Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 196


__ADS_3

Tiga jam Refan, Bimo, Aril, Pak Akarsana dan pengacara di kantor polisi. Akhirnya laporan mereka masuk dan sedang dalam penyelidikan.


"Pak bagaimana dengan keselamatan istri dan anak saya? Saya takut mereka mengincar keluarga saya. Karena laporan kan sudah masuk?" tanya Refan.


"Kalau ada ancaman atau hal - hal yang mencurigakan Bapak bisa langsung lapor ke kami. Kami siap untuk melakukan perlindungan dan pengawalan" ujar Pak Polisi


"Baik Pak, terimakasih atas perhatiannya" balas Refan.


"Bagaimana dengan keselamatan putra saya? Sedari awal kan memang putra saya yang diincar mereka?" tanya Pak Akarsana.


"Sebaiknya sementara Pak Bimo jangan keluar dari kota ini dan kalau ada yang mencurigakan ataupun ancaman segera melapor" jawab pihak polisi.


"Iya Pak, akan saya perhatikan dengan sebaik mungkin. Saya juga tidak akan meninggalkan kota ini" ujar Bimo.


"Sebaiknya agar memudahkan penjagaan dan keamanan. Pak Bimo tinggal bersama dengan keluarga saja dulu. Kalau semuanya berada di satu tempat yang sama kami kan bisa fokus menjaga keamanan kalian" ucap Polisi.


"Iya Bim, sebaiknya kamu tinggal di rumahku saja sementara waktu" sambut Refan.


Bimo melirik orang tuanya.


"Iya Nak, Bapak rasa lebih baik begitu" ujar Pak Akarsana.


Bimo menarik nafas panjang.


"Baiklah kalau begitu, mulai hari ini aku akan tinggal di rumah kamu" ujar Bimo.


"Aku juga ya Fan" pinta Aril.


"Ngapain kamu tinggal di rumahku. Rumah kamu kan ada?" tanya Refan.


"Enak tinggal di rumah kamu. Rame, di rumah aku sendirian" jawab Aril.


"Makanya Nak Aril secepatnya cari pendamping hidupnya" nasehat Pak Akarsana.


"Lagi proses pencarian Pak. Pengen cari yang seperti Kinan" ujar Aril.


Refan langsung melirik Aril dengan tatapan tak suka.


"Maksud aku solehahnya lho. Langsung cemburu aja. Aku tau Kinan hanya untuk kamu" tegas Aril.

__ADS_1


Pak Akarsana tersenyum mendengar jawaban Aril. Yah Pak Akarsana memang mengakui Kinan adalah wanita baik dan istri solehah makanya almarhum anaknya Bima juga sangat mencintai Kinan. Pak Akarsana juga sangat sayang dengan Kinan. Sudah menganggap Kinan sebagai anak sendiri.


Sayang Kinan sudah menikah dengan Refan, kalau tidak mungkin Pak Akarsana sudah menyuruh Bimo untuk menggantikan Bima. Tapi Refan juga pria yang baik, sangat baik. Sehingga Pak Akarsana mengurungkan niatnya.


Lagian pernikahan Kinan dengan Refan sudah terjadi, bahkan Kinan sedang hamil saat ini. Tak mungkin mereka merusak rumah yang Kinan dengan Refan.


Pak Akarsana menepuk bahu Aril.


"Kamu sabar dan terus perbaiki diri. Kalau orang baik nanti pasti dapat pasangan yang baik juga" nasehat Pak Akarsana.


"Aamiin.. makasih Pak" jawab Aril.


Bapak calon mertua hahahah... tawa Aril dalam hati.


"Kalau begitu karena semua laporan sudah selesai kami bisa pamit pulang ya Pak" pamit sang Pengacara kepada pihak Polisi.


"Bisa Pak, silahkan" jawab Pak Polisi.


Mereka saling berjabat tangan dan berpamitan.


"Kami tunggu kabar penyelidikan selanjutnya Pak. Kami harap pelakunya segera ditemukan" ucap Refan.


"Iya Pak, kami akan segera menyelesaikan dan memecahkan masalah ini dengan secepat mungkin" jawab Pak Polisi.


"Kita makan siang dulu yuk sebelum pulang" ajak Bimo.


"Boleh" sambut Refan.


Setelah keluar dari kantor polisi mereka segera melanjutkan perjalanan menuju sebuah Restoran yang besar dan cukup terkenal.


Refan dan yang lainnya segera duduk di meja yang telah disediakan untuk mereka. Kemudian mereka memesan menu makanan untuk mereka santap siang itu.


"Maaf Fan, apa gak terlalu memberatkan kamu kalau kami sekeluarga tinggal di rumah kamu?" tanya Bimo menyambung kembali pembicara tadi di kantor polisi.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu Bim?" tanya Refan.


"Aku merasa gak enak kamu menampung kami semua di rumah kamu" jawab Bimo sungkan.


"Lebih baik aku, Bapak, Ibu dan Bela menempati rumah Kinan dan Bima dulu untuk sementara" pinta Bimo.

__ADS_1


"Sudah Bim tinggal di rumahku saja gak apa - apa kok. Kan semua demi keselamatan" jawab Refan.


"Kalau gak Bimo tinggal di apartemenku juga boleh Fan, kan aku juga tinggal sendiri" ucap Aril menawarkan.


"Sama aja itu dengan Bimo tinggal di rumah Bima. Rumah itu juga kosong. Tapi masalahnya kan seperti yang dikatakan Polisi demi keselamatan dan kemudahan penjagaan lebih baik kumpul di satu tempat saja. Polisi lebih mudah memantaunya" ujar Refan.


"Baiklah kalau itu mau kamu. Aku hanya sungkan dengan kamu dan keluarga kamu" balas Bimo.


"Kita sekarang sudah menjadi keluarga Bim. Kita dihubungkan oleh Salman. Salman kini anakku dan dia juga anak dari adik kembar kamu" jawab Refan.


"Terimakasih Nak Refan, kalau kamu berpikiran luas dan mempunyai dada yang lapang dalam menilai semua ini. Sangat jarang sekali menemukan orang seperti kamu saat ini. Bapak semakin lega dan yakin menitipkan Salman dan Kinan kepada kamu" tegas Pak Akarsana.


Refan membalas ucapan Pak Akarsana dengan senyuman. Tak lama kemudian makanan mereka datang dan mereka mulai menyantap makan siang bersama.


"Jadi apa pekerjaan kamu sekarang?" tanya Aril penasaran.


"Aku mempunyai hotel dan beberapa penginapan di papua yang saat ini sedang aku percayakan kepada asisten pribadiku. Aku tinggal pantau dari jauh saja" jawab Bimo.


"Itu maaf harta dari istri kamu?" selidik pengacara.


"Tidak, itu murni usahaku dan istriku dari nol tanpa bantuan dari harta orang tuanya. Aku tidak pernah ikut campur dengan harta mereka karena aku menikah dengan istriku dulu bukan karena hartanya tapi karena memang aku mencintainya" jawab Bimo.


"Pantas usaha kamu masih bisa terus berjalan. Kalau tidak kan pasti sudah mereka kuasai" sambut Aril.


"Yah begitulah. Disana aku masih punya beberapa sahabat baik yang tau tentang bagaimana perjuanganku dulu untuk meraih kesuksesanku seperti sekarang ini. Dan mereka dengan senang hati mau membantuku mengelola usahaku di sana" ungkap Bimo.


"Apakah kamu berencana akan kembali ke sana Nak?" tanya Pak Akarsana.


"Untuk sementara tidak Pak, aku masih trauma tinggal di sana. Gak tau apakah setelah semua masalah ini selesai aku akan ke sana lagi. Tapi aku rasa sangat berat tinggal di sana lagi dengan status aku yang sudah kembali menjadi Bimo Akarsana. Mungkin kalaupun aku kesana sesekali saja untuk mengecek usahaku di sana" jawab Bimo.


"Menurut Bapak juga lebih baik seperti itu. Mending kamu tinggal di sini sana dan jangan kembali lagi ke sana. Bapak khawatir Nak kamu akan kembali menjalani kehidupan dulu yaaang... " ucap Pak Akarsana.


"Kalau soal itu Bapak tidak perlu khawatir Pak. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Dulu mungkin karena aku masih remaja yang sedang jatuh cinta rela mengorbankan apa saja demi orang yang aku cintai termasuk meninggalkan keluarga dan agamaku. Sekarang usiaku sudah semakin bertambah. Masa pencarian jati diri sudah berlalu, aku sudah tau dimana harusnya aku berada" potong Bimo.


"Syukurlah. Bapak lega mendengarnya Nak. Semoga kamu tetap istiqomah dan Allah selalu menjaga kamu dimanapun ku berada" doa Pak Akarsana.


"Aamiin... " jawab Bimo dan yang lainnya.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2