Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 145


__ADS_3

"Kamu serius Nan? Kamu bisa pastikan itu nyata atau cuma khayalan kamu saja?" tanya Anita.


"Itu dia yang tidak bisa aku pastikan Nit. Saat di Bandara aku langsung pingsan. Gak tau apakah aku pingsan karena melihat Mas Bima atau karena aku pingsan aku seperti melihat Mas Bima. Kemudian yang kedua kali saat melihat wajah Mas Bima di parkiran Restoran saat itu keadaannya remang - remang. Jadi aku juga gak bisa pastikan apakah memang mirip wajah Mas Bima yang aku lihat atau aku seperti di bayang - bayangi wajah Mas Bima" cerita Kinan.


"Mungkin Bima kangen udah lama gak kamu kirimin doa" sambut Anita.


"Iya, kemarin aku, Mas Refan dan Salman udah ziarah ke makam Mas Bima" ungkap Kinan.


"Refan ikut juga, dia mau?" tanya Anita tak percaya.


Kinan menganggukkan kepalanya.


"Iya, Mas Refan ikut kami berziarah. Sekarang dia sudah banyak berubah Nit, apalagi setelah mengetahui kalau Renita mengkhianatinya di tambah lagi saat ini aku sedang hamil anaknya. Tapi aku tidak tau isi hatinya Nit. Apakah dia sudah mencintaiku atau tidak" jawab Kinan sedih.


Anita menepuk bahu temannya mencoba menenangkan.


"Aku yakin Refan pasti akan mencintai kamu Nan. Kamu jauh lebih baik ketimbang mantan istrinya. Sabar Nan, nanti kamu pasti akan menjadi pemilik hari Refan satu - satunya" ujar Anita memberi semangat.


Kinan menarik nafas panjang.


"Sudah siang, yuk balik ke kantor" ajak Anita


"Ayok" jawab Kinan.


Kinan dan Anita akhirnya kembali ke kantor mereka masing-masing. Saat Kinan memasuki kantornya dia berpapasan dengan Fadlan yang juga baru saja pulang dari makan siang.


"Nan makasih ya oleh - olehnya, udah sampai tadi di mejaku" ucap Fadlan.


"Iya, maaf cuma bisa bawa itu doank" balas Kinan.


"Gak apa - apa Nan" jawab Fadlan.


"Aku duluan ya Fad, belum shalat dzuhur" Kinan langsung pamit dia tidak mau mencari masalah lagi dengan Fadlan.


"Iya Nan" jawab Fadlan pasrah padahal dia ingin sekali berlama - lama ngobrol dengan Kinan.


Fadlan menatap kepergian Kinan dengan wajah sendu.


Seandainya aku mendapat istri sebaik, secantik dan solehah seperti kamu aku pasti senang sekali Nan. Mas Refan beruntung Nan mendapatkan istri seperti kamu. Batin Fadlan.


Sore harinya sepulang dari kantor Refan sudah menunggu Kinan di depan kantor Kinan. Fadlan yang melihat Refan datang langsung menghampirinya. Fadlan menjabat tangan Refan.

__ADS_1


Bagaimanapun Fadlan adalah keluarga Refan.


"Gimana kabarnya Mas?" tanya Fadlan ramah.


"Baik" jawab Refan singkat.


"Kinan sebentar lagi keluar Mas tadi saya lihat dia lagi shalat ashar" ujar Fadlan.


"Iya saya tau, tadi Kinan udah bilang sebelum saya sampai sini" balas Refan.


"Mas anu.. Maaf ya atas perbuatan saya yang lalu. Saya tau saya salah sudah pernah membuat Mas dan Kinan bertengkar" ungkap Fadlan.


"Sudah saya maafkan. Semua sudah berlalu" jawab Refan.


"Syukurlah saya jadi lega. Saya dan Kinan hanya teman sekantor saja Mas, jadi Mas gak perlu takut saya akan mengganggu Kinan bagaimanapun kita kan suadaraan ya Mas. Saya akan jaga Kinan kok di kantor demi Mas Refan" ucap Fadlan.


"Gak perlu Fad, Kinan bisa jaga diri kok kalau sedang tidak bersama saya. Dan kalau saya ada di dekatnya kamu tidak perlu mengkhawatirkannya. Kinan adalah istri saya, dia tanggung jawab saya. Jadi kami tidak perlu menjaga atau mendekati Kinan. Masih banyak gadis lain yang bebas untuk kamu pilih di luar sana, jadi jangan harapkan lagi Kinan dia sudah menjadi milik saya tidak akan pernah saya lepaskan" tegas Refan.


Fadlan menelan salivanya. Sepertinya dia sudah salah bicara. Maksud hati ingin memperbaiki hubungannya dengan Refan dan Kinan tapi sepertinya Refan masih tidak suka melihat keberadaannya.


"Kalau begitu saya pamit pulang duluan ya Mas" ujar Fadlan mundur undur diri.


"Silahkan" jawab Refan.


"Sudah lama Mas?" tanya Kinan.


"Belum kok, baru aja" jawab Refan.


"Kita langsung pulang atau Mas mau singgah dulu kemana gitu?" ujar Kinan menawarkan


"Gak usah, kita pulang aja dulu. Nanti kalau aku pengen sesuatu baru keluar lagi. Kamu pengen sesuatu gak?" tanya Refan lembut.


"Nggak, aku pengen cepat - cepat istirahat. Badanku pegel semua rasanya" jawab Kinan.


"Ya sudah nanti sampai rumah aku pijitin ya" Refan membuka pintu mobil untuk Kinan.


"Janji ya cuma pijitin jangan malah modus" ujar Kinan cemberut.


"Ya sekalian yank, mau jenguk anak - anak Papa" Jawab Refan sambil mengedipkan sebelah matanya dengan nakal ke arah Kinan.


"Maaaaas" protes Kinan.

__ADS_1


"Hahaha... " Refan menutup pintu Kinan lalu berjalan ke arah tempat duduk pengemudi.


Setelah Refan naik, dia mulai menyalakan mobil dan mulai bergerak menuju rumah.


"Tadi aku lihat dari dalam kantor Mas sempat ngobrol dengan Fadlan?" tanya Kinan penasaran karena dia melihat wajah Fadlan terlihat seperti malu saat meninggalkan Refan.


Apakah suaminya itu mengeluarkan kata - kata pedas. Karena sebelum sifat Refan berubah padanya Kinan sangat tahu kalau mulut suaminya itu sangat pedas kalau sudah berkata pada orang yang tidak dia suka.


"Iya, dia ngajak Mas ngobrol sebentar" jawab Refan sambil tetap serius menjalankan mobilnya.


"Ngobrol apaan?" tanya Kinan ingin tau.


"Masalah pria" jawab Refan santai.


"Aku gak boleh tau nih?" sindir Kinan.


Refan melirik saat ini wajah istrinya sedang cemberut karena jengkel. Refan langsung tersenyum melihat tingkah Kinan yang seperti anak - anak.


"Membahas tentang kamu pastinya. Dia menyuruh Mas untuk tidak mengkhawatirkan kamu saat di kantor karena sudah ada dia yang menjaga kamu. Menurut kamu pantas tidak dia berkata begitu kepada Mas yang tak lain adalah suami kamu? Dan pantas gak kalau Mas jadi marah karena mendengar perkataannya.


Astaghfirullah.. Fadlan mengapa masih mencari gara - gara sih. Padahal suasananya sudah tenang mengapa dia masih mencari masalah. Batin Kinan kesal.


"Ya gak pantas sih dia bersikap seperti itu" sambut Kinan.


"Terus Mas jawab apa padanya?" tanya Kinan lagi.


"Mas bilang, dia tidak perlu repot menjaga kamu karena saat Mas tidak ada di dekat kamu, kamu bisa menjaga diri kamu sendiri. Gak butuh bantuannya dan saat kamu ada di dekat Mas, ada Mas yang akan menjaga kamu. Dia tidak perlu khawatir. Lagian ngapain sih dia masih terus mengharapkan kamu. Masih banyak kan gadis - gadis di luar sana. Ngapain coba harus mengejar istri orang?" jawab Refan kesal.


Kinan menarik nafas panjang.


Apa yang Mas Refan katakan sangat benar, Fadlan kenapa sih seperti itu. Padahal kan dia masih muda, mapan dan tampan lagi. Pasti banyak gadis - gadis yang menyukainya. Ngapain harus merusak rumah tangga orang lain. Kinan semakin kesal melihat tingkah Fadlan.


"Kalau di kantor Mas mohon kamu bisa bersikap tegas kepadanya. Pria seperti dia jangan sedikitpun kamu kasih celah karena itulah yang sangat dia nantikan. Kecil saja celah itu terbuka untuknya dia pasti akan memanfaatkannya dengan sebaik mungkin" tegas Refan.


"Iya Mas aku mengerti" jawab Kinan.


Huh.. Fadlan ada- ada saja. Umpat Kinan dalam hati.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2