Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 340


__ADS_3

"Re.. Renita.. ti.. tidak mungkin. Renita sudah meninggal. A.. apakah kamu anaknya?" ucap wanita itu menatap wajah Naila.


Sontak seluruh keluarga yang mendengar ucapan wanita itu langsung terdiam dan berhenti.


Siapa wanita yang masih mengenal dan mengingat Ibunya? Tanya Naila dalam hati.


Naila diam mematung, Jeta langsung pasang badan.


"Maaf mungkin anda salah orang" ucap Jeta membela.


"Wajah kamu mirip sekali dengan Almarhumah Renita" ujar wanita itu lagi.


Benar.. dia memang mengenal Mamaku. Ucap Naila dalam hati.


Refan dan Kinan memperhatikan wanita itu dengan seksama.


"Febri... Kamu Febri kan?" tanya Refan.


Wanita itu menatap ke arah Refan.


"Refan Adinata.. Rupanya kamu yang merawat putri Renita dan Arga?" tanya wanita itu.


"Maaf Mbak Jelita dan yang lainnya, kalian bisa duluan masuk ke dalam. Biar aku, Kinan dan Naila saja yang tinggal di sini" pinta Refan.


Kinan langsung merapat kedekat Naila. Dia sangat paham, kalau saat ini Naila pasti sangat tegang. Ada orang lain selain keluarga yang mengenalinya sebagai anak dari Renita dan Arga.


"Ma.. siapa Tante ini? Apakah dia mengenaliku?" tanya Naila bingung dan cemas.


"Sayaaang kamu tenang dulu ya" jawab Kinan mencoba menenangkan Naila.


"Lama tidak bertemu dengan kamu Febri. Apa kabar Rendy? Setelah kalian menikah dan Rendy membantu kamu di Perusahaan kamu. Aku tidak pernah bertemu dengan kalian lagi?" tanya Refan ramah.


"Alhamdulillah kami berdua baik, Fan" jawab Febri.


"Papa mengenal Tante ini?" tanya Naila penasaran.


Refan tersenyum lembut kepada putrinya.

__ADS_1


"Iya sayang, Papa mengenal Tante ini. Nanti Papa akan cerita pada kamu di rumah ya. Tak pantas rasanya kalau kita bahas disini. Aku harap kamu mengerti Febri. Boleh aku meminta kartu nama kamu? Siapa tau suatu waktu aku membutuhkan bantuan kamu" pinta Refan dengan sopan.


"A.. aku mengerti Refan. Maaf kalau pertemuan kita ini sudah membuat kamu dan keluarga kamu terganggu. Aku hanya terkejut melihat putri kamu ini. Wajahnya begitu mirip dengan Almarhumah Renita" sambut Febri.


"Ya.. dia memang putri Renita yang kami besarkan setelah Opa dan Oma nya meninggal. Itu adalah amanat terakhir dari Papa Reno dan Mama Thalita" ujar Refan.


"Iya, aku sudah dengar dari Mas Rendy. Ini kartu namaku Fan" Febri memberikan secarik kertas yang merupakan kartu nama miliknya.


"Maaf Mbak Febri kalau situasinya tidak nyaman. Kapan - kapan kami akan undang Mbak Febri dan Mas Rendy main ke rumah kami. Kita bisa ngobrol panjang lain waktu" ujar Kinan dengan wajah lega.


"Dengan senang hati, aku akan menunggu undangan dari kalian" sambut Febri.


Febri terus menatap wajah Naila dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. Naila yang tidak mengetahui apa yang telah terjadi dan siapa wanita ini bersikap sangat santun di hadapan Febri.


"Refan dan Kinan berhasil membesarkan kamu dengan sangat baik. Walau wajah kamu sangat mirip dengan Almarhumah Renita tapi tampilan dan sikap kamu sangat jauh berbeda. Aku harap kamu tumbuh menjadi wanita yang baik dan solehah" ujar Febri tulus.


"Terimakasih Tante" jawab Naila dengan sangat santun.


"Kalau begitu aku pamit dulu Fan, Kinan. Mas Rendy sudah menungguku di rumah. Assalamu'alaikum" pamit Febri.


"Wa'alaikumsalam" jawab Refan, Kinan dan Naila.


"Siapa Tante itu Ma?" tanya Naila penasaran.


"Nanti setelah kita sampai rumah Papa akan cerita semuanya ke kamu sayang. Kamu tenang aja ya, yang penting semua baik - baik saja. Kamu tidak perlu khawatir" jawab Kinan.


Sesampainya mereka di dalam ruangan private yang sengaja di pesan oleh Bimo. Mereka langsung bergabung untuk menyantap hidangan makan siang bersama keluarga besar.


Tentu saja kejadian tadi sangat berpengaruh pada Naila. Dia terlihat sangat pendiam dan seperti sedang berpikit keras.


Refan dan keluarga intinya mengerti akan apa yang sedang Naila rasakan. Mereka berusaha menghibur Naila agar dia tidak terlalu khawatir dengan apa yang baru saja terjadi.


Suasana muram seketika menghampiri Naila. Perasaannya tidak enak setelah bertemu dengan wanita tadi. Dia sangat ingat siapa nama wanita itu.


Febri.. siapa dia? Mengapa Papa dan Mama tidak pernah cerita tentang wanita itu? Apakah dia mempunyai hubungan denganku? Mengapa tatapannya sangat dingin kepadaku? Seolah - olah dia sangat membenciku? Apakah dia musuh Mamaku dulu? tanya Naila dalam hati.


Acara makan siang berlalu begitu saja tanpa kesan bagi Naila. Karena dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Refan dan Kinan yang mengetahui kondisi Naila, pamit kepada seluruh keluarga untuk pamit bertiga. Sedangkan yang lainnya melanjutkan perjalanan untuk membawa keluarga Jeta keliling kota Jakarta untuk wisata kuliner.

__ADS_1


Refan, Kinan dan Naila sampai di rumah lebih dahulu. Begitu setibanya mereka di rumah Naila langsung ke kamarnya dan berganti pakaian. Setelah itu Naila segera keluar mencari kedua orang tuanya di kamar.


"Ma.. Pa... " panggil Naila dari luar.


"Ya sayang... tunggu sebentar ya" jawab Kinan dari dalam kamar.


"Mas... aku rasa Naila pasti sudah tidak sabar ingin bertanya tentang Febri? Lebih baik kita cerita semua Mas sekarang, sebelum yang lainnya pulang" ucap Kinan kepada Refan.


Refan menarik nafas panjang. Selalu berat jika menyangkut kisah hidup Naila.


Dia saja sangat berat untuk menceritakan semuanya. Apalagi Naila yang mendengar kenyataan sebenrnya.


Semoga Naila kuat. Doa Refan dalam hati.


"Baiklah yank, yuk kita keluar. Kita berdua sama - sama tau sifat Naila. Dia tidak akan tenang kalau belum mendapatkan jawaban dari pertanyaan di dalam hatinya. Aku yakin saat ini pasti sangat banyak pertanyaan - pernyataan yang sudah dia susun untuk kita" ujar Refan.


Kinan segera meraih tangan suaminya untuk memberikan semangat.


"Ayuk Mas" sambut Kinan.


Refan dan Kinan akhirnya keluar dari kamar dan mengajak Naila duduk di sofa teras belakang. Lebih baik cari suasana santai agar mereka tidak tegang.


"Ada apa sayang?" tanya Refan basa - basi.


"Pa... tadi katanya Papa dan Mama akan cerita padaku setibanya di rumah. Aku ingin dengar semua ceritanya?" tanya Naila to the point dan tanpa basa basi.


Kinan dan Refan saling pandang. Refan mulai menarik nafas panjang untuk memulai ceritanya.


"Seperti yang kamu ketahui sayang, Mama dan Papa kandung kamu melakukan hubungan terlarang. Mereka berdua sama - sama sudah berumah tangga. Mama kamu adalah istri Papa dan Papa kandung kamu adalah suami... Febri. Wanita yang kita temui di Restoran tadi" ungkap Refan akhirnya walau dengan sangat berat.


"Oh ya Allah.... " sambut Naila terkejut. Air matanya kembali mengalir.


Walau itu adalah perbuatan kedua orang tua kandungnya. Entah mengapa Naila sangat merasa bersalah akan hal itu. Refan yang seorang laki - laki saja sangat terluka saat mengetahui pengkhianatan istrinya. Apalagi wanita itu?


"Sayaaaang.... " ucap Kinan sambil memeluk Naila yang sedang menangis.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2