
"Uncle... " panggil Salman.
"Ya sayang" jawab Bimo.
"Kalau aku kangen Uncle dan Tante Bela.. aku boleh kan main ke sini?" tanya Salman kepada Bimo.
"Boleh sayang.. masak gak boleh? Rumah ini kan juga rumah kamu" jawab Bimo.
"Tinggal minta anterin Tante Reni aja Sal. Sekalian Tante Reni lepas kangen" goda Aril.
Reni langsung melototnya matanya ke arah Aril. Sementara Aril pura - pura tidak melihat dan tidak merasa bersalah. Bimo hanya terlihat tersenyum tipis.
"Kalau nanti kamu mau main ke sini tinggal bilang sama Papa dan Mama. Nanti kami antar ya" ujar Kinan lembut kepada putranya.
"Menginap di sini juga boleh sayang. Eyang kan masih kangen banget sama kamu" sambut Bu Akarsana.
"Asiiiiik.... " teriak Salman kesenangan.
"Tapi kalau libur sekolah ya... kalau hari sekolah Mama gak kasih izin" ujar Kinan.
"Iya Mama" jawab Salman cepat.
Kinan membelai lembut kepala putrnya. Karena usia kehamilan Kinan sudah tua dan perutnya juga semakin membesar membuat Kinan jadi cepat capek. Sehingga mereka tidak bisa berlama - lama tinggal di rumah Bimo.
Refan dan Kinan pamit pulang duluan berdua. Sedangkan Salman dan yang lainnya pulang belakangan.
Dengan penuh perhatian Refan menuntun Kinan berjalan sampai ke mobil. Setelah itu mereka bergerak menuju rumah.
"Yank... " panggil Refan.
"Ya... " jawab Kinan.
"Kita kan pulang berdua nih" ujar Refan.
"Terus...?" tanya Kinan tak mengerti.
"Di rumah gak ada orang. Semua masih tinggal di rumah Bimo termasuk Bik Nah dan Bik Mar" sambung Refan.
"Iya, terus...?" tanya Kinan lagi masih bingung.
"Udah lama rumah gak sepi seperti ini" Refan mulai tersenyum nakal.
Kinan mulai mencium bau - bau maksud - maksud tertentu dari suaminya.
__ADS_1
"Maksud Mas?" tanya Kinan sambil balas tersenyum.
"Kita buat keributan yuk" ajak Refan.
"Buat keributan dimana?" tanya Kinan lagi.
"Ya di rumah donk yank... masak di mobil. Bisa di grebek masa aku. Dikirain aku KDRT sama istri yang lagi hamil" jawab Refan.
"Mau ngapain buat keributan di rumah?" tanya Kinan.
"Ya nganu.. nganu... pokoknya kamu terima beres aja deh.. ribut - ribut dah sesuka kamu. Gak ada juga yang larang dan gak ada juga yang dengar. Tadi aku sudah pesan sama Reni pulangnya malam aja. Kita bobok ciang yang enak siang ini" goda Refan.
"Hahaha... Mas.. Mas... ada - ada aja ya akal - akalan kamu" ucap Kinan tertawa.
"Ya ada donk, kalau gak si kembar tidak akan hadir diperut kamu" sambut Refan.
Kinan hanya membalas ucapan Refan dengan senyuman.
"Yes asik... Mamanya si kembar setuju kalau Papa jenguk anaknya" teriak Refan girang.
"Hahahaha... kamu ya Maaaas" sambut Kinan.
Refan segera menambah kecepatan laju mobilnya agar segera sampai ke rumahnya. Tentu saja masih dalam kecepatan yang aman untuk Kinan yang sedang hamil. Karena jarah rumah mereka memang tidak jauh hanya dalam beberapa menit saya mereka sudah sampai di depan rumah mereka.
Jujur memang bersama Refan, Kinan merasakan sensasi yang berbeda. Refan suka memberikan kejutan - kejutan padanya. Kalau Bima dulu memang tipe suami yang seriusan tapi bedanya Bima lebih sabar dan dewasa dari pada Refan.
Tapi Kinan tidak pernah membanding - bandingkan mereka lagi. Keduanya memiliki tempat yang spesial di hati Kinan. Bima adalah Papanya Salman. Pria pertama yang pernah hadir dalam hidupnya.
Sedangkan Refan adalah pria pertama yang pernah hadir di hatinya dan kini mengisi hari - harinya. Kinan menikmati hidup dan mengikuti sesuai dengan alur yang Allah gariskan dalam hidupnya.
Refan dan Kinan dengan sangat mesra saling rangkul dan berjalan menuju rumah mereka. Seperti pembicaraan mereka di mobil tadi mereka akan melakukan aktivitas bobok siang yang paling panas mungkin siang ini. Tentu saja dengan segala kelembutan yang Refan ciptakan agar Kinan dan buah hati mereka yang ada di dalam perut Kinan merasa nyaman.
Refan segera membawa istrinya ke kamar mereka. Sebelum bobok siang mereka berganti pakaian rumah dan bersih - bersih terlebih dahulu. Refan mempercepat aksinya bahkan terkesan sangat terburu - buru.
Kinan semakin tersenyum lebar melihat sikap suaminya itu. Seperti sudah sangat tidak sabaran.
"Maaas" panggil Kinan.
"Heeeem... " sambut Refan.
"Santai... gak perlu buru - buru gitu kayak takut ketahuan aja" goda Kinan.
"Takut mereka semua pada pulang" ujar Refan.
__ADS_1
"Katanya kamu udah pesan sama Reni untuk pulang malam?" tanya Kinan.
"Ya kan cuma sama Reni aja. Sama Papa dan Mama mana aku berani. Bisa ketahuan nanti pikiran mesumku" jawab Refan.
"Hahaha... kamu ngaku sendiri Mas" tawa Kinan akhirnya pecah.
Kinan merasa tingkah suaminya siang ini sangatlah lucu dan menggemaskan. Persisi seperti saat - saat mereka baru menikah eh tidak... tidak... seperti mereka baru saja berbaikan dan berteman. Mereka baru sepakat untuk menjalani rumah tangga mereka dengan baik.
Siang itu mereka melakukan bobok siang yang sangat luar biasa dan akhirnya mereka tertidur hingga hari menjelang senja.
"Astaghfirullah Mas... ih nih gara - gara Mas Refan ini. Mas bangun yuk, udah hampir maghrib Mas kita belum shalat ashar" teriak Kinan terkejut.
Refan segera membuka matanya. Dia juga terkejut dan tidak menyangka mereka tidur sangat lelap.
"Astaghfirullah... Yuk yank aku bantu kamu ke kamar mandi. Kita mandi bareng aja biar cepat" sambut Refan.
"Janji ya mandi cepat" ancam Kinan.
"Ya Allah yank.. waktu udah mepet gini gak mungkin aku minta tambah yank.. yang ada Allah marah karena kita lalai. Kalau saat ini mungkin akan dimaafkan karena tidak sengaja tapi kalau semakin di perlama gak ada toleransi lagi. Udah yuk gak usah berdebat. Kita mandi sekarang" ajak Refan.
Refan dan Kinan bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh mereka dan langsung shalat ashar setelahnya.
Baru mereka duduk santai di depan TV sambil menunggu waktu adzan maghrib. Ternyata seluruh keluarga merek sudah pulang kembali ke rumah.
"Lho Papa sama Mama sudah pulang juga rupanya?" tanya Kinan terkejut.
"Sudah... gak lama setelah kalian pulang kami juga pamit. Maklum sudah tua rasanya pengen cepat - cepat istirahat aja di rumah. Gak enak kalau di rumah orang lama - lama gak bisa santai dan rebahan" jawab Papa Kinan.
Refan dan Kinan terkejut dan saling lirik. Berarti keluarganya pulang saat mereka lagi asik buat keributan di kamar donk tadi.
Aduuuuh... apa mereka mendengar keributan yang aku dan Kinan ciptakan tadi ya? Tanya Refan dalam hati.
Refan melirik kedua mertuanya juga Mamanya tapi sikap mereka biasa saja.
Fiuuuuh... sepertinya mereka tidak mendengar apa - apa. Ah ngapain juga aku pusing mikirinnya.. Mereka kan juga pernah muda. Ups... aku lupa, kamarku kan emang kedap suara hahaha.. sampai segitunya paniknya aku. Refan menarik nafas panjang dan lega.
Ternyata dia disibukkan dengan pikirannya sendiri padahal kenyataannya sangat jauh dari situ. Refaaaan.... Refaaaan...
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1