
"Mmm... baiklah. Aku akan coba bantu Mas Aril. Tapi ingat, aku tidak bisa memaksa Bela lho. Kalau Bela gak mau, itu bukan salah aku. Keputusan tetap ada di tangan Bela" jawab Reni.
Aril tersenyum dan balik merangkul Reni sambil mengajaknya jalan masuk ke dalam rumah.
"Nah ini baru adiknya Mas Aril" rayu Aril.
"Untung Mas Aril itu sahabatnya Mas Refan sejak dulu dan aku sudah mengenal kalian sejak aku kecil. Makanya aku dukung. Kalau tidak aku pastikan aku akan dukung Bela untuk boikot Mas Aril" ujar Reni.
"Jangan donk, kan kamu adiknya kami berlima. Mmm... gini aja, kamu boleh deg minta hadiah sama Mas Aril asalkan kamu mau dukung Mas Aril dengan Bela" Aril memberi tawaran.
"Benar?" tanya Reni memastikan.
"Benar" jawab Aril sambil tersenyum.
"Apa aja boleh minta?" tanya Reni semangat.
"Iya apa aja adek baweeeel" Aril menarik hidung Reni.
"Aaaaawwww... sakit Mas" protes Reni.
"Biar hidung kamu semakin mancung" ujar Aril tertawa.
"Aku mau handphone terbaru ya Mas, iPhon*" pinta Reni.
"Boleh, besok kita cari ya" balas Aril.
"Aaaaseeeeeek" teriak Bela.
Mereka masuk ke dalam rumah Refan dan Kinan. Tanpa mereka sadari baru saja ada mobil yang masuk dan melihat interaksi mereka berdua.
"Apa mereka pacaran? Mengapa mereka terlihat sangat akrab sekali?" tanya Bimo yang masih ada di dalam mobil.
Bimo segera keluar dari mobilnya dan menyusul Reni dan Aril yang baru saja masuk ke dalam rumah.
Sedangkan di balkon atas lantai dua ada seorang wanita yang juga melihat interaksi Reni dan Aril barusan.
Reni bilang Mas Aril playboy tapi kok mereka dekat amat. Apa Reni suka sama Mas Aril ya? Trus kenapa dia bilang padaku kalau Mas Aril itu playboy? Apa Reni takut kalau aku mendekati Mas Aril? Ah.. tidak.. tidak... aku gak boleh berburuk sangka. Lagian kalau mereka mau berhubungan apapun apa pedulinya aku. Aku kan bukan siapa - siapa dalam hubungan mereka? Wajar saja kan kalau mereka punya hubungan secara Mas Aril itu sahabatnya Mas Refan kakaknya Reni. Pasti mereka sering banget bertemu dan akhirnya mereka saling memiliki rasa. Batin Bela.
Bela segera turun ke lantai dasar dimana seluruh keluarganya sedang berkumpul di teras belakang rumah sambil ngobrol santai dan menikmati singkong goreng yang baru saja di masak Bik Mar di dapur.
"Waaah Biiik... kok singkongnya berani banget muncul sendiri" teriak Kinan.
"Emangnya biasanya ada temannya Nan? kok aku baru tau ya akan hal ini?" tanya Aril bingung.
__ADS_1
"Ya biasanya kan ada temannya Mas, teh manis panas pasti enak ni. Gak seret jadinya tenggorokan" jawab Kinan.
"Oooh itu toh maksudnya. Aku kira apaan" balas Aril.
"Papa minta kopi aja lebih enak jadi teman singkong goreng" pinta Pak Ardianto.
"Sama kalau begitu" sambut Pak Akarsana.
"Ya sudah Bik satu teko kopi dan satu teko lagi teh panas ya" pinta Kinan pada Bik Mar.
"Iya Non, tunggu sebentar" jawab Bik Mar.
Mereka kembali ngobrol sembari menunggu minuman datang.
"Kapan Bapak rencana kembali ke Surabaya?" tanya Bimo pada orang tuanya.
"Minggu depan" jawab Pak Akarsana.
"Kok cepat banget Pak pulangnya?" tanya Refan.
"Sebentar lahir Bela kan wisuda, banyak yang harus disiapkan. Bapak juga masih punya urusan di lampung" jawab Pak Akarsana
"Tapi nanti setelah Bela Wisuda janji ya Pak datang lagi ke sini? Kan katanya Bela mau cari kerja di sini. Jadi Bapak dan Ibu sekalian antar Bela" pinta Kinan.
"Boleh Pak" sambut Bimo.
"Ajak Salman juga ya Eyang" pinta Salman. Salman yang sedang bermain tak jauh dari pada orang tua dapat mendengar langsung pembicaraan mereka.
"Iya sayang... Eyang pasti akan ajak kamu tuk jenguk Papa Bima" jawab Pak Akarsana.
"Gimana Fan, Bim sudah ada perkembangan tentang laporan kemarin?" tanya Pak Ardianto.
"Kata pengacara aku, pihak kepolisian sudah berkoordinasi dengan polisi papua mencari pelaku yang terlihat di CCTV yang keluar dari mobil sesaat setelah mobil Bima masuk jurang Pa" jawab Refan.
"Bagus, mudah - mudahan mereka bisa segera menemukan pelakunya dan tau apa motifnya sekaligus menangkap siapa dalang dalam rencana ini" ujar Pak Ardianto.
"Aaamiiin... " sambut yang lain.
Aril melirik Reni dan Bela yang sedang ngobrol di pinggiran kolam renang. Kaki mereka menjuntai ke dalam kolam renang dan membasahi kaki mereka.
"Janji ya setelah wisuda kamu akan kembali ke sini" ujar Reni kepada Bela.
"Iya, aku kan udah dapat kerja di kantornya Mas Aril" jawab Bela.
__ADS_1
"Eh iya aku lupa" sambut Reni.
"Tapi gak apa - apa nih Ren kalau aku kerja di kantornya Mas Aril?" tanya Bela yang terlihat sungkan.
"Ya gak apa - apa donk. Emang kenapa kamu tanya begitu?" tanya Reni.
"Aku sungkan sama kamu kalau nanti aku jadi sekretarisnya Mas Aril" jawab Bela.
"Kenapa kamu harus sungkan padaku. Kamu kan kerja di kantornya Mas Aril. Apa hubungannya dengan aku?" tanya Reni bingung.
"Kamu pacarnya Mas Aril kan?" tebak Bela.
"Aku?" tanya Reni tak percaya.
Bela menganggukkan kepalanya.
"Buahaahaha.. aku pacarnya Mas Aril Bel? Emangnya kelihatan begitu? Dari mana kamu bisa menarik kesimpulan kalau aku itu pacarnya Mas Aril?" tanya Reni.
Dia masih tertawa karena tidak menyangka Bela bisa menebak seperti itu.
"Maaf Ren, tadi saat kamu baru pulang kerja aku melihat kamu dan Mas Aril di halaman depan rumah sedang ngobrol mesra dan kalian saling rangkul sambil tertawa bebas" ungkap Bela.
"Aku tuh sama Mas Aril udah biasa ngobrol seperti itu. Dia dan Mas Refan bersahabat sejak mereka kuliah. Dia dan teman - temannya dulu sering banget datang dan menginap di rumah kami. Itu artinya aku sudah mengenal mereka sejak aku kecil. Beda usia kita dan mereka kan jauh. Jadi saat mereka kuliah dulu aku masih SD. Sering main sama mereka, sering dibawain permen sama mereka bahkan sering di buat nangis sama mereka. Mereka itu sudah seperti kakak - kakak aku sendiri. Makanya kalau ngobrol kami suka saling ejek dan ledek" ungkap Reni.
Bela mendengarkan cerita Reni dengan santai.
"Seperti yang aku ceritain ke kamu kemarin. Mas Aril juga dua sahabat mereka yang lain yaitu Mas Romi dan Mas Riko adalah seorang playboy. Tapi tadi Mas Aril sempat cerita ke aku kalau mereka sedang menuju proses pertaubatan. Mereka sudah jera bermain - main atau lebih tepatnya mempermainkan perasaan wanita. Dia ingin menikah seperti Mad Refan membangun sebuah keluarga yang harmonis. Jadi saat ini Mas Aril sedang mencari calon istri dan dia meminta bantuanku untuk mencari kan jodoh yang baik, solehah dan tepat untuk dia" sambung Reni.
"Aku bilang aku belum punya calon untuk dia tapi setelah melihat kamu aku jadi kepikiran kembali. Apa kamu mau menjadi kandidatnya?" tanya Reni.
Bela tersenyum menatap Reni.
"Aku belum kepikiran Ren. Masih mau fokus kerja dulu. Lagian aku masih takut ah menikah, belum siap. Aku merasa masih sangat muda dan belum dewasa sama sekali. Mungkin seiring sejalan kalau nanti aku sudah bekerja di sini perlahan - lahan aku pasti akan belajar mandiri baru aku memikirkan pernikahan. Kondisi belum begitu mendesak jadi santai aja. Biar Mas Bimo aja deh yang duluan menikah untuk yang kedua kalinya. Biar segera dapat momongan. Pasti Bapak dan Ibu sangat senang. Secara Mas Bimo kan anak laki - laki ditambah lagi Mas Bimo sudah kembali pada agama dan keluarga. Pasti Bapak Ibu mempunyai harapan yang besar untuknya" jawab Bela.
Reni menatap Bela sambil tersenyum.
Yaaah maaf kan aku Mas Aril.. sepertinya kamu belum beruntung. Tapi jangan menyerah beberapa saat lagi, bisa di coba kembali. Batin Reni sambil melirik ke arah Aril yang ternyata juga sedang menatap ke arah mereka.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1