Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 46


__ADS_3

Kinan mengambil beberapa bungkusan yang baru dia keluarkan dari kopernya.


"Apa itu yang kamu bawa?" tanya Refan.


"Oleh - oleh untuk Mama, Bik Mar dan Bik Nah" jawab Kinan.


Kinan segera membawanya keluar kamar meninggalkan Refan sendirian.


Apa dia tidak menganggap aku ada? Aku suaminya sendiri gak dikasih oleh - oleh? Batin Refan.


"Ma ini ada sedikit oleh - oleh untuk Mama" Kinan memberikan bungkusan kepada Dhisti dan Suci.


Mereka membukanya dan melihat ada gamis batik yang Kinan berikan.


"Wah cantik sekali Nan, terimakasih ya" ucap Suci.


"Iya sayang bagus ini motif batiknya Mama suka" sambut Dhisti.


"Syukurlah, aku gak bisa beli banyak. Waktu untuk bepergian hanya sebentar sekali. Aku tidak sempat memilih lagi" jawab Kinan sambil tersenyum.


Kinan kemudian memanggil Bik Mar dan Bik Nah dan memberikan mereka bingkisan yang dia bawa. Bik Mar dan Bik Nah sangat senang sekali mendapatkan oleh - oleh.


Non Kinan emang baik sekali dan menganggap kami sebagai keluarga. Dulu Non Renita tak pernah bersikap seperti ini setiap pulang dari luar kota. Batin Bik Mar.


"Terimakasih ya Non, dasternya bagus, adem untuk di pakai sehari - hari" ucap Bik Nah.


"Nah sekarang ini untuk jagoan dan princess Mama" Kinan membuka bingkisan untuk Salman dan Naila.


Kinan membelikan mainan khusus untuk mereka berdua.


"Makasih Mama, aku suka sekali" sambut Salman senang.


"Non, Nyah makan siang sudah siap" ajak Bik Mar.


"Oh sebentar ya Bik aku panggil Mas Refan dulu" Kinan berdiri dan berjalan masuk ke kamarnya.


"Mas makan yuk" ajak Kinan.


Refan segera turun dari tempat tidur dan berjalan ke luar kamar. Suci, Dhisti dan Salman sudah menunggu mereka di meja makan. Refan dan Kinan segera ikut bergabung.


Kinan mulai mengambilkan makanan untuk Refan. Refan memperhatikan sambil tersenyum tipis.


Akhirnya ada lagi yang ngeladenin aku makan. Batin Refan.


Entah mengapa hari ini Refan makan dengan semangat dan lahap. Suci memperhatikan perubahan sikap putranya ada Kinan atau tidak di rumah ini ternyata sudah sangat mempengaruhi hidup putranya.


Setelah makan siang Kinan bermain bersama Salman dan Naila di ruang TV seolah - olah melepaskan rasa rindunya yang selama seminggu tidak bertemu.


Refan menunggunya di kamar dan akhirnya tertidur tapi Kinan tak kunjung masuk ke kamar. Refan merasa Kinan seperti menjaga jarak padanya. Setelah Refan ingat - ingat hal ini sejak dari sehari sebelum Kinan berangkat tugas dinas luar kota.

__ADS_1


Ada apa dengannya, mengapa sepertinya dia mendiamkan aku dan menjaga jarak. Biasanya dia akan ke kamar menemaniku sebentar. Tapi sampai sore dia tetap di luar. Batin Refan.


Tak lama Kinan masuk ke dalam kamar.


"Mas Mama minta diantar pulang. Mereka ingin pulang ke rumah sore ini juga" ucap Kinan.


"Ya sudah aku mandi dulu" jawab Refan.


Refan masuk ke dalam kamar mandi sedangkan Kinan menyiapkan pakaian ganti untuk Refan. Setelah itu dia kembali keluar kamar menemui mertua dan Mamanya.


Refan keluar dari kamar mandi dan tersenyum tipis melihat pakaiannya sudah tersusun rapi di atas tempat tidur. Dia segera memakai pakaiannya dan shalat ashar. Setelah itu baru Refan keluar dari kamar.


"Fan antarin kami pulang ya" pinta Suci.


"Iya Ma, aku sudah siap? Mana barang - barang Mama biar aku masukin ke mobil" jawab Refan.


"Tuh" Suci menunjuk tas dia dan Dhisti.


Kinan memeluk Mama dan mertuanya sebelum pergi.


"Makasih ya Ma udah jagain anak - anak selama aku pergi" ucap Kinan.


"Gak apa - apa Nan, kami senang kok jagain cucu" jawab Suci.


"Mama pulang ya" sambut Dhisti.


"Eh iya Ma, ini oleh - oleh untuk Papa" Kinan memberikan bingkisan kepada Mamanya.


Refan membawa tas Mama dan mertuanya ke mobil kemudian mengeluarkan mobil dari bagasi. Suci dan Dhisti masuk ke dalam mobil.


"Dah Salman, Naila Oma pulang ya" Ujar Dhisti.


"Dah Omaaaa" jawab Salman.


Refan pergi mengantar Mama dan mertuanya ke rumah mereka. Sebelum adzan maghrib Refan sudah kembali ke tumahnya. Saat dia masuk ke dalam rumah Refan melihat Kinan masih asik bermain dengan Salman dan Naila.


"Kamu gak shalat maghrib, barusan kan adzan?" tanya Refan.


"Aku lagi gak shalat Mas" jawab Kinan.


Refan terdiam dan masuk ke dalam kamarnya untuk mengerjakan shalat maghrib. Sedangkan Kinan beranjak ke dapur untuk memasak makan malam mereka.


Satu jam kemudian Kinan sudah masuk ke kamarnya untuk memanggil Refan makan.


"Mas yuk makan malam" ajak Kinan.


Refan segera beranjak menuju dapur. Kini dia merasa lega, hidupnya sudah kembali ke rutinitas semula. Hanya ada dia dan keluarga kecilnya di rumah ini dan Refan kembali dijadikan Raja di rumahnya. Semua kebutuhan dia dipenuhi Kinan.


Begitu melihat makanan yang tersaji di meja makan Refan tersenyum tipis.

__ADS_1


Hemmm.. dari wanginya aku yakin ini masakan Kinan. Ucapnya dalam hati.


"Makan Mas" Kinan meletakkan piring Refan yang sudah penuh di isi dengan makanan. Refan mulai menyantap makan malam mereka.


Aaah... memang enak masakan kamu Nan, seminggu ini rasanya lidahku merindukan masakan kamu. Batinnya.


Seperti biasa setelah makan malam Kinan menggendong Naila sebentar sambil mencoba menidurkannya. Setelah Naila tidur baru Kinan meletakkannya ke dalam boxnya baru setelah itu Kinan menyiapkan Salman. Mengganti baju Salman dengan baju tidur mengajaknya menggosok gigi dan kemudian menemaninya sebentar di kamar sebelum Salman tidur.


Setelah itu baru Kinan kembali ke kamarnya. Ternyata Refan sedang asik membuka laptopnya dan mengerjakan beberapa pekerjaannya yang akan dibawanya dalam rapat besok di kantor.


"Mas maaf ya, aku gak beli oleh - oleh untuk kamu, saat aku sedang mencari - cari oleh - oleh untuk kamu tiba - tiba kami di suruh kembali ke hotel jadi tidak sempat kebeli" ujar Kinan mendekati Kinan.


"Hem... " sambut Refan. Refan terus asik dengan kegiatannya.


"Aku tidur duluan ya Mas" ucap Kinan.


Refan sempat melirik ke arah Kinan.


Sudah gak dibawain oleh - oleh, mau minta penggantinya eh dia malah libur. Apes banget nasibku malam ini. Batin Refan.


Kinan tidur memunggungi Refan. Refan merasa tidak enak tidur dalam situasi ini. Dia segera menutup laptopnya.


"Nan kamu sudah tidur?" tanya Refan.


"Hemm... " hanya itu jawaban Kinan.


"Aku mau bicara sesuatu" sambung Refan.


"Tentang apa?" tanya Kinan.


Kinan membalikan badannya tapi dia tidak mau menghadap dan menatap wajah Refan.


"Kamu bilang dulu dalam membangun rumah tangga, kita harus saling terbuka kan?" tanya Refan.


"He em... " jawab Kinan


"Kalau begitu boleh kan aku tanya sesuatu pada kamu?" tanya Refan.


"Silahkan aja Mas" jawab Kinan.


"Selama kamu dinas mengapa tidak pernah menghubungiku atau mengirimkan pesan kepadaku satu kali pun kecuali pada saat Salman sakit?" tanya Refan.


Kinan kini merubah posisinya menghadap ke Refan.


"Kalau aku yang bertanya pada kamu seperti itu apa jawabannya? Kamu mengapa tidak pernah sekalipun menghubungi ku kecuali pada saat Salman sakit? Apa arti diriku dalam hidup kamu Mas? Seorang istri atau hanya wanita yang kamu butuhkan untuk mengasuh Naila putri kamu satu - satunya" Kinan balik bertanya.


Deg....


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2