Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 228


__ADS_3

Sore harinya Refan, Bimo dan Pak Akarsana tiba di rumah Refan sekitar jam lima sore. Saat itu Kinan bersama Mama, mertua dan mantan mertuanya sedang menunggu kepulangan Refan dan yang lainnya.


Saat mereka mendengar suara mobil di halaman rumah dan tidak begitu lama Refan dan yang lainnya masuk ke dalam rumah. Hanya selisih beberapa menit Aril, Bela dan Ela juga sampai di dalam rumah berbarengan dengan kepulangan Reni.


Mereka semua berkumpul di ruang keluarga demi ingin mendengarkan cerita Refan dan Bimo di kantor polisi seharian ini.


"Gimana tadi Mas di sana?" tanyan Kinan kepada Refan dan Bimo.


Bimo menarik nafas panjang, wajahnya tampak berkerut karena beban pikiran yang sangat berat.


"Pelaku pembunuhan Bima adalah orang yang aku kenal. Dia adalah sepupunya Elliah" jawab Bimo.


"Astaghfirullah... " ucap yang lainnya.


"Jadi apa alasannya membunuh Bima?" tanya Bu Akarsana.


"Seperti yang aku bilang sebelumnya Bu. Mereka menganggap kalau aku lah yang membunuh Elliah. Mereka tidak terima aku hidup bebas, akhirnya mereka mengambil jalan pintas seperti itu" jawab Bimo.


"Pria itu sangat terkejut ketika melihat Bimo masih hidup dan saat di tanya apa alasan dia ingin membunuh Bimo, sama sekali tidak ada rasa penyesalan darinya. Bahkan dia sangat puas sudah berhasil melakukannya" sambung Refan.


"Ya Allah... " ucap Kinan.


"Ada ya manusia seperti itu" sambut Reni.


"Ya ada, buktinya ya pria itu. Dengan ringannya dia tertawa di depan polisi karena dia sudah berhasil membunuh Bima yang dia kira adalah Bimo" ujar Refan.


"Oh ya Tuhaaan.... " ucap Bu Dhisti.


"Tuntut dengan hukuman yang paling berat aja Bim" usul Aril.


"Iya benar, bila perlu hukuman mati sekalian. Nyawa di bayar nyawa" sambar Bela dengan kesal.


"Kita serahkan saja semuanya kepada Pengacara, biar nanti dia yang mengurus tuntutan kita" jawab Refan.


Bimo tampak lebih banyak diam. Baik Refan ataupun Pak Akarsana sangat mengerti keadaan Bimo yang sedang terpukul saat ini setelah tau siapa pelaku pembunuhan sebenarnya.


Reni memperhatikan sikap diam Bimo itu. Bila seperti ini rasanya Bimo sangat menyeramkan.


"Aku pamit ke kamar duluan ya" ucap Bimo kepada semua yang ada di dalam ruangan tersebut.


Bimo langsung naik ke lantai atas dimana kamarnya berada. Semua yang di ruangan itu menatap kepergiannya.


"Dia kenapa Pak?" tanya Bu Akarsana.

__ADS_1


"Dia sangat shock ketika tau siapa pelaku pembunuhan Bima. Tadi saat dikantor polisi dia menangis dalam pelukan Bapak. Dia benar - benar terluka dan merasa bersalah karena menjadi penyebab kematian Bima" jawab Pak Akarsana.


"Kasihan Mas Bimo. Pasti dia sangat sedih sekali" sambut Bela.


Reni juga langsung pergi meninggalkan ruang keluarga dan masuk ke dalam kamarnya. Entah mengapa hatinya juga terusik melihat sikap Bimo yang seperti itu. Reni seperti ikut merasakan kesedihan Bimo.


Reni berdiri di depan cermin untuk membuka jilbabnya. Perlahan dia mencoba meraba dadanya.


Perasaan apa ini ya Allah.. Rasanya ikutan sakit melihat dia sesedih itu. Pasti saat ini dia sangat merasa bersalah karena penyebab kematian adiknya adalah dia. Disaat dia juga baru kehilangan orang yang paling dia cintai. Semoga Mas Bimo lebih sabar dan kuat menjalani semua ini. Doa Reni dalam hati.


Reni segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.


Malam harinya mereka juga makan malam dengan keadaan lebih hening. Seolah semua mengerti apa yang saat ini sedang di rasakan Bimo. Mereka tak ingin mengusik perasaan hati Bimo yang memang sangat butuh ketenangan.


Setelah makan malam semua berkumpul di ruang keluarga menonton TV sambil. berbincang - bincang dan bercengkrama. Bimo memisahkan diri duduk sendirian di teras belakang sambil merokok dan menatap ke arah kolam renang.


Reni yang baru saja mengambil minum di dapur melihat dari pintu dapur Bimo sedang melamun. Entah mengapa hatinya tergerak untuk menghampiri Bimo dan ingin sekali menghiburnya.


"Maaf Mas boleh aku duduk di sini?" tanya Reni memecah keheningan.


Bimo tersentak dengan kehadiran Reni yang tiba - tiba.


"Bo.. boleh.. Silahkan Ren" jawab Bimo.


"Kenapa menyendiri Mas? Bukankah kesendirian akan membuat kamu semakin sepi?" tanya Reni.


Bimo menatap ke arah Reni.


Bagaimana Reni bisa tau apa yang dia rasakan saat ini? Bimo memang merasa sangat kesepian dan butuh seseorang yang bisa menghibur dan membuatnya tenang. Setidaknya mengurangi beban perasaannya saat ini.


"Entah mengapa aku memang butuh ketenangan. Berada di sana membuat aku tetap merasa sedih. Apalagi menatap Salman dan Kinan. Menatap Bapak, Ibu dan Bela. Aku penyebab seorang istri kehilangan suaminya, seorang anak kehilangan Papanya. Orang tua yang kehilangan anaknya dan seorang adik yang kehilangan kakaknya. Aku.. aku.. akh... " air mata yang dari tadi berusaha Bimo tahan akhirnya mengalir juga.


Tanpa sadar Reni menyentuh lengan kanan Bimo.


"Maas.. kamu tidak sendirian disini. Ada kami yang selalu ada disaat kamu membutuhkannya. Kami siap mendukung kamu Mas. Terlebih aku, aku siap menemani Mas, mendengarkan apa yang ingin Mas keluarkan agar hati Mas lebih plong dan tenang" hibur Reni.


Bimo kembali menatap Reni.


"Makasih Ren.. aku adalah sumber bencana dalam keluargaku" ujar Bimo.


"Mas tidak boleh berkata seperti itu. Pada saat Mas Bima meninggal, aku tau Mbak Kinan dan Salman pasti sangat sedih. Begitu juga Bapak, Ibu dan Bela. Tapi seiring berjalannya waktu. Hidup harus terus berjalan. Kita tidak bisa larut pada kesedihan dan juga tidak bisa terus menerus menatap masa lalu. Perlahan mereka bangkit. Mbak Kinan menikah, dia menemukan kembali kebahagiaan hidupnya yang lain dengan adanya Mas Refan. Salman juga kembali mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Bapak, Ibu dan Bela juga sudah ikhlas atas kepergian Mas Bima malah kini kebahagian mereka kembali datang berkat kehadiran Mas. Tidak ada yang menyalahkan Mas atas meninggalnya Mas Bima, tidak ada. Aku tau mereka orang - orang baik. Mbak Kinan, Bapak, Ibu dan Bela. Terlebih Bapak, Ibu dan Bela mereka sangat menyayangi Mas. Mereka malah sedih melihat Mas seperti ini" ungkap Reni.


Bimo menatap lurus ke depan ke arah kolam renang.

__ADS_1


"Tentang kematian almarhumah istri Mas itu juga sudah takdir Mas, hikmahnya Mas jadi bisa kembali pulang kepada keluarga dan agama Mas semula. Aku yakin kelak Mas juga akan menemukan kebahagiaan Mas yang baru" hibur Reni.


Bimo menarik nafas dengan dalam dan panjang.


"Aku tau Reni. Tapi saat ini antara otak dan hatiku gak mau singkron. Otakku sudah berkata seperti itu tapi hatiku masih saja melow" ungkap Bimo.


"Mungkin Mas butuh piknik kali" goda Reni sambil tersenyum.


"Ah Dek Reni" ujar Bimo.


"Tuh kan panggil Dek lagi" wajah Reni cemberut membuat Bimo bisa tersenyum walau sangat tipis.


Hatinya kini sedikit lebih ringan, dadanya lebih plong sekarang.


"Terimakasih ya Ren.. berkat kamu beban perasaan Mas berkurang. Rasanya lebih lega dan tenang" ujar Bimo.


"Kapan - kapan kalau Mas buntu, boleh kok cari aku untuk curhat" ujar Reni sambil tersenyum.


"Iya nanti Mas cari kamu" jawab Bimo.


"Tapi lain kali kalau curhat ajak aku makan juga donk. Mmm minum es krim gitu biar adem" usul Reni.


"Boleh juga tuh di coba. Bagaimana kalau besok siang Mas ajak kamu makan siang. Sekalian kita minum es krim" ajak Bimo


"Seep.. setuju aku mau" Reni menyodorkan tangannya ke arah Bimo.


Walau Bimo bingung tapi Bimo menyambut uluran tangan Reni.


"Deal... " ucap Reni.


Bimo tersenyum tipis melihat tingkah laku Reni seperti ini.


"Deal.. besok jam makan siang ya" ulang Bimo.


"Oke Bos. Kalau begitu aku balik ke dalam. Eh Mas juga masuk ngapain sendirian disini. Entar kesambet hantu kolam baru tau" ejek Reni.


"Hahaha ada aja kamu" balas Bimo.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2