
Hari ini rencananya Bapak dan Ibu Bima akan datang. Mereka berangkat pagi dari Surabaya dengan menggunakan pesawat. Refan meminta bantuan Aril untuk menjemput mantan mertua Kinan.
Mengapa Aril? Karena Aril sudah berkenalan lebih dulu dengan Bapak dan Ibunya Almarhum Bima. Beberapa minggu yang lalu Aril baru saja berkunjung dan bertemu mereka di rumah mereka.
Kinan sudah mengabarkan kepada Bapak Akarsana kalau mereka akan dijemput di Bandara oleh Aril temannya Refan.
Jam sebelas siang meraka sudah sampai di Bandara. Bapak dan Ibu Akarsana langsung mengenali Aril yang menjemput mereka.
"Selamat datang Pak, Bu" sambut Aril begitu melihat Bapak dan Ibu Akarsana.
"Eeeh Nak Aril, sudah lama menunggu?" tanya Pak Akarsana ramah.
"Baru kok Pak. Kinan sudah kasih tau saya jadwal kedatangan Bapak dan Ibu.
"Apa kabar kamu?" tanya Pak Akarsana.
"Alhamdulillah baik Pak" jawab Aril.
Mereka saling berjabat tangan. Aril bersalaman dengan Bapak dan Ibu Akarsana tapi alangkah terkejutnya dia melihat wanita cantik yang kemarin dia lihat di Surabaya. Tapi Aril tak enak hati untuk bertanya kepada Bapak dan Ibu Akarsana.
"Mari Pak, Bu saya antar ke rumah Refan dan Kinan. Di sana sudah menunggu Refan, Kinan, Salman dan juga orang tua Kinan dan Refan" ajak Aril.
"Baik Nak Aril" sambut Pak Akarsana.
Mereka segera berjalan ke parkiran Bandara dan naik ke dalam mobil Aril. Pak Akarsana dan Aril duduk di depan sedangkan Ibu Akarsana dan pembokatnya duduk di belakang.
Nih Bapak dan Ibu Baik banget ya, jalan - jalan bawa pembokat juga. Uenak banget pembokatnya bisa sekalian jalan - jalan. Lagian wajah cantik kenapa harus jadi pembokat sih. Batin Aril.
Mobil melaju menuju rumah Refan dan Kinan. Satu jam kemudian mereka sudah sampai di sebuah perumahan mewah lebih mewah dari komplek perumahan Kinan dan Bima dulu.
Mobil berhenti di rumah yang besar terdiri dari dua lantai. Aril sengaja membunyikan klaksonnya sebagai tanda untuk orang yang ada di dalam kalau mereka sudah sampai.
Tak lama kemudian Salman keluar sambil berlari.
"Eyaaaang... " teriak Salman.
Pak Akarsana dan istrinya langsung keluar dari mobil dan menyambut teriakan Salman dengan pelukan.
"Uh cucu eyang udah besar banget ya. Dan semakin gagah dan tampan" puji Ibu Akarsana.
"Iya donk Eyang Uti, Salman kan sudah sekolah jadi udah besar" balas Salman.
"Salim eyang dulu sayang" perintah Kinan dan berjalan menyusul Salman bersama Refan.
Salman memeluk dan mencium Eyangnya.
"Eh ada Tante Bela.. Aku kangen Tante Bela" ujar Salman sesudah mencium tangan kedua eyang nya.
"Tante juga kangen Salman sayang" sambut Bela ceria.
Aril semakin penasaran dengan keberadaan wanita itu. Kok bisa begitu akrab dengan Salman.
Hebat ya pembokat bisa seakrab itu dengan cucu majikannya. Puji Aril dalam hati.
Kinan dan Refan juga saling berjabat tangan dengan Bapak, Ibu Akarsana dan juga Bela.
__ADS_1
"Refan Pak, Bu" ucap Refan memperkenalkan diri.
"Senang bertemu dengan kamu Nak Refan. Akhirnya ya kita bertemu juga" sambut Pak Akarsana.
"Iya syukur Alhamdulillah Bapak dan Ibu bisa sampai ke rumah kami" balas Refan.
"Sudah besar banget perut kamu Nan? Sudah berapa bulan?" tanya Mama Almarhum Bima.
"Sudah lima bulan Bu" jawab Kinan ramah.
Mereka saling berpelukan melepaskan kerinduan.
"Lima bulan tapi sudah besar sekali ya" sambut Ibu Akarsana.
"Alhamdulillah yang di dalam kembar Bu" ungkap Kinan.
"Oooh pantas saja. Alhamdulillah langsung dapat anak kembar. Padahal Ibu dulu juga sangat berharap kamu dan Bima mendapatkan anak kembar" ujar Ibu Akarsana.
"Sama saja Bu, anak Kinan dan Refan kan akan menjadi cucu kita juga" potong Pak Akarsana.
"Ah iya.. " sambut Istrinya.
"Mari Pak, Bu. Kita masuk yuk" ajak Kinan.
"Belaaaaa" Kinan memeluk Adik iparnya.
"Mbak Kinan aku kangen sekali" ucap Bela sambil membalas pelukan Kinan.
"Sudah selesai kuliahnya kan?" tanya Kinan.
Lho pembokat juga dikuliahin, baik bener Bapak dan Ibu Akarsana ini. Puji Aril dalam hati.
"Masuk yuuk" ajak Kinan.
"Iya Mbak, duluan aja. Aku mau turunin koper Bapak sama Ibu dulu" ucap Bela.
"Ya sudah, yuk Pak Bu kita masuk duluan" akhirnya Kinan dan yang lainnya bersama - sama masuk kedalam rumah.
Yang tinggal hanya Bela dan Aril di luar.
"Mas tolong bukain bagasinya. Aku mau bawa koper Bapak dan Ibu masuk ke dalam" pinta Bela.
"Eh sini aku bantuin" sambut Aril.
Aril segera membuka bagasi mobilnya dan membantu Bela menurunkan koper - koper mereka.
"Bapak dan Ibu Akarsana itu baik banget ya, pembokat di bawa jalan - jalan. Dah gitu di kuliahin lagi" ujar Aril pada Bela.
Bela terdiam sesaat mendengar perkataan Aril. Tapi akhirnya dia sadar kalau Aril salah sangka menilai dirinya. Pasti Aril menduga kalau dirinya adalah pembantu Bapak dan Ibunya.
Bela tersenyum mendengar perkataan Aril membuat Aril semakin terpesona.
Duh mengapa sih bisa ada pembokat secantik kamu. Puji Aril dalam hati.
"Sudah lama jadi pembokat?" tanya Aril.
__ADS_1
"Sudah Mas, aku sudah tinggal di rumah Bapak dan Ibu sedari kecil" jawab Bela ramah.
"Waaah pantasan sudah dianggap sebagai keluarga dekat. Sudah seperti anak sendiri ya. Pantas saja kamu juga akrab dengan Kinan dan Salman" ujar Aril.
Bela membalas perkataan Aril dengan senyuman.
"Masuk yuk Mas" ajak Bela.
"Eh iya yuk mari kita masuk ke dalam" jawab Aril.
Bela dan Aril membawa koper masuk kedalam rumah Kinan dan Refan. Didalam rumah sedang temu keluarga. Setelah lebih satu tahun kepergian Bima akhirnya Bapak dan Ibu Akarsana bisa bertemu lagi dengan Bapak dan Ibu Ardianto.
"Mas, Mbak apa kabar?" sapa Papa Kinan.
"Alhamdulillah baik Dek Ardi" jawab Bapak Akarsana.
"Mbak Yu.. " sama Bu Dhisti.
"Iya dek" balas Istri Pak Akarsana.
Mereka saling berpelukan layaknya keluarga dekat. Walau Bima sudah meninggal tapi hubungan mereka masih terjalin dengan sangat baik.
"Kenalkan ini Suci, Mamanya Refan. Dia ini adalah teman lama saya sekaligus tetangga" ucap Ibu Dhisti.
Ibu Suci dan Ibu Akarsana saling berjabat tangan dan berpelukan mesra.
"Senang bertemu dengan Mbak Yu" sambut Bu Suci.
"Ayo silahkan duduk" ajak Pak Ardianto.
"Eeeh Bela ikut juga toh.. " ujar Bu Dhisti.
"Iya Tante" jawab Bela ramah. Dia berpelukan dengan Bu Dhisti.
Tatapan Aril tak pernah beranjak dari gerak gerik Bela. Rasanya sangat senang sekali bisa melihat Bela kembali setelah pertemuan mereka dua minggu yang lalu.
"Eh ini Mamanya Mas Refan Bel" ujar Kinan memperkenalkan Bela kepada Ibu Suci.
"Bela Bu" ucap Bela ketika mencium tangan Bu Suci.
"Maaf Nak Bela ini siapanya....?" tangan Bu Suci ramah.
"Bela ini adiknya Mas Bima Bu" jawab Kinan.
Seketika Aril terkejut mendengar perkataan Kinan barusan.
Apa? Ternyata Bela ini adiknya Bima, bukannya pembokat? Mati aku... duh malu banget tadi aku udah tanya langsung lagi sama Bela sudah berapa lama dia bekerja jadi pembokatnya Bapak Akarsana. Ucap Aril dalam hati.
Rasanya seketika Aril ingin segera lari dari ruangan ini dan menghilang sangkin malunya kepada Bela karena sudah salah sangka.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1