
Jeta sedang asik memberi makan ikan dari atas gazebo di halaman belakang rumah Refan. Naila tampak dengan lesu berjalan menuju tempat Jeta duduk.
"Kamu kenapa Nai, lemas gitu?" tanya Jeta penasaran.
"Aku ngantuk Bang. Tadi malam susah tidur" jawab Naila.
"Mikirin aku ya?" goda Jeta.
"Enak aja.." Dada Naila kembali berdetak.
Kenapa Bang Jeta bisa tau ya? Apa dia ngintip aku di kamar ya tadi malam? Batin Naila.
"Yaaaah... aku kepedean banget ya" ucap Jeta dengan wajah sedih.
"Ha.. eh nggak.. nggak.. " sambut Naila merasa bersalah.
Jeta langsung tersenyum menang.
"Jadi benar tadi malam kamu gak bisa tidur karena mikirin aku?" tanya Jeta semangat.
Naila hanya diam membisu, wajahnya sudah merah merona karena malu. Jeta membelai lembut kepala Naila yang tertutup jilbab.
"Ngapain coba mikirin aku Nai, aku kan gak jauh. Ada di rumah ini juga, kalau kangen ya kamu tinggal panggil. Aku siap kapan aja berada didekat kamu. Kapan pun kamu butuhkan aku akan selalu ada" sambut Jeta senang.
Wajah Naila semakin merah merona.
"Mm... Bang Jeta, aku boleh tanya gak?" tanya Naila malu - malu.
"Boleh, tanya aja. Aku akan jawab apapun yang mau kamu tanyakan" jawab Jeta.
"Kenapa sih bang Jeta suka sama aku?" tanya Naila.
"Mau jawaban jujur atau bohong ni?" tanya Jeta.
"Jujur donk, gimana sih" jawab Naila kesal sambil reflek memukul lengan Jeta.
__ADS_1
"Duh belum nikah udah KDRT duluan" goda Jeta.
"Bang Jetaaaa.... " sahut Naila langsung.
"Hahaha.... pilihan mata, aku gak bisa bohong. Mataku tak mau berhenti menatap kamu. Kamu itu cantik tapi yang lebih utama adalah hati. Hati kamu juga cantik dan hatiku suka pada kamu" jawab Jeta jujur.
"Gimana sih hati yang cantik itu?" tanya Naila bingung.
"Kamu baik, suka dekat dengan laki - laki. Maksud aku berteman dengan laki - laki. Kamu kan rada tomboy, mungkin karena kamu dekat banget sama Salman dan mengidolakan dia. Tapi kamu pinter jaga sikap saat berada di dekat para laki - laki. Kamu ingat dua belas tahun yang lalu aku datang ke sini? Aku dan Salman jemput kamu ke sekolah. Aku lihat banyak teman laki - laki kamu yang suka sama kamu. Tapi kamu cuek saja dan gak meladeni mereka. Sampai sekarang kamu bisa jaga pergaulan kamu dan tidak punya pacar" ungkap Jeta.
"Kan emang gak boleh Bang, Papa dan Mama sering mengingatkan kami. Lagian setelah mendengar kisah hidupku aku sangat bersyukur Papa dan Mama menjaga ketat pergaulan kami anak - anaknya. Mereka belajar dari masa lalu mereka, dan mereka tidak mau kami terjerumus pada kesalahan yang sama yang dulu pernah mereka buat" jawab Naila.
"Nah sejak saat itu aku mulai menyukai kamu. Tapi aku gak pinter ngutarainnya, ditambah lagi saat itu kita masih sekolah. Gak mungkin aku ajak kamu nikah, apalagi pacaran. Bisa dimarahi Papa dan Om Refan aku Nai" sambung Jeta.
"Kalau aku gak bisa balas perasaan Bang Jeta. Apa abang akan marah padaku?" tanya Naila.
Jeta menarik nafas panjang sebelum menjawab.
"Kalau aku kecewa itu bisa dimaklumi kan? Namanya juga berharap, kalau tidak tercapai pasti akan ada rasa kecewa. Tapi gak mungkin aku marah sama kamu. Cinta itu hak azasi manusia Naila. Tidak bisa dipaksakan. Aku tidak bisa memaksa kamu untuk menyukaiku. Jadi jahat banget kalau aku harus marah sama kamu karena kamu menolak cintaku" jawab Jeta jujur.
"Kan ada Tante Ela dan Tante Dini. Mereka aja yang urusin perusahaan Opa kamu. Kamu ikut aku aja ke luar negeri, disana lebih aman untuk hidup kamu. Aku bisa jaga kamu setiap saat. Kalau di sini pasti kamu akan sedih lagi setiap ada orang yang ungkit kisah Mama kandung kamu. Itu kan perusahaan Opa kamu, pasti masih ada orang yang masih mengenal Mama kandung kamu Naila. Mereka akan bercerita dan kamu pasti akan mendengarnya baik itu secara langsung atau hanya gosip. Dan aku yakin pasti kamu nangis lagi" jawab Jeta.
Naila terdiam mendengar penjelasan Jeta.
"Eh tunggu dulu, tadi kamu bilang apa? Kamu terima lamaran aku?" tanya Jeta terkejut. Dia baru saja tersadar dengan pertanyaan Naila terakhir.
"Nggak, aku gak ada bilang begitu" jawab Naila.
"Jadi apa coba maksudnya kamu tanya begitu padaku? Pasti kamu sudah mempertimbangkan perasaan aku kan? Kamu sudah mencintaiku?" tanya Jeta semangat.
"Ng... nggak" jawab Naila malu.
Jeta mendekatkan wajahnya kedekat wajah Naila. Jantung Naila berdetak sangat kencang. Wajahnya tiba - tiba merah karena menahan malu.
"Ba... Bang Jeta" ucap Naila lemah.
__ADS_1
"Kenapa Nai? Jantung kamu berdetak tidak normal?" tanya Jeta pura - pura serius.
Naila hanya bisa menganggukkan kepalanya. Kini Jeta bisa tersenyum menang.
"Itu artinya kamu menyukaiku Naila. Kalau kamu tidak suka aku, tidak akan mungkin jantung kamu dangdutan. Tuh wajah kamu udah merah banget. Malu ya karena aku tatap sedekat ini? Sudahlah Naila ngaku saja. Tadi malam kamu gak bisa tidur karena mikirin aku kan? Dan kamu sudah menemukan jawabannya. Kamu mencintai aku, iya kan?" desak Jeta.
"Ah Bang Jeta ngaco aaah... " Naila langsung berlari menjauh dari Jeta karena malu.
Jeta semakin gemas melihat tingkah Naila yang malu - malu kucing seperti itu. Kini dia semakin yakin kalau cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
"Naila.. aku mencintaimu.. aku akan membahagiakan kamu dan menjaga kamu dengan baik. Tidak akan ada seorang pun yang bisa menyakiti kamu. Percayalah padaku" teriak Jeta kuat membuat semua orang yang ada di rumah Refan keluar dan melihat ke arah Jeta dan Naila.
Naila berhenti, matanya berkaca - kaca. Sungguh dia tidak menyangka Jeta mengungkapkan perasaannya lagi tanpa malu - malu. Itu artinya Jeta benar - benar serius mencintainya. Dengan sangat beraninya dia berkata seperti itu.
"Hei sayaaang.. lihat anak kau. Itu baru anak batak" ucap Tagor yang berdiri dari ruang keluarga sambil menatap kearah belakang rumah Refan.
Jelita menggenggam tangan suaminya dengan kuat sambil menahan nafas. Refan dan Kinan saling tatap. Bik Mar dan Bik Nah mengintip dari arah dapur. Sedangkan Salman, Khalid dan Khansa yang tak jauh dari mereka sedang berenang, menghentikan aktivitasnya ketika mendengar teriakan Jeta.
"Terima.. Terima... ayo donk Kak Naila diterima aja Bang Jeta nya" teriak Khalid.
"So sweet.. coba kalau Bang Jeta sukanya sama aku, pasti aku akan langsung menerima cintanya. Romantis gitu tau Kaaaaak" teriak Khansa.
Jeta berjalan menghampiri Naila yang belum jauh jaraknya.
"Ayolah Naila jujur pada hati kamu. Kamu mencintaiku kan? Jangan takut akan rasa cinta itu, karena perasaanku padamu jauh lebih besar. Aku yang saat ini sangat takut kehilangan kamu. Terimalah cintaku mari kita melangkah bersama - sama menuju masa depan" ucap Jeta.
Ini adalah lamaran Jeta yang kesekian kalinya. Air mata Naila tak bisa terbendung lagi. Kali ini pernyataan cinta Jeta sangat menyentuh perasaannya.
Naila hanya bisa mengangkat wajahnya dan menggoyangkannya.
"Yeeees...... "
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG