Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 208


__ADS_3

Keesokan harinya...


Pagi - pagi Reni dan Bela sudah sibuk di dapur membantu Ibunya menyiapkan sarapan pagi. Asisten rumah tangga Bu Akarsana biasanya baru datang setelah jam delapan pagi.


Bela sangat senang karena pagi ini dia kembali seperti mempunyai saudara perempuan setelah sekian lama di rumahnya. Dulu setiap Kinan datang ke Surabaya bersama Kakaknya Bima mereka sering masak bersama seperti ini.


Bu Akarsana juga sangat senang sekali akhirnya rumahnya ramai kembali. Apalagi saat ini Bimo sudah kembali pulang ke rumah mereka. Dan pagi ini ada Reni yang datang bersamanya membuat dapur kembali ramai.


"Mmmm... wangi sekali nasi goreng nya bu" ujar Reni.


Bu Akarsana tersenyum kepada Reni.


"Saparan sudah siap, kalian sudah siapkan peralatan makannya?" tanya Bu Akarsana kepada Bela.


"Udah Bu" jawab Bela.


"Sudah sana panggil Bapak dan Kakak kamu, juga Nak Aril" perintah Bu Akarsana.


Bela segera melangkah ke depan untuk memanggil Pak Akarsana, Bimo dan Aril. Tak lama kemudian tiga pria itu sudah sampai di ruang makan.


"Yuk kita makan dulu, setelah itu baru bersiap ke wisudanya Bela" ajak Bu Akarsana.


"Mmm.. wangi banget Bu" puji Bimo.


"Reni juga bilang begitu tadi" sambut Bu Akarsana.


Reni dan Bimo saling tatap sesaat setelah itu Reni segera melempar pandangannya ke arah lain. Bu Akarsana tersenyum karena mencium aura salah tingkah dari keduanya.


"Ayo kita mulai makan" ajak Pak Akarsana.


Mereka mulai menikmati hidangan sarapan pagi. Karena pagi ini mereka harus segera berangkat ke kampusnya Bela acara sarapan pagi tidak bisa santai seperti biasanya.


Dengan ringkas dan sigap akhirnya sarapan pagi selesai dengan cepat. Setelah itu mereka bergegas ke kamar masing - masing untuk bersiap.


Sekitar jam setengah delapan pagi mereka sudah siap di ruang tamu hendak pergi ke acara wisudanya Bela. Aril, Bimo, Bapak dan Ibu Akarsana sudah menunggu sejak tadi.


"Bela udah siap? Cepetan ayo... nanti kita telat lho.. " panggil Bu Akarsana.


"Iya Bu sebentar, ni udah mau keluar" balas Bela dari kamarnya.


Tak lama kemudian Bela dan Reni keluar dengan menggunakan gaun cantik menutupi tubuh mereka. Semua terpesona melihat penampilan mereka. Aril bahkan lupa menutup mulutnya sedari tadi karena sangkin terpesonanya.


Reni berdiri di dekat Aril sedangkan Bela berdiri di samping Ibunya. Reni mendekati Aril dan berbisik.


"Tolong bibirnya di kondisikan Mas jangan terbuka terus entar nyamuk masuk baru tau" bisik Reni sambil tersenyum.


Sontak Aril tersadar dan menutup mulutnya.


"Sudah siap?" tanya Pak Akarsana.


"Sudah Pak" jawab Bela.


Mereka keluar rumah rumah dan berjalan menuju mobil. Bapak dan Ibu Akarsana masuk ke dalam mobil bersama Reni dan Bela sedangkan Aril dan Bimo naik ke mobil yang satunya lagi. Mereka berjalan beriringan menuju kampus Bela.


Sesampainya di kampus Bela sudah ramai dengan para wisudawan wisudawati beserta keluarga mereka. Begitu Bela tiba di lokasi langsung disambut oleh teman - temannya.


"Beeeeel... cantik sekali kamu" sambut sahabat Bela.

__ADS_1


"Aaaaah biasa aja. Ini karena tadi aku di dandani Reni saudara aku yang datang dari Jakarta. Kenalkan Ren ini sahabat aku" ujar Bela.


"Reni... " ujar Reni sambil mengulurkan tangannya.


"Ela" ujar gadis yang ada di depan mereka


"Eeeh Paaak Bu.... " sapa Ela pada Bapak dan Ibu Akarsana.


"Ela.. kamu cantik sekali" sambut Bu Akarsana.


"Aah Ibu.. biasa aja kok" jawab Ela.


"Mana Bapak sama Ibu kamu?" tanya Bu Akarsana.


"Tuh di sana lagi nunggu cucunya. Katanya sebentar lagi Kakaknya Ela datang" jawab Ela.


"Oh pantas, mereka pasti sayang banget sama cucunya" balas Bu Akarsana.


Ela memanggil Bapak dan Ibunya untuk berkenalan dengan orang tua Bela. Bapak dan Ibu Akarsana saling berjabat tangan dengan orang tuanya Ela.


Ela mendekat ke arah Bela.


"Bel... itu kakak kamu? Bukannya sudah meninggal?" tanya Ela.


Bela tersenyum menatap wajah Ela yang penasaran, wajar saja Ela bertanya begitu karena Ela tidak tau cerita tentang Bimo.


"Itu Kak Bimo kakak tertua aku, kembarannya Kak Bima. Dia merantau ke Papua sudah sepuluh tahun dan baru pulang sekarang" jawab Bela.


"Mas Bimo, Mas Aril kenalkan sahabat aku Ela" ujar Bela.


Bimo dan Aril saling berjabat tangan dengan Ela.


Reni dan Bimo saling pandang. Sepertinya udah dua orang yang pernah bertanya begitu pada mereka.


"Bu.. Bukan aku belum menikah" potong Reni.


Aril tersenyum sambil menyenggol lengan Reni dan berbisik.


"Aamiin... semoga dikabulkan Allah" goda Aril.


Reni langsung mendelikkan matanya ke arah Aril.


"Saya duda dan Dek Reni ini masih gadis. Kami tidak ada hubungan apapun. Dia keluarga kami dari Jakarta" ujar Bimo meluruskan.


"Oooh maaf Mas.. aku kira tadi suami istri, habis serasi banget" ucap Ela polos.


Reni dan Bimo saling lirik tapi setelah itu Reni langsung membuang wajahnya ke arah lain.


"Tuuuh Ela aja bisa menilai keserasian kalian" bisik Aril pada Reni.


Reni menginjak kaki Aril karena kesal.


"Aaaaawww... Reen sakit banget" teriak Aril.


"Sorry Mas gak sengaja" potong Reni.


"Mana tumit sepatu kamu runcing banget, duh pasti luka nih kakiku" ujar Aril masih meringis.

__ADS_1


"Eh masuk yuk, acara akan dimulai" ajak Ela.


Reni dan Ela segera masuk ke dalam ruangan dan bergabung dengan para mahasiswa mahasiswi lain sedangkan yang lainnya duduk di barisan keluarga.


Acara berlangsung selama dua jam. Sekitar jam sebelas siang mereka sudah keluar dari ruang wisuda. Kini tinggal acara foto - foto.


Aril beralih profesi sebagai juru foto walau hanya pakai ponselnya. Ketepatan ponsel Aril memang keluaran terbaru jadi cameranya sudah canggih.


Pertama dia memotret Bela sendirian kemudian foto Bela bersama Ela setelah itu Reni masuk. Kemudian foto keluarga Bapak dan Ibu Akarsana bersama Bela dan Bimo baru setelah itu foto ramai - ramai.


Aril mendekati Reni dan berbisik.


"Ren fotoin aku dengan Bela donk" pinta Aril.


"Maleees" jawab Reni.


"Ih ni anak gak bisa diajak kerjasama" ujar Aril.


Reni yang tau diri dan tau balas budi karena tiket dan fasilitas dia selama di surabaya ditanggung Aril akhirnya menyerah juga.


"Ya sudah sini ponselnya Mas. Sono noh berdiri di dekat Bela" perintah Reni.


"Okeeey... " sambut Aril.


Aril berjalan menuju Bela.


"Eh aku mau donk foto sama calon sekretaris aku" pinta Aril.


"Duh jadi gak enak nih Mas" sambut Bela.


"Nanti fotonya kamu pajang di meja kerja kamu ya di kantor" perintah Aril.


"Ih malu donk Mas, kelihatan banget aku KKN" ucap Bela.


"Hahaha.. aku cuma bercanda kok. Reeen.. tolong fotoin kami ya" pinta Aril.


"Oke sep Maaaas" jawab Reni.


Reni berdiri di depan Aril dan Bela dan segera mengambil gambar mereka berdua. Reni sengaja mengambil beberapa foto agar Aril merasa puas dengan kerjanya.


Setelah itu Reni menyerahkan kembali handphone Aril dan berdiri tepat di samping Bimo. Aril langsung tanggal dan mengarahkan ponselnya kepada mereka.


"Reeen, Biiiim lihat ke sini" teriak Aril.


Sontak Reni dan Bimo menatap Aril.


Jepreeeet....


"Nah cakep, serasi banget" gumam Aril.


Reni dan Bimo jadi salah tingkah dan saling pandang karena sikap Aril barusan. Lagi - lagi Aril tak mau menyia - nyiakan moment tersebut.


Jepreeeet.... Aril mengambil foto mesra mereka sekali lagi.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2