
"Ya Tuhaaaaan..... apakah aku bermasalah Nan, Apakah aku tidak bisa punya?..." Refan panik.
"Maaaaas.... jangan berpikiran terlalu jauh, tadi kamu bilang kalian berdua sudah di periksa kan? Dan kamu bilang, kamu tidak ada masalah hanya Renita yang sedikit bermasalah karena meminum pil KB" potong Kinan berusaha menenangkan Refan.
Saat ini Refan benar - benar sedang kacau, panik dan galau. Kinan memeluk Refan.
"Maaaas.. apapun yang terjadi dengan kamu, aku tidak akan meninggalkan kamu. Karena kamu adalah suamiku. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri pada saat ijab kabul kita di rumah sakit dulu. Hanya maut yang bisa memisahkan kita" ungkap Kinan.
Hari Refan sangat tenang dan dingin. Seperti ada air es yang menyiram panasnya hati dan kepala Refan saat ini. Refan membalas pelukan Kinan dengan erat.
"Makasih Nan. Tolong... tolong jangan tinggalkan aku. Jangan pernah tinggalkan aku sendiri Nan. Aku sangat butuh kamu saat ini. Aku butuh kamu dalam kehidupanku" Refan kembali meneteskan air matanya.
"Iya Mas.. aku tidak akan meninggalkan kamu apapun yang terjadi" jawab Kinan.
"Terimakasih Nan" balas Refan.
"Menurut aku apa yang Mama katakan tadi perlu Mas pikirkan. Sebaiknya Mas kawal pemeriksaan darah Naila, tadi aku lihat Mamanya Almarhumah Renita sangat tidak terima. Bukannya mau suudzon Mas tapi gak ada salahnya kalau kita waspada kan?" ujar Kinan.
"Iya aku akan kawal pemeriksaan DNA Naila. Bila perlu aku akan lakukan tes tersebut di beberapa rumah sakit" sambut Refan.
"Tidak perlu Mas, kasihan Naila. Saat ini dia pihak yang paling tersakiti akibat ulah para orang dewasa. Tapi mau gimana lagi tes DNA memang harus dilakukan Mas agar semua jelas. Kalau memang dia bukan anak Mas kita bisa bersikap ke depannya. Mencari Bapak kandungnya atau saat dia besar Mas kan bisa jaga sikap dengan Naila karena dia bukan mahramnya Mas. Dia bukan darah daging Mas jadi ada batasan - batasan yang tidak bisa dilalui. Misalnya aurat, wali nikah dan lainnya" ungkap Kinan.
"Iya Nan, makasih kamu sudah memberikan aku pencerahan. Aku akan berusaha kuat menjalani semua ini" balas Refan.
"Lihat Mas, lihat bayi mungil itu. Dia sangat lucu sekali apakah Mas tidak menyayanginya?" Kinan menunjuk ke arah Naila yang sedang tidur dengan lelapnya.
Tatapan Refan terlihat sendu, apakah dia sedih karena melihat keadaan Naila saat ini atau sedih karena bisa jadi Naila memang bukan anaknya atau lebih sedih lagi karena mengetahui Naila adalah buah dari perselingkuhan istrinya.
Refan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Dia tidak bersalah Mas. Dia belum tau kejam dan pahitnya dunia ini. Dia hanya tau susu dan tidur Mas saat ini" Sambung Kinan.
Refan berdiri dan mendekati Naila. Tak bisa di pungkirinya kalau dia sangat menyayangi Naila. Refan kembali teringat saat Renita memberikan hasil test packnya yang mengabarkan berita kehamilannya pertama kali. Kemudian awal - awal kehamilan Renita, saat dia muntah dan mual karena hamil muda. Kemanjaan Renita meminta dia membawakan makanan ini, makanan itu kemudian detik - detik saat Renita akan melahirkan. Alangkah senangnya dia saat itu.
Tapi semua itu palsu, sebenarnya tanpa tes DNA Refan yakin kalau Naila bukan anaknya karena golongan darahnya berbeda dengan Naila. Refan semakin yakin Renita sudah membohonginya selama ini. Renita sudah selingkuh di belakangan.
Tangan Refan mengepal, tiba - tiba hatinya kembali panas. Refan segera melangkah keluar dari ruangan rawat inap Naila.
"Mas kamu mau kemana?" tanya Kinan.
"Nan titip Naila sebentar ya. Aku mau ke ruangan administrasi setelah itu aku mau pergi ke suatu tempat. Gak lama kok, kalau ada apa - apa kamu telpon aku ya" jawab Refan serius.
Melihat wajah serius Refan, Kinan tidak berani. mencegahnya. Mudah - mudahan Refan tidak melakukan hal yang bisa merugikan dirinya ss diri. Itulah doa Kinan.
"Hati - hati ya Mas" ujar Kinan.
"Selamat siang, saya Refan Adinata" ujar Refan memperkenalkan dirinya.
"Bapak Refan yang tadi baru meminta tes DNA anaknya ya?" tanya pegawai rumah sakit.
Sepertinya dengan sebentar saja dia sudah sangat terkenal di rumah sakit ini hanya gara - gara tes DNA.
"Ya" jawab Refan singkat.
"Ada yang bisa kami bantu Pak?" tanya pria itu lagi.
"Begini, saya ingin test DNA putri saya dilakukan dengan tertutup, jangan sampai ada pihak mana pun yang mengetahuinya dan saya ingin kerahasiaannya benar - benar di jaga, termasuk hasilnya. Seandainya ada yang tidak beres seperti memanipulasi hasilnya saya akan melakukannya di rumah sakit lain di luar sana dan saya akan menuntut rumah sakit ini" ancam Refan.
"Tenang Pak, kami akan sangat menjaga rahasia ini dan hasilnya juga akan kami jamin benar - benar hasil yang sesungguhnya Pak, tidak akan ada rekayasa dalam pemeriksaan dan penentuan hasil pemeriksaannya. Bapak tenang saja" jawab Pegawai itu meyakinkan Refan.
__ADS_1
"Baik, hanya itu saja yang ingin saya pastikan. Kalau begitu saya pamit" Refan segera berdiri dan melangkah keluar dari ruangan administrasi.
Refan berjalan menuju parkiran mobil dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu dia menyalakan mobil dan keluar dari area parkiran rumah sakit.
Refan menjalankan mobilnya menuju suatu tempat. Selama dalam perjalanan Refan tak berhenti berpikir tentang kenyataan Naila bukan anaknya. Dia sangat yakin kalau Naila memang bukan anaknya. Sejak awal dia merasa Naila sedikitpun tidak ada miripnya dengan wajahnya.
Memang wajah Naila sangat mirip dengan Renita sehingga dengan senangnya dia menerima kenyataan itu. Mungkin dengan melihat wajah Naila bisa mengobati rasa rindunya kepada Renita.
Itu yang dia pikirkan dulu sebelum dia mengetahui kenyataan menyakitkan ini. Tapi kini entah mengapa hal itu sangat menyakitkan Refan. Saat ini dia hanya sendiri di dalam mobil. Air matanya tumpah dengan deras dan mengalir sampai pipi.
Dia benar - benar hancur menerima kenyataan ini. Tidak perlu waktu satu bulan untuk mengetahui Naila memang bukan anaknya. Saat ini Refan sudah sangat yakin Naila bukan anaknya. Selain dari golongan darah yang sama sekali tidak berhubungan, Refan semakin yakin karena mimpinya beberapa hari yang lalu.
"Kamu kejam sekali Renita.... Aku tulus mencinta kamu. Aku rela melawan keluargaku demi untuk menikahi kamu tapi apa balasannya kamu mengkhianatiku.... " teriak Refan di dalam mobil.
"Aaaaaaaaakkkkkkh... " teriak Refan untuk mengeluarkan sakit di dadanya. Dadanya terasa sangat sesak menahan pedihnya hatinya.
Mobil Refan melaju menuju ke tempat pemakaman umum. Dia keluar dari mobil dan berjalan menuju makan Renita.
Kini Refan tepat berdiri di depan makan Renita, dia memandang lekat nama yang tertulis di batu nisan, Renita Santoso.
Pandangan Refan teralihkan dengan sebuket bunga mawar merah di dekat batu nisan. Bunga mawar merah adalah bunga kesukaan Renita. Siapa yang meletakkan bunga tersebut? Dari bentuknya ini bunga yang di beli khusus dan tidak banyak orang yang tau bunga kesukaan Renita. Hanya Refan dan keluarga dekatnya.
Tapi Refan sangat yakin Talita Mamanya Renita tidak datang ke makam ini hari ini. Lantas siapa yang datang membawa bunga ke makam Renita? Apakah dia orang yang spesial? Batin Refan.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1