Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 226


__ADS_3

Reni menghidangkan makanan ringan ke hadapan Bimo.


"Dimakan Mas" ucap Reni.


"Iya Dek eh Ren" jawab Bimo.


Reni melempar senyum ke arah Bimo. Sedangkan Bimo membalasnya dengan senyuman tipis dari sudut bibirnya. Bela melirik tingkah laku kakaknya yang sedikit aneh.


Memang saat mereka di Surabaya kemarin baik Bela ataupun Aril suka godain Bimo dan Reni. Tapi Bela kira itu hanya main - main dan candaan Aril saja. Tapi ternyata Masnya beneran suka sama Reni.


Bu Akarsana yang mengerti kemana arah tatapan putrinya langsung menyenggol lengan putrinya.


"Hey ngeliriknya jangan gitu amat" tegur Bu Akarsana.


"Mas Bimo dan Reni aneh Bu. Seperti ada sesuatu" ujar Bela.


"Ya biarain aja, malah lebih bagus toh. Kamu gak suka kalau Reni jadi Kakak ipar kamu?" tanya Bu Akarsana pelan.


Bela semakin mengerti apa maksud ucapan Ibunya dan dia langsung tersenyum sumringah.


"Suka donk Bu, mending Reni deh dari pada orang lain" jawab Bela senang.


"Makanya kamu dukung donk Mamas kamu itu sekalian bantuin gitu. Mas kamu itu kan udah tua, Ibu takut dia lupa cara ngerayu cewek. Apalagi jarak usia mereka jauh. Kamu kan sebaya dengan Reni jadi bisa tau apa yang disenangi gadis - gadis seumuran kamu saat ini" sambut Bu Akarsana.


"Baik Bu, mulai saat ini aku akan membantu hubungan mereka" balas Bela.


"Nah gitu donk, Bapak dan Ibu sudah setuju kalau Masmu itu deketin Reni. Tapi malah Mas kamu yang masih belum percaya diri" ujar Bu Akarsana.


"Lho Bapak dan Ibu sudah ngomong sama Mas Bimo?" tanya Bela terkejut.


"Sudah, saat Mas kamu pulang ke Surabaya kemarin. Kelihatannya Mas kamu itu ada rasa tapi dia masih takut untuk kembali berkomitmen. Mungkin dia masih trauma dengan rumah tangga dan takut kehilangan lagi orang yang sangat dia cintai" jawab Bu Akarsana.


"Iya sih Bu, masalah Mas Bimo dan Mas Bima kan emang berbahaya. Mending selesaikan dulu masalah Mas Bimo dengan para pembunuh itu" sambut Bela.


"Benar Nduk tapi Ibu pengen banget tambah cucu. Emangnya kamu mau Ibu minta cucu dari kamu?" tanya Bu Akarsana.


"Ja.. jangan dulu Bu. Aku belum punya calon" tolak Bela.


"Nah makanya kamu bantuin Mas kamu itu" potong Bu Akarsana.

__ADS_1


"Siap Bu, perintah akan segera dilaksanakan" jawab Bela tegas.


Bela dan Ibunya saling melempar senyum. Sementara di sudut lain rumah Kinan Bu Dhisti dan Bu Suci sedang asik berbincang-bincang.


"Ci, sepertinya sebentar lagi kamu akan dapat mantu lagi" ujar Bu Dhisti pada Bu Suci, Mamanya Refan dan Reni.


"Siapa Dhis?" tanya Bu Suci.


Bu Dhisti dan Bu Suci sudah lama saling kenal dan tinggal bertetangga. Apalagi sekarang mereka sudah besanan membuat keduanya semakin akrab layaknya sahabat dan saudara.


"Tuh lihat deh Reni dan Bimo" Lirik Bu Dhisti ke arah mereka yang dimaksud.


Bu Suci mengikuti arah pandangan Bu Dhisti. Benar kata Bu Dhisti, tampak Reni dan Bimo saling lempar senyum dan sering curi - curi pandang seperti pasangan yang sedang jatuh cinta.


"Duh gimana ya Dhis, jujur aku takut" ungkap Bu Suci.


"Takut kenapa?" tanya Bu Dhisti.


"Sepertinya Bimo itu misterius" jawab Bu Suci.


"Dia pria yang baik kok dan dewasa. Walau wajahnya mirip banget dengan almarhum Bima tapi memang garis wajah Bimo sedikit lebih kasar dan garang tapi tampak lebih laki - laki. Selama dia tinggal bersama kita di sini kan dia anak yang baik, sayang sama anak - anak. Lihat, dia begitu dekat dengan Salman. Keluarganya juga bagus Ci. Empat tahun Kinan menjadi menantu di keluarga mereka, Kinan sangat di sayang oleh seluruh keluarga. Aku rasa kamu tidak perlu khawatir nanti Reni akan sulit atau tidak masuk di dalam keluarga barunya. Karena aku berani jamin mereka sangat baik sekali" ungkap Bu Dhisti.


"Tapi masa lalunya itu lho, sereem... buat aku takut" ucap Bu Suci.


"Masalah masa lalunya kan belum selesai?" tanya Bu Suci.


"Kan sedang proses. InsyaAllah sebentar lagi juga akan kelar" Jawab Bu Dhisti.


"Aku sih terserah Reni aja deh. Nanti Refan juga kan bisa menilai apakah Bimo baik atau tidak. Refan kan kakak laki - lakinya Reni. Nanti saat Reni menikah Refan juga yang akan menikahkannya. Biarlah dalam hal ini Refan yang bertanggung jawab kepada adiknya secara total. Aku sudah kapok untuk memaksakan kehendak pada anak - anak. Kasihan mereka tidak bahagia. Dulu rumah tangga Refan juga tidak aku restui, ternyata benar kan? Dia malah dikhianati istrinya. Sekarang terserah mereka saja, mereka kan sudah dewasa. Aku juga sudah tua hanya bisa mendoakan dan melihat mereka bahagia" ujar Bu Suci.


"Ya selayaknya kita orang tua memang harus mendoakan anak - anak kita. Karena restu kita adalah ridho Allah" sambut Bu Dhisti.


Sore harinya acara akhirnya selesai. Satu persatu keluarga dan para sahabat sudah pulang ke rumah mereka masing - masing. Hanya tinggal keluarga kecil Refan di rumah, keluarga Kinan dan keluarga Bimo.


Refan, Bimo, Pak Ardianto dan Pak Akarsana juga Arip sedang ngobrol di teras belakang.


"Pak, Bim tadi sebelum berpamitan pengacara menyampaikan pesan kepadaku kalau besok kita dipanggil ke kantor polisi. Pelaku sudah tertangkap dan dibawa ke Jakarta. Kita bisa bertemu dengan pelaku siapa tau Bimo mengenalinya" ucap Refan serius.


"Baik Fan, besok kita akan bersama - sama datang ke kantor polisi" sambut Bimo.

__ADS_1


"Biar Kinan dan Salman Papa yang antar Fan" ucap Pak Ardianto.


"Terimakasih Pa, maaf jadi merepotkan Papa" balas Refan.


"Ah tidak masalah mereka adalah anak dan cucu Papa" jawab Pak Ardianto.


"Besok aku saja yang jemput para gadis dan antar mereka ke kantor, Bim. Setelah itu baru aku menyusul ke kantor polisi. Aku kan tidak begitu dibutuhkan di kantor polisi Fan" ujar Aril.


"Makasih Ril. Titip adik - adikku ya" sambut Bimo. Maksudnya untuk Bela dan Ela yang juga sudah dia anggap adiknya.


"Kalau begitu kita bisa berangkat bersama dari rumah Bim. Kamu, aku dan Bapak" ucap Refan.


"Iya Fan" sambut Bimo cepat.


"Mudah - mudahan kita mendapatkan titik terang dari permasalahan ini. Sehingga kekhawatiran yang selama ini sangat menghantui keluarga kita bisa segera hilang. Dan pelaku sebenarnya bisa segera kita ketahui" ujar Pak Akarsana.


Suasana sesaat terlihat tegang. Semua sibuk memikirkan kemungkinan yang terjadi besok dan berharap permasalahan ini segera bisa selesai.


Malam harinya di kamar Refan dan Kinan.


"Yank besok yang antar kamu ke kantor Papa ya. Tadi aku sudah bilang sama Papa" Ucap Refan saat mereka hendak beranjak tidur.


"Emangnya kamu mau kemana Mas?" tanya Kinan.


Kinan mengangkat kepalanya dan meletakkannya di atas bahu Refan. Refan menyambutnya dan mengelus lembut perut istrinya.


"Aku, Bimo dan Bapak mau ke kantor polisi. Pelaku sudah tertangkap dan dibawa ke Jakarta. Kami ke sana datang untuk melihat mengenali pelakunya. Siapa tau Bimo memang kenal. Jadi kita bisa tau siapa dalangnya" jawab Refan.


"Mudah - mudahan semua bisa segera selesai dan kita semua aman dan tentram. Tidak lagi ketakutan atau khawatir" sambut Kinan.


Refan mengecup lembut kepala Kinan.


"Besok kamu dan anak - anak kita jangan nakal - nakal ya selama tidak bersama aku. Lusa baru kamu aku antar dan jemput lagi ke kantor" ucap Refan.


"Iya Mas" balas Kinan


Refan dan Kinan mengambil posisi yang nyaman untuk istirahat malam itu. Seharian ini mereka memang sibuk menyambut para tamu yang datang untuk mendoakan mereka.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2