan seperti itu.
"Mengapa Naila bisa sakit? Pasti kamu gak becus ngurusnya kan?" tuduh Mamanya Renita.
__ADS_1
Sontak Kinan terkejut mendengar tuduhan Mamanya Renita.
"Hey Lita, kamu jangan menuduh sembarangan. Menantuku sudah sangat baik mengurus Naila, dia juga menyayangi Naila seperti anaknya sendiri" bela Suci.
Kali ini sepertinya keributan tidak bisa terelakkan lagi.
"Cih itu hanya di depan kamu, tapi kalau tidak ada yang mengawasi aku yakin dia menyiksa Naila makanya Naila sakit seperti ini" sambung Mama Renita.
Astaghfirullah... Kinan mengusap dadanya dan mencoba menenangkan diri agar dia tidak ikut terpancing dengan omongan mantan mertua suaminya itu. Kinan menarik nafas panjang untuk berusaha bersabar dengan semua tuduhan Omanya Naila itu.
"Kamu jangan berkata seperti itu Lita, aku sering melihat Kinan memperlakukan dan mengurus Naila dengan sangat baik. Bahkan demi mengurus Naila yang masih kecil dia sampai mengabaikan putranya sendiri. Contohnya saat ini, dia rela meninggalkan putranya di asuh pembantu di rumah demi harus menjaga dan menemani Naila di rumah sakit. Sembarangan aja kamu menuduh Kinan. Kinan itu berbeda dengan putri kamu. Dia sangat tau bagaimana cara mengurus rumah tangganya, melayani suami dan menjaga anak - anaknya. Dia juga sangat pinta memasak, bukan seperti anak kamu yang hanya bisa berdandan tapi semua urusan rumah dikerjakan oleh pembantu bahkan tidak pernah mengurus suaminya" ungkap Suci.
"Ya dia kan juga bekerja, percuma donk bayar pembantu kalau tidak bisa kerja di rumah" bela Lita Mamanya Renita.
"Kinan juga bekerja tapi dia tetap bisa mengurus rumah tangganya setelah pulang dari kantor" ujar Suci.
"Beda donk, putriku itu wanita karier yang sangat berpengaruh di kantornya. Dia juga kesayangan bosnya" puji Mamanya Renita.
"Huh... bukan hanya anak kamu saja yang wanita karier. Kinan juga punya jabatan yang bagus di kantornya dan dia bekerja di kantor pemerintahan. Tidak mudah bisa bekerja di kantornya" bela Suci.
"Ma sudah Ma, Bu sudah ...... Renita juga sudah meninggal. Tak baik menceritakan orang yang sudah meninggal" Kinan berusaha melerai perkelahian kedua orang tua itu.
"Kamu jangan besar kepada hey.. Ibu Tiri. Dimana - dimana sudah jadi rahasia umum kalau Ibu Tiri itu memang galak. Kamu sengaja kan buat Naila sakit. Kamu ingin mengenyahkan Naila dalam rumah tangga kamu. Agar kamu dan Refan bisa hidup dengan tenang tanpa ada Naila" tuduh Lita.
"Astaghfirullah bu... " Kinan mulai sedih karena dituduh seperti itu.
"Jaga kata - kata kamu Lita atau kamu akan aku usir dari sini" bentak Suci.
"Enak saja kamu mau usir aku dari sini. Aku dan kamu punya hak yang sama terhadap Naila. Dia sama - sama cucu kita. Di dalam darahnya mengalir darah kita. Justru wanita ini yang tidak punya hak terhadap Naila karena dia adalah orang lain. Dia bukan siapa - siapa diantar kita. Lebih baik dia saja yang kamu usir dari sini. Biar aku saja yang jaga Naila selama Naila di rawat di Rumah Sakit" jawab Lita.
"Kamu sudah kelewatan Talita, secara hukum Kinan mempunyai hak pengasuhan Naila karena Kinan saat ini adalah Ibu sah Naila walau hanya Ibu Tiri. Dia yang berhak mengasuh Naila dari pada kita Ibu kandungnya, walau kita berdua mempunyai hubungan darah yang kental dengan Naila" tegas Suci.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG