
Refan dan Riko memutuskan untuk berpisah di parkiran TPU. Hari sudah semakin sore, tak baik berlama - lama di tempat seperti saat hari sudah semakin senja.
Refan masuk ke dalam mobil. Saat dia masuk dia melihat wajah istrinya yang menatapnya dengan raut wajah cemas.
"Kamu kenapa Nan?" tanya Refan heran.
"Mas dan Riko gak ngapa - ngapain kan?" tanya Kinan resah.
"Gak ngapa - ngapain gimana maksud kamu?" Refan balik bertanya.
"Kalian gak bertengkar kan?" tanya Kinan lagi.
"Nggak. Ngapain kami bertengkar? Aku dan Riko kan bukan musuhan malah sebaliknya kami sahabatan" jawab Refan.
Refan mulai menjalankan mobilnya untuk keluar area parkir.
"Benar - benar tidak terjadi sesuatu dengan kalian?" tanya Kinan masih belum percaya.
"Ya nggak lah Naaaan.. kamu ini lucu banget. Kamu pengen lihat kami bertengkar?" tanya Refan.
"Justru itu yang aku takutkan. Dari tadi aku sudah khawatir banget nungguin kalian. Saat aku lihat Riko keluar dari mobilnya dan berjalan menuju makam Renita aku sudah menduga kalau kalian pasti akan bertemu. Aku takut terjadi sesuatu dengan kalian Mas" ungkap Kinan.
"Apa yang harus aku pertengkarkan lagi? Renita? Dia sudah meninggal. Lagian mereka tidak ada hubungan apa - apa. Memang tadi Riko mengakui perasaannya pada ku kepada Renita. Tapi Riko tau batasannya, dia hanya pengagum rahasia dan tidak pernah keluar dari batasannya karena dia tau kalau Renita itu adalah istriku. Malah tadi aku kasih semangat padanya agar dia segera melupakan Renita dan menyuruhnya untuk serius mencari istri" ungkap Refan.
"Syukurlah kalau kalian baik - baik saja" sambut Kinan.
"Kamu punya calon gak untuk Refan. Dia mau berubah tapi dia pasti seperti aku. Tanpa awal butuh pegangan dan pembimbing. Walau sejatinya dalam rumah tangga itu suami lah yang menjadi pemimpin tapi kan gak ada salahnya kalau seorang istri yang memberikan dukungan besar agar sang suami mau belajar dan berbuat lebih baik?" tanya Refan.
"Ya gak salah Mas. Malah lebih baik seperti itu, saling bantu dan sama - sama berusaha untuk hidup lebih baik lagi" jawab Kinan.
"Jadi kamu ada calon gak?" tanya Refan.
"Mmm... " Kinan tampak sedang berpikir.
"Aku punya sahabat namanya Anita. Dia punya adek Mas" jawab Kinan.
"Nah bisa tuh dikenalkan dengan Riko" sambut Refan.
"Tapi adiknya Anita gak mau pacaran Mas. Maunya ta'aruf, kalau cocok ya langsung nikah" ujar Kinan.
"Gak masalah kan. Riko juga udah kelamaan pacaran. Selama ini pacaran terus gonta - ganti cewek tapi gak ada yang serius. Malah yang aku takutkan si cewek yang gak mau nikah sama Riko karena barang bekas" ungkap Refan.
__ADS_1
"Barang bekas gimana?" tanya Kinan bingung.
"Riko udah gak original, udah celap celup banyak cewek" jawab Refan.
"Emangnya kamu dan aku dulu nikahnya masih sama - sama original?" sindir Kinan.
"Tapi kita ada status Nan dan hanya satu pasangan. Riko tanpa status dan banyak sekali mantannya" jawab Refan.
"Ya nanti kan mereka bisa saling bicara terbuka. Kalau sama - sama mau terima kan gak ada masalah lagi" ujar Kinan.
"Iya juga. Boleh deh, nanti kalau aku ketemu sama Riko akan aku katakan padanya. Kamu juga kalau ketemu sahabat kamu itu udah bisa cari - cari info atau pendekatan dengan adiknya" perintah Refan.
"Aku memang udah dekat sama keluarga Anita. Aku sama Anita udah sahabatan sejak SMU sampai sekarang" jawab Kinan.
"Nah lebih mantap kan kalau kamu udah kenal dekat. Jadi udah bisa langsung jadi mak comblang" sambut Refan.
"Mending kita kenalin mereka tanpa sengaja gitu Mas. Nanti mereka kita undang bareng - bareng ke rumah terus kita kenalin, setelah itu terserah mereka mau lanjut atau nggak. Gimana?" tanya Kinan.
"Boleh.. boleh.. pintar juga kamu cari ide" puji Refan tertawa.
Akhirnya mobil Refan sampai juga di rumah. Mereka berdua turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Hari ini Papa Mama Kinan dan Mamanya Refan pulang sebentar ke rumah mereka. Hari Jumat pagi mereka akan balik lagi ke rumah Refan karena Refan dan Kinan akan berangkat ke Bali Jumat sore.
"Anak Mamaaaaa" sambut Kinan.
Salman mencium tangan Kinan penuh hormat setelah itu Kinan mencium pipi dan kening Salman. Begitu juga dengan Refan. Sudah merupakan satu rutinitas di rumah dan Refan sangat menikmatinya.
Dia selalu tidak sabar untuk pulang ke rumah karena Refan sangat merasa nyaman dan senang kini sudah mempunyai keluarga yang lengkap. Ada istri dan anak yang menunggu dia pulang ke rumah.
"Papa.. tadi ikan di kolam mati" lapor Salman.
"Oh ya...?" tanya Refan.
Refan segera menggendong Salman dan berjalan ke arah kolam mendengarkan cerita dan ocehan Salman sambil memeriksa keadaan kolam.
Sedangkan Kinan tersenyum melihat kedekatan putranya dengan Refan yang setiap hari semakin dekat. Kinan langsung berjalan menuju kamarnya untuk mandi dan membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai mandi Kinan segera memakai pakaian. Setelah itu Kinan menyiapkan pakaian Refan untuk dia pakai santai di rumah.
Kinan keluar kamar untuk memanggil Refan.
"Mas mandi gih sebentar lagi maghrib" panggil Kinan.
__ADS_1
"Iya sebentar" jawab Refan.
Refan dan Salman baru saja selesai memberi makan ikan di kolam.
"Sal Papa mandi dulu ya, setelah itu mau shalat maghrib. Kamu mau ikut gak?" tanya Refan.
"Mau Pa" jawab Salman.
"Kamu sudah mandi kan?" tanya Refan lagi.
"Sudah donk" jawab Salman cepat.
"Pantesan wangi" Refan tersenyum ke arah Salman.
"Papa ke kamar dulu ya, kamu tunggu di mushola biar kira shalat bareng. Ajak juga bibik" perintah Refan.
"Siap Bos" jawab Salman sambil memberikan hormat kepada Refan.
Sontak Refan tertawa melihat tingkah anak tirinya itu dan dia segera menyusul Kinan yang sudah kembali masuk ke kamar mereka.
Refan memeluk Kinan dengan manja. Tapi Kinan segera memberikan handuk kepada Refan dan mendorong Refan masuk sampai ke kamar mandi.
"Mandi dulu Mas" ujar Kinan.
"Padahal mau cium kamu dulu" protes Refan.
"Nanti aja setelah mandi, kamu bauk" ledek Kinan.
"Bener ya kalau aku sudah mandi kasi kiss" Refan memajukan bibirnya ke arah depan hingga membuat Kinan tertawa geli karena lucu melihat tingkah manja Refan.
Refan segera masuk ke dalam kamar mandi. Kinan duduk didepan meja hias untuk menyisir rambutnya.
Suaminya itu kalau sudah manja seperti ini ada saja tingkah anehnya. Terkadang Kinan merasa geli karena belum terbiasa dengan sikap Refan seperti sekarang. Kalau ingat dulu, Refan sangat dingin dan kata - kata yang terucap dari bibirnya sangat menyakitkan. Kini secara perlahan Refan sudah berubah semakin hangat bahkan sangat manja. Sontak membuat wajah Kinan memerah kalau mengingat sikap manja suaminya yang akan berakhir mesum dan pasti ujung - ujungnya akan mengajak Kinan untuk berolahraga malam hari di atas tempat tidur.
Kinan langsung menutup wajahnya dengan kedua tanggannya karena malu pada dirinya sendiri pikirannya sudah mulai nakal membayangkan tingkah mesum Refan.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1