
"Begini Nduk.. Menyambung cerita Ibu kamu tadi Bapak ingin menyampaikan sesuatu kepada kamu. Sebenernya Bima punya saudara kembar Nak, namanya Bimo Akarsana" ungkap Pak Akarsana.
Sontak perkataan Pak Akarsana membuat Kinan, Pak Ardianto, Bu Suci dan Bu Adhisti terkejut.
"Mas Bima punya saudara kembar? Aaah aku ingat Pak, kakaknya yang selama ini dilarang untuk di sebut namanya karena.. maaf... dia pergi dengan wanita beda agama?" tanya Kinan.
Lama terdengar jawaban dari sana. Terdengar suara narikan nafas.
"Benar Nak" jawab Pak Akarsana.
"Apakah ini ada hubungannya dengan Mas Bimo? Apakah dia yang beberapa bulan belakangan ini aku dan Salman lihat?" tanya Kinan.
"Bisa jadi" jawab Pak Akarsana.
Refan mendekati Kinan dan berbisik.
"Yank boleh aku bicara sebentar dengan Bapak Almarhum Bima?" ucapnya dengan nada yang sangat pelan tetapi bisa di dengar Kinan.
"Pak maaf, suamiku ingin bicara sama Bapak sebentar, boleh?" tanya Kinan sungkan.
"Boleh Nan.. boleh" jawab Pak Akarsana.
Kinan memberikan handphonenya kepada Refan. Refan segera meraihnya.
"Assalamu'alaikum Pak, Salam kenal saya Refan suaminya Kinan" sapa Refan.
"Wa'alaikumsalam ya Nak Refan salam kenal juga. Saya Akarsana eyangnya Salman" jawab Pak Akarsana.
"Maaf Pak kalau aku ikut campur dalam masalah ini. Karena saat ini aku bertanggung jawab atas keselamatan Kinan dan Salman jadi aku harus memecahkan semua teka - teki ini. Karena saat ini Kinan sedang hamil, aku gak mau terjadi sesuatu padanya" ujar Refan.
"Iya Nak Refan, Bapak mengerti. Tidak masalah, silahkan. Ada yang ingin Nak Refan tanyakan. Kami siap untuk membantu" sambut Pak Akarsana dengan baik.
"Begini Pak, kalau saya boleh tau kemana Bimo lari? Dan siapa nama wanita yang lari bersamanya?" tanya Refan.
"Bapak tidak tau dia lari kemana dan Bapak juga lupa siapa nama wanita itu. Karena pada saat itu Bapak sedang marah besar mengetahui kalau Bimo sudah mempunyai hubungan serius dengan wanita itu dan tidak bisa dipisahkan lagi. Akhirnya Bapak mengusir mereka. Tapi kalau di lihat dari wajah dan kulitnya sepertinya wanita itu berasal dari timur" jawab Pak Akarsana.
Yesss.... tepat dugaanku. Ternyata semua ini ada hubungannya dengan Ricardo Yacob. Bimo Akarsana sudah berganti nama menjadi Ricardo Yacob. Batin Refan.
"Begitu ya Pak" sambut Refan.
"Ada apa Nak Refan? Apakah kamu menemukan sesuatu tentang dia?" tanya Pak Akarsana.
"Dari orang yang aku suruh untuk mencari informasi tentang pria yang mirip dengan almarhum Bima, beliau mendapatkan sepenggal informasi. Kalau pria yang mirip wajahnya dengan Almarhum Bima tersebut bernama Ricardo Yacob. Dia menikah dengan salah satu anak dari keluarga terpandang di Papua" ungkap Refan.
__ADS_1
"Cih... ternyata dia berganti nama" ujar Pak Akarsana.
"Tapi belum bisa dipastikan kalau Ricardo Yacob itu adalah Bimo Akarsana Pak" sambut Refan.
"Itu pasti dia, Bapak sangat yakin itu" tegas Pak Akarsana.
"Yah kalau memang benar dia, saya.... eh maksud saya, kami akan mencoba bertemu dan menanyakan apakah dia yang mengirim pesan kepada Kinan dan apa tujuannya mengirimkan pesan tersebut. Apakah dia mengetahui tentang kematian Bima?" lapor Refan.
"Iya Nak Refan. Bapak juga akan secepatnya mengurus semua pekerjaan Bapak di sini. Setelah semua selesai kami, Ibu dan Bapak akan berangkat ke sana sekalian ketemu dengan Salman. Kami sudah sangat rindu pada cucu kami Salman" ujar Pak Akarsana.
"Baik Pak kami akan menunggu dan menyambut kedatangan Bapak dan Ibu dengan senang hati di rumah kami" sambut Refan.
"Terimakasih Nak Refan. Apakah Salman ada bersama kalian. Bapak ingin bicara dengan Salman" pinta Pak Akarsana.
"Ada Pak, tunggu sebentar ya" jawab Refan. Refan segera memberikan ponsel Kinan kepada Salman yang sedang asik bermain di depan mereka.
"Sayang ini ada eyang mau bicara sama kamu" ujar Refan.
"Eyang?" tanya Salman bingung.
"Iya sayang, Eyang dari Surabaya" jawab Kinan.
Dengan sangat semangat Salman meraih ponsel yang diberikan Refan kepadanya.
"Assalamu'alaikum eyaaang" sapa Salman.
"Aku sehat, eyang juga sehat kan?" tanya Salman.
"Alhamdulillah eyang sehat. Kamu lagi apa tadi?" tanya Pak Akarsana dengan penuh kasih sayang. Dia memang sangat merindukan cucunya itu. Pak Akarsana merasa sedih mengingat putranya begitu cepat pergi meninggalkan mereka semua untuk selamanya.
"Aku lagi main tayo eyang" jawab Salman.
"Tayo? Apa Tayo?" tanya Pak Akarsana bingung.
"Mobil - mobilan Pak" terdengar suara bela adiknya Bima dari seberang.
"Oooh mobil - mobilan maaf eyang tidak tau hahaha... " ujar Pak Akarsana.
Salman tampak tersenyum senang mendengar suara eyangnya tertawa.
"Nanti kalau eyang datang ke rumah Salman. Eyang akan bawa Tayo yang besar ya" ujar Pak Akarsana.
"Benar Eyang?" tanya Salman tak percaya.
__ADS_1
"Benar. Salman sudah sekolah belum?" tanya Pak Akarsana.
"Sudah Eyang.. aku sudah sekolah TK B" jawab Salman antusias.
"Waaaah cucu eyang hebat udah sekolah rupanya. Yang rajin ya belajarnya biar Salman jadi anak yang pintar" nasehat Pak Akarsana.
"Eyang.. Eyaaang.. tadi aku lihat Papa lho di rumah yang lama. Tapi Mama bilang itu bukan Papa. Kata Mama, Papa Salman sudah meninggal dan sekarang ada di surga. Padahal Salman ingin sekali bertemu dengan Papa. Salman kangen" ujar Salman dengan wajah sedih..
Perkataan Salman ini sontak membuat Kinan juga merasa sedih. Kinan lansung membelai lembut kepala putranya penuh kasih sayang.
"Mama Salman memang benar sayang.. Papa Salman memang sudah meninggal dunia.. Papa Salman sekarang sudah di surga. Kalau Salman kangen sama Papa, Salman berdoa kepada Allah, agar Papanya Salman di beri tempat yang terbaik di sisi Allah" suara Pak Akarsana terdengar bergetar. Pasti dia juga sangat sedih mendengar perkataan cucunya.
Cucu pertamanya yang bernasib jelek. Usianya baru berumur tiga tahun tapi dia harus kehilangan Papanya untuk selama - lamanya.
"Sayaaang kan sekarang ada Papa Refan, kalau Salman kangen Papa Bima kita bisa ziarah ke malamnya. Nanti Papa yang antar. Kapan Salman ingin main, kan bisa mainnya sama Papa" ucap Refan.
"Iya Papa" jawab Salman.
"Salman jangan sedih ya sayang.. Eyang janji sebentar lagi Eyang akan datang ke rumah Salman. Nanti kita bisa sama - sama ziarah ke makam Papa Bima biar Salman tidak kangen dan sedih lagi ya" ujar Pak Akarsana.
"Benar ya Eyang, janji?" tanya Salman.
"Iya, Eyang janji. Sekarang Salman kirim doa aja dulu untuk Papa Bima" jawab Pak Akarsana.
"Iya Eyang" jawab Salman.
"Nah kalau begitu Eyang pamit dulu ya sayang. Sudah malam, Salman juga mau tidur kan?" ujar Pak Akarsana.
"Iya Eyang. Nih handphone nya aku kasih ke Mama. Dah Eyang, Assalamu'alaikum" ujar Salman. Salman mengembalikan ponselnya kepada Kinan.
"Halo Pak.. " sambut Kinan.
"Nan udah dulu ya. Salam buat Refan, Papa dan Mama kamu" ucap Pak Akarsana.
"Iya Pak, Papa dan Mama ada di sini kok. Nanti Kinan sampaikan salam Bapak pada mereka. Salam juga buat Ibu dan Bela ya Pak" balas Kinan.
"Salam kamu sudah sampai Nan. Mereka juga ikut dengerin kok. Sampai ketemu sebentar lagi ya, Assalamu'alaikum" tutup Pak Akarsana.
"Wa'alaikumsalam.. " jawab Kinan.
Kinan menutup ponselnya, ada perasaan lega mendengar cerita Pak Akarsana tentang Bimo, Kakaknya Almarhum Bima. Mudah - mudah pria itu adalah Kakanya Almarhum Bima. Sehingga tidak ada lagi kekhawatiran Kinan dan semoga dia tidak mempunyai niat jahat.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG