
"Salman sudah selesai Nan?" tanya Refan tiba - tiba dari belakang membuat Kinan dan Fadlan terlonjak kaget karena kedatangannya.
Mengapa kalian terlihat sangat kaget dengan kedatanganku. Apakah ada yang kalian rahasiakan di belakangku? tanya Refan dalam hati.
"Eeeh Mas Refan sudah selesai shalat ya" sambut Kinan.
"Mas ketemu lagi ya di sini" Fadlan menyodorkan tangannya dan mereka saling berjabat tangan.
Refan hanya menanggapinya dengan dingin.
"Salman sudah selesai?" tanya Refan.
"Belum Mas, sebentar lagi kayaknya" jawab Kinan.
Tak lama kereta api mini sudah berhenti tepat di depan mereka dan Salman turun dari dalam kereta api.
"Mamaaaa" teriak Salman.
"Sayaang gimana seru gak mainnya?" tanya Kinan.
"Seru donk Ma, tapi sekarang aku lapar" jawab Salman.
"Kalau kamu lapar ya sudah yuk kita makan sekarang" sambut Refan.
"Asiiik kita makaaaan" Salman langsung menarik tangan Refan.
"Kami pamit dulu ya mmm... " Refan terlihat sedang mengingat - ingat.
"Fadlan Mas, nama saya Fadlan" potong Fadlan.
"Ha iya maaf lupa. Kami pamit dulu ya Salman sudah lapar katanya" ujar Refan.
"Kami makan dulu ya Fad, mau ikut gabung bareng kami?" tanya Kinan memberi tawaran.
Apa - apaan Kinan, aku sengaja ajak kalian jalan untuk quality time dengan keluarga kecil kita, kamu malah ajak - ajak orang lain turut serta. Enak saja dia, awas kalau dia mau ikut. Refan menatap Fadlan dengan tatapan dinginnya.
Fadlan sangat mengerti kalau Refan tidak menyukainya, dia juga tidak suka dengan Refan setelah tak sengaja mendengar pembicaraan Kinan dengan temannya di ruangan Kinan tadi siang.
__ADS_1
Kelihatan banget Kinan tertekan menikah dengan kamu. Pria yang tak tau bersyukur punya istri sebaik Kinan. Seandainya saat ini juga kamu lepas Kinan aku mau langsung menampungnya dengan segenap hatiku. Batin Fadlan.
"Ah gak usah Nan, aku juga mau langsung pergi kok, masih mau cari sesuatu" tolak Fadlan.
"Oh ya udah kalau begitu kami duluan ya Fad" ujar Kinan.
Refan segera mendorong stroller Naila sedangkan Kinan menggenggam tangan Salman dan mereka berjalan meninggalkan Fadlan yang menatap kepergian mereka dari kejauhan.
Refan sengaja memilih Restoran yang menyediakan tempat bermain anak - anak agar Salman senang dan betah berada di sana. Setelah menemukan tempat yang tepat mereka masuk ke dalam Restoran itu dan memesan makanan.
"Mama aku main dulu ya" pinta Salman.
"Iya sayang, tapi hati - hati ya" jawab Kinan.
Salman langsung berlari ke tempat arena bermain di dalam restoran itu. Kini hanya tinggal Kinan dan Refan juga Naila yang sudah tertidur di dalam strollernya.
"Siapa tadi nama teman kamu itu?" tanya Refan masih kesal.
"Fadlan Mas, udah dia sebut berulang - ulang Mas masih lupa juga" jawab Kinan.
"Ngapain juga aku ingat - ingat namanya, gak penting" balas Refan dingin.
"Dia masih sendiri?" tanya Refan.
"Ya iyalah, Mas lihat kan tadi dia sendirian" jawab Kinan.
"Maksud kau statusnya? Masih lajang?" tanya Refan.
"Iya dia masih lajang, belum menikah" jawab Kinan.
Ngapain nanya - nanya status Fadlan kalau namanya saja gak penting bagi kamu Mas? Batin Kinan.
"Kamu sepertinya dekat ya sama dia?" tebak Refan.
"Ya dekatlah Mas kan dia rekan satu tim aku waktu pelatihan ke luar kota kemarin" Jawab Kinan jujur.
"Sedekat apa?" selidik Refan.
__ADS_1
Kinan langsung mendelikkan matanya karena kaget dengan pertanyaan Refan.
"Ma... maksud Mas? Aku dan Fadlan sedekat apa? Ya hanya teman kerja Mas, gak lebih" jawab Kinan.
Apaan sih pertanyaan Mas Refan ini. Gak mungkin kan kamu cemburu? Heloooooow Ma Aaaaa aku sadar kok keberadaan aku di hati kamu hanya sebagai pengasuh Naila jadi kamu gak perlu juga tunjukin sifat cemburuan kayak gitu. Gak akan membuat aku besar kepala. Batin Kinan.
"Aku hanya mau ingatin ke kamu kalau status kamu juga bukan single lagi. Kamu sudah menikah sekarang. Jadi harus jaga sikap kamu ke dia. Jangan terlalu dekat apalagi ngobrol dan tertawa di tempat terbuka seperti tadi. Banyak orang yang melihat. Kalau salah satu client aku melihat kamu begitu apa coba penilaian mereka pada kamu, pada aku dan pada rumah tangga kita" ujar Refan panjang.
Oh jadi kamu cuma mikirin nama baik kamu di depan para client kamu? hahaha untung saja aku gak Ge-er tadi Mas lihat sikap kamu. Ucap Kinan dalam hati.
Walau sempat merasa sedikit kecewa tapi Kinan bisa langsung menerimanya mengingat mulut Refan memang tajam kalau ngomong sesuatu.
"Mengapa kamu ingatin status aku sebagai istri kamu Mas? Aku selalu bersikap sebagai istri yang baik selama ini. Aku mengasuh anak - anak dengan baik melayani dan meladeni kamu, memenuhi semua kebutuhan kalian di rumah. Dan tadi aku juga ingat Mas kalau aku ini adalah seorang wanita yang mempunyai suami. Aku tidak bicara yang aneh - aneh pada Fadlan. Tadi hanya membicarakan tentang urusan kantor. Lagian ngapain kamu repot - repot ingatin status aku sebagai istri kamu. Kamu saja gak pernah nganggap aku sebagai istri. Kamu kan nganggap aku selama ini hanya sebagai pengasuh Naila. Bukankah begitu Mas?" tanya Kinan balik.
Refan mengepalkan tanggannya karena emosi. Dadanya sangat panas melihat Fadlan dan Kinan tadi bersama. Mereka terlihat sangat akrab dan dekat. Rasanya dia sangat marah dan hatinya terbakar.
Ada apa dengan aku sekarang, dulu dengan Renita aku tak pernah semarah ini melihat dia dekat dan berbicara dengan pria lain. Aku malah bangga mempunyai istri yang banyak di damba oleh pria lain. Aku merasa aku adalah pemenangnya karena aku adalah suami Renita. Tapi dengan Kinan, dia hanya ngobrol santai dan masih tahap wajar dan sopan tapi aku sudah sekesal dan semarah ini? tanya Refan dalam hati.
"Aku kan sudah katakan pada kamu kalau aku akan berubah. Beri aku waktu dan saat ini aku sedang memulainya. Masak secepat itu kamu ingin balas dendam padaku?" tanya Refan.
"Maaaaas.. aku gak berniat balas dendam. Aku tadi gak sengaja Mas ketemu Fadlan, bukan sesuatu yang di rencanakan untuk melakukan balas dendam seperti yang kamu katakan tadi?" Kinan membela diri.
Duh mengapa jadi ribet begini sih masalahnya. Merambat kemana - mana. Hanya karena gak sengaja ketemu Fadlan di tempat umum. Apa aku gak boleh ketemu siapa - siapa kalau lagi jalan sama Mas Refan? tanya Kinan dalam hati masih saling kesal.
Padahal aku ingin membuat kalian bahagia Nan. Kita jalan - jalan dan makan malam bersama keluarga kecil kita. Tapi mengapa malah berakhir dengan pertengkaran seperti ini? Refan juga terlihat kesal.
Tak lama pelayanan datang membawakan makanan mereka dan menyajikannya di atas meja mereka. Kinan berdiri dan memanggil Salman yang sedang main.
"Sayang udahan ya mainnya, kita makan dulu yuk" ajak Kinan.
"Oke Mama" Salman berlari mendekati Kinan dan kembali ke meja makan mereka.
Malam itu akhirnya mereka makan malam dengan suasana dingin tanpa obrolan ataupun canda tawa. Perasaan mereka sama - sama panas karena pertengkaran mereka yang pertama dalam rumah tangga mereka.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG