Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 223


__ADS_3

"Tadi sore aku melihat mobil kamu di parkiran kantorku" ungkap Refan kepada Bimo.


"Oh iya, tadi sore aku jemput Reni ke kantor kamu" jawab Bimo.


"Mas Bimo jemput Reni ke kantor, ngapain? mau ajak kencan?" goda Kinan sambil tersenyum.


"Nggak Nan, mau lihat rumah. Kata Reni ada temannya yang kerja di developer perumahan yang tak jauh dari sini. Jadi kami janjian sepulang kantor untuk melihat langsung ke lokasi. Dari pada ribet dua mobil jadi aku jemput aja Reni ke kantor. Lagian tadi siang aku juga ada urusan yang gak jauh dari kantor Refan" jawab Bimo salah tingkah.


"Kencan juga gak apa - apa Mas. Gak ada yang larang. Wong udah sama - sama dewasa juga. Sudah sama - sama bisa jaga diri kan" Kinan masih terus menggoda Kakak iparnya itu karena lucu melihat wajah Bimo yang salah tingkah.


"Ah kamu ada saja" elak Bimo.


"Jadi dapat rumahnya?" tanya Refan.


"Dapat, alhamdulillah sesuai dengan keinginan aku. Jaraknya juga gak jauh dari sini. Paling sekitar satu kilo" jawab Bimo semangat.


"Waah bagus itu. Jadi kalau Bapak Ibu main ke sini kan gak capek Mas mau nginap di rumah Mas Bimo atau disini juga dekat" sambut Kinan.


"Ya karena alasan itu juga makanya aku cari rumah yang dekat - dekat dengan kalian" balas Bimo.


"Yah kalau nanti jadi adik iparnya Mas Refan juga gak susah kan. Mama bisa main ke sini atau ke sana juga bebas gak capek karena jaraknya dekat" sindit Kinan masih dengan wajah yang senyum - senyum.


"Uhuk.. uhuk.. " Bimo yang sedang minum langsung tersedak.


"Yank, kamu kok usil banget sih godain Bimo terus" potong Refan.


"Aku cuma ngedoain Mas" jawab Kinan.


Bimo masih salah tingkah dan tak bisa berkata apa - apa lagi.


"Maaf Nan, Fan. Aku pamit ke kamar ya. Mau mandi dan bersih - bersih. Seharian belum mandi dari pagi. Udah gerah banget" ujar Bimo pamit.


"Eh iya Bim" sambut Refan.


Bimo langsung berdiri dan berjalan menuju ke kamarnya. Tinggal Kinan dan Refan yang duduk di ruang keluarga. Refan menarik manja hidung istrinya.


"Istriku sudah mulai nakal sekarang ya. Suka banget godain orang. Lihat tuh Bimo sampai salah tingkah gitu dan langsung ngacir" ucap Refan.


"Haahaha... habis wajah Mas Bimo lucu Mas. Biasanya kan dia kalem dan sok jaim. Jarang ketawa hanya senyum tipis saja. Tapi tadi wajahnya memerah karena malu. Aku jadi tertarik untuk menggodanya" jawab Kinan sambil mengelus perutnya yang sedikit berkontraksi karena tertawa lebar barusan.


"Tuh kena sendiri kan? Pasti anak kita brontak karena mamanya nakal" sambung Refan.


"Hihihi.. iya nih anak - anak pada nendangin Mamanya" sambut Kinan.


"Tapi benaran gak apa - apa kan Mas kalau Mas Bimo jadi adik ipar kamu?" tanya Kinan.


"Kan udah aku bilang kemarin. Aku sih gak masalah yang penting Reni nya suka dan bahagia" jawab Refan.

__ADS_1


"Waaah aku jadi tambah semangat jodohin mereka berdua. Reni juga bau - baunya udah mulai kasih perhatian kok" ucap Kinan.


"Dari mana kamu tau?" tanya Refan.


"Aku sering perhatiin Reni suka curi - curi pandang sama Mas Bimo" jawab Kinan.


"Oh ya...?" tanya Refan tak percaya.


"Iya benar. Kalau kamu gak percaya buktikan aja besok. Apalagi saat kita sarapan atau makan bareng" jawab Kinan penuh semangat


"Istriku ini ahlinya jodohin orang ya" Refan kembali menarik hidung istriku.


"Maaas hidungku udah mancung, kalau Mas tarik terus nanti hidungku semakin panjang kayak Pinokio" Kinan menjawab dengan wajah cemberut.


"Hahaha.. ke kamar yuk. Ada kerjaan buat kamu" ajak Refan.


"Kerja apa Mas?" tanya Kinan.


"Manjangin yang lain tapi bukan hidung hahaha" goda Refan.


Kinan langsung sadar kemana arah pembicaraan suaminya.


"Iih Mas Refan genit ah... " Kinan langsung mencubit pinggang suaminya.


Refan menarik tubuh istrinya dan menuntunnya jalan ke kamar mereka.


Reni, Bela dan Ela sudah selesai mengetik surat lamaran. Reni baru saja mengirim pesan kepada Romi nama perusahaan dan alamat kantornya Romi.


Dan Romi langsung menjawab dengan cepat. Sehingga surat lamaran Ela bisa langsung selesai malam ini juga.


Formatnya sama dengan surat lamaran Bela hanya tinggal ganti nama perusahaan dan alamatnya saja.


"Tadi pesan Mas Romi, besok kamu temui aja bagian HRD namanya Pak Agus. Bilang kalau kamu di suruh sama Bapak Romi Hidayat" ucap Reni.


"Baik Ren. Makasih ya" sambut Ela


"Sama - sama" balas Reni.


"Ah senang deh akhirnya kita semua dapat kerja. Setelah itu baru berburu jodoh" sambut Bela.


"Hahaha... kamu udah kebelet nikah?" tanya Ela.


"Gak juga sih tapi mau ngapain lagi? Aku tidak begitu tertarik jadi wanita karier. Kalau dapat suami yang bisa menafkahi ngapain juga capek - capek kerja sementara anak di rumah gak keurus. Cuma di titip sama pembokat" jawab Bela.


"Iya benar juga sih yang kamu bilang" sambut Reni.


"Aku sepertinya masih sedikit lebih lama Bel. Aku mau bahagiain Bapak dan Ibu dulu. Kamu tau kan bagaimana keadaan mereka dan bagaimana perjuangan mereka untuk menyekolahkanku sampai tamat. Aku ingin menabung dan ngumpulin uang untuk modal usaha Bapak dan Ibu. Aku akan bukakan Bapak dan Ibu toko sembako. Jadi Bapak ku gak perlu kerja lagi siang dan malam" ujar Ela dengan semangat membara.

__ADS_1


"Niat yang bagus itu. Aku do'ain semoga impian kamu tercapai" sambut Bela.


"Aamiin" jawab Reni dan Ela.


"Ya sudah kalau begitu kita semua istirahat. Besok kamu kan mulai kerja, besok juga hari keduaku bekerja di kantor" ucap Bela.


"Iya dan aku juga capek banget dari tadi belum istirahat. Mana belum mandi lagi sepulang kerja. Aku turun dulu ya ke kamarku" pamit Reni.


"Oke Ren, sekali lagi makasih ya" sambut Ela.


"Sama - sama" balas Reni.


Reni segera keluar dari kamar Bela dan Ela. Tanpa sengaja dia bertabrakan dengan Bimo yang juga ingin keluar kamar.


Bimo ingin turun ke bawah mengambil minum. Reni bisa mencium wangi sabun dari tubuh Bimo yang baru saja mandi. Wajah Bimo tampak segar sekali.


"Ma.. maaf Mas gak sengaja" ucap Reni kikuk.


"Eh, Mas juga gak lihat - lihat tadi dek eeh Ren.. Mas juga salah" jawab Bimo.


"Mau kebawah Mas?" tanya Reni.


"Iya, mau ambil minum. Kalau malam - malam suka kebangun karena haus" jawab Bimo.


"Ooo" sambut Reni.


"Udah selesai surat lamaran Ela?" tanya Bimo.


"Sudah Mas, baru aja" jawab Reni.


"Ya sudah kamu istirahat pasti capek dari tadi belum sempat ganti baju" ucap Bimo memperhatikan tampilan Reni.


Duh apa aku bauk ya makanya Mas Bimo bilang begitu? Batin Reni gak pede.


"I.. Iya Mas. Aku mau mandi dulu" jawab Reni salah tingkah.


"Besok aku antar ke kantor ya sekalian kita pergi bareng Ela. Kasihan dia belum tau kantornya dan juga belum tau jalan di Jakarta ini" ucap Bimo.


"Iya Mas. Kantornya juga searah kok dengan kantor aku" jawab Reni.


"Ya sudah yuk kita turun ke bawah" ajak Bimo.


Mereka jalan beriringan menuju lantai bawah dan berpisah di ujung anak tangga. Reni berjalan menuju kamarnya dan Mamanya sedangkan Bimo menuju dapur.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2