Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 43


__ADS_3

"Mas maaf ya tadi kami langsung kegiatan dan HP aku tinggal di kamar hotel jadi aku gak tau kalau kamu bulak balik telepon aku" ucap Kinan merasa bersalah.


"Salman sakit Nan, tadi sore dia rewel sekali badannya panas dan kepalanya pusing. Aku tidak tau apa obatnya. Begitu juga Mama, Bik Mar dan Bik Nah" ungkap Refan dengan nada kesal.


"Jadi gimana keadaannya sekarang Mas?" tanya Kinan dengan nada khawatir.


"Sekarang sudah reda" jawab Refan.


"Dikasih minum obat apa Mas?" tanya Kinan.


"Aku telepon Mama kamu sekarang Mama kamu juga menginap di rumah" ungkap Refan masih kesal


"Maafkan aku Mas, aku benar - benar minta maaf. Aku kelupaan bawa hpku. Jadi aku tidak tau kalau kamu telepon atau kirim pesan" sambut Kinan dengan perasaan menyesal.


"Kamu terlalu teledor, kalau ada berita yang lebih penting gimana?" tanya Refan masih marah.


"Iya.. iya Maaf. Aku mengaku salah. Boleh aku video call? Aku mau melihat wajah Salman dan Naila. Aku kangen" pinta Kinan.


Hanya pada mereka kangen kamu? Batin Refan.


"Ya sudah kita video call saja" Refan mematikan ponselnya.


Tak lama kemudian Kinan melakukan panggilan video, Refan segera menjawabnya. Muncullah wajah Kinan yang kelihatan lelah dan mengantuk. Tapi sepertinya Kinan baru selesai mandi. Refan bisa melihat kalau rambut Kinan basah.


Aduh hanya melihat dia seperti itu mengapa aku jadi panas. Batin Refan.


"Mana Salman ya Mas?" tanya Kinan.


"Sebentar" jawab Refan.


Refan mengetuk pintu penghubung kamarnya dengan kamar Salman.


Tok.. tok..


"Ma.. sudah tidur" panggil Refan.


"Ada apa Fan?" tanya Dhisti.


"Ini Ma, Kinan mau video Call, mau lihat keadaan Salman dan Naila" jawab Refan.


Tak lama pintu kamar terbuka, Refan masuk ke dalam kamar Salman dan mengangkat ponselnya di depan wajah Salman.


"Sayang Mama.... jangan sakit - sakit donk. Baru sehari Mama pergi nak. Cepat sembuh ya ada Papa dan Oma yang jagain kamu" ucap Kinan.


Tiba - tiba mata Salman terbuka.


"Mamaaaa... " panggilnya.


"Anak pinter anak kuat, jangan nangis ya. Katanya mau jagain adek Naila, kalau Kakaknya sakit gak bisa donk main sama adeknya sayang" bujuk Kinan.


"Iya Ma, aku akan cepat sembuh" jawab Salman masih lemas.


"Sekarang apa yang Kakak rasain? Kepalanya masih pusing?" tanya Kinan.


Salman menggelengkan kepalanya. Refan memengang kepala Salman

__ADS_1


"Tapi badannya masih hangat" jawab Refan.


"Kamu sudah makan?" tanya Kinan lagi.


"Sudah Ma tadi di suapin Oma" jawab Salman.


"Sudah minum obat?" tanya Kinan lagi.


"Sudah tadi pas shalat maghrib, Mama kasih Salman minum obat" jawab Refan.


Kinan melirik jam tangannya.


"Sudah jam sebelas Mas, gak apa - apa Mas kalau mau diminumin obat bisa kok sudah lebih empat jam. Biar Salman tidur nyenyak. Mudah - mudah besok bangun pagi badannya sudah dingin" ucap Kinan.


"Iya nanti aku minta obatnya sama Mama" balas Refan.


"Ya sudah sayang, Kakak Salman bobok lagi ya sayang. Anak Mama anak kuat kan, cepat sembuh sayang. I love you" ujar Kinan.


"Love you too Ma" balas Salman.


Refan mengambil obat Salman dan memberikan Salman obat lagi sebelum tidur. Setelah Salman meminumnya Salman kembali berbaring di tempat tidur.


"Naila mana Mas? " tanya Kinan.


"Naila sudah tidur di boxnya, nih Nailanya" Refan mengarahkan ponselnya ke arah Naila yang sudah tertidur.


"Duuh anak Mama udah bobok ya sayang, miss you sayaaang" ucap Kinan lembut.


"Sudah?" tanya Refan


"Ma aku balik ke kamar ya, maaf udah ganggu tidur Mama" ujar Refan kepada mertuanya.


"Gak apa - apa Fan. Udah biasa Kinan begitu kalau lagi dinas keluar kota. Waktu luang buat nelepon hanya malam hari, selebihnya dia sibuk seharian" jawab mertuanya.


Refan kembali berjalan menuju kamarnya.


"Benar seperti yang Mama bilang?" tanya Refan.


"Yang mana?" tanya Kinan bingung.


"Kalau keluar kota waktu kamu nelepon hanya malam hari saja?" tanya Refan.


"Iya Mas, karena aku sibuk seharian Mas" jawab Kinan.


"Sebisa mungkin sempatkan donk telp lagi pagi atau siang saat kamu istirahat" ujar Refan.


"Iya Mas, aku usahakan" jawab Kinan.


Refan hanya memandang wajah Kinan. Kok adem ya lihat dia. Batin Refan


"Mas pulang jam berapa tadi?" tanya Kinan.


"Tadi aku pulang sore, jam lima sudah sampai di rumah" jawab Refan.


"Tumben pulang cepat?" tanya Kinan.

__ADS_1


"Ya untung aku pulang cepat kalau tidak Mama bisa panik tadi ngadepin Salman yang demam seperti tadi" jawab Salman dengan suara yang agak tinggi.


"Iya maaf.. maaf.. kan aku udah jelaskan tadi kondisiku. Salman itu anak yang kuat kok Ma, dia jarang sakit dan kalau sakit cepat sembunya. InsyaAllah besok pagi udah baikan" ungkap Kinan.


Refan hanya memandangi wajah Kinan.


"Mas gak mau bertanya padaku?" tanya Kinan.


"Tanya apa?" tanya Refan bingung.


"Ya tanya aku jam berapa sampai di sini, sudah makan atau belum tadi kerjanya sampai jam berapa? Kan banyak sih yang bisa di tanyakan?" tanya Kinan ceriwis.


"Jam bergini kamu pasti sudah makan, melihat rambut kamu yang basah pasti kamu baru mandi itu tandanya kerja kamu selesainya juga baru sekitar satu jam lagi. Mata kamu juga terlibat ngantuk pasti kamu capek begitu sampai di sana lansung dinas" jawab Refan.


"Ih Mas Refan pintar banget, bisa baca keadaan aku saat ini" puji Kinan sambil tersenyum.


Refan melihat senyuman Kinan. Aku kok kangen kamu ya.. Batin Refan.


"Ya udah, sudah malam nih. Habis ini kamu langsung tidur" perintah Refan.


"Iya Mas, mata aku udah ngantuk banget, besok jam tujuh sudah harus ngumpul di aula hotel. Maklum pelatihannya seluruh Indonesia jadi banyak peserta yang diurus" jawab Kinan.


"Ya sudah kalau begitu tutup saja teleponnya" perintah Refan.


"Mas sudah shalat Isya?" tanya Kinan mengingatkan. Kebiasaan Refan kalau shalat Isya suka telat tidak tepat waktu. Kadang sudah mau tidur baru shalat padahal sebelumnya dia santai atau keasikan main handphone.


"Sudah tadi sebelum kamu telepon" jawab Refan.


Keduanya enggan untuk menutup panggilan video mereka.


"Makasih ya Mas sudah jagain dan perhatian sama Salman walau dia.... " ujar Kinan.


"Dia juga anakku, sama seperti kamu menjaga Naila saat sakit. Aku juga akan berbuat sama kepada Salman. Lagian aku tadi kasigan lihat dia kesakitan. Kalau Nailanya kan masih kecil taunya hanya menangis. Tapi kalau Salman sudah bisa bilang sakit" jawab Refan.


"Maaf Mas udah buat kamu panik. Sekali lagi makasih ya Mas hari ini kamu sudah jadi Papa yang baik buat anak - anak" balas Kinan.


Ada yang hangat di hati Refan saat Kinan mengatakan itu.


"Ya sudah tutup teleponnya dan tidur" perintah Refan.


"Baiklah, titip anak - anak ya Mas. Masih ada enam hari lagi aku di sini. Semangat" ucap Kinan ceria memberi semangat kepada Refan.


Refan hanya memandangi wajah Kinan yang terlihat tersenyum ceria walau matanya lelah.


"Ya sudah ya Mas, aku tutup teleponnya. Assalamu'alaikum" ucap Kinan mengakhiri teleponnya.


"Wa'alaikumsalam" jawab Refan.


HP Refan mati dan layarnya kembali gelap.


Sial hanya begitu saja dia mengakhiri teleponnya. Pada Salman dia bilang I love you, pada Naila I miss you. Padaku hanya ucap salam? gumam Refan kesal.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2