Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 334


__ADS_3

"Maaf Bang Jeta, aku belum bisa menjawabnya sekarang. Pikiran aku sedang kacau dan terlalu banyak yang saat ini berperang dalam kepalaku" jawab Naila.


Jeta tidak marah ataupun kecewa, dia mengerti dengan keadaan Naila saat ini. Tidak diusir saja dia sudah sangat bersyukur.


"Tidak apa Nai, aku sabar kok menunggu. Yang penting kamu tenang dulu. Tapi satu hal yang perlu kamu tau, kami semua menyayangi kamu. Kamu tidak sendiri. Aku, Om Refan, Tante Kinan, Salman, Khalid dan Khansa sangat merindukan kamu dan menunggu kamu di rumah" ucap Jeta.


Jeta memberikan dua bungkus coklat yang diikat dengan tali berwarna merah muda.


"Bukan aku gak bisa beli coklat yang banyak tapi aku gak mau kamu sakit diabetes karena kebanyakan makan coklat. Lebih baik kamu dapat perlakuan yang manis dari aku karena aku bisa jamin sikap manisku tidak akan buat kamu sakit malah kamu akan ketagihan" ucap Jeta sambil mengedipkan sebelah matanya.


Naila menerima coklat pemberian dari Jeta.


"Aku pamit pulang ya Nai, selamat menikmati coklat ini Tuan Putri. Jangan lupa gosok gigi ya.. aku gak mau kamu sakit gigi apalagi sakit hati" canda Jeta.


"Bang Jeta... " ucap Naila dengan mata berkaca - kaca.


Dua hari ini dia selalu mendapat kejutan manis dari Jeta. Sesuatu yang berarti tak bisa dinilai dari harganya. Tapi Jeta pinter membuat dia terhibur dua hari ini.


Jeta menyerahkan seikat balon yang dia bawa dan dia pamit pulang kembali ke rumah Refan. Naila membawa balon - balon itu kedalam kamarnya sehingga kamarnya terlihat sangat ramai.


Biarlah balon - balon ini yang akan menemaninya selama berada di kamar ini.


Siang harinya Bik Mar datang ke kamar Naila untuk mengajaknya makan siang. Alangkah terkejutnya Bik Mar melihat kamar Naila penuh dengan balon.


"Balon? Dari mana Non Naila mendapatkan balon sebanyak ini?" tanya Bik Mar.

__ADS_1


"Tadi Bang Jeta datang Bik bawa semua balon ini dan dua bungkus coklat" jawab Naila.


Walau wajah Naila masih tampak murung tapi dia sudah tidak menangis lagi.


"Bang Jeta memang pinter banget buat Non Naila terhibur" ujar Bik Mar


Naila duduk di pinggir tempat tidurnya.


"Bik bagaimana kalau rahasia hidupku kelak diketahui orang lain selain keluargaku?" tanya Naila.


"Non selama dua puluh lima tahun Den Refan dan Non Kinan berhasil menutup rapat rahasia ini. Kenapa Non harus takut? Bibik yakin keluarga Non pasti akan tetap menjaga rahasia ini dengan sangat rapat" jawab Bik Mar.


"Bagaimana nanti kalau aku menikah? Apa keluarga calon suamiku bisa menerimanya? Pasti rahasiaku akan terbuka lagi" ujar Naila sedih.


"Siapa Bik?" tanya Naila.


"Bang Jeta, dengan adanya Bang Jeta semua kekhawatiran Non tidak akan terjadi. Pertama Bang Jeta adalah keluarga Den Refan, Papa dan Mama Bang Jeta sudah tau rahasia Non. Terakhir dan yang paling utama, Bang Jeta sangat mencintai Non dan bisa menerima rahasia Non sudah pasti dia juga akan menjaga rahasia ini dengan sangat baik" jawab Bik Mar.


Naila terdiam dan berpikir kembali.


"Bik apakah Mamaku dulu wanita yang baik?" tanya Naila.


Bik Mar ingat janji mereka dulu pada Refan. Untuk tidak akan mengungkapkan keburukan Almarhumah Renita apapun itu juga, karena itu adalah permintaan Almarhum Papa kandung Naila. Lagian tidak baik menceritakan keburukan orang yang sudah meninggal.


"Bibik tidak sempat mengenal Mama kandung Non Naila tapi dari yang Bibik dengar, Mamanya Non adalah orang yang baik" jawab Bik Mar.

__ADS_1


"Kalau dia wanita yang baik mengapa dia selingkuh. Dia kan sudah menikah dan jadi seorang istri. Harusnya bisa jaga dirinya" ujar Naila.


Bik Mar menarik nafas panjang. Dia berpikir keras mencari kata - kata yang baik dan bijak untuk menjawab pertanyaan Naila.


"Bibik pernah dengar ceramah seorang ustadz. Keimanan manusia itu bisa naik dan turun dengan mudahnya. Sangat banyak faktor yang bisa mempengaruhi iman kita turun. Salah satunya didikan orang tua, lingkungan sekitar, pendidikan agama dan juga banyak godaan. Mungkin Mamanya Non Naila kurang akan hal - hal yang tadi Bibik ceritakan. Setau Bibik Mama Non dulu tidak memakai jilbab, mungkin ilmu agamanya kurang dan linkungan dia bekerja juga tidak baik dan sangat banyak godaannya. Nanti pada saat Non Naila menikah pasti bisa merasakan sangat banyak godaan diluar sana yang bisa merusak rumah tangga. Dan Mamanya Non Naila tergelincir dalam sebuah kesalahan akibat godaan setan hingga akhirnya Non terlahir ke dunia ini. Kita tidak boleh menghakimi kesalahan orang tua kita Non apalagi beliau sudah meninggal. Sebaiknya Non Naila mendoakan semoga Allah mengampuni dosa - dosa Mamanya Non Naila. Karena doa anak solehah katanya bisa langsung tersampaikan. Mungkin dengan doa - doa Non Naila yang tulus dapat mengurangi dosa - dosa kedua orang tua Non yang sudah meninggal" jawab Bik Mar.


Bik Mar merasa lega dalam hati karena sudah bisa menjawab pertanyaan Naila yang sangat sulit itu.


"Apakah nanti aku akan seperti dia Bik? Kata orang darah itu sangat kental. Bisa saja sifat tidak baik Mamaku akan menurun kepadaku?" tanya Naila lagi.


"Tidak ada dosa dan kesalahan turunan Non. Non Naila jangan berpikiran seperti itu. Jadikanlah kisah hidup Mamanya Non sebagai pelajaran hidup agar Non tidak sampai tergelincir dalam kesalahan yang sama. Bibik percaya Non Naila tidak akan melakukan hal seperti itu karena didikan Den Refan dan Non Kinan sejak kecil. Non jadi wanita solehah dan diberi ilmu agama yang baik. Non juga berada dalam lingkungan yang baik yang taat dalam agama. Non Naila juga gadis yang pintar pasti bisa memilih mana yang salah dan yang benar. Semua masalah ini akan membuat Non Naila semakin dewasa dan kuat untuk menghadapi kehidupan ini. Yakinlah Non Naila pasti akan jadi wanita yang baik, akan jadi anak dan istri yang baik. Jangan takut menjalani masa depan, pasrahkan semua kepada Allah dan selalu berada di jalan yang benar, InsyaAllah Non Naila akan selamat" nasehat Bik Mar.


Naila kembali diam mendengar dan memikirkan semua nasehat Bik Mar. Kata - kata wanita tua itu sangat masuk ke dalam hati Naila.


"Sudah siang Non, yuk kita makan" ajak Bik Mar.


Naila bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari kamarnya. Beberapa pertanyaan yang selama ini berkecamuk dalam hatinya sedikit demi sedikit terjawab sudah.


"Terimakasih ya Bik sudah menjawab pertanyaan aku dengan sangat baik. Terimakasih juga Bibik sudah mengasuh aku dengan sangat baik sejak aku bayi sampai sekarang. Aku tidak bisa membalas semua kebaikan Bibik biarlah Allah yang membalasnya" ucap Naila sambil memeluk Bik Mar penuh kasih sayang.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2