Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 64


__ADS_3

Sesampainya Refan dan Kinan di rumah terjadilah perang dingin. Begitu sampai di rumah Kinan segera masuk ke kamar. Mandi setelah itu menyiapkan pakaian Refan di atas tempat tidur setelah itu Kinan langsung masak di dapur untuk makan malam.


Sedangkan Refan masuk ke kamar, dia melihat pakaiannya sudah disiapkan Kinan di atas tempat tidur. Refan segera mandi setelah itu baru main bergabung bersama Salman dan Naila.


Azdhan maghrib berkumandang, Kinan segera mempercepat masak memasaknya dibantu oleh Bik Mar setelah itu baru dia bergegas ke kamar. Ternyata Refan sudah menunggunya untuk shalat berjamaah.


Kali ini Refan yang sudah menyiapkan peratan shalat seperti membentang sajadah untuk mereka shalat. Kinan bergegas mengambil wudhu dan berdiri di belakang Refan.


Shalat berjamaah berjalan dengan khusyuk. Setelah selesai shalat seperti biasa Kinan mencium tangan suaminya. Tapi kali ini Refan menahan tangan Kinan lebih lama.


Kinan terkejut dengan sikap Refan ini.


"Nan aku minta maaf kalau tadi kata - kata dan suaraku terdengar kasar" ucap Refan.


Sontak Kinan menatap wajah Refan tak percaya, Refan meminta maaf kepada Kinan. Hal yang sangat langka sekali. Apa yang membuat Refan bisa seperti ini.


"Aku ingin menjalani hidup berumah tangga layaknya seperti yang lain Nan. Mari kita mulai rumah tangga kita dengan saling percaya dan jujur seperti yang dulu pernah kamu katakan. Aku juga lelah kita sering salah sangka. Mulai sekarang aku tegaskan. Aku tidak pernah menganggap kamu sebagai pengasuh Naila lagi. Aku sekarang sudah menganggap kamu sebagai istriku. Ya kamu adalah istriku, jadi jangan pernah lagi kamu ulang perkataan itu. Aku harap kamu mengerti perkataanku. Aku akan berdamai dengan kejadian tadi, tapi lain kali aku tidak ingin hal ini terjadi. Aku tidak mau melihat istriku berdua - duaan dengan pria lain" ungkap Kinan.


"Iya Mas, aku juga minta maaf. Lain kali aku akan memperhatikan sikapku" jawab Kinan.


Refan menarik wajah Kinan dengan kedua tangannya dan mengecup kening Kinan lama.


Nyess... seketika perang diantara mereka selesai. Jantung Kinan tak berhenti berdetak saat tatapan Refan turun ke arah bibir Kinan. Perlahan - lahan wajah Refan mulai mendekat dan sangat dekat. Kinan menutup matanya pasrah.


Tiba - tiba pintu kamar terbuka dan muncullah Salman.


"Papa... Mama... cepatin donk shalatnya, aku udah laper banget ini" teriak Salman.


Kinan menarik nafas lega, dia diselamatkan oleh putranya Salman. Refan terlihat kecewa tak mungkin dia marah kepada putranya. Kinan langsung bangkit dan melipat mukenanya.


"Sabar ya sayang.. sebentar lagi. Mama siapkan makan malam kita dulu ya. Yuk Mas ke meja makan. Aku sudah siap masak tadi" ajak Kinan segera.


Huf... hampir aja tadi dimangsa. Batin Kinan.


Refan melipat kain dan sajadah shalatnya kemudian menggantung baju shalatnya di balik pintu. Setelah itu dia ikut menyusul Kinan dan Salman yang sudah lebih dulu berjalan keluar.


Makan malam sudah terhidang di meja makan. Malam ini Kinan memasak sop daging di tambah bakwan jagung. Melihat semua yang tersaji di atas meja membuat perut Refan terasa lapar.

__ADS_1


Kinan mengambilkan makanan untuk Refan dan menghidangkannya tepat di hadapan Refan.


"Hari minggu nanti aku teman - temanku ingin berkunjung ke sini. Tolong kamu masakkan sesuatu untuk mereka ya" pinta Refan.


"Teman - teman kamu Mas? Berapa orang?" tanya Kinan.


"Mereka ada empat orang. Mereka adalah para sahabat dekatku" jawab Refan.


"Baik Mas. Tapi bolehkan kalau hari sabtunya kamu temani aku berbelanja?" pinta Kinan.


Refan tampak sedang berpikir apakah hari sabtu dia bebas dari pekerjaan kantor.


"Oke, tidak masalah" jawab Refan.


Mereka makan malam dengan hangat, perang dingin tadi setelah pulang ke rumah sudah reda. Refan tampak sedang asik berbincang - bincang dengan Salman sambil makan.


"Sal kamu mau gak kalau sebentar lagi masuk TK?" tanya Refan.


"Mau Pa" jawab Salman senang.


"Iya Mas, aku memang berencana memasukkan Refan sekolah tahun ini" jawab Kinan.


"Tapi kalau aku sekolah adek Naila siapa yang jaga Pa?" tanya Salman polos.


Refan tersenyum mendengar pertanyaan Salman. Anak yang baik, walau Naila bukan adik kandung kamu tapi kamu sangat sayang kepada Naila. Puji Refan.


Refan mengacak gemas rambut Salman.


"Kan ada Bik Mar dan Bik Nah sayang. Lagian kamu sekolahnya juga gak lama kok, setelah pulang sekolah kamu bisa menjaga dan bermain dengan adek kamu" jawab Refan.


"Terus nanti siapa yang antar dan jemput aku sekolah?" tanya Salman.


"Kamu perginya sama Papa dan Mama nanti pulangnya Papa akan suruh supir yang jemput ya" balas Refan.


"Oke Pa... aku mau sekolaaaah" teriak Salman.


"Eits kalau makan gak boleh ribut. Ayo duduk yang tenang dan lanjutkan makannya sayang" ucap Kinan.

__ADS_1


Refan kini bernafas lega, dia merasa bahwa rumah tangga dia dan Kinan sudah mulai berjalan. Tidak diam di tempat lagi. Kini sudah bisa dikatakan normal. Walau Refan belum tau pasti bagaimana perasaan Kinan dalam menjalani rumah tangga ini tapi setidaknya Refan kini sudah mulai merasakan perasaan yang berbeda setiap bersama Kinan.


Entah mengapa rasanya ingin selalu bersama Kinan, melihat wajah Kinan. Merasakan masakan Kinan dan... memeluk Kinan. Refan tersenyum penuh arti sambil menatap ke wajah Kinan.


Seketika bulu kuduk Kinan berdiri. Dia merasa ada suatu makna yang tersirat dalam senyuman Refan malam ini.


Setelah selesai makan Refan menyempatkan bermain bersama Salman dan Naila sebentar di ruang TV. Satu jam kemudian Naila kelihatannya sudah mengantuk. Kinan menggendongnya dan memberikannya susu tak lama kemudian Naila sudah tidur dalam buaian Kinan.


Kinan segera membawanya ke kamar dan meletakkannya di dalam box bayi. Setelah itu kini giliran Salman yang akan di temani Kinan tidur.


"Sal yuk tidur, salim Papa dulu sayang" ajak Kinan.


"Pa aku tidur dulu ya" ucap Salman.


"Iya, kamu jangan lupa baca doa ya" pesan Refan.


"Oke Pa" Balas Salman dan dia segera berlari ke kamarnya. Setelah membantu Salman sikat gigi dan mengganti pakaian Salman dengan baju tidur, Kinan mulai mengelus lembut punggung Salman untuk menidurkannya.


Tak butuh waktu yang lama karena memang sudah waktunya Salman tidur, sebentar saja Salman sudah terlelap. Kinan segera beranjak ke kamarnya.


Refan sudah siap memakai baju shalatnya dan sepertinya sedang menunggu Kinan untuk shalat Isya bersama.


"Kamu belum shalat kan? Yuk kita shalat berjamaah" ajak Refan.


"Iya Mas" Kinan segera berwudhu dan melaksanakan shalat bersama Refan.


Persis sama seperti saat mereka shalat maghrib tadi. Di ujung shalat Refan kembali memegang wajah Kinan dan mengecup lembut kening Kinan. Refan ingin melanjutkan keinginannya tadi yang sempat tertunda saat shalat maghrib.


Refan kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Kinan dan sudah siap hendak mengecup lembut bibir istrinya tapi tiba - tiba.


"Oeeeek... oeeek... "


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2