Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 324


__ADS_3

Dua belas tahun kemudian.


"Mamaaaa.... Mamaaaaa... perutku sakit sekali" panggil Naila.


Kinan berjalan menuju kamar Naila karena mendengar putrinya memanggil. Semakin dekat kamar Naila dia semakin jelas mendengar suara rintihan Naila yang sepertinya sedang kesakitan.


Sesampainya di kamar Naila, Kinan memegang tubuh Naila dan mengecek keadaan Naila.


"Tidak demam" ucap Kinan.


"Perutku sakit sekali Ma" lapor Naila.


"Sakitnya gimana sayang?" tanya Kinan.


"Sakitnya melilit sampai ke pinggang" jawab Naila.


"Kamu ada salah makan? Tadi bulak balik ke kamar mandi?" selidik Kinan.


Naila menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah sebentar Mama ambil obat ya" ujar Kinan.


Tiba - tiba Kinan melihat ada bercak darah di seprai tempat tidur Naila.


"Ya Allah Nak.. ternyata putri Mama sudah dewasa. Kamu sakit perut karena datang bulan sayang" ucap Kinan.


Naila menatap Kinan dengan wajah bingung.


"Sekarang kamu ke kamar mandi, cuci pakaian dalam kamu. Mama akan ke kamar sebentar dan ajari kamu cara memakai pembalut" perintah Kinan.


"Iya Ma" jawab Naila patuh.


Naila langsung berjalan menuju kamar mandi sedangkan Kinan beranjak menuju kamarnya. Setelah mengambil pembalut, Kinan membuat ramuan rempah - rempah untuk meredakan sakit perut Naila kemudian membawanya ke kamar Naila.


Kinan mengajari Naila cara memakai pembalut kemudian memberikan ramuan rempah- rempah kepada Naila.


"Nih minum ini biar nyeri di perut kamu reda" perintah Kinan.


"Iya Ma" jawab Naila.


Naila mengikuti perintah Kinan dan meminum ramuan sampai habis.


"Sekarang ganti seprainya ya, seprai kamu sudah kotor karena terkena darah" perintah Kinan.


Kinan membantu Naila mengganti seprai tempat tidurnya dengan penuh kesabaran.

__ADS_1


"Selama kamu datang bulan usahakan selalu minum air hangat ya sayang" pesan Kinan.


"Iya Ma.." jawab Naila patuh.


"Mama ke kamar dulu ya tadi Papa kamu minta di urut sebentar" ujar Kinan.


"Makasih ya Ma" sambut Naila tulus.


Kinan mengusap lembut kepala Naila kemudian melangkah meninggalkan kamar Naila dan kembali ke kamarnya.


Refan sedang memainkan ponselnya dan duduk bersandar di dinding tempat tidurnya.


"Bagaimana keadaan Naila?" tanya Refan khawatir.


"Sudah mendingan Mas. Sudah aku suruh istirahat" jawab Kinan.


"Syukurlah.. " Refan menarik nafas panjang dan melepaskan ponselnya.


"Begitu cepat waktu berlalu, anak - anak tanpa terasa sudah beranjak dewasa" ungkap Refan.


"Mas sepertinya sudah saatnya kita memberi tahu kepada Naila tentang kisah hidupnya. Dia sudah baligh Mas, tidak bisa sembarangan lagi mengumbar auratnya. Ada kamu dan Salman di rumah ini" ujar Kinan.


"Iya sayang, mungkin sudah saatnya kita mengatakan yang sesungguhnya kepadanya. Tapi kasih aku waktu untuk berpikir bagaimana cara yang baik untuk mengatakannya. Selama ini aku sering berpikir bagaimana caraku mangatakan kepadanya bahwa aku bukanlah Papa kandungnya" ucap Refan.


Kinan menggenggam tangan suaminya dengan penuh kelembutan.


"Iya sayang, aku akan memberitahu kepadanya secepat mungkin" jawab Refan.


Keesokan harinya Kinan dan Refan masuk ke kamar Naila sebelum waktu tidur.


"Mama, Papa ada apa kalian berdua datang ke kamarku?" tanya Naila terkejut.


"Ada yang ingin kami bicarakan sayang" ujar Kinan.


"Baiklah kalau begitu" jawab Naila.


Naila dan Kinan duduk di atas tempat tidur sedangkan Refan duduk di kursi belajar yang ada di kamar Naila.


Kinan dan Refan menatap Naila dengan penuh perhatian dan kasih sayang.


"Sayang, apapun yang Papa dan Mama sampaikan malam ini. Ingatlah kalau kami sangat menyayangi kamu, sampai kapanpun kamu adalah putri sulung kami" ujar Refan.


Naila terlihat sangat tegang karena melihat wajah Kinan dan Refan yang sangat serius.


"Sayang... sebenarnya kamu bukan anak Papa dan Mama" ucap Refan akhirnya.

__ADS_1


Semua ini harus dia katakan karena Naila adalah anak perempuan, ada batas yang harus Refan jaga saat Naila sudah beranjak dewasa.


"Ma.. maksudnya apa Pa? Bukannya aku anak Papa dan Mama Renita?" tanya Naila.


Sejak Naila sekolah dia sudah tau kalau dia bukan anak kandung Kinan. Refan menikah dengan Kinan dan masing - masing membawa anak. Refan membawa Naila dan Kinan membawa Salman.


Naila melihat data administrasinya di rapot sekolahnya juga dalam kartu keluarga mereka. Sejak kecil dia tau antara dia dan Salman bukan saudara kandung. Tapi kasih sayang mereka sudah seperti saudara kandung dan tidak ada perbedaan dengan dua adik kembar mereka.


"Kamu anak Mama Renita tapi Papa bukan Papa kandung kamu sayang. Maaf kalau baru saat ini Papa bisa cerita sama kamu karena selama ini Papa dan Mama masih menganggap kamu anak - anak. Hingga kemarin Mama cerita ke Papa kalau kamu sudah datang bulan untuk pertama kali. Itu artinya kamu sudah dewasa, ada point - point penting dalam hidup ini yang harus kita jaga. Misalnya kamu harus menutup aurat kamu dari Papa dan Kakak kamu Salman. Karena kami bukan mahrom kamu" ungkap Refan dengan sangat hati - hati.


"Jadi siapa Papa aku Pa? Dimana dia?" tanya Naila.


"Papa dan Mama kandung kamu sudah meninggal. Besok Papa akan membawa kamu ke makam Papa kandung kamu ya" jawab Refan.


"Iya Pa" sambut Naila.


Belum genap empat belas tahun umur Naila, secara pikiran sebenarnya belum dewasa untuk menerima kenyataan hidupnya. Refan masih belum sanggup mengatakan bagaimana kisah hidup Naila yang sebenarnya.


Biar sajalah saat ini hanya kenyataan ini yang Naila ketahui. Kelak saat umur Naila semakin bertambah dan dia sudah sangat dewasa menerima kenyataan hidupnya. Refan dan Kinan berniat akan menceritakan kenyataan yang sebenarnya


Naila juga mungkin masih sangat terkejut sehingga dia tidak tau harus berkata apa - apa lagi. Refan mengelus lembut puncak kepala Naila.


"Mulai besok kamu harus pakai jilbab ya sayang walau kamu ada di rumah. Selebihnya tidak ada yang berbeda, Papa dan Mama sangat menyayangi kamu seperti dulu. Tidak akan ada yang berubah. Kamu jangan merasa diasingkan. Kamu tetap akan menjadi anak perempuan kami" ucap Refan lembut.


"Papa... boleh aku memelukmu?" pinta Naila. Rasa kecewa bercampur sedih mengetahui ternyata dia bukan anak kandung dari Refan.


Tanpa bisa dicegah air mata Naila mengalir deras. Kinan juga tak kuasa menahan air matanya. Refan tersenyum lembut kepada putrinya. Walau memang ada batas - batas yang harus di jaga mulai saat ini tapi rasa sayangnya pada Naila tidak ada yang berubah. Refan memeluk Naila erat.


"Sejak kamu lahir dan Mama kamu meninggal, Papa yang mengurus kamu sayang bersama Oma dan Tante Reni. Hingga setelah Papa menikah dengan Mama Kinan baru kami berdua mengasuh dan membesarkan kamu. Kamu tetap putri kesayangan Papa, tidak ada yang berubah" ungkap Refan lembut.


"Terimakasih Papa... terimakasih Mama.. Aku sangat sayang pada kalian" ucap Naila sambil menangis.


Kinan tak tahan melihat keduanya yang saling berpelukan erat. Kinan memeluk mereka berdua dan akhirnya mereka saling berpelukan.


"Mama juga sudah sangat menyayangi kamu sejak pertama Mama bertemu dan melihat kamu sayang. Bagi Mama kamu juga putri kesayangan Mama" ungkap Kinan haru.


.


.


BERSAMBUNG


Selamat Hari Raya Idul Fitri, Minal Aidin Walfaidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin bagi para readers yang merayakannya.


Semoga amal ibadah kita di bulan Ramadhan diterima oleh Allah SWT.

__ADS_1


Terimakasih kalian masih setia membaca novel saya ini sampai selesai.


__ADS_2