Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 48


__ADS_3

"Aku tidak terpaksa Mas, aku tau betul tugas aku sebagai istri. Aku harus memenuhi semua kebutuhan suamiku di luar atau di atas tempat tidur. Karena aku menganggap kamu adalah suamiku. Aku ini istri kamu, sebagai istri aku wajib memenuhi semua keinginan kamu. Tapi kalau bagi kamu aku hanya sebagai pengasuh, apakah kamu tidur dan melakukan aktivitas tempat tidur dengan seorang pengasuh?" tanya Kinan.


Mata Refan kembali melotot karena terkejut, dia tidak menyangka Kinan akan menanyakan hal itu.


"Naaaaan" ujar Kinan.


"Kenapa Mas? Mas terkejut aku bertanya seperti itu? Mas hanya terkejut kan? tapi aku merasa.. merasa sangat sakit. Aku merasa melayani kamu sebagai wanita.. wanita.. gak baik. Bukan sebagai istri kamu" ujar Kina Sa bjm menangis.


"Aku tidak menganggap kamu seperti itu Nan, sungguh" ujar Refan.


Seketika kepala Refan pusing, dia tidak menyangka semua jadi seperti ini. Apalagi saat ini Kinan menganggap Refan merendahkan dirinya hanya menjadikannya teman tidur Refan saja dan pengasih Naila bukan sebagai istri.


"Maafkan aku Nan, semua memang karena aku. akh.... " ujar Refan.


Refan tidak mungkin mengatakan kalau dia masih mencintai Renita istri pertamanya, itu akan membuat Kinan sakit hati dan semakin sedih. Apalagi saat ini Kinan sepertinya sedang sensitif, mungkin karena dia lagi datang bulan.


"Aku berjanji akan berubah" jawab Refan.


"Aku sudah pernah berjanji sekali Mas? Kamu mau berjanji lagi? Sampai kapan kamu terus berjanji?" desak Kinan.


"Tolong berikan aku waktu Nan, please... saat ini aku memang sudah terbiasa hidup bersama kamu, aku juga kehilangan saat kamu tidak ada. Tapi aku belum bisa memastikan perasaan aku kepada kamu" ungkap Refan.


Kinan menghapus air matanya.


"Aku akan lebih berhati - hati dalam bersikap, aku akan terus berubah menjadi lebih baik lagi" janji Refan.


"Sudahlah Mas gak usah berjanji, kamu tunjukkan saja semua perkataan kamu. Gak perlu kamu berjanji dengan kata - kata. Aku hanya butuh perubahan sikap kamu" balas Kinan.


Refan menatap wajah Kinan. Belum pernah dia melihat Kinan semarah dan sesedih ini selama mereka menikah. Biasanya Kinan selalu sabar dan ceria. Dia juga sangat dewasa dalam bersikap.


"Sudah malam Mas aku mau tidur" ujar Kinan.


"Iya Nan, selamat tidur. Semoga mimpi indah" balas Refan.


Kinan membalikkan badannya memunggungi Refan dan kemudian tertidur. Tubuh dan hatinya sangat lelah hari ini. Besok dia juga harus pergi ke kator lebih pagi untuk mempersiapkan laporan pelatihan mereka di kantor.


Kini nafas Kinan terlihat teratur, sebentar saja Kinan sudah tidur dengan lelap. Refan menarik nafas lega. Malam ini dia benar - benar salah tingkah dan tak bisa berbuat apapun di hadapan Kinan.


Kinan benar - benar memaksanya untuk berpikir apa arti dirinya di hati Refan dan dalam kehidupan Refan.


Refan kembali memejamkan matanya dan mencoba tidur kembali.


******

__ADS_1


Keesokan harinya Kinan sudah bersiap - siap pergi ke kantor. Jam tujuh pagi dia sudah mengurus Naila. Memandikan dan memberikannya susu serah itu Salman juga sudah dia mandikan pagi - pagi sekali.


Sarapan pagi di siapkan Bik Mar tapi Kinan tidak sempat sarapan pagi di rumah. Kinan memutuskan untuk membawa bekal saja ke kantor.


Sebenarnya Kinan masih kesal dengan Refan karena kejadian tadi malam tapi dia merasa tidak enak hati kalau pergi begitu saja dari rumah. Kinan masuk ke kamar dan menyiapkan pakaian kerja Refan di atas tempat tidur. Dia mengetuk pintu kamar mandi.


"Ya... " ujar Refan dari dalam.


"Mas aku pergi duluan ya ke kantor. Hari ini aku harus sampai ke kantor lebih cepat" ujar Kinan dari luar kamar mandi.


"Iya" balas Refan kemudian.


Kinan segera mengambil tas kantornya, laptop dan kunci mobilnya kemudian dia keluar kamar.


"Bik tolong siapkan sarapan Mas Refan ya, aku pergi cepat hari ini ke kantor. Titip Naila dan Salman ya Bik. Nanti aku akan usahakan pulang lebih cepat" ujar Kinan terburu - buru.


"Iya Non, hati - hati ya" jawab Bik Mar.


"Oke Bik, Assalamu'alaikum" ucap Kinan pamit.


"Wa'alaikumsalam" balas Bik Mar.


Kinan segera keluar rumah dan bergegas pergi ke kantornya. Refan baru saja selesai mandi dan keluar dari kamar mandi. Dia melihat pakaian kerjanya sudah terletak di atas tempat tidur.


Refan segera bersiap berangkat ke kantor kemudian berjalan ke luar kamar.


"Den, sarapan paginya sudah siap" ucap Bik Mar.


Refan melihat Salman sudah rapi dan duduk dengan tenang di meja makan.


"Kinan gak sarapan?" tanya Refan.


"Tadi Non Kinan bawa bekal ke kantor Den" jawab Bik Mar.


Refan mengelus kepala Salman.


"Kamu mandi sama siapa Sal?" tanya Refan.


"Sama Mama Pa, tadi sebelum Mama pergi kerja dia mengajak aku mandi terlebih dahulu baru setelah itu Mama mandiin adek Naila" ungkap Salman.


Dia juga masih bersikap biasa saja, masih mengurus anak - anak dengan baik. Batin Refan.


"Yuk Sal kita makan" ajak Refan.

__ADS_1


"Iya Pa" jawab Refan.


Sarapan pagi berdua saja dengan Salman di meja makan terasa sangat sepi. Biasanya ada Kinan, dan saat Kinan pergi ada Mama dan mertuanya menemani mereka di rumah ini.


Pagi ini hanya mereka berdua saja yang duduk di meja makan ini. Refan malai menyicipi sarapan paginya.


Ini bukan masakan Kinan, apakah dia sengaja tidak memasak atau tidak sempat memasak? Tanya Refan dalam hati.


Tiba - tiba Bik Mar menerima telepon dari seseorang. Refan memperhatikannya dari jauh.


"Ada apa Bik?" tanya Refan.


"Anu Den, Non Kinan barusan telepon katanya berkas kantornya ketinggalan di kamar. Bibik masuk ke kamar Aden ya mau ambil berkasnya Non Kinan, setelah itu Non Kinan mau pesan ojek online untuk mengantarkan berkas ini ke kantornya" jawab Bik Mar.


"Ya sudah ambil sana, dan bilang sama Kinan gak usah pesan ojek online. Biar aku saja yang antar ke kantornya sekalian aku jalan ke kantor, aku bisa singgah" perintah Refan.


"Baik Den, Bibik akan bilang sama Non Kinan" balas Bik Mar.


Tak lama kemudian Bik Mar keluar dari kamar dengan membawa berkas yang Kinan butuhkan dan memberikannya kenapa Refan.


"Ini Den berkasnya Non Kinan" ujar Bik Mar.


"Oke Bik, saya pergi dulu ya" Refan mengambil berkas Kinan dari tangan Bik Mar. Kemudian Refan mencium kepala Salman dan Naila untuk berpamitan.


Tak sampai satu jam Refan sudah sampai di kantor Kinan dan masuk ke dalam.


"Eh suaminya Mbak Kinan kan Mas?" sapa salah satu pegawai di kantor itu yang ketepatan datang saat undangan syukuran pernikahan Refan dan Kinan.


"Iya" jawab Refan sambil tersenyum hormat.


"Langsung aja Mas masuk ke ruangannya Mbak Kinan" perintah teman kantor Kinan itu


Refan segera berjalan ke arah yang di tunjukkan teman Kinan sebelumnya tanpa mengetuk pintu. Refan melihat Kinan sedang berbincang sangat serius dan sangat dekat dengan Fadlan teman Kinan yang Refan temui di Bandara kemarin.


Lagi - lagi hati Refan panas melihatnya.


"Ehm... " ucap Refan memancing perhatian keduanya. Sontak Kinan melirik ke arah suara.


"Eh Mas Refan.. masuk Mas" sambut Kinan.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2