Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 285


__ADS_3

"Ti.. dak.. Fa.. aaan.. Pa.. pa.. a.. kan.. per.. gi.. to.. long... ja.. ga.. nai.. la.. " sambung Pak Reno.


Tiiiiiiiiit.......


"Papaaaaaa..... " teriak Refan akhirnya.


"Innalillahi... " ucap Bimo dan Riko yang ada di samping Refan.


"Paaa... jangan seperti ini Pa. Kasihan Naila.. Naila masih membutuhkan kalian" ucap Refan sambil menangis.


Hatinya sangat sakit ketika melihat Papa dan Mama Renita terbujur kaku diatas tempat tidur yang terletak bersebelahan. Rasanya tak sanggup melihat pemandangan seperti ini. Tapi dia harus kuat demi Naila.


Kedua jenazah orang tua Renita langsung di urus untuk segera di makamkan esok hari. Berhubung saat ini sudah larut malam.


"Fan.. sudah Fan. Kamu harus kuat. Ada Naila yang harus kamu urus" ujar Riko.


"Iya Fan, gadis kecil itu masih membutuhkan kamu" sambung Bimo.


Refan menghapus air matanya.


"Kalian kembali saja ke Hotel, biar aku menginap di sini dikamar Naila. Aku akan menjaga Naila" perintah Refan.


"Kamu yakin?" tanya Bimo.


"Iya. Aku akan temani Naila disini" jawab Refan.


"Baiklah kalau begitu Fan. Kami balik ke Hotel ya" ujar Bimo.


Riko dan Bimo beranjak dari Rumah Sakit menuju Hotel. Karena hanya diperbolehkan satu orang saja yang menjaga pasien di rumah sakit


Refan kembali ke kamar Naila dan Refan meminta karyawan Bimo yang tadi ditugaskan untuk menjaga Naila, kembali ke Hotel. Kini hanya ada Refan dan Naila yang ada di kamarnya.


Refan membelai lembut kepala Naila.


"Naak.... " Refan kembali meneteskan air matanya.


"Papa sayang kamu, Opa dan Oma sudah tiada. Tapi kamu tidak sendiri, ada Papa yang akan mengasuh dan membesarkan kamu. Mama juga pasti sangat senang menerima kamu kembali Nak. Besok pagi saja ya kita kabari Mama. Dia pasti sangat senang bertemu dengan kamu lagi" ujar Refan.


Refan menghapus air matanya. Dia duduk di kursi samping tempat tidur Naila dan menutup matanya kemudian tertidur karena letih.


Pagi harinya...


"Pap.. pap... pa..... Pap.. pap.. paaaa... " Naila memukul wajah Refan.


"Astaghfirullah... aku belum shalat subuh" Refan mencium kening Naila.

__ADS_1


"Sebentar ya sayang.. Papa shalat subuh dulu" ujar Refan.


Refan segera ke kamar mandi dan shalat subuh dengan cepat karena takut Naila menangis. Setelah shalat subuh baru Refan menghampiri tempat tidur dan bermain bersama Naila.


Refan ingin menghubungi Kinan tapi pasti Kinan masih tidur karena perbedaan waktu Labuhan Bajo dan Jakarta.


Refan menghubungi Bimo.


"Halo.. " ucap Bimo.


"Bim tolong kamu kirim utusan dari Hotel untuk menjaga Naila sebentar saat kita mengurus pemakaman Papa dan Mama nanti" pinta Refan.


"Oke Fan, nanti aku kirim anggotaku ke Rumah Sakit" jawab Bimo.


"Kalian siap - siap ya. Pagi ini beberapa orang keluarga Papa Reno akan datang dan kita akan segera memakamkan mereka" ujar Refan.


"Baik Fan, aku dan Riko akan segera ke sana" jawab Bimo.


Telepon terputus, Refan kembali menatap wajah Naila.


"Pap.. pap.. paaaa... " ucap Naila.


"Ya sayang.. kamu haus ya.. tunggu sebentar Papa buatkan susu kamu ya" jawab Refan.


"Gimana keadaan putri saya Sus?" tanya Refan ingin tau.


"Alhamdulillah putri Bapak tidak mengalami luka serius karena posisi tempat duduknya di tengah dan dia duduk di atas cara seat. Kematian orang tua Bapak disebabkan karena benturan hebat di dada" jawab perawat yang mengetahui keadaan Pak Reno dan Bu Thalita.


"Kapan anak saya bisa pulang?" tanya Refan.


"Tunggu pemeriksaan dokter nanti ya Pak. Saat dokter visit nanti Bapak bisa menanyakannya" jawab Wanita itu.


"Baik Suster, terimakasih" balas Refan.


Setelah selesai memeriksa Naila perawat tersebut keluar dan tak lama kemudian pegawai Hotel utusan Bimo tiba di Rumah Sakit.


Refan segera bersiap untuk pemakanan kedua mantan mertuanya. Refan mandi di kamar mandi kamar rawat inap Naila. Kemudian berganti pakaian dan setelah itu bersiap hendak mengurus pemakanan mantan mertuanya.


"Mbak saya titip anak saya ya.. saya mau mengurus pemakanan orang tua saya" ucap Refan pada wanita yang saat ini sedang bermain dengan Naila.


"Iya Pak" jawab wanita itu.


"Tolong jaga anak saya ya" pinta Refan.


"Baik" balas Wanita itu.

__ADS_1


Refan segera berjalan keluar kamar rawat inap Naila dan mengurus semua proses pemakanan kedua mantan mertuanya.


Refan juga sudah menghubungi ponakan Pak Reno untuk janjian bertemu langsung di tempat pemakanan umum. Ternyata Pak Reno sudah mempersiapkan rencana hari tuanya di kota ini. Bahkan untuk peristirahatan terakhir dia dan istrinya juga sudah dia persiapkan. Seolah - olah dia punya firasat kalau hidupnya tidak akan lama lagi.


Bimo dan Riko juga sampai di Rumah Sakit. Mereka ikut membantu Refan mengurus semua administrasi dan prosesi pemakanan mantan mertua Refan.


Kedua mantan mertua Refan dibawa ke tempat pemakanan umum dan di shalatkan di Mesjid dekat TPU. Beberapa keluarga Subrata juga sudah hadir.


Acara pemakanan Pak Reno dan Bu Thalita dilaksanakan dengan cepat. Karena memang sudah tidak ada lagi yang di tunggu.


Setelah selesai melaksanakan proses pemakaman Refan bertemu dengan ponakannya Papa Reno.


"Fan aku datang ke sini bersama pengacara Om Reno. Setelah ini kita akan berkumpul di rumah mereka untuk membacakan surat wasiat Om Reno tentang Naila. Aku harap kamu bersedia hadir" pinta seorang pria yang umurnya tak berbeda jauh dengan Refan.


"Aku akan hadir, sepulang dari sini kan? Aku harap tidak lama karena aku harus menjaga Naila" jawab Refan.


"Tidak lama Fan, kita hanya mendengarkan apa isi wasiat Om Reno" jawab pria itu.


"Baik kalau begitu kita langsung saja menuju rumah Papa Reno sepulang dari sini" ajak Refan.


"Ya ayo... " sambut pria itu.


Mereka langsung bergerak dari TPU menuju rumah Pak Reno Subrata. Refan tetap didampingi oleh Bimo dan Riko.


Sesampainya di rumah Pak Reno, mereka langsung duduk di ruang tamu. Baik Refan dan ponakan Pak Reno sedang menunggu pembacaan wasiat oleh pengacara keluarga Subrata.


"Selamat pagi.. kehadiran kita bersama di rumah Pak Reno Subrata hari ini adalah dalam rangka pembacaan surat wasiat dari Pak Reno Subrata. Untuk mempersingkat waktu saya akan langsung membacakan isi wasiat dari beliau" Pengacara membuka surat wasiat Pak Reno Subrata yang sudah dia bawa dari Jakarta.


"Jakarta enam juni xxxx. Saya yang bertanda tangan dibawah ini, dengan ini mewasiatkan kepada menantu saya Refan Adinata atas hak asuh cucu saya Naila Refanita Adinata selaku orang tua kandungnya secara negara. Seluruh harta kekayaan yang saya miliki akan saya alihkan atas nama cucu saya tersebut jika dia sudah berumur dua puluh tahun. Sebelum saat itu tiba saya memberikan hak penuh kepada Refan Adinata untuk mengurus semua harta kekayaan cucu saya tersebut. Demikian surat wasiat dari saya dan surat ini saya buat tanpa ada paksaan atau tekanan dari pihak manapun. Tertanda, Reno Subrata " ucap Sang Pengacara.


Refan tampak terkejut dan tidak menyangka mertuanya mempercayakan semua harta dan hak asuh Naila kepadanya. Dia sama sekali tidak pernah memikirkannya.


Saat ini tujuan Refan satu - satunya adalah untuk menjemput Naila dan membawanya pulang ke Jakarta.


Tiba - tiba Refan mendapat telepon dari seseorang.


"Halo Pak.. bisa cepat datang ke Rumah Sakit? Dari tadi kami melihat ada seseorang yang mencurigakan sedang memantau kamar rawat inap anak Bapak" ucap si penelepon.


"Apa? Baik.. saya akan segera ke sana" jawab Refan.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2