Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 257


__ADS_3

Bimo dan Reni sedang duduk di teras belakang sehabis shalat maghrib. Bela dan Ela sedang membantu Bu Akarsana di dapur menyiapkan makan malam sedangkan Bapak Akarsana masih di kamar.


Bu Akarsana dan Bela memang melarang Reni untuk ikut membantu mereka. Bela malah menyuruh Reni untuk menemani Bimo yang sedang duduk santai di teras belakang.


Kini disinilah mereka, sambil menikmati angin malam di teras belakang rumah Bimo.


"Akhirnya rumah ini akan menjadi rumah kita berdua. Dulu kan kita juga yang memilih rumah ini berdua" ucap Bimo.


Reni tersenyum malu mendengar ucapan Bimo. Reni teringat saat mereka datang ke komplek ini untuk mencari rumah Bimo. Reni yang memilih rumah ini pertama kali dan Bimo menyetujuinya.


Reni juga ikut memilih barang - barang yang kini di susun di rumah Bimo. Sebenarnya memang hampir semua barang dan tata letak rumah Bimo ini Reni yang menyusun dan merancangnya.


Sehingga Reni merasa sangat nyaman berada di rumah ini karena Reni menata rumah ini seperti menata rumahnya sendiri. Kalau di pikir - pikir sekarang ternyata dulu saat mereka merancang rumah ini berdua seperti merancang rumah impian mereka.


"Iya Mas, aku sendiri juga tidak menyangka" sambut Reni.


"Ada yang ingin kamu ubah atau renovasi pada rumah ini?" Bimo memberi tawaran.


"Nggak ada Mas, sudah sempurna. Aku suka semuanya" jawab Reni.


"Gak mau rumah impian lain?" tanya Bimo.


"Nggak Mas.. rumah ini saja sudah cukup" balas Reni.


"Ah rasanya gak sabar menunggu satu bulan lagi. Kamu akan menjadi tuan rumah di rumah kita ini" ucap Bimo.


Reni tersenyum dengan wajah yang merah merona. Bimo tersenyum lembut kepada Reni. Bu Akarsana dan Bela yang melihat mereka dari dapur duduk dengan mesra merasa sangat senang sekali.

__ADS_1


"Ibu sangat senang Kakak kamu bisa tersenyum bahagia seperti itu lagi" ujar Bu Akarsana.


"Iya bu" sambut Bela.


"Sejak dia kembali lagi pada kita baru belakangan ini Ibu melihat senyum bahagia Mas kamu itu. Sejak lamarannya diterima Reni" ucap Bu Akarsana.


"Ibu benar, saat Mas Bimo mengakui perasaannya padaku dengan jujur kepada Reni. Aku melihat binar bahagia di mata Mas Bimo. Makanya aku sangat mendukung keputusan Mas Bimo. Disamping itu aku juga sangat senang karena wanita itu adalah Reni Bu" jawab Bela.


"Tapi walau Reni adalah sahabat kamu tetap hormati dia ya nduk.. bagaimanapun setelah dia menikah, dia akan menjadi kakak kamu. Ada batasan dan privasi mereka yang harus kamu jaga" nasehat Bu Akarsana.


"Iya Bu" balas Bela.


"Reni saja sebentar lagi akan menikah dengan kakak kamu. Kamu kapan lagi? Umur kalian kan sebaya. Tuh Kakak kamu itu dulu nikah juga hampir seumuran kamu" ujar Bu Akarsana.


"Sabar Bu, aku kan masih cari calon yang tepat" balas Bela.


"Ada nak Aril yang selalu ada di dekat kamu. Dia kan sahabatnya Kakak kamu, coba tanya sama Kakak kamu gimana sifatnya? Apakah dia baik atau tidak? Ibu lihat dia seperti punya perhatian khusus pada kamu? Sejak awal dia sudah berusaha mendekati keluarga kita mungkin ingin mendekati kamu. Dia juga sengaja terima kamu sebagai sekretarisnya tanpa seleksi ketat padahal kamu baru wisuda dan belum berpengalaman" ucap Bu Akarsana.


"Iya atau teman Bimo yang lain, kan ada tiga yang masih jomblo. Tapi Si Riko katanya sudah ta'aruf. Hanya tinggal Aril dan Romi. Tapi kan yang paling dekat sama kamu Aril nduk. Coba kamu pertimbangkan. Lagian kalian terlalu sering pergi bareng, walau urusan pekerjaan tapi kamu dan Nak Aril kan sama - sama masih berstatus single. Bahaya kalau sering - sering pergi berdua. Ibu gak mau anak Ibu perempuan satu - satunya salah langkah dan salah pergaulan dengan laki - laki. Umur kamu juga sudah pantas untuk menikah, lebih baik langsung nikah saja seperti Mas Kamu dan Reni" sambung Bu Akarsana.


"Tapi Mas Aril itu kan playboy Bu" elak Bela.


"Selama kamu bekerja dengan dia apa julukan itu terbukti?" tanya Bu Akarsana.


"Ya tidak sih, kata Mas Bimo, Mas Aril nya kan sudah tobat" jawab Bela.


"Nah kan sudah bagus itu. Nak Aril sudah berusaha memperbaiki diri. Dulu Bapak juga pernah bilang masalah kamu dan Nak Aril. Saat itu Ibu juga kurang setuju dengan masa lalunya Nak Aril tapi saat Ibu menatap Reni, Ibu merasa bersalah. Reni saja yang masih muda bisa menerima Mas kamu dengan segala masa lalunya yang buruk. Masak Ibu yang lebih tua tidak bisa menilai niat baik seseorang untuk berubah hidup lebih baik. Terlalu jahat rasanya kalau Ibu membenci Nak Aril karena predikat masa lalunya sementara putra Ibu sendiri saja punya masa lalu yang lebih buruk dari Nak Aril" ungkap Bu Akarsana.

__ADS_1


Bela menatap wajah Ibunya, dia tidak menyangka Ibunya akan berkata seperti itu. Bela sendiri merasa tersadar dengan ucapan Ibunya.


Dia bukanlah manusia suci yang tak pernah berbuat salah. Masak iya harus menghakimi Aril sampai segitunya.


"Tapi Bu... aku dan wanita - wanitanya Mas Aril beda kelas Bu. Aku pernah melihat salah satu dari mereka saat kami meeting di luar. Wanita itu cantik sekali Bu. Bukan hanya wajah tapi tubuhnya juga. Pakaian dan aksesoris yang dia pakai semua mewah beda dengan aku yang hanya gadis kampung" ungkap Bela.


"Sejak kapan Nak kamu jadi minder seperti itu? Kalau Aril yang dulu mungkin wanita seperti itulah pilihannya. Tapi kamu kan bisa lihat bagaimana sikap Aril?" tanya Bu Akarsana.


"Memang sih waktu itu Mas Aril menolak wanita itu mentah - mentah. Tapi bisa jadi kan Bu itu hanya di depan aku. Di belakang siapa yang tau mereka masih berhubungan" jawab Bela.


"Huuus... jangan suudzon gitu nduk. Percuma donk Nak Aril udah ikut pengajian kalau kelakuannya tidak berubah. Kamu kan sudah semakin dewasa bisa menilai mana yang bohongan dan mana yang sungguhan. Sebaik - baiknya dia bersandiwara pasti akan terlihat itu nyata atau hanya settingan" balas Bu Akarsana.


Bela terdiam mencoba mencerna semua nasehat - nasehat Ibunya malam ini. Dan memikirkan tentang sikap Aril selama ini. Tampaknya memang begitulah adanya tidak ada settingan seperti yang ditakutkan Bela.


Selama ini yang terlihat dengan semua sikap Aril baik. Dia memperlakukan Bela dengan baik. Menghormati Bela sebagai wanita dan tidak pernah melecehkannya walau hanya dari sebuah pandangan.


Aril selalu menjaga sikapnya setiap bersama Bela bahkan sering menjaga Bela dari pandangan pria - pria hidung belang yang menjadi client mereka.


Aaah... jadi galau gara - gara omongan Ibu. Batin Bela.


"Hey.. kok malah melamun. Gih sana panggil kakak kamu dan Reni, ajak makan. Hidangan sudah siap semua. Setelah itu kamu panggil Bapak dan Ela ya kita makan bareng. Udah malam, kasihan Reni kalau pulang kemalaman. Setelah makan nanti biar diantar Bimo dia pulang" perintah Bu Akarsana.


"Baik Bu" sambut Bela.


Bela segera berjalan menuju teras belakang rumah dan memanggil Kakaknya dan Calon kakak iparnya untuk makan kemudian memanggil Bapak dan Ela di kamar untuk berkumpul di meja makan menikmati makan malam bersama.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2