Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 293


__ADS_3

Akhirnya Bimo dan Reni berangkat ke praktek dokter kandungan. Mereka pergi ke dokter kandungan yang sama dengan dokter kandungannya Kinan.


Reni duduk di belakang sendirian sedangkan Bimo duduk di depan menyetir mobil. Benar kata Aril tadi, Bimo udah kayak supir kalau seperti ini.


"Nyonya Bimo Akarsana mau diantar kemana?" goda Bimo.


"Mas Bimooooo... " sambut Reni.


"Hahaha... becanda sayang biar kamu gak mual" sambut Bimo.


"Maaf ya Mas ini semua kemauan anak kamu. Aku sebenarnya pengen banget dekat kamu. Pengen dipeluk tapi kalau udah dekat kamu aku jadi mual" ungkap Reni merasa bersalah.


"Gak apa sayang, aku ngerti kok. Maaf juga kalau anak kita udah ngerepotin kamu. Kamu jadi mual - mual dan muntah - muntah. Kamu yang kuat ya" hibur Bimo.


"Iya Mas, makasih ya udah mau ngertiin aku" jawab Reni.


Tiba - tiba ponsel Reni bergetar tanda pesan masuk. Rupanya dari Aril yang meminta bantuan Reni. Tak lama ponselnya berdering. Reni langsung mengangkatnya.


Aril pura - pura datang ke rumah mereka karena mendapat pesan dari Romi kalau saat ini Romi dan Ela pergi dan Bela tinggal sendirian di rumah. Bela pasti ketakutan sendirian di rumah apalagi hari udah gelap banget karena mendung.


Reni meminta Aril untuk menemani Bela di rumah. Padahal itu hanyalah rencana kerjasama mereka untuk membuat Aril bisa punya alasan berduaan dengan Bela.


Setelah Reni selesai ngobrol dengan Aril, Bimo yang mendengar pembicara mereka jadi penasaran.


"Aril di rumah kita yank, ngapain?" tanya Bimo heran. Tadi padahal mereka baru bertemu di rumah Refan tapi Aril gak ada cerita mau main ke rumah.


Reni hanya senyum - senyum membayangkan akal bulus Aril yang berjalan sesuai rencana mereka.


"Bukannya katanya Aril udah di tolak Bela? Kok Aril datang? Ela juga kan pergi sama Romi ke rumah orang tuanya Romi?" tanya Bimo penasaran.


"Justru karena itu Mas. Mas Romi ngabari Mas Aril kalau Bela sendirian di rumah. Bela kan takut Mas kalau hujan deras ditambah suara petir" jawab Reni.


"Iya benar, Bela pasti takut banget saat ini. Untung juga ada Aril. Eh tapi mereka berduaan di rumah yank. Kan bahaya?" ujar Bimo.


"Hahaha Mas Aril kan sudah dewasa Mas dan juga sudah tobat. Dia tidak akan macam - macamin Bela. Apalagi Bela adiknya Mas dan adik iparku. Bisa di sunat ramai - ramai dia kalau berbuat sesuatu pada Bela" balas Reni.


"Iya deh, aku percaya pada Aril. Bela juga pasti bisa jaga diri" sambut Bimo.


Akhirnya Reni dan Bimo sampai juga di Rumah Sakit, untung sejak pagi Kinan sudah mendaftarkan nama Reni jadi Reni tidak perlu menunggu telalu lama antriannya.


Begitu mereka sampai ke praktek dokter langsung melapor dan tak lama kemudian Reni dan Bimo dipersilahkan masuk.


"Ibu Reni Adinata" panggil seorang perawat.

__ADS_1


"Iya Sus" sambut Reni.


"Silahkan masuk Bu" perintah perawat itu.


Reni dan Bimo masuk ke dalam ruangan praktek dokter. Mereka langsung duduk di depan meja dokter.


"Selamat sore Pak, Bu.. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Dokter tersebut dengan ramah.


"Mm.. anu Dok, saya mau cek kandungan" jawab Reni.


"Kehamilan yang keberapa?" tanya Dokter tersebut.


"Pertama" jawab Reni.


"Sudah test kehamilan sebelumnya?" tanya Dokter.


"Sudah dan hasilnya positif" balas Reni.


"Baik kalau begitu silahkan naik ke atas tempat tidur ya biar saya periksa" perintah dokter.


Reni segera naik ke atas tempat tidur dan berbaring. Dokter dengan dibantu perawat menaburkan gel ke atas perut Reni. Kemudian dokter mulai memeriksan Reni.


Dokter tersenyum ketika melihat layar monitor.


"Maaf Dok, boleh tanya?" Bimo ikut bersuara.


"Silahkan Pak" sambut sang Dokter.


"Bayinya ada berapa ya?" tanya Bimo.


Dokter tersenyum, mengerti maksud dari pertanyaan Bimo.


"Kenapa Pak? Berharap kembar ya?" tanya Dokter.


"Iya.. maklum saya juga kembar. Siapa tau anaknya kembar juga" balas Bimo.


"Maaf ya Pak, mungkin yang kedua bisa diprogram untuk bayi kembarnya tapi saat ini bayinya cuma ada satu" jawab Dokter.


"Oh iya Dok, gak apa - apa. Satu aja udah bersyukur banget" balas Reni.


Reni melirik suaminya dan Bimo tersenyum bahagia. Benar kata istrinya, satu aja harusnya sudah bersyukur banget dia menikah dulu dengan Elliah delapan tahun belum diberi kepercayaan untuk mempunyai anak. Bersama Reni baru satu bulan lebih menikah Reni sudah hamil.


Benar kata - kata dan pesan orang tua, ternyata restu orang tua itu dalam berumah tangga sangat penting. Pernikahannya dulu bukan hanya di tentang oleh orang tua tapi dia juga sudah sangat berdosa pada agama.

__ADS_1


Memang inilah yang terbaik Allah berikan kepadanya. Bahkan dia sangat bersyukur Allah sangat berbaik hati memberikan sesuatu yang selama ini belum pernah dia miliki walau dia sudah melakukan banyak kesalahan.


Allah sungguh Maha Pengampun, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Bimo tak henti - hentinya bersyukur di dalam hatinya atas apa yang telah dia miliki hari ini, esok dan seterusnya.


"Apakah istri dan anak saya baik - baik saja Dokter?" tanya Bimo khawatir.


"Sejauh ini baik - baik saja Pak. Apakah Ibu ada keluhan?" tanya Dokter.


"Saya mual kalau mencium bau - bauan yang menyengat, terlebih saya juga sangat mual kalau dekat - dekat suami saya" jawab Reni malu.


Dokter tersebut tersenyum ramah.


"Masih wajar kok bu, buat Bapak yang sabar ya kalau Istrinya belum mau berdekatan dulu. Kadang ngidamnya Ibu hamil suka yang aneh - aneh Pak. Tapi ngidamnya Ibu masih wajar Pak. Nanti juga kalau Ibu kangen si Bapak akan di peluk juga" sambut Dokter


"Kalau pagi juga suka mual Dok" ujar Reni.


"Nanti saya kasih resep obat untuk penghilang rasa mual ya dan vitamin untuk Ibu hamil" jawab Dokter.


"Untuk saya Dok?" tanya Bimo.


"Mas mau minta obat apa sama Dokter?" tanya Reni bingung.


"Obat supaya kamu gak mual dekat - dekat aku dan cium wangi aku yang kamu bilang bauk. Padahal aku sudah mandi berulang - ulang dan pakai minyak wangi yang banyak" jawab Bimo.


Dokter tersenyum dan tertawa lucu mendengar percakapan pasutri di depannya.


"Sayangnya saya tidak punya obat seperti itu Pak. Saya juga gak punya obat sabar untuk Bapak" ujar Dokter cantik itu sambil tersenyum.


Bimo menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dokter kembali ke meja kerjanya dan menuliskan resep untuk Reni. Sementara Reni turun dari tempat tidur dan mau dibantu Bimo tapi dia menolaknya dan memberi isyarat kepada Bimo agar menjauh darinya.


Dengan wajah pasrah Bimo menjauh dari istrinya padahal dia ingin sekali memeluk istrinya itu dan mengucapkan terimakasih serta rasa syukurnya atas kehamilan istrinya itu.


"Ini ya Bu resepnya, silahkan di tebus di apotek. Buat Bapak sekali lagi yang sabar ya... " pesan Dokter.


"Iya Dok, terimakasih ya... " sambut Bimo.


Reni dan Bimo berjabat tangan dengan Dokter dan keluar dari ruangan pemeriksaan Dokter. Setelah menebus obat dan membayar administrasi mereka keluar dari area Rumah Sakit.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2