
Sejak pembicaraan Rizal dan Aril di mobil, Rizal seperti lebih berhati - hati mendekati Bela. Rizal menganggap ucapan Aril itu adalah sebuah peringatan yang serius dari Aril selalu calon suaminya Bela.
Bagaimana pun kalau seandainya dia yang ada di posisi Aril pasti akan sangat takut kehilangan Bela sebagai calon istrinya.
Rizal tau Aril sangat serius berkata begitu ditambah lagi Rizal melihat kalau Aril memang benar - benar menyukai Bela. Memberikan perhatian lebih kepada Bela.
Melihat apa yang Aril miliki membuat nyali Rizal ciut karena dia belum menjadi siapa - siapa. Dia hanya seorang remaja yang baru saja selesai kuliah. Jangankan hidup yang mapan pekerjaaan saja dia belum punya. Bagaiamana harus bersaing dengan pria sekeren Aril yang kini tertidur disampingnya.
Karena perjalanan masih sekitar dua setengah jam lagi lebih baik Rizal ikut tiduran agar sesampainya di Bromo nanti dia bisa lebih segar dan bisa menikmati indahnya matahari terbit di Bromo.
Akhirnya mereka semua tertidur di mobil. Beristirahat mengumpulkan kekuatan untuk esok pagi yang lebih indah. Tentu saja indah buat Bimo, Reni, Bela, Aril dan Ela. Tidak untuk Rizal yang sudah patah hati sebelum cintanya berkembang.
Baru naksir udah dihadang sama calon suaminya. Bagaimana kalau dia sudah terlanjur cinta yang dalam. Bersyukur perasaannya masih dangkal kalau tidak mungkin saat ini dia sudah berkabung dan masuk dalam episode patah hati yang berkepanjangan.
Jam setengah satu pagi mereka dibangunkan dan pindah ke mobil jeep yang akan membawa mereka ke Bromo. Mobil melaju menuju Bromo, Penanjakan 1 untuk melihat Matahari Terbit / Sunrise.
Sekitar jam setengah tiga pagi mereka sudah tiba di Penanjakan 1. Lalu menunggu dan menikmati keindahan Sunrise.
Udara yang sangat dingin tidak membuat niat mereka luntur untuk menikmati keindahan Bromo di pagi hari. Dengan sabar mereka menikmati setiap waktu yang mengalir begitu saja.
Semua terasa sangat penuh arti terlebih pada Reni dan Bimo. Entah mengapa Bromo menjadi saksi bagi keduanya. Dimana benih - benih rasa diantara mereka sudah mulai tumbuh.
Walau masih sama - sama malu mereka tidak bisa menolak pesona yang terpancar dari keduanya. Saling lirik dan salah tingkah membuat jantung mereka bergetar dan berdebar.
Bela mengeluarkan kopi dari termos air panas yang sengaja dia bawa dari Surabaya tadi. Dia mengeluarkan cangkir kecil untuk semuanya dan mereka menunggu matahari terbit sambil menikmati secangkir kopi.
Detik - detik terbitnya matahari sedang berlangsung. Sedetikpun mereka tidak ingin melewatkan hal yang sangat bersejarah dalam dunia ini. Karena jika tidak ada lagi proses tersebut itu artinya dunia ini sudah tidak ada lagi alias kiamat.
"Huaaaaa akhirnya aku bisa menikmati saat - saat seperti ini" ujar Reni senang.
"Kamu senang Ren?" tanya Bela.
"Senang banget" jawab Reni.
__ADS_1
"Tentu senang donk, apalagi ada Mas Bimo di samping yang selalu memperhatikan keselamatan Dek Reni sambil senyum - senyum" goda Aril.
Bimo tersenyum tipis mendengar sindiran Aril. Sedangkan Reni tampak melirik kesal ke arah Aril.
"Iiih.. takut Reni maraaaaaah" teriak Aril.
"Hahaha... Mas Aril lucu banget" sambut Bela dan Ela tertawa.
Setelah selesai menikmati matahari terbit mereka turun dari undakan bertingkat dan berjalan menuju balai kecil. Karena udara sangat dingin akhirnya mereka memutuskan untuk tayamum sebelum melaksanakan shalat subuh.
Mereka melaksanakan shalat subuh bersama - sama dengan sangat khusyuk. Setelah itu baru mereka kembali menikmati view bromo di Bukit Cinta (spot foto).
"Sekarang waktunya untuk selfie - selfie" teriak Ela.
"Ayo berbaris Mas, Mbak biar kamu bantu untuk mengambil foto kalian semua" perintah tim guide yang membawa mereka ke puncak Bromo.
Bimo dan rombongan mulai mencari view yang bagus untuk tempat berfoto. Mereka mengambil beberapa foto bersama kemudian foto sendiri - sendiri dan foto berpasangan.
"Ayo sini Mas, Ren aku ambilin foto berdua" ujar Bela.
"Udah Ren gak apa - apa buat kenang - kenangan" Bimo menarik tangan Reni untuk tetap bertahan dan tidak bergerak menjauhi dirinya.
Jepreeet....
Bela mengambil beberapa foto mereka tanpa pengaturan gaya benar - benar natural tapi entah mengapa terlihat sangat romantis.
"Sekarang ayo foto Bos dan calon sekretarisnya" Giliran Aril yang menarik Bela untuk berfoto bersama.
"Zal tolong ambilkan foto kami ya" Aril memberikan ponselnya kepada Rizal.
Rizal tak bisa menolak permintaan Aril dan menerima ponsel Aril. Saat dia membuka layar ponsel Aril alangkah terkejutnya Rizal melihat foto profilnya di layar ponsel Aril. Dia melihat foto Bela sedang tersenyum dengan manisnya.
Melihat hal itu membuat hati Rizal semakin kacau balau. Tapi lagi - lagi dia tidak bisa berbuat apa - apa.
__ADS_1
"Ayo ambil posisi. Di mulai ya satu.. dua.. ti. "
Jepreet...
Rizal mengambil foto Aril dan Bela. Bimo tersenyum menyadari tingkah Aril selama ini.
Ternyata kamu juga punya misi ya Ril deketin adikku. Hahahaha... tunggu balasan dariku. Batin Bimo.
Sekitar jam enam pagi mereka turun ke Lautan Pasir setelah itu mereka melakukan perjalanan dengan berjalan kaki / naik kuda menuju Kawah Bromo dengan pemandangan Pura Luhur Poten disebelah kiri dan Gn. Batok sebelah kanan.
Banyak foto yang mereka ambil disekitar itu dan mereka sangat menikmati pemandangan Bromo.
Matahari semakin naik, panas matahari berbaur dengan dinginnya udara di atas Bromo. Sekitar jam setengah sembilan pagi mereka melakukan Explore Pasir Berbisik kemudian jam sembilan tepat melakukan Explore Bukit Teletubies / Padang Savana.
Baru sekitar jam sepuluh pagi mwreka kembali ke Tumpang. Singgah ke Pusat Oleh2 (opsional) dan sarapan pagi. Walau telat tapi mereka menikmatinya.
Reni, Bela dan Ela ditemani Rizal sibuk mencari oleh - oleh untuk kembali di bawa ke Surabaya. Tiga gadis remaja plus satu pemuda yang memiliki usia yang hampir sama sedang asik dengan aksi mereka memilih cenderamata yang cocok untuk dibawa.
Sedangkan Bimo dan Aril memperhatikan mereka dari kejauhan.
"Bagaimana Bim beberapa hari ini berdekatan dengan Reni? Aku lihat kalian semakin lues berinteraksi bahkan terkadang terlihat sangat mesra?" tanya Aril kepada Bimo.
"Kamu sepertinya sengaja mendekatkan aku dengan Reni agar jalan kamu mulus mendekati adikku" sindir Bimo.
"Hahaha... ternyata gerak - gerikku bisa kamu baca ya. Seperti yang aku katakan sebelumnya Bim. Saat ini usiaku sudah menuntuk untuk mempunyai keluarga. Sebejat - bejatnya seorang lelaki pasti mendambakan seorang istri yang baik. Karena dari wanita itu nantinya akan lahir keturunan kita. Mungkin aku dan kamu punya keinginan yang sama. Sedang mencari wanita baik - baik yang bisa menjadi calon kuat istri solehah dalam hidup kita. Seperti itulah yang aku pandang dari adik kamu, Bela. Dia wanita baik dan solehah ditambah lagi aku sudah mengenal keluarga kalian dengan cukup baik. Jadi tidak ada lagi celah aku untuk bisa mengelak dari pesonanya " ungkap Aril.
"Tapi kamu harus tetap ingat. Aku ini Kakaknya Bela, hanya tinggal aku saudaranya. Aku tidak akan memaksakan kehendakku, karena aku adalah seorang pemberontak dimasa lalu. Aku suka kebebasan jadi saat ini aku juga akan melakukan hal yang sama. Bela akan aku bebaskan mencari calon suaminya, siapapun itu asalkan dia bahagia. Kalau memang dia memilih kamu ya silahkan saja. Tapi kalau dia berkata tidak, mohon maaf Ril. Aku tidak bisa berbuat banyak untuk kamu" tegas Bimo.
Aril terdiam dan langsung menelan salivanya dengan sangat berat setelah mendengar perkataan Bimo barusan saja.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG