
Mereka sampai di rumah tepat saat adzan maghrib berkumandang.
"Mas ke Mesjid dulu ya" ucap Refan.
"Iya Mas" jawab Kinan.
Refan menyerahkan jas dan tas kerjanya kepada Kinan kemudian melangkah berjalan menuju Mesjid yang tak jauh dari rumahnya.
"Yuk Sal kita shalat di Mesjid" ajak Refan.
"Oke Pa" jawab Salman.
Salman langsung berlari mengejar Refan dan menggenggam tangannya. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan menuju Mesjid.
Kinan menatap kepergian dua pria yang sangat dia cintai. Setelah itu Kinan masuk ke dalam rumah untuk mandi dan bersih - bersih setelah itu shalat maghrib.
Setelah Kinan selesai shalat maghrib, dia segera menyiapkan pakaian Refan diatas tempat tidur. Setelah pulang dari Mesjid Refan pasti akan langsung mandi.
Seperti tebakan Kinan, Refan sudah pulang dari Mesjid dan langsung menuju kamar. Kinan menyambut kedatangan suaminya dan mencium tangan suaminya, Refan juga tak lupa mengecup lembut kepala Kinan yang masih tertutup mukena.
"Mas mau mandi kan? Sudah aku siapkan semuanya" ujar Kinan.
"Makasih sayang" balas Refan.
Refan segera masuk ke dalam kamar mandi sedangkan Kinan bergegas ke dapur untuk menyiapkan makan malam mereka di bantu oleh Bik Mar dan Bik Nah.
"Naaaan kamu lebih baik istirahat saja. Kamu kan baru pulang. Belum ada istirahatnya" Suci mengingatkan.
"Iya Ma gak apa - apa. Nanti setelah makan baru aku istirahat" jawab Kinan.
Tak lama kemudian semua makanan sudah tersaji di meja makan.
"Bik tolong panggilkan Salman di kamarnya" perintah Kinan.
"Baik Non" Bik Nah segera memanggil Salman ke kamarnya.
Tak lama Refan juga sudah keluar dari kamarnya. Mereka sekarang sedang menikmati makan malam bersama.
"Gimana tadi ziarahnya?" tanya Suci kepada Salman. Suci membelai rambut Salman dengan lembut.
"Aku tadi sudah kirim doa Oma untuk Papa. Sekarang Papa pasti sedang tersenyum di surga" jawab Salman ceria.
Kinan dan Refan tersenyum menatap Suci dan Salman. Mereka memutuskan untuk tidak mengatakan apa yang terjadi di pemakaman kepada Suci agar Suci tidak resah memikirkan apa yang sedang terjadi dengan rumah tangga mereka.
Setelah selesai makan Kinan dan Refan segera istirahat di kamar. Kinan meraih ponselnya dan mencari nomor mertuanya, Mamanya Bima di kontak handphonenya.
"Mas aku telepon Ibu ya, Ibunya Mas Bima" Kinan meminta izin Refan, menghormati Refan sebagai suaminya saat ini.
"Iya, telepon saja. Kamu mau tanya tentang makam Bima kan?" tanya Refan
__ADS_1
"Iya Mas" jawab Kinan.
Kinan langsung menekankan nomor keluarga Bima.
"Assalamu'alaikum Bu.. " ucap Kinan.
"Wa'alaikumsalam Kinan.. Apakabar kamu nak?" tanya Ibu Bima.
"Alhamdulillah sehat Bu, Ibu dan Bapak sehat?" Kinan balik bertanya.
"Alhamdulillah sehat. Salman mana?" tanya Ibu Bima.
"Salman sedang di kamarnya Bu, istirahat. Ibu saat ini sedang di rumah?" Kinan bertanya lagi.
"Iya Ibu di rumah" jawab Ibu Bima.
"Bapak mana Bu?" tanya Kinan.
"Bapak sedang pengajian di rumah tetangga" jawab Ibu Bima.
"Bela gimana kabarnya Bu, sehat?" selidik Kinan.
"Alhamdulillah sehat, dia lagi sibuk belajar di kamarnya. Sebentar lagi kan dia mau sidang skripsi" jawab Ibu Bima.
"Salam buat Bela ya Bu, semoga secepatnya wisuda" ujar Kinan tulus.
"InsyaAllah nanti Ibu sampaikan ke Bela. Maaf ya Nan, kami gak bisa datang saat acara pernikahan kamu kemarin. Semoga kamu dan Salman bahagia dengan kehidupan kalian yang baru" ucap Ibu Bima tulus.
"Ibu dan Bapak belum bisa Nan masih sibuk. Memang ada niatan ke sana mau lihat Salman sekalian ziarah ke makam Bima. Nanti kalau kami ke sana Ibu kabari Kinan" balas Ibu Bima.
"Janji ya Bu?" tanya Kinan.
"Iya Ibu janji" jawab Ibu Bima.
"Ya sudah kalau begitu aku tutup teleponnya ya Bu" pamit Kinan.
"Iya, baik - baik di sana ya Nan. Salam dan peluk cium buat Salman" sambut Ibu Bima.
"Iya Bu nanti aku sampein ke Salman. Salam juga buat Bapak dan Bela. Assalamu'alaikum" Kinan menutup teleponnya.
"Wa'alaikumsalam" jawab Ibu Bima dan telepon terputus.
Kinan menatap Refan.
"Mas, dari cerita Ibu sepertinya bukan mereka yang datang tadi ke makam Mas Bima" lapor Kinan.
Refan tampak sedang berpikir.
"Jadi siapa ya?" tanya Refan sambil berpikir keras.
__ADS_1
"Bapak, Ibu dan Bela ada di rumah Mas, itu artinya bukan mereka yang ziarah tadi sore. Gak mungkin kan mereka bisa ada di dua tempat dengan jarak kota yang sangat berjauhan dalam waktu hanya beberapa jam?" jawab Kinan.
"Iya, tapi siapa lagi ya? Eh tapi kamu bilang Bima punya satu saudara lagi. Mungkin dia?" tanya Refan.
"Kan sudah aku bilang Mas, Mas Bima gak pernah bercerita tentang Kakaknya itu kepadaku karena dilarang oleh Bapaknya. Aku saja gak tau siapa nama Kakaknya Mas Bima dan gimana wajahnya" jawab Kinan.
"Dan juga keluarga Mas Bima sudah lama tidak berhubungan lagi dengan beliau. Jadi mana mungkin dia tau dimana Mas Bima dimakamkan?" sambung Kinan.
Refan tampak sedang berpikir keras. Sepertinya aku harus cari tau masalah ini lebih lanjut. Aku harus selidiki siapa - siapa yang datang ke makam Bima seperti dulu aku selidiki makamnya Renita. Aku juga harus mencari informasi tentang keluarga Bima dan juga tentang biodata Bima sebelum dia meninggal setahun yang lalu. Batin Refan.
"Ya sudah yank, lebih baik kita istirahat sekarang ya. Kamu pasti sudah capek kan. Seharian belum istirahat" ajak Refan
"Iya Mas" jawab Kinan.
Refan menarik tubuh istrinya masuk ke dalam pelukannya. Tak lama kemudian Refan pun tertidur.
********
Dua hari kemudian...
Hari ini adalah hari Rabu dimana seperti biasanya adalah jadwal Kinan pengajian bersama teman - temannya.
Seperti minggu - minggu sebelumnya, Kinan di jemput sahabatnya, Anita ke kantor setelah itu baru mereka sama - sama menuju tempat pengajian.
"Kamu kenapa Nan?" tanya Anita.
"Kenapa gimana?" Kinan balik bertanya.
"Wajah kamu kok gak semangat gitu? Kamu sakit? Kalau sakit mending kita ke Rumah Sakit aja, kamu telepon Refan biar kita langsung ketemu di sana" perintah Anita.
"Gak apa - apa Nit, aku gak sakit kok hanya ngantuk saja karena kurang tidur" jawab Kinan.
"Lho kenapa kamu kurang tidur? Refan membantai kamu tadi malam? Jangan terlalu sering Nan, ingat anak kamu kembar lho di dalam. Kamu harus lebih banyak istirahat" pesan Anita.
"Aku gak tau harus cerita pada siapa Nit, kalau aku cerita sama Mas Refan takutnya nanti dia juga cemas dan merasa rumah tangga kami terancam" ujar Kinan.
"Emangnya ada apa Nan dengan rumah tangga kalian? Eh maaf aku jadi kepo dan ikut campur" tanya Anita.
"Aku sudah dua kali melihat wajah seorang pria yang mirip dengan Mas Bima, awalnya aku kira aku berhalusinasi karena yang pertama aku langsung pingsan dan yang ke dua karena cahaya yang remang - remang di tempat parkiran. Tapi beberapa hari yang lalu Salman juga melihat seorang pria yang berwajah mirip dengan Mas Bima. Aku juga sudah dua kali terima pesan kalau Mas Bima bukan meninggal karena kecelakaan tetapi karena dia dibunuh. Yang membuat aku risau lagi kemarin saat kami ziarah ke makam Mas Bima ada orang yang juga baru ziarah ke makamnya karena kami melihat ada taburan bunga di atas makam Mas Bima " ungkap Kinan.
Anita menghentikan mobilnya.
"Kamu serius Nan? Nan... ini sudah masalah serius Nan" ujar Anita.
Anita sangat terkejut mendengar cerita Kinan.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG