Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 31


__ADS_3

"Apa? Kinan melakukan itu Ma? Berani sekali dia seenaknya melarang Mama seperti itu? Aku akan buat perhitungan dengannya" Ucap Refan.


Refan bergegas menuju kamarnya. Dia harus segera menyelesaikan masalah ini dengan Kinan. Dia tidak ingin memperkeruh hubungannya dengan mantan mertuanya.


Refan masuk ke dalam kamar dan melihat Kinan sedang duduk di sudut tempat tidur. Posisinya sedang membelakangi Refan tapi Refan bisa melihatnya dengan jelas kalau saat ini Kinan sedang menangis.


"Kinan" panggil Refan.


Kinan menegang dan segera menghapus air matanya. Refan langsung menghampiri Kinan.


"Apa yang kamu katakan pada Mamanya Renita? Mengapa kamu melarang dia bertemu dengan Naila? Ingat ya Kinan, Naila itu cucu mereka satu - satunya. Kamu tidak berhak melarang Naila bertemu dengan keluarga Renita" Ucap Refan.


"Apa Mas? Siapa yang bilang aku melarang Naila bertemu dengan Mamanya Renita?" tanya Kinan terkejut.


"Kamu gak perlu tau siapa yang bilang itu. Yang jelas kamu tidak berhak melarang mereka bertemu Naila" ulang Refan.


"Mas, aku gak pernah berkata seperti itu. Rumah tangga itu harus berlandaskan kepercayaan kalau kita sudah tidak saling percaya akan sulit kita melanjutkan pernikahan ini. Kita menikah bukan untuk main - main kan Mas dan bukan untuk coba - coba. Sekarang aku kembalikan pada Mas, terserah Mas mau percaya atau gak. Aku tidak ada melarang mereka untuk bertemu Naila. Apa yang bilang seperti itu pada Mas Mamanya Renita?" desak Kinan.


"Iya, Mamanya Renita. Kenapa? Kamu gak suka Mamanya ikut campur dalam rumah tangga kita? Naila itu sampai kapanpun adalah cucunya. Dia berhak kapan saja ingin bertemu Naila" tegas Bagas.


"Aku tidak pernah melarangnya Mas, apa perlu aku bersumpah" jawab Kinan tak kalah tegas.


Refan terdiam, melihat ilmu agama yang Kinan miliki Refan yakin dan percaya kalau Kinan tidak berbohong. Tapi apa mungkin Mama Renita yang berbohong.


Refan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Jadi kamu kenapa masuk ke kamar dan barusan kamu nangis kan" tanya Refan penasaran.


"Males aku berita kalau aku cerita Mas Refan gak akan percaya padaku" ucap Kinan ngambek.

__ADS_1


Refan tiba - tiba merasa lucu dengan sikap Kinan yang ngambek seperti itu. Pengen banget rasanya menerkam Kinan. Eh tidak.. tidak.. masalah Mama Renita belum selesai.


"Kalau kamu gak cerita aku gak bisa memutuskan aku percaya atau tidak dengan cerita kamu" balas Refan.


"Mama Renita menuduhku mendoakan Renita cepat meninggal karena aku ingin balas dendam akibat batalnya rencana pernikahan kita dulu. Katanya orang - orang berkata bahwa itu karma yang harus Renita taerima karena kamu tidak mau menjalankan amanah Papa kamu. Terus kalau kematian Renita karma, kematian Mas Bima bagaimana? Ya Allah... Mas Bima gak ada hubungannya dengan rencana pernikahan kita dulu Mas" Kinan kembali menangis.


Refan jadi merasa kasihan melihat Kinan seperti itu.


Benar kata Kinan, baik Renita ataupun Bima suami pertama Kinan bukanlah korban atas batalnya pernikahan mereka lima tahun lalu. Bukan hukuman karena mereka tidak menjalankan amanah Papa Refan.


Itu semua sudah menjadi takdir dari Allah. Dan tidak ada yang bisa merubahnya. Refan kasihan melihat Kinan.


"Mungkin Mama ada mendengar cerita seperti itu dari orang - orang sehingga dia menghubungkan kematian Renita dengan amanah Papa dulu. Aku harap kamu mau mengerti. Aku akan jelaskan kepada Mama kalau kamu tidak seperti itu dan soal Naila, aku harap kita sepakat tidak menghalangi mereka untuk bertemu dengan Naila. Karena Renita adalah putri tunggal mereka dan hanya Naila yang Renita tinggalkan" Refan menjelaskan.


Kinan masih menangis di hadapan Refan. Refan mengambil tisu yang ada di meja lemari hias kamar Refan dan memberikannya kepada Kinan.


Kinan menerima tisu yang diberikan Refan dan menghapus air matanya.


"Sekarang kamu beres - beres, aku tunggu di depan" tegas Refan.


Refan segera meninggalkan Kinan dan keluar dari kamar. Kinan menatap kepergian Refan.


Apa yang kamu rasakan Mas, terkadang kamu terlihat hangat tapi seketika kamu berubah menjadi dingin dan kata - kata kamu sering menyakitkan.


Kinan teringat perkataan Refan tadi, dia segera membenahi make up nya dan segera keluar dari kamar. Sesampainya di luar Kinan segera mencari sosok Refan dan berdiri disamping Refan.


"Nah ini dia Pak istri saya, Nan kenalkan ini relasi saya" ucap Refan kepada Kinan.


Kinan memberikan salam hormat kepada relasi Refan.

__ADS_1


"Cantik ya istrinya Pak Refan dan alim, gak nyangka selera Pak Refan istri seperti ini. Aku kira berbeda, tapi bagus itu Pak Refan. Lelaki yang baik memang di takdirkan untuk wanita yang baik juga, begitu sebaliknya" puji relasi Refan.


Refan tersenyum dan merasa bangga mendapat pujian seperti itu. Dia melirik kearah Kinan yang sedang tersenyum dengan ramahnya.


Tak lama terdengar suara tangisan Naila. Kinan melirik ke arah Mama Renita, terlihat Mama Renita sedang kewalahan menenangkan Naila.


"Maaf Mas, Pak saya tinggal sebentar ya. Anak kami sedang menangis" ucap Kinan.


Kinan bergegas menghampiri Mama Renita dan meminta untuk menggendong Naila. Akhirnya dengan berat hati Mama Renita menyerahkan Naila kedalam pelukan Kinan.


"Cup.. cup.. anak Mama sayang. Anak solehah Mama Papa jangan nangis ya nak. Haus ya.. kita minum yuk.. sebentar Mama buat susu kamu ya" ucap Kinan. Tak lama Bik Nah langsung datang membawakan botol susu Naila.


Naila langsung terdiam dalam buaian Kinan. Refan dan relasinya memperhatikan tingkah laku Kinan dan bagaimana sikap Kinan yang tampak sigap dan leluasa menggendong Naila. Sehingga Naila langsung merasa nyaman dan berhenti menangis.


"Nak Refan ini beruntung ya dapat istri seperti itu. Pasti istrinya Nak Refan ini akan menjadi Ibu sambung yang baik, penyayang dan penyabar" puji istri relasi Refan.


"Benar, jarang lho bisa dapat istri seperti itu. Sepertinya dia memang sangat sayang kepada anak kamu Fan. Kamu harus memperlakukan wanita itu dengan baik agar rumah kamu tentram. Kunci kebahagiaan rumah tangga itu terletak pada kebahagiaan istri. Jika kamu berhasil membahagiakan istri kamu makan percayalah anak - anak kamu, rumah tangga kamu semua akan aman. Tapi jika seorang Ibu atau istri tersakiti di dalam rumah tangga, rumah kamu akan terasa seperti neraka. Selalu panas, pertengkaran dan perselisihan akan sering terjadi dan itu tidak baik untuk perkembangan anak kamu" nasehat Relasi Refan.


"Iya Pak, terimakasih atas nasehatnya" jawab Refan sambil tersenyum.


Refan kembali melirik Kinan. Kini Naila sudah tertidur dalam dekapannya. Anaknya itu memang sudah sangat dekat dengan Naila saat pertama kali mereka bertemu di rumah sakit. Padahal saat itu dia dan Kinan belum menikah.


Ternyata benar kata Kinan, dia lebih dulu jatuh cinta kepada putrimu. Padaku kapan?????


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2