Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 163


__ADS_3

Tanpa terasa sampai sore mereka berkumpul di rumah Bagus. Dini sudah semakin akrab dan nyaman bertemu dengan Ayu. Kalau Kinan kan sudah sering, karena Kinan adalah sahabatnya Kakak Dini.


"Eh sudah sore, aku panggil Mas Refan dulu ya biar kita pulang" ujar Kinan kepada Dini.


Kinan berjalan menuju teras belakang rumah Bagus.


"Mas udah sore, pulang yuk. Kita juga mau antar Dini ke rumahnya" ajak Kinan.


"Okey kita pulang" sambut Refan.


"Fan, Nan. Dini biar sama aku aja ya. Aku yang antar dia pulang" Riko meminta izin.


"Cieee ada yang mau pendekatan sama calon mertua" sindir Romi.


"Gimana yank?" tanya Refan.


"Ya udah, tapi langsung pulang kan Mas? Jangan di ajak kencan ya, belum boleh. Nanti aja pacarannya setelah halal" pesan Kinan kepada Riko.


"Beres Nyonya Refan" sambut Kinan.


"Dini kata Mas Riko nanti dia yang antar kamu pulang" ujar Kinan.


"Iya Mbak, tadi Mas Riko udah minta izin aku" jawab Dini.


"Kalau begitu Mbak duluan ya" sambung Kinan.


"Hati - hati ya Mbak" balas Dini.


"Salmaaan pamit sama Bayu nak, kita pulang" Kinan mengajak Salman yang sedang asik bermain dengan Bayu.


"Oke Mama. Bayu udah dulu ya. Aku mau pulang. Nanti lain waktu kita sambung lagi mainnya" pamit Salman.


"Oke Salman" jawab Bayu.


Kedua anak kecil itu saling berpelukan bak seorang sahabat.


Kinan dan Refan pamit dengan Bagus dan Ayu juga dengan teman - teman yang lain.


"Kami duluan ya" ujar Refan kepada Romi, Riko dan Aril" ucap Refan.


"Fan jangan lupa yang aku pinta tadi" pesan Aril.


"Oke Ril secepatnya" jawab Refan.


Refan dan keluarga kecilnya langsung masuk ke dalam mobil dan berjalan menuju arah pulang.


"Yank boleh aku pinta alamat orang tua Bima di Surabaya?" pinta Refan.


"Untuk apa Mas?" tanya Kinan.


"Aril punya kenalan yang bisa dipercaya di Surabaya. Dia akan membantu kita untuk mencari tau tentang pengirim pesan ke handphone kamu. Sekalian mencari tau apakah ada hubungannya pesan itu dengan keluarganya di Surabaya" jawab Refan.


"Baiklah Mas. Aku kirim aja alamatnya ke handphone kamu ya, agar kamu lebih mudah mengirimkannya ke nomor Mas Aril" ujar Kinan.


"Iya" sambut Refan sambil terus menatap jalanan dengan serius.


Kinan segera mengirim pesan ke nomor Refan yang berisikan alamat lengkap rumah keluarga Bima.


"Udah Mas" ucap Kinan.

__ADS_1


"Oke yank, nanti sampai rumah aku akan kirim ke Aril" jawab Refan


*******


Sementara di rumah Bagus.


"Kita pulang juga?" tanya Riko kepada Dini.


"Boleh Mas" jawab Dini.


"Baiklah.. Gus, Yu kami pulang ya. Terimakasih atas makan siangnya" ucap Riko pamit


"Oke Ko, good luck" jawab Bagus dengan senyuman


"Hati - hati Mas, semoga berhasil" sambut Ayu.


Kini giliran Riko dan Dini yang meninggalkan rumah Bagus. Mereka segera masuk ke dalam mobil.


"Rumah kamu dimana Din?" tanya Riko setelah mereka keluar dari area rumah Bagus.


"Kan ada Mas di dalam biodataku" jawab Dini.


"Maaf aku lupa" balas Riko.


"Di jalan XXX Mas" jawab Dini.


"Lho itu dekat sekolah aku dulu, iya SMU XX kan?" tanya Dini.


"Kok tau?" tanya Riko terkejut.


"Aku baca di biodata Mas" jawab Dini.


"Mas Riko aja yang gak baca biodataku" balas Dini.


"Aku baca, cuma lupa. Aku hanya mengingat point - point penting saja" ucap Riko.


"Contohnya?" tanya Dini.


"Status kamu yang masih jomblo dan visi misi kamu untuk menikah" jawab Riko.


Dini langsung membuang wajahnya ke arah luar jendela karena malu.


"Menurut kamu pernikahan itu apa sih Din?" tanya Riko.


"Ibadah" jawab Dini singkat.


"Hanya itu?" tanya Riko.


"Ya hanya itu. Kalau semua yang kita jalani karena kita meyakini itu adalah sebuah ibadah. InsyaAllah kita akan lebih ikhlas Mas menjalaninya. Karena kita berharap ridho Allah. Percayalah kalau Allah ridho semuanya akan di lancarkan oleh Allah" jawab Dini.


Menarik, baru kali ini aku mendapat jawaban seperti ini mengenai tanggapan seorang gadis tentang pernikahan. Gak muluk - muluk ingin begini dan begitu. Puji Riko dalam hati.


"Kalau menurut Mas Riko sendiri?" tanya Dini.


"Pernikahan adalah rumah tangga. Ya menurut aku pernikahan adalah rumah. Tempat aku kembali, tempat aku pulang setelah letih bekerja mencari nafkah untuk keluarga. Tempat aku kembali saat aku merasa sepi, sedih dan gembira. Kemana pun aku pergi, sejauh apapun aku berlari pada akhirnya aku akan kembali ke rumahku. Aku sudah lelah berkelana, kini sudah saatnya aku pulang. Makanya aku ingin memiliki rumah, aku ingin menikah" jawab Riko.


Dini tersenyum dan mengerti maksud dari jawaban Riko.


"Kamu baru tamat kuliah kan? Baru wisuda?" tanya Riko.

__ADS_1


"Iya" jawab Dini.


"Kalau menikah mau kerja atau nggak?" tanya Riko.


"Tergantung izin suami Mas. Kalau memang suami bisa mencukupi dan tidak di izinkan aku siap aja Mas. Lagian sekarang juga belum dapat pekerjaan masih lempar lamaran ke sana kemari. Mas Riko ada lowongan?" tanya Dini.


"Ada, kamu mau?" tanya Riko.


"Boleh, kalau memang bisa sesuai dengan ilmuku" jawab Dini


Riko tersenyum mendengar jawaban Dini.


"Sebagai apa Mas?" tanya Dini.


"Mmm... sebagai istri, mau?" tanya Riko serius


Dini terdiam sesaat, gak menyangka kalau Riko akan seterbuka ini dia bertanya.


"Tanya Papa aja Mas. Kalau Papa setuju, aku ikut saja apa kata Papa" jawab Dini.


Riko kembali tersenyum.


Tak lama kemudian mobil Riko sudah sampai di halaman rumah Dini.


"Assalamu'alaikum" ucap Dini dan Riko bersamaan.


"Wa'alaikumsalam" jawab Papa dan Mama Dini.


"Lho Din tadi perginya sama Kinan dan suaminya, pulangnya kok beda?" tanya Mama Dini.


"Iya Ma, kenalkan Pa, Ma ini Mas Riko. Temannya Mas Refah suaminya Mbak Kinan. Mas Riko menawarkan untuk mengantarkan aku pulang. Katanya dia mau berkenalan dengan Papa dan Mama" jawab Dini kepada kedua orang tuanya.


"Silahkan duduk Nak Riko" sambut Papa Dini.


Riko mencium tangan Papa dan Mama Dini dengan hormat.


"Riko Pak, Bu" ucap Riko.


Papa dan Mama Dini tersenyum ramah.


"Din buatkan minum untuk Nak Riko" perintah Mamanya Dini.


"Iya Ma, Mas aku tinggal ya" pamit Dini.


Kini Riko duduk di hadapan kedua orang Dini persis seperti mahasiswa yang sedang menjalani sidang skripsi, tegang.


Duh.. mengapa aku jadi tegang begini. Padahal aku sudah sering bertemu dengan orang penting. Saat ini aku hanya berhadapan dengan orang tuanya Dini tapi mengapa aku salah tingkah begini? Batin Riko.


"Nak Riko sudah menikah?" tanya Papa Dini.


"Ehm.. belum Pak" jawab Riko.


"Lantas kalau begitu apa tujuannya datang ke rumah saya dan mengantar Dini pulang? Bukankah Dini bisa pulang bersama Kinan dan suaminya? Atau dia juga bisa pesan taxi online. Gak perlu merepotkan Nak Riko untuk mengantarnya pulang" tanya Papa Dini.


Gleg... aduuuuh.. Papa Dini to the point sekali. Baru pertama aku datang sudah langsung bertanya seperti itu. Batin Riko.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2