
Refan dan Kinan sampai di rumah baru mereka. Mereka di sambut oleh Papa Mama Kinan dan juga Mamanya Refan.
"Gimana keadaan Naila Nan?" tanya Suci.
"Kasihan sekali Ma, Naila sangat kurus. Selama seminggu ini dia rewel terus dan sulit sekali minum susu" jawab Kinan.
"Ya Allah kasihannya anak sekecil itu sudah menjadi korban atas apa yang telah dilakukan oleh orang tuanya" sambut Mama Kinan.
"Jadi gimana sekarang keadaannya?" tanya Papa Kinan.
"Setelah kami datang dia minum susu yang banyak. Kelihatan kalau dia sangat kelaparan. Setelah itu dia bisa tidur nyenyak. Mungkin juga karena terlalu capek menangis terus" jawab Kinan.
"Kondisinya masih lemah Pa, dan dia sepertinya sangat takut kalau kamu tinggalkan. Dia terus menarik dan menggenggam jilbab Kinan seolah - olah tidak ingin kami pergi" sambut Refan.
"Terus gimana donk, kalian tinggalkan dia dalam keadaan seperti itu? kasihan sekali dia" ujar Mama Kinan.
"Kami sudah sepakat dengan Papa dan Mama Renita untuk tetap membantu mengurus Naila" jawab Refan.
"Tapi kalian punya kehidupan sendiri Fan. Bukannya Mama tidak kasihan dengan Naila. Tapi sampai kapan kalian akan melakukan semua ini. Terus - terus di bayangi oleh masa lalu" ujar Suci tidak suka.
"Ma... Mama dan Papa Renita meminta bantuan kami hanya selama Naila di rawat di Rumah Sakit. Itupun kami hanya menjaga Naila di malam hari. Saat siang hari giliran Papa dan Mama Renita yang jaga" ungkap Refan.
"Tapi Fan Mama takut kalian tidak akan pernah bisa lepas dari Naila. Nanti kalau Naila sakit mereka terus menghubungi dan meminta pertolongan kalian" bantah Mama Refan.
"Pelan - pelan semua akan berubah Ma. Kasihan juga Naila kalau langsung berpisah dengan kami. Dia seperti kehilangan kedua orang tuanya. Kalau pelan - pelan kan dia sudah mulai kenal dan dekat dengan Mama dan Papa nya Renita. Perlahan - lahan dia akan melupakan kami. Baru kami bisa jaga jarak dan berpisah dengan Naila. Tolong mengerti Ma, Naila masih anak - anak. Dia tidak bersalah di sini, malah dialah satu - satunya korban keegoisan orang dewasa. Sudah cukup dia menderita seperti ini Ma. Aku dan Kinan tidak mau egois kepadanya lagi" ucap Refan dengan nada sendu dan lemah.
Suci tampak menghela nafas.
"Jadi malam ini kalian mau balik lagi ke Rumah Sakit?" tanya Suci.
"Iya, kami pulang untuk mengambil barang - barang kami yang akan kami bawa untuk menginap di rumah sakit. Besokkan masih libur Ma, masih hari minggu juga. Besok siang kami akan pulang untuk istirahat. Malamnya baru balik lagi ke rumah sakit" jawab Refan.
__ADS_1
"Ma.. Pa.. tolong jagain Salman ya. Aku titip dia pada kalian. Tolong kasih pengertian padanya tentang keadaan kami sekarang agar dia tidak bertanya" pinta Kinan pada kedua orang tuanya dan juga pada mertuanya.
"Baiklah Nan" jawab Papa Kinan.
"Kami ke kamar dulu ya Ma, Pa. Mau beres- beresin barang - barang" pinta Kinan.
Refan dan Kinan masuk ke kamar mereka untuk menyusun beberapa baju dan beberapa perlengkapan lainnya yang mereka butuhkan di rumah sakit.
Setelah semua selesai merek kembali keluar.
"Ma.. Pa.. kami pergi lagi ya. Titip Salman" ujar Refan.
"Iya, hati - hati ya Fan" jawab para orang tua itu.
Refan dan Kinan kembali ke rumah sakit untuk menjaga Naila malam ini, sampai nanti dia sembuh dan kembali di asuh oleh Oma dan Opanya.
"Pa, Ma kalian sudah bisa pulang dan istirahat. Biar gantian kami yang jaga Naila di sini" ujar Refan ketika mereka sampai di kamar rawat inap Naila.
"Ah tidak apa Pa, Naila sudah kami anggap sebagai anak kami sendiri" balas Refan.
"Titip Naila ya Nan, Fan. Semua barang - barang Naila ada di lemari" sambut Talita.
"Iya bu" jawab Kinan.
"Kami pergi dulu ya" pamit Reno.
"Hati - hati di jalan ya Pa, Ma" balas Refan.
Reno dan Talita pergi meninggalkan kamar rawat inap dan meninggalkan rumah sakit tempat Naila di rawat. Mereka kembali menuju rumah untuk beristirahat.
"Ma... kita tidak bisa terus merepotkan Refan dan Kinan. Mereka sudah sangat baik kepada kita dan kepada Naila. Bagaimana juga mereka mempunyai kehidupan sendiri dan mereka sudah mempunyai rumah tangga baru. Tidak pantas kalau kita terus mengganggu mereka. Bagaimana juga Naila tidak mempunyai hubungan darah dengan mereka berdua" ujar Reno ketika mereka ada di mobil menuju rumah mereka.
__ADS_1
"Iya Pa, Mama mengerti" jawab Talita.
"Selama mereka tadi di Rumah Sakit, Papa terus berfikir apa yang terbaik untuk kita semua. Papa berpikir sepertinya lebih baik kita menjauh dari mereka Ma" sambung Reno.
"Maksud Papa?" tanya Talita tak mengerti.
"Papa berpikir lebih baik kalau kita pergi meninggalkan kota ini demi kebaikan kita bersama. Kalau terus - terusan tinggal di kota ini dan dekat dengan Refan dan Kinan kita akan bergantung pada mereka. Kalau ada apa - apa dengan Naila, dengan mudahnya kita menghubungi mereka dan meminta bantuan mereka. Kalau seperti ini terus Naila tidak akan benar - benar bisa berpisah dari mereka. Kita harus pergi jauh dari mereka Ma" usul Reno.
Talita mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Semua ini sangat tiba - tiba untuk keluarga mereka. Tanpa pamit minta izin kenyataan buruk itu datang begitu saja menghampiri keluarga mereka.
Naila terbukti bukan anak kandungnya Refan kemudian Refan memberikan bukti - bukti perselingkuhan Renita. Membuat Talita dan suaminya shock dan terkejut dengan kenyataan itu.
Tapi mereka tidak bisa membantahnya karena apa yang Refan berikan adalah fakta. Bukan hanya sekedar tuduhan palsu tanpa bukti. Semua jelas merupakan bukti pengkhianatan putri mereka.
Sehingga dengan berat hati mereka harus menerima kenyataan pahit ini dan memutuskan untuk merawat cucu peninggalan putri mereka satu - satunya. Tak ada lagi yang bersisa dari Renita hanya Naila.
"Tapi Pa, bagaimana dengan Papa kandungnya Naila? Apakah dia tidak perlu tau keberadaan Naila. Kalau dari diary Renita pria itu sudah mengetahui dan mengakui kalau Naila itu adalah anaknya. Apakah dia tidak berhak tau kalau Naila itu hidup dan ada bersama kita?" tanya Talita.
Reno tampak geram mengingat pria itu tangannya mengepal menahan amarah.
"Dia pria brengsek dan pengecut. Kalau sejak awal dia memang tidak mau memperjuangkan Naila lebih baik sama sekali dia tidak usah tau kabar tentang Naila. Lagipula kalau sampai dia tau dan dia ingin mengambil Naila dari tangan kita apa lagi yang kita punya Ma? Renita sudah meninggal dan Naila akan dibawa oleh Papa kandungnya. Tidak.. Aku tidak mau itu terjadi. Lebih baik kita tinggalkan kota ini, kita boleh pamitan pada Refan dan Kinan tapi lebih baik kita tidak usah memberi tahu kemana tujuan kita akan pergi. Lebih baik semua ini kita rahasiakan" tegas Reno dengan nada menggebu karena menahan amarah.
Talita meneteskan air mata sedih. Tak menyangka nasih cucunya akan semalang ini. Percuma menangisi putri yang telah mati lebih baik mereka memperjuangkan cucu mereka yang masih hidup.
"Baik Pa, terserah Papa.. Mama ikut apapun yang Papa putuskan" jawab Talita sambil menghapus air matanya.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1