Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 272


__ADS_3

Jam sembilan pagi Pak Reno Subrata dan Ibu Thalita beserta Naila sudah tiba di loby Hotel. Refan dan Kinan menyambut mereka dengan sukacita.


Seluruh keluarga Refan juga sudah selesai packing dan bersiap akan pulang ke Jakarta. Mereka berkumpul lantai dasar hotel.


"Jadi Bapak dan Ibu Subrata tinggal di Labuhan Bajo ini?" tanya Bimo.


"Iya Naaaaak... " jawab Pak Reno.


"Bimo Pak" sambut Bimo.


"Iya Nak Bimo. Sudah hampir setahun kami tinggal di sini" jawab Reno.


Bimo melihat Naila sangat dekat dengan Kinan.


"Naila dekat banget ya sama Kinan" ucap Bimo.


"Yah namanya dulu pernah beberapa bulan Mas diasuh Mbak Kinan" sambut Reni.


"Maaf apakah kalian mengenal siapa Papa kandungnya?" tanya Bimo.


Pak Reno dan Refan saling pandang.


"Maaf bukan maksudku untuk mengungkit kisah lama tapi ini kan tentang masa depan Naila juga" sambung Bimo.


"Kami mengenalnya, tapi apakah kami yang harus mendatanginya dan mengatakan kalau Naila adalah putrinya sementara dia sendiri tidak peduli dengan keadaan Naila. Dia mengetahui kalau Naila adalah anak kandungnya dan dia mengakuinya tapi setelah almarhumah Renita meninggal dia menghilang begitu saja. Lagian apa hak dia di dunia ini terhadap Naila? Naila hanya mempunyai darahnya tapi nasab Naila adalah ibunya" ujar Refan geram.


"Kami bisa membesarkan Naila tanpa kurang suatu apapun dan secara negara Bapak kandungnya adalah Refan walau Refan tidak bisa kelak menikahkan Naila. Jadi Bapak dan Refan sepakat untuk tidak mencari Bapak kandungnya. Bapak dan Ibu juga yang meminta kepada Refan dan Kinan untuk mengasuh Naila padahal mereka bersedia mengasuh Naila seperti anak kandung mereka sendiri" sambut Pak Reno.


"Ada ya pria seperti itu? Mungkin baginya terlalu murah arti seorang anak sehingga dia menyia - nyiakannya. Dia tidak tau diluar sana banyak sekali orang yang berjuang dan menanti - nantikan kehadiran seorang anak dalam rumah tangganya" ujar Bimo.


"Yah mungkin karena saat ini dia merasa sangat sukses punya kekuatan dan tidak memiliki kelemahan. Apalagi yang Bapak dengar dia termasuk pengusaha muda yang sukses prestasinya akhir - akhir ini" ungkap Pak Reno.


"Oh pengusaha juga, siapa Pak? Siapa tau saya mengenalnya?" tanya Bimo.


"Arga Laksamana" jawab Pak Reno.


"Siapa? Arga? Arga.. Laksamana...?" tanya Bimo terkejut.


"Iya, kamu mengenalnya Bim?" tanya Refan penasaran.


"Ya aku mengenalnya. Pria itu sering datang ke sini. Yang aku dengar pria itu menikah dengan wanita dari keluarga kaya tapi dia juga ada main dengan salah satu pegawainya dan sering dia bawa keluar kota" jawab Bimo.


"Kapan kamu dengar cerita itu?" tanya Refan.

__ADS_1


"Ya sekitar dua tahunan yang lalu lah Fan.. Bahkan aku sempat bertemu dengannya di Hotel ini terakhir kali sekitar lebih dua tahun yang lalu. Dia sedang bersama pacarnya itu ke sini" jawab Bimo.


Reno dan Refan saling tatap, mereka sama - sama menebak pasti pacar yang Bimo maksud itu adalah Renita.


"Maaf.. jangan - jangan apakah Naila ini anak Arga dan pacarnya itu?" tanya Bimo penasaran.


Refan menganggukkan kepalanya kearah Bimo.


"Astaghfirullah... " ucap Bimo.


Reni menggenggam lembut tangan suaminya. Mencoba memberi kode kepada suaminya untuk tidak membahas masa lalu Almarhumah Renita lagi. Pasti akan mengorek luka lama keluarga Subrata dan Refan juga.


"Maaaas... " ujar Reni.


"Maaf.. maaf.. aku tidak bermaksud... " ucap Bimo sadar.


"Tidak apa - apa Nak Bimo, toh memang seperti itulah kenyatannya. Kami saja merasa sakit setiap mengingatnya apalagi nanti kalau Naila sudah besar pasti dia sangat sakit mendengar orang bercerita tentang Mamanya dan bagaimana cerita dia bisa lahir kedunia ini" ujar Pak Reno sedih.


"Yaah.. Bapak baner.. makanya aku sangat berharap Naila tumbuh menjadi anak yang kuat" sambut Refan.


"Maaf aku sangat menyesal bercerita seperti tadi" ulang Bimo merasa sungkan.


"Gak apa - apa Bim. Kami mengerti kok" sambut Refan.


"Maaf.. Bapak dan Ibu sekalian.. Busnya sudah tiba silahkan bersiap - siap ya... " ujar pihak Hotel kepada para rombongan.


Kinan mengembalikan Naila kepada Bu Thalita.


"Jeng Lita yang kuat ya dan sehat terus demi Naila" ujar Bu Suci.


"Iya Jeng, Naila adalah hiburan dan mainan baru bagi kami. Dia adalah semangat hidup kami untuk hidup lebih lama lagi" sambut Bu Thalita.


"Mbak Ibu yang kuat, kita selaku orang tua tidak akan pernah berhenti mendoakan anak - anak kita sampai akhir hayat" ucap Bu Dhisti.


"Iya Mbak benar" balas Bu Thalita.


"Bu kami pamit pulang ya.. kalau ada apa - apa jangan sungkan hubungi kami dan kalau main ke Jakarta singgah ke rumah ya" ucap Kinan.


"InsyaAllah Nan.. kalian juga hati - hati ya balik ke Jakarta. Semoga sampai dengan selamat" sambut Bu Thalita.


"Aamiin.. " jawab Kinan.


Refan mencium kening Naila.

__ADS_1


"Pa.. pa.. Papa... " oceh Naila.


"Papa pulang ya Nak.. InsyaAllah dilain waktu kita akan bertemu lagi" Refan tanpa sadar meneteskan air mata.


Semua orang terharu melihat perpisahan Naila dan Refan. Kinan kembali memeluk Naila.


"Mammaaaa... " panggil Naila.


"Ya Allah naaaak... " ucap Kinan.


"Maaf ya Nak.. Papa dan Mama harus pulang.. kamu baik - baik di sini sama Opa dan Oma" sambung Refan.


Kinan dan Refan saling memeluk Naila. Mereka pernah mengurus Naila dari lahir sampai Naila berumur enam bulan tentu kasih sayang sudah tumbuh di antara mereka. Terlebih Refan yang sangat menunggu - nunggu kelahiran Naila karena dia pikir Naila adalah anak kandungnya.


Tapi apa daya Pak Reno dan Bu Thalita memang lebih berhak mengasuhnya karena secara hubungan darah Refan dan Naila tidak mempunyai hubungan apapun walau secara negara Refan tetap menjadi ayah kandung Naila secara hukum dan administrasi negara.


Tapi Refan sungguh tidak tega jika merebut Naila dari Pak Reno dan Bu Thalita karena hanya Naila lah penerus Renita satu - satunya. Penerus keluarga Subrata.


Kinan kembali menyerahkan Naila kepada Bu Thalita. Mereka berpamitan kepada Bu Thalita dan Pak Reno.


"Kakak pulang dulu ya deek... Kapan - kapan kita ketemu lagi. Daah Naila... " sapa Salman sambil mengecup lembut pipi Naila.


"Ta.. taaah.. " balas Naila.


Bu Suci dan yang lainnya juga berpamitan dengan Bu Thalita dan Pak Reno kemudian dengan Bimo dan Reni yang akan melanjutkan honeymoon mereka berdua aja di pulau ini.


"Kalian baik - baik ya di sini.. dan jangan lupa nanti pulangnya bawa kabar gembira" ujar Bu Akarsana.


"Kabar gembira apa Bu?" tanya Reni bingung.


"Cucu Ibu akan bertambah" jawab Bu Akarsana.


"Ibuuuuuu.... bahaya kalau kami pulang bawa oleh - oleh begituan. Itu artinya aku udah kasih DP duluan" protes Bimo.


"Hahaha.. Ibu sengaja buat candaan biar semua pada tertawa. Habis pada sedih semua sih wajahnya" ujar Bu Akarsana.


"Hahaha... Ibu kamu Bel bisa juga ya ngelucu" ledek Aril kepada Bela.


Bela melirik tak suka kearah Aril karena Aril sudah menertawakan Ibunya.


Salah lagi.... kamu kok gitu banget sih Bel padaku? tanya Aril dalam hati.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2