Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 120


__ADS_3

"Na.. Naila akan dibawa keluar kota Pa?" tanya Refan terkejut.


Kinan juga menatap wajah Reno dengan tatapan terkejut. Reno dan Talita saling bertatapan berusaha untuk saling menguatkan kalau memang inilah keputusan yang terbaik untuk mereka saat ini.


"Iya Fan, kami akan pergi ke luar kota dan membawa Naila" ulang Reno dengan tegas.


"Kenapa Pa?" tanya Refan.


"Hanya itu satu - satunya jalan agar Naila benar - benar bisa lepas dari kalian. Kalau kami tetap di sini kami dan Naila akan terus mengganggu kalian. Setiap Naila sakit otomatis kami akan meminta bantuan kalian" jawab Reno.


"Tapi Pak bagaimana kalau kami rindu?" tanya Kinan sedih.


"Rasa rindu itu kan hanya di awal saja, lama kelamaan kalian akan melupakan Naila. Begitu juga dengan Naila, apalagi dia masih kecil perlahan - lahan wajah dan bayangan kalian akan dia lupakan" ungkap Reno dengan sedih.


"Ini memang sangat menyedihkan untuk kita semua. Tega tak tega tapi Kami harus tega melakukan ini semua. Inilah jalan terbaik untuk kita semua. Kalian bisa menjalani kehidupan baru kalian sedangkan kami juga akan menjalani kehidupan baru kami di tempat yang baru" sambung Reno.


Refan melirik ke arah Naila yang masih tertidur, wajahnya terlihat sangat sedih.


"Kapan Papa dan Mama pergi membawa Naila?" tanya Refan.


"Setelah Naila sudah benar - benar sembuh" jawab Reno.


"Kemana kalian akan membawa Naila?" tanya Refan lagi.


"Maaf Fan kami harus merahasiakannya. Untuk sementara kita memang harus benar - benar putus komunikasi agar kita sama - sama bisa membangun hidup baru kita. Ini memang sangat berat Fan. Suatu saat jika Allah memang memberikan kesempatan untuk kita bertemu, InsyaAllah kita akan bertemu lagi" ujar Reno dengan tegas.


Refan memejamkan matanya. Mencoba bertanya pada hatinya yang terdalam. Benarkah dia bisa benar - benar bisa melupakan Naila. Kalau Naila pasti tidak akan mengingatnya lagi ketika nanti dia sudah besar.


Refan menarik nafas panjang. Mungkin memang ini lah yang terbaik. Di awal memang pasti sangat berat tapi lama kelamaan semua pasti berlalu, seperti saat pertama dia kehilangan Renita dulu. Ternyata berakhir dengan seperti ini. Seperti pertama dia menerima Kinan dalam hidupnya tapi akhirnya sekarang semua indah.


Tidak ada yang bisa mengetahui apa nanti yang akan di jalani saat masa depan. Pertemuan dan perpisahan semua di atur oleh Allah. Refan hanya bisa berdoa semoga kelak dia bisa bertemu dengan Naila lagi. Dan pada saat itu semoga Naila tumbuh menjadi anak yang cantik dan solehah.


"Baiklah Pak jika itu keputusan Bapak dan Ibu kami tidak bisa melarangnya. Kami mengerti semua ini memang untuk kebaikan Naila. Kami hanya bisa mendoakan semoga Naila tumbuh menjadi anak yang kuat, sehat, pintar dan yang paling utama solehah" ujar Refan.


"Aamiin... terimakasih atas dukungan kalian. Terimakasih atas kasih sayang kalian Fan, Nan. Beberapa hari ini anggaplah ini sebagai perpisahan untuk kita. Mari kita jalani semua ini dengan indah" sambung Reno.


"Iya Pa" jawab Refan.


Refan melirik jam di tangannya. Walaupun saat ini Naila sedang sakit tapi dia harus bisa membagi waktu untuk Salman yang kini sudah menjadi putranya juga.


"Pa, Ma kami. pamit pulang dulu ya.. Sudah seharian kami tidak bertemu Salman. Tadi malam saat kami pulang dia sudah tidur dan kami belum sempat menyapanya" ujar Refan pamit.


"Iya Fan silahkan. Salam buat Mama kamu" balas Reno.

__ADS_1


"Iya Pa. Yuk Nan kita pulang" ajak Refan.


Refan mencium tangan kedua orang tua Renita kemudian Refan mencium pipi Naila.


"Papa pulang dulu ya sayang... nanti malam Papa sama Mama akan balik lagi. Cepat sembuh dan baik - baik dengan Oma dan Opa ya di sini" bisik Refan.


Begitu juga Kinan, dia juga mencium Naila dengan penuh kasih sayang kemudian Kinan berpamitan dengan kedua orang tua Renita.


Kini Refan dan Kinan sudah sampai di rumah mereka.


"Assalamu'alaikum... " ucap mereka ketika sampai di rumah.


"Wa'alaikumsalam" jawab semua yang ada di rumah.


"Papa... Mama.. " Salman berlari menyambut kedatangan Refan dan Kinan.


"Mama dan Papa baru pulang dari Rumah sakit?" tanya Salman.


"Iya sayang" jawab Kinan lembut.


"Adek Naila nya sudah sembuh?" tanya Salman.


"Belum sayang, adeknya masih bobok di rumah sakit" jawab Refan.


"Nanti kita lihat adek ya sayang sekalian pamit sama adek. Mama juga ikut ya" Refan mengajak Mamanya ikut.


"Pamitan, kenapa? Mengapa Mama juga harus ikut?" tanya Suci penasaran.


"Papa dan Mama Renita akan membawa Naila ke luar kota Ma. Mereka akan pindah dan menetap di sana" jawab Refan.


"Pindah kemana?" tanya Suci terkejut.


"Papa Reno tidak mau memberi tahunya Ma. Mereka memilih untuk merahasiakannya karena menurut mereka ini adalah jalan - jalan satu - satunya untuk kita semua menjalani hidup yang baru. Naila bersama mereka hidup di tempat yang baru, begitu juga aku dan Kinan akan menjalani hidup yang baru tanpa saling bersinggungan lagi" jawab Refan


Suci menghela nafas.


"Yaaah.. memang mungkin harus begitu Fan. Bagaimanapun kalian sudah tidak memiliki hubungan apapun. Naila juga tidak bisa tergantung dengan kalian" balas Suci.


"Baiklah, nanti Mama akan ikut kalian menjenguk Naila untuk terakhir kalinya. Siapa tau nanti tidak bisa bertemu lagi dengan mereka setelah mereka pergi jauh" sambung Suci.


"Kapan kita akan lihat adek Pa?" tanya Salman.


"Mmm... besok aja ya sayang. Kalau hari ini sepertinya adek Naila masih lemas. Kasihan dia belum bisa di jenguk banyak orang, nanti kalau adeknya kecapean lagi dia bisa sakit lagi" Refan membelai lembut kepala Salman.

__ADS_1


"Oke Pa. Pa yuk berenang.. Dari kemarin aku tunggu Papa. Katanya kita mau berenang bareng" ajak Salman.


"Eh iya Papa sampai lupa. Ayuk kita berenang" sambut Refan semangat.


Papa Kinan dan yang lainnya tersenyum melihat kedekatan mereka berdua. Refan kini benar - benar sudah menganggap Salman seperti anaknya sendiri dan sangat menyayangi Salman.


"Bentar ya Papa mau ganti baju dulu di kamar. Salman juga minta ganti baju renang sana sama Bik Nah" ujar Refan.


"Oke Pa. Bibiiiiik aku mau ganti baju renang" teriak Salman sambil berlari menuju ke kamarnya.


Kinan menyusul Refan ke kamar, dia harus mempersiapkan pakaian renang untuk suaminya.


Sesampainya di kamar Refan menyempatkan diri untuk berbaring di atas ranjangnya.


"Aaah nyamannya di kamar sendiri ya" ujar Refan.


Kinan hanya tersenyum memandang suaminya kemudian Kinan segera menghampiri lemari pakaian dan mencari baju renang Refan.


"Pintar kamu pilih ranjangnya ya. Empuk dan kokoh. Jadi pengen tes kekuatan tempat tidur ini" ucap Refan sambil sedikit melompat.


"Gimana mau ngetesnya?" tanya Kinan penasaran.


"Sini deh" panggil Refan.


Kinan langsung mendekati Refan di tempat tidur belum sempat Kinan berdiri di samping tempat tidur Refan langsung menarik tangan Kinan dan akhirnya Kinan jatuh di atas tubuh Refan.


"Caranya kita harus bertempur di atasnya, pertempuran yang panas dan lama" bisik Refan menggoda.


Kinan langsung menggelitik pinggang Refan sehingga Kinan terlepas dari pelukan Refan.


"Aaaw... geli yank" teriak Refan.


Eh tadi Mas Refan panggil yank atau Nan sih. Batik Kinan


Wajah Kinan bersemu merah karena malu, dia menatap wajah Refan dengan kesal.


"Mas lupa ya kalau Mas udah janji mau ngajak Salman berenang?" tanya Kinan.


"Astaga..... "


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2