
Seminggu kemudian.
"Pak Refan bisa datang ke kantor saya" ucap Pengacara Pak Reno lewat telepon.
"Apakah ada berita penting Pak?" tanya Refan.
"Bisa dibilang begitu" jawab pria itu.
"Baik kalau begitu saya akan segera ke kantor Bapak" sambut Refan.
Refan langsung bergegas keluar dari kantornya dan bergerak menuju kantor Pengacara Pak Reno. Setengah jam kemudian Refan sudah sampai di kantor Pengacara tersebut.
Refan sudah duduk di sofa ruang kerja sang Pengacara.
"Ada berita apa Pak?" tanya Refan tak sabar.
"Apakah pihak Perusahaan Pak Reno dalam hal ini ponakan beliau ada menginformasikan kepada Bapak bahwa beliau menjalin kerjasama yang besar dengan Perusahaan istri Bapak dulu?" tanya Pengacara.
Mata Refan langsung membesar ketika mendengar nama perusahaan tempat Renita bekerja dulu. Itu artinya perusahaan Arga Laksamana.
"Tidak, kapan kerjasama itu berjalan?" tanya Refan.
"Dua hari sebelum Pak Reno meninggal Perusahaan itu menginvestasikan dana mereka cukup besar dalam proyek kerjasama. Saya tidak tau apakah proyek ini diketahui oleh Pak Reno atau tidak" ungkap Pengacara.
"Itu perusahaan selingkuhan Renita atau dengan kata lain Papa kandungnya Naila" ujar Refan semangat.
Kini giliran mata sang Pengacara mendelik lebar karena terkejut.
"Jadi maksud Anda Arga Laksamana adalah orang tua kandung Naila?" tanya Pengacara terkejut.
"Iya tapi dia tidak berhak sedikitpun atas Naila" jawab Refan.
"Anda benar Pak Refan, Anda tidak perlu takut karena secara negara Naila adalah anak kandung Anda. Lahir dalam pernikahan Anda dan Ibu Renita. Sedangkan dalam agama nasab Naila ikut Mamanya" ujar Pengacara.
"Iya Pak, saya sudah tanyakan itu kepada Pengacara saya" sambut Refan.
Refan menarik nafas panjang.
"Jadi langkah apa yang akan kita ambil?" tanya Refan.
"Saat ini kan Anda yang memegang kekuasaan penuh pada seluruh harta kekayaan Pak Reno, karena Naila masih dibawah umur. Anda bisa membatalkan kerjasama itu tapi Anda harus siap rugi" usul Pengacara.
"Kalau hal itu saya tidak masalah, saya bisa memerger perusahaan saya dengan perusahaan Papa Reno. Bila perlu saya minta bantuan dari seluruh teman - teman saya untuk mengalahkan Perusahaan Arga Laksamana" sambut Refan.
"Tapi ada cara lain untuk mengelakkan kerugian yang sangat besar. Saat ini kita sudah bisa mencurigai adanya kerjasama antara Pak Arga dengan ponakan Pak Reno. Kita tinggal menunggu kabar dari kepolisian Labuhan Bajo tentang kasus kecelakaan Pak Reno. Kalau pelakunya sudah tertangkap kita bisa menekan mereka siapa dalang dari semua ini. Kalau memang terbukti merekalah dalangnya Perusahaan Pak Reno tidak akan mengalami kerugian" ujar Pengacara.
Refan mencoba berpikir dengan cermat atas semua kejadian ini.
__ADS_1
"Saya akan bertanya lagi dengan pihak kepolisian di Labuhan Bajo. Saya juga akan meminta bantuan ipar saya. Dia punya banyak koneksi di sana, siapa tau bisa membantu" ujar Refan.
"Mudah - mudahan teka - teki ini bisa segera terpecahkan dan masalah bisa cepat selesai" sambut Pengacara.
"Terimakasih atas informasinya. Besok aku akan mampir ke Perusahaan Papa Reno, aku akan priksa laporan keuangan Perusahaan. Aku tidak mau ada dana bocor" ucap Refan.
"Bagus itu Pak Refan. Kalau butuh bantuan hukum saya siap membantu" sambung Pengacara.
"Baiklah kalau tidak ada lagi yang akan kita bahas, saya pamit pulang. Saya ada janji untuk jadwal imunisasi anak - anak saya" pamit Refan.
"Baik Pak Refan, sampai ketemu lagi" jawab Pengacara.
Refan segera melangkah keluar dari kantor Pengacara dan kemudian melajukan mobilnya menuju rumahnya. Sesampainya di rumah Refan langsung di sambut oleh Salman dan Naila.
"Pap... pap.. paaa... " panggil Naila yang berjalan sambil pegangan tangan dengan Salman.
"Sayang.. anak - anak Papa... Terimakasih Kak Salman udah jagain adek Naila" Refan menggendong Naila dan mencium puncak kepala Salman.
"Papa kita jadi kan pergi bawa adek kembar imunisasi?" tanya Salman.
"Iya, jadi sayang. Kalian sudah siap?" tanya Refan balik
"Sudah Pa" jawab Salman.
"Mama mana?" tanya Refan.
Refan berjalan menghampiri Kinan di kamar anak - anak.
"Sudah pulang Mas?" Kinan mencium tangan suaminya.
"Sudah sayang. Kalian sudah siap?" Refan balik bertanya.
"Sudah. Mama juga ikut untuk bantuin kita jaga anak - anak" balas Kinan.
"Ya sudah, Mamanya mana?" Refan mencari keberadaan Mamanya.
"Mama sudah siap. Yuk kita pergi" ajak Bu Suci.
Kinan dan Bu Suci menggendong si Kembar sedangkan Refan membawa stroller si kembar masuk ke dalam bagasi mobil kemudian menggendong Naila masuk ke dalam mobil. Salman duduk di depan sedangkan Naila, Bu Suci, Kinan dan si Kembar duduk di belakang.
Satu jam kemudian mereka sudah sampai di Rumah Sakit. Si Kembar sudah duduk dengan tenang di Stroller dan didorong oleh Kinan dan Bu Suci. Sedangkan Refan menggendong Naila sambil memegang tangan Salman.
"Wah banyak sekali anak kamu ya" apa seseorang kepada Refan.
Refan melirik ke arah pemilik suara. Baik Refan ataupun Kinan sangat terkejut saat mengetahui siapa pemilik suara itu. Mereka tampak sangat tegang.
"Ka.. kamu. Ngapain kamu disini?" tanya Refan pada orang tersebut yang tak lain adalah Arga.
__ADS_1
"Aku sedang membawa istriku pemeriksaan" jawab Arga.
Arga memperhatikan gadis kecil yang sangat cantik yang berada dalam gendongan Refan.
"Apakah dia....?" tanya Arga.
"Bukan, dia bukan seperti apa yang kamu pikirkan" bantag Refan segera.
"Jadi siapa anak ini?" tanya Arga.
"Wa.. wajahnya sangat mirip dengan Renita" ungkap Arga dan terus menatap wajah Naila tanpa henti.
"Dia anakku" jawab Refan.
"Kamu jangan bohong Fan, anak kamu kan anak kembar ini. Gadis kecil ini pasti anakku" ujar Arga.
"Hahaha.. atas dasar apa kamu bisa bilang dia adalah anak kamu. Aku ayahnya. Apa perlu aku bawa akte lahir dan kartu keluargaku dan kutunjukkan kepada kamu?" tanya Refan.
"Tapi Fan... " Mata Arga tampak berkaca - kaca saat menatap wajah tanpa dosa Naila.
"Dia anakku, sampai kapanpun tetap anakku. Tidak ada orang lain yang bisa menjadi Papanya kecuali aku" tegas Refan.
Refan mempererat pelukannya pada Naila.
"Ayo yank kita bawa si Kembar ke ruangan dokter" ajak Refan.
Refan mempersilahkan Mamanya dan Kinan berjalan duluan sambil mendorong kereta dorong si Kembar.
"Ayo sayang kita pergi" Refan mengajak Salman berjalan meninggalkan Arga.
Arga menatap kepergian mereka.
"I.. itu anakku.. anakku dan Renita. Akhirnya aku bisa bertemu dengannya. Kamu cantik sekali sayang, persis seperti Mama kamu. Tunggu Papa... Papa akan memastikan kamu akan tinggal bersama Papa. Hanya kamu satu - satunya anak Papa, Papa tidak akan membiarkan kamu dalam pengasuhan Refan" gumam Arga pada diri sendiri.
"Mas.. Kamu lagi lihat siapa?" tanya wanita yang baru saja tiba disamping Arga.
"Aah.. aku lagi ketemu sama teman lama sayang" jawab Arga.
"Siapa?" tanya istri Arga penasaran.
"Kamu tidak mengenalnya. Kamu sudah siap? Yuk kita pulang" ajak Arga.
Arga menggenggam tangan istrinya dan mengajaknya berjalan meninggalkan Rumah Sakit dan melangkah menuju mobil mereka.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG