
"Sialaaan.. " umpat Refan semakin geram.
Bagus menepuk baju Refan mencoba menenangkan.
"Bukankah kamu katakan kalau kamu sudah melupakan masa lalu?" ujar Bagus.
Kata - kata Bagus barusan mengingatkan Refan. Benar.. dia kan sudah berjanji untuk tidak melihat kebelakang lagi.
"Iya Gus, terimakasih kamu sudah mengingatkan aku. Sudahlah Ko tak usah di bahas lagi. Renita sudah mendapatkan ganjaran atas apa yang telah dia lakukan. Kini dia sudah mempertanggung jawabkan perbuatannya di akhirat sana. Nanti akan tiba giliran si Arga. Apa yang kita tanam pasti kelak itu juga yang akan kita tuai. Aku yakin Arga pasti akan mendapatkan balasan atas apa yang telah dia lakukan. Dan aku yakin dia pasti akan menyesalinya" ungkap Refan.
"Good job friend.. kamu lelaki yang kuat" puji Bagus.
"Sudahkah lebih baik kita tidak usah membahas tentang Arga dan Renita lagi. Aku juga sudah berjanji dengan istriku akan hal itu. Aku tidak ingin menyakiti hatinya lagi, dengan pikiran atau prasangka bahwa aku masih mencintai Renita. Apalagi saat ini dia sedang mengandung anak - anakku. Aku ingin melakukan yang terbaik untuknya" ujar Refan.
"Keren kami Fan bisa mengikhlaskan semuanya" puji Riko.
"Kamu juga harus belajar Ko, agar kamu bisa membuka lembaran baru dalam hidup kami" balas Refan.
Refan melirik istrinya, dia ingat kalau mereka pergi dari rumah tadi pagi setelah sarapan pagi. Lalu ke makam Bima dan langsung ke rumah Bagus. Refan ingat pesan Dokter kalau Kinan tidak boleh terlalu letih.
Kemarin mereka baru pulang dari Bali dan harusnya hari ini Kinan lebih banyak istirahat di rumah karena besok mereka akan mulai bekerja kembali di kantor.
"Sepertinya aku harus pulang, aku ingat pesan Dokter kalau Kinan tidak boleh terlalu letih. Kemarin saat pulang dari Bali Kinan pingsan di Bandara" ungkap Refan.
"Wah kamu gak bilang dari tadi bro. Sudah sana bawa istri kamu pulang dan suruh dia banyak istirahat" perintah Bagus.
"Dan sampai rumah jangan kamu bantai lagi" ledek Romi.
"Sialan lo" umpat Refan.
Romi, Aril dan Riko tertawa mendengar umpatan Refan. Refan berdiri dan menjabat tangan Bagus.
"Makasih atas jamuan makan siangnya ya Gus" ujar Refan.
"Sama - sama Fan. Istriku sepertinya sangat senang bertemu dengan istri kamu lagi. Lihat dari tadi mereka asik ngobrol" sambut Bagus.
Refan tersenyum melirik ke arah istrinya kemudian dia berjalan masuk ke dalam rumah Bagus di susul dengan yang lainnya.
"Yank kita pulang yuk udah siang ini. Ingat pesan dokter" ajak Refan sembari menginginkan Kinan.
__ADS_1
"Iya Mas, kalau begitu aku pamit pulang dulu ya Yu. Nanti aku kabari lagi ya kapan waktu pengajiannya" ujar Kinan pada Ayu sahabat barunya.
"Iya Nanti, hati - hati. Jaga kehamilan kamu" sambut Ayu.
"Iya, makasih ya atas hidangannya siang ini. Semuanya enak" puji Kinan sambil tersenyum
"Ah kamu bisa saja, lebih enak masakan kamu" balas Ayu.
"Salman ayo sayang pamitan sama Bayu dan salim Om - om dan Tante Ayu" perintah Kinan kepada putranya.
Salman berjabat tangan dengan Bayu teman barunya setelah itu mencium tangan teman - teman Refan dengan sangat sopan.
"Anak pinta" puji Bagus sambil mengelus lembut kepala Salman.
"Yok yu kami pulang dulu ya. Selanjutnya tunggu undangan dari kami ya di rumah yang baru" ujar Refan pada semua teman - temannya.
"Oke Mas" sambut Ayu.
Refan, Kinan dan Salman berpamitan dan keluar dari rumah Bagus kemudian masuk ke mobil dan perlahan mobil meninggalkan area rumah Bagus.
"Gimana Sal dapat teman baru?" tanya Refan kepada Salman.
"Seru Pa.. Bayunya baik" jawab Salman sambil bersandar di kursi belakang.
"Maas.. " panggil Kinan.
"Ya... " jawab Refan.
"Kalau aku kembali aktif ikut pengajian boleh gak?" tanya Kinan.
"Pengajian?" tanya Refan.
"Iya bareng beberapa sahabat aku terus kami panggil ustadzah. Biasanya tempatnya pindah - pindah. Kadang di rumah kadang - kadang diluar juga" jawab Kinan.
"Selama kita menikah aku gak pernah lihat kamu pergi pengajian?" tangan Refan.
"Iya.. selama kita menikah aku memang sempat berhenti karena kan sibuk ngurusin Naila sepulang kerja. Sekarang kan udah gak ada Naila. Makanya aku minta izin. Pengajiannya seminggu sekali kok Mas dan hanya satu jam. Biasanya waktunya setelah pulang kerja dan sebelum maghrib aku sudah sampai rumah" ungkap Kinan.
Refan tersenyum menatap istri.
__ADS_1
"Istri meminta izin untuk berbuat kebaikan kok aku larang. Kalau kamu pergi untuk pengajian aku pasti dapat pahala. Karena saat kamu berdoa pasti namaku ikut di sebut kan?" tanya Refan lemah lembut.
Kinan tersenyum dan mengangguk malu.
Setiap saat nama kamu selalu aku sebut Mas.. Semoga kamu sehat selalu, dijauhkan dari marabahaya dan rumah tangga kita diberikan ketenangan dan ketentraman. Aamiin... Batin Kinan.
"Nanti kalau kamu mau pengajian kabari aja Mas, biar diantar. Kan setiap kamu pulang kerja Mas jemput ke kantor" ujar Refan.
"Kan jadi ngerepotin Mas. Mending aku naik taxi online aja nanti pulangnya aja baru Mas jemput" jawab Kinan.
Refan membelai lembut kepala istrinya yang terbalut jilbab.
"Aku akan usahakan selalu ada waktu untuk kamu. Karena aku ingin memastikan istri dan anak - anakku baik - baik saja dan merasa nyaman" ujar Refan penuh kelembutan.
"Terimakasih Mas" jawab Kinan.
Kinan teringat kembali ucapan Mamanya Renita.
"Kalau Refan mencintai istrinya dia akan memperlakukan istrinya dengan baik, penuh perhatian dan kasih sayang" ucap Talita.
Kinan sering merasa mendapat perhatian dan kasih sayang yang sangat besar dari Refan. Apakah itu artinya Refan sudah mencintainya? Tapi mengapa Refan tidak pernah mengungkapkannya? Akh.. begini saja sudah cukup. Aku tidak mau terlalu berharap lebih. Kamu sepet ini saja sudah sangat manis Mas. Aku yakin sebentar lagi kamu pasti akan mencintaiku. Batin Kinan.
"Mas aku tidur sebentar ya.. Aku ngantuk sekali" ujar Kinan.
"Tidur saja dan buat posisi kamu nyaman untuk tidur, tuh Salman aja udah tidur di belakang. Nanti kalau sudah sampai rumah aku bangunkan" jawab Refan lembut.
Kinan membalasnya dengan senyuman. Hamil anak kembar ini memang sering membuat Kinan lebih mudah lelah dan merasa ngantuk. Sehingga sebentar saja Kinan sudah terlelap di samping Refan.
Refan kembali membelai lembut kepala Kinan, kemudian tangannya turun ke perut Kinan.
"Sehat - sehat ya sayang di dalam perut Mama.. Papa sudah tidak sabar menanti kalian lahir. Papa sangat menyayangi kalian semua. Kalian anak - anak Papa dan juga Mama kalian" ujar Refan.
Ya Allah beribu rasa syukur aku ucapkan atas anugerah dan rezeki yang telah KAU berikan untukku. Ampunkan dosaku terdahulu yang tidak bisa membimbing istriku sebelumnya dengan baik dan jauh dariMU. Kini aku mendapat istri sebaik ini. Panjangkanlah umurnya ya Allah, jangan ambil dia lagi, aku masih sangat membutuhkannya dalam hidup ini. Aamiin.. Doa Refan dalam hati.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Hai readers.. terimakasih kalian terus setia membaca novel aku ini. Jangan lupa dukung terus ya dengan memberikan komentar, like, vote, hadiah kalian.. Agar aku lebih bersemangat untuk melanjutkan ceritanya.
Terimakasih 😍😍