
Reni sudah sampai dikantornya diantar Bimo. Dia berjalan masuk ke dalam kantor. Selama dia berjalan masuk, Reni tak henti - hentinua tersenyum. Ternyata tingkahnya itu sudah diperhatikan seseorang dari satu sudut kantor.
"Waah sepertinya senang banget ya ditraktir es krim?" sindir seseorang yang tak lain adalah Refan.
"Eh Mas Refan kok tau? Iiiih pasti Mas Aril, Mas Riko dan Mas Romi nih yang cerita" ujar Reni kesal.
"Hahaha... berarti Mas gak perlu jaga rahasia donk. Kan mereka udah tau sendiri" sambut Refan.
"Ish kok bisa sih kebetulan gitu. Jangan - jangan...?" Reni menatap ke arah Refan dengan tatapan penuh curiga.
"Eits... jangan su'udzon.. Mas aja gak tau kalian mau makan dimana" jawab Refan segera.
Reni tampak hendak belok ke arah ruangannya.
"Temani Mas ke taman sebentar yuk. Mas mau ngobrol sama kamu. Sudah lama rasanya kita gak ngobrol berdua" ajak Refan.
Reni menatap kakaknya dan mengangguk. Mereka berjalan ke arah taman kantor. Refan lebih dulu duduk di kursi taman kemudian di susul Reni. Refan menarik nafas panjang.
"Usia kamu sudah berapa?" tanya Refan.
"Dua puluh tiga tahun Mas" jawab Reni.
"Masih muda tapi sudah bisa dibilang dewasa. Kamu bukan anak remaja lagi yang masih kuliah. Kamu sudah memasuki dunia kerja yang selalu berkompetisi dan bersaing. Di tuntut tanggung jawab yang besar dalam menyelesaikan tugas dan pekerjaan kamu. Begitu juga dalam hidup ini, kamu sudah melalui fase remaja yang biasanya hanya mau senang - senang dan belum banyak beban. Kini kamu sudah mulai masuk dalam fase dewasa, sudah memikirkan masa depan kamu. Kamu sudah bekerja, setelah itu apa lagi yang ingin kamu raih? Menikah barangkali?" tanya Refan.
"A.. aku belum memikirkannya Mas" jawab Reni.
"Saat seusia kamu Mas sudah memikirkannya. Yah mungkin Mas sudah punya pacar saat itu. Tapi karena Mas baru selesai kuliah dan baru masuk di perusahaan ini Mas belum bisa mengambil langkah tersebut. Apalagi Papa sudah sejak dulu memberi kabar kalau aku akan dijodohkan dengan anak temannya" ungkap Refan.
__ADS_1
Reni menatap ke arah Refan, dia belum tau kemana arah pembicaraan Refan kali ini. Apakah sedang curhat tentang hidupnya atau Refan ingin bertanya tentang hidup Reni sendiri.
"Mas hanya tidak ingin kamu salah pilih. Terkadang kalau kita sedang jatuh cinta semua akan terlihat sangat indah. Sampai keburukan dan kekurangan orang yang kita cintai tidak terlihat. Masa pacaran, masa perkenalan, masa pertemanan atau masa apapun jiga sangat berbeda dengan pernikahan. Saat kita menikah baru akan terlihat segala keburukan - keburukannya yang terkadang kita tidak bisa mengelak lagi. Tidak ada kata mundur lagi. Mas bukan ingin menakuti kamu tapi Mas hanya ingin kamu mempersiapkan diri sejak dini. Sebuah pernikahan butuh kesabaran yang sangat besar, butuh perjuangan, kekuatan, semangat dan ketahan diri. Tidak selamanya bahagia tapi tidak juga selamanya bersedih. Dalam pernikahan tak selamanya ada tawa tapi juga akan ada tangisan. Jangan kamu hanya membayangkan yang indah - indahnya saja seperti jantung berdebar, malu - malu kucing atau apapun yang kamu rasakan saat kamu pacaran atau saat kamu baru menyukai seseorang. Terkadang bisa saja debaran itu hilang tapi kita harus bertahan karena sesuatu. Bisa karena nama baik, keluarga atau anak. Banyak juga pernikahan yang dilandasi cinta akan berubah menjadi pertemanan. Teman untuk hidup sampai kita tua nanti. Sejauh ini kamu mengerti maksud Mas?" tanya Refan.
Reni menundukkan wajahnya dan mengangguk tanda dia mengerti.
"Mengerti Mas" jawab Reni.
"Kamu suka sama Bimo?" tanya Refan.
Sontak wajah Reni terangkat dan menatap lurus ke mata Refan. Mencari jawaban dari apa yang sedang Refan rencanakan.
"A.. apa maksudnya Mas?" tanya Reni terbata - bata.
"Mas rasa pertanyaan Mas gak sulit. Mas yakin kamu mengerti apa arti pertanyaan Mas" jawab Refan.
"Kamu sudah mulai nyaman kan berada disampingnya? Kamu merasa sakit disaat dia sedih? Kamu senang melihatnya tersenyum dan tertawa. Kamu siap dan ingin selalu ada untuk menghiburnya disaat dia sedang dalam masalah. Sudah ada seperti itu?" tanya Refan lembut.
Reni menundukkan wajahnya dan mengangguk jujur. Refan tersenyum melihat tingkah adiknya.
"Kamu rasanya pengen cepat - cepat untuk bertemunya lagi bahkan saat ingin bersamanya kamu rasanya sangat bahagia dan tak sabaran. Jantung berdetak kencang bahkan rasanya mau lompat" ungkap Refan lagi.
Lagi - lagi Reni mengangguk.
"Kamu sudah mulai menyukainya dek" ujar Refan penuh kasih sayang.
Air mata Reni tanpa sadar menetes dari sudut matanya. Refan kini bertugas sebagai pengganti Papanya untuk menasehati putri kecil di keluarganya ini. Dengan lembut Refan membelai kepala adiknya.
__ADS_1
"Kamu sudah dewasa.. bersiaplah untuk menatap dan menjalani masa depan. Masa depan yang pasti tidak akan pernah mulus. Kadang bergelombang, kadang berduri, penuh kerikil, lobang dan jebakan" ujar Refan.
"Kamu harus lebih kuat dek, harus jadi wanita yang kuat karena Bimo pria spesial. Dia adalah seorang duda dengan masa lalu yang pedih. Dia meninggalkan agama dan keluarganya demi wanita yang dia cintai. Itu artinya istrinya itu adalah wanita yang sangat.. sangat dia cintai sehingga dia rela mengorbankan segalanya. Apalagi istrinya itu meninggal dan dengan cara yang sangat tiba - tiba dan mungkin menggenaskan. Yang seumur hidupnya sangat sulit untuk dia lupakan. Istrinya meninggal kecelakaan setelah memakai mobilnya sendiri. Rasa bersalahnya pasti sangat besar terhadap dirinya sendiri. Makanya saat bertemu dengan pembunuh Bima kemarin dia kembali terpukul dan ingat lagi pada istrinya padahal kejadiannya sudah berlalu dua tahun yang lalu. Menurut Mas pria seperti itu bisa jadi akan sulit jatuh cinta lagi, atau dia bisa trauma untuk jatuh cinta atau dia takut untuk mencinta lagi" ungkap Refan.
Air mata Reni semakin deras mengalir karena mendengar ucapan Kakaknya.
"Kamu siap untuk patah hati?" tanya Refan.
Reni terdiam cukup lama kemudian menghapus air mata di pipinya.
"A.. aku tidak tau Mas" jawab Reni.
"Siap mengambil langkah untuk mencintai itu artinya juga harus siap untuk kehilangan. Karena setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Siap menembak seseorang harus diapain juga untuk ditolak. Siap menikah harus siap sendiri. Menurut Mas begitulah kehidupan. Hanya waktunya saja dan kisahnya saja yang berbeda - beda. Ada yang menikah harus bercerai, ada menikah tapi berjauhan jaraknya dan ada yang menikah tapi harus berpisah karena meninggal. Pada akhirnyaa kita juga akan sendiri menghadap Allah. Jadi sejak awal persiapkanlah diri kamu" pesan Refan.
Reni kembali menunduk dan menangis.
"Kalau Bimo juga membalas perasaan kamu, kamu juga harus mempersiapkan diri kamu dan harus berhati lapang. Karena kamu bukan wanita pertama dalam hidupnya. Terkadang ada kalanya dia masih terbayang - bayang atau teringat kenangan masa lalunya bersama istrinya. Itu tidak bisa kita larang karena semua itu datang begitu saja dalam pikirannya. Kamu harus lebih kuat karena bisa saja ancaman dari keluarga istrinya terus berlanjut. Apa hal itu sudah pernah kamu pikirkan?" tanya Refan.
Tangis Reni semakin pecah dan terisak. Refan lagi - lagi mengelus kepala adiknya dengan lemah lembut mencoba untuk menenangkannya.
"Be... belum Mas... lantas aku harus bagaimana?" tanya Reni bingung.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1