Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 36


__ADS_3

"Kalian gak bertengkarkan tadi malam? atau pisah ranjang seperti yang kalian lakukan di rumah ini?" desak Mama Kinan.


"Apa maksud Mama?" tanya Kinan.


"Kalian tidak bisa berbohong lagi kepada kami. Selama ini kalian tidur terpisahkan? Refan tidur bersama Naila sedangkan Kinan tidur bersama Salman" jawab Suci.


Kinan dan Refan saling pandang. Sepertinya rahasia rumah tangga mereka benar - benar sudah terbongkar.


"Tidak seperti yang Mama dan Papa fikrikan. Kami hanya butuh waktu untuk pernikahan kami ini. Kami kan menikahnya tiba - tiba" jawab Refan.


"Tidak ada alasan. Yang jelas kalian sudah tidur terpisah" tegas Suci.


"Da.. dari mana Mama tau?" tanya Refan.


"Kamu tidak perlu tau dari mana Mama tau? Jangan kamu salahkan Bik Mar dan Bik Nah karena bukan dari mereka Mama mengetahui semuanya. Mama tau sendiri karena semua barang - barang Renita masih tetap utuh di kamar kamu sedangkan barang - barang Kinan ada di kamarnya anak - anak" jawab Suci.


"Ma.. hanya sementara karena kami belum sempat menyimpan barang - barang Almh. Renita" bela Kinan.


"Belum sempat Nan? Kamu gak usah nutup - nutupi kesalahan Refan. Ada Bik Mar dan Bik Nah yang bisa bantuin untuk beresin barang - barang Renita Fan. Kamu jahat Fan sama Kinan. Mama malu mempunyai anak seperti kamu" bentak Suci.


Refan terdiam, kali ini dia memang salah dan dia tidak bisa membela dirinya.

__ADS_1


"Mama ini perempuan Fan, Mama tau bagaimana sakitnya perasaan Kinan. Bukan cuma kamu saja yang mempunyai luka masa lalu tapi Kinan juga. Kinan berani ambil keputusan dan meninggalkan masa lalunya di rumahnya yang lama. Tidak ada satu pun barang masa lalu yang dia bawa ke sini. Tapi kamu... kamu masih terus bergelut dengan masa lalu kamu. Kamu anggap apa Kinan selama ini? Kamu anggap dia hanya baby sitternya Naila?" ujar Suci.


Suci mulai terisak karena berusaha menahan emosinya.


"Maa.. sudah Ma... Kinan bisa kok memberi waktu buat Mas Refan untuk... "


"Tidak Nan, Refan harus berubah. Hari ini juga simpan semua barang - barang Renita. Bila perlu buang saja semua barang - barangnya. Kamu hanya bisa simpan kenangan bersama dia di hati kamu Fan bukan di rumah ini. Hargai Kinan, sekarang dia sudah menjadi istri kamu, bukan pelayan kamu, penjaga Naila. Dia istri kamu" tegas Suci.


Refan tertunduk, semua memang salahnya..


"Bik Mar, Bik Nah... ayo cepat bantuin saya untuk beresin kamar Refan" perintah Suci.


Bik Mar dan Bik Nah lari tergesa - gesa dari arah dapur. Mereka ikut tegang karena kedua majikan mereka sedang di sidang oleh orang tua mereka sendiri.


Akhirnya saat mereka di desak dan dipaksa, mereka mengaku kalau memang Kinan dan Refan pisah kamar selama usia pernikahan mereka dua minggu ini.


"Ayo Fan kita ngobrol di depan" ajak Papa Kinan.


Refan dan Papa Kinan duduk di ruang tamu, mereka berbicara berdua secara baik - bajn sesama seorang pria.


"Papa mengerti apa yang kamu rasakan. Sulit memang melupakan orang yang kita sayangi. Papa berbicara di sini bukan sebagai Papanya Kinan tapi sebagai orang tua dari kalian berdua" ujar Papa Kinan memulai pembicaraan.

__ADS_1


Refan menunduk dan mendengarkan semua perkataan mertuanya.


"Tapi yang mengalami itu semua bukan hanya kamu saja. Kinan juga baru kehilangan suaminya tujuh bulan yang lalu dalam sebuah kecelakaan" Pak Ardhiyanto menarik nafas panjang.


"Kita sekarang jadi seperti ini karena masa lalu tapi hidup kita saat sekarang ini untuk masa depan. Jika kamu terikat kuat dengan masa lalu kamu akan sulit untuk melangkah ke depan. Kamu akan selalu gagal Fan dan tidak akan mengalamai keberhasilan di masa yang akan datang. Cobalah berdamai dengan masa lalu kalian. Bicarakan baik - baik, Papa rasa ini tidak akan sulit karena kalian berdua sama - sama terluka. Beda dengan pernikahan yang hanya satu orang saja yang terluka. Kalian tentunya akan bisa membaca perasaan lawan kalian karena kalian juga pernah merasakannya" Pak Ardhiyanto mencoba berbicara dengan Refan dengan sebijaksana mungkin.


"Di pernikahan ke dua kalian ini kalian tidak hanya membawa diri kalian masing - masing tapi kalian melibatkan anak - anak di dalamnya. Ada Salman dan ada Naila. Mereka berdua masih anak - anak dan sama - sama butuh kasih sayang yang lengkap. Salman butuh sosok seorang Papa dalam hidupnya sedangkan Naila juga butuh sosok seorang Mama" ujar Pak Ardhiyanto.


Refan semakin terpukul dengan kata - kata mertuanya. Tidak keras tapi langsung mengena ke dalam hatinya.


"Kalau kalian terus hidup seperti sekarang ini lama kelamaan anak - anak kalian akan tumbuh semakin besar. Mereka sudah mulai berfikir dan bertanya mengapa orang tuaku berbeda dengan orang tua yang lain? Mengapa kedua orang tuaku tidurnya pisah kamar? Akan banyak timbul permasalahan - permasalahan yang lain Fan. Kalian menikah bukan untuk diri sendiri saja tapi lebih kepada anak - anak. Papa yakin Kinan bisa dan sanggup membesarkan Salman sendiri tanpa kamu tapi dia tidak bisa menghadirkan figur seorang Papa dalam hati Salman makanya dia butuh kamu. Begitu juga kamu dengan Naila, kamu butuh Kinan sebagai sosok figur Mamanya" nasehat Pak Ardhiyanto.


"Kalian sudah sama - sama dewasa, bukan anak remaja lagi yang hanya mementingkan perasaan pribadi kalian sendiri. Cobalah saling benahi diri, Papa tau bagaimana sifat Kinan. Sesulit apapun masalah yang di hadapi kalau kalian bicarakan secara baik - baik Kinan akan berusaha untuk mengerti. Dia tidak akan secepat itu menarik kesimpulan dengan perasaannya sebagai seorang wanita. Kinan wanita yang mandiri Fan. Kamu tau, saat dia kehilangan suaminya dia tidak pernah meminta bantuan kami untuk menjaga putranya. Dia bangkit sendiri dari rasa sakitnya demi masa depan dia dan putranya. Padahal kami sangat tau bagaimana cintanya Kinan kepada Bima. Kami juga sangat tau bagaimana terlukanya hati Kinan karena kehilangan Bima. Tapi dia tetap tegar dan kuat. Papa memujinya bukan karena Papa ini adalah orang tua kandungnya. Tapi karena Papa seorang lelaki. Jarang wanita seperti Kinan bahkan Mamanya sendiri Papa rasa tidak akan sekuat Kinan jika Papa lebih dahulu pergi meninggalkannya" tegas Pak Ardhiyanto.


Refan menelan salivanya, perkataan mertuanya benar - benar sangat menusuk ke jantungnya.


"Iya Pa, tadi malam kami juga sudah membicarakan hal ini berdua dengan Kinan di Hotel. Kami berjanji sama - sama mencoba untuk menyimpan masa lalu dan akan menjalani rumah tangga ini dengan baik dan benar. Beri kami waktu untuk saling menyembuhkan Pa. Refan akan berusaha menjadi suami dan Papa yang baik"..


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2