
"Mama... ngapain Mama berjalan ke arah sana?" tanya Refan.
Kinan melihat ke arah tatapan Refan.
"Bu Talita mau ke ruangan administrasi Mas, jangan jangaaaaan..... " sambut Kinan.
"Nan kamu tunggu di sini dulu ya sama Naila, aku mau ngikutin Mama dulu" ujar Refan.
Refan meletakkan koper mereka di dekat kursi kosong. Kinan mengikuti Refan dan duduk di kursi kosong itu.
"Hati - hati ya Mas, jangan bertengkar dengan Bu Talita" ucap Kinan mengingatkan Refan.
"Iya, kamu tenang saja" balas Refan.
Refan segera pergi menyusul Talita, dia berjalan menuju arah Talita pergi tadi. Refan setengah berlari menuju ruang administrasi.
Kini dia sudah berdiri di depan ruangan administrasi. Refan mencoba untuk mendengarkan pembicaraan mereka. Untung saja pintu ruangan itu tidak tertutup rapat. Mungkin tadi Talita sedang terburu - buru.
Refan segera mengeluarkan ponselnya dan bersiap untuk merekam video.
"Maaf Bu ada yang bisa saya bantu?" tanya pegawai administrasi.
Talita segera mengeluarkan bungkusan dari dalam tasnya
"Di dalam ini ada uang bernilai seratus juta rupiah" ucap Talita.
Pegawai yang berjenis kelamin pria itu terlihat sangat terkejut ketika Talita membuka dan memperlihatkan isi dalam bungkusan itu
"Untuk apa ini Bu?" tanya pria itu
"Saya Oma dari Mamanya Naila. Istri dan Refan Adinata yang sudah meninggal. Jadi bisa di bilang kalau saya ini mantan mertuanya Refan. Saya tau dia sedang melakukan tes DNA untuk putrinya di rumah sakit ini. Saya ingin menjadi orang yang pertama kali mengetahui hasil tes DNA tersebut. Dan saya ingin hasilnya bisa dipastikan keputusannya bahwa Naila adalah anak kandungnya Refan Adinata" ucap Talita dengan nada mengintimidasi.
"Maaf Bu, saya tidak bisa membantu Ibu dalam hal itu karena tes DNA ini bersifat rahasia dan kita juga sangat menjaga dan menjamin keamanan hasil tes tanpa adanya rekayasa yang nantinya akan berakibat buruk pada masa depan rumah sakit ini. Oleh sebab itu dengan sangat berat hati saya harus katakan kepada Ibu kalau kami tidak bisa menerima perintah Ibu. Mohon maaf sekali" jawab pegawai Rumah Sakit.
Refan tersenyum dan terus melakukan pengambilan video.
__ADS_1
"Kamu jangan sok suci dan bersih saya tau semua bisa diatur, saya susah menyiapkan dananya. Apakah masih kurang?" tanya Talita mulai emosi.
"Maaf Bu kami tidak bisa menerima sepeser pun uang dari Ibu" tolak pria itu.
Talita semakin geram.
"Saya akan tambah tiga kali lipat uang yang ada di dalam bungkusan ini" ujar Talita lagi.
"Ibu menambahnya sepuluh kali lipat pun saya tidak perduli. Tolong jangan lakukan ini kepada saya Bu atau kami akan laporkan kepada Pak Refan bahwa Ibu berusaha untuk menyuap kamu dan meminta kami untuk memalsukan tes DNA kepada Naila" jawab pria itu.
Talita semakin emosi dan pergi meninggalkan ruangan itu dengan wajah penuh amarah.
"Dasar pria munafik, lihatlah kamu akan menyesal sudah menolak tawaran saya" ujar Talita. Dia segera berdiri dan berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan ruangan administrasi.
Refan bersembunyi di balik dinding agar Talita tidak bisa melihatnya.
Setelah kepergian Talita gantian Refan yang masuk ke ruangan administrasi. Dia segera mendekati pegawai Rumah Sakit tersebut. Wajah pria itu tampak terkejut.
"Saya sudah melihat dan merekam kejadian yang baru saja saya lihat. Saya berterima kasih atas penolakan yang Anda lakukan pada mantan mertua saya. Tapi kalau saja saya mengetahui adanya kecurangan pada tes DNA anak saya. Ingat, saya akan menuntut Rumah Sakit ini. Dari golongan darah anak saya saja saya sebenarnya sudah tau hasilnya tapi saya tetap melakukan tes DNA agar saya punya bukti. Kalau kalian berbuat macam - macam saya bisa melakukan tes DNA di rumah sakit lain" ancam Refan.
"Tidak Pak, kami tidak akan melakukan kecurangan. Kami sangat menjaga ke rahasiaan dan kebenaran tes DNA putri Bapak. Bapak bisa membuktikannya dengan memeriksakannya ke rumah sakit mana pun di kota ini. Kami pastikan hasilnya akan sama" tegas pria itu dengan yakin.
Refan segera pergi dari ruangan pria itu dan kembali ke loby untuk menemui Kinan. Tapi dia melihat Talita sudah berada bersama Kinan di sana. Dia sedang menggendong Naila. Pasti Kinan tidak bisa menolak permintaan wanita itu dan bisa dipastikan juga dia sudah menekan Kinan, terlihat dari wajah Kinan yang serba salah.
"Kamu dari mana Fan?" tanya Talita.
Refan melirik ke arah Kinan.
"Saya dari toilet Ma" jawab Refan dingin.
Refan menarik koper mereka.
"Ayo Nan bawa Naila. Maaf Ma kami harus pulang. Naila harus lebih banyak istirahat di rumah dan kalau mama ingin bertemu Naila sebaiknya di rumah saja. Tidak baik bertemu diluar seperti ini. Banyak orang, banyak virus dan bakteri yang bisa saja menyerang kesehatan Naila" ujar Refan.
Kinan mengambil Naila dalam gendongan Talita.
__ADS_1
"Maaf Bu, kami pamit pulang dulu" ucap Kinan sopan.
Dengan terpaksa Talita melepaskan Naila dari gendongannya dan menyerahkannya kepada Kinan. Dia tidak mau mau bersikeras melawan Refan karena dia juga merasa takut Refan mengetahui tujuan dia datang ke Rumah Sakit ini. Apalagi kalau sampai Refan melihat apa yang baru saja dia lakukan tadi di ruang administrasi.
Refan dan Kinan melanjutkan perjalanan mereka menuju parkir mobil dan masuk ke dalam kemudian bergegas meninggalkan arena Rumah Sakit.
"Apa yang terjadi Mas?" tanya Kinan tegang.
"Benar apa yang kita khawatirkan Nan" jawab Refan.
"Maksud Mas?" tanya Kinan penasaran.
"Mama Talita ingin menyuap pihak Rumah Sakit agar mau memalsukan hasil tes DNA Naila" ungkap Refan.
"Astaghfirullah... " ujar Kinan.
Kini Naila sudah tidur dalam pangkuan Kinan. Mereka masih dalam perjalanan menuju ke rumah.
"Mama membawa uang sebanyak seratus juta untuk menyuap mereka. Untung saja sebelumnya aku sudah mengancam pihak Rumah Sakit jadi mereka tidak berani menerima tawaran Mama Talita. Aku sudah merekam video pembicaraan mereka tadi dan aku sudah mengancam pihak rumah sakit. Kalau mereka berbuat curang aku akan menuntut mereka" tegas Refan.
"Masalahnya jadi semakin serius Mas. Aku takut Naila akan tersakiti dalam hal ini, dia masih terlalu kecil Mas. Dia hanyalah korban dalam masalah ini, korban dari masalah orang tuanya" Kinan membelai lembut kepala Naila yang sedang tidur terlelap.
"Masalah ini memang sangat serius Nan, bukan main - main. Aku memang benar - benar akan mencari jawabannya. Aku akan membuktikan bahwa Naila bukan anakku dan aku akan mencari siapa Papa kandungnya. Aku sudah bertekad akan menemukan pria itu. Siapapun dia akan aku hadapi" ungkap Refan.
"Apa langkah Mas selanjutnya?" tanya Kinan.
"Ada dua orang pria yang saat ini sedang aku curigai" jawab Refan.
"Siapa Mas?" tanya Kinan penasaran.
"Bos tempat Renita bekerja dulu dan yang kedua adalah Riko" ungkap Refan.
"Apa? Riko Mas? "....
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG