Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 280


__ADS_3

"Assalamu'alaikum... " sapa Reni.


"Wa'alaikumsalam... " jawab semua orang yang ada di rumah Refan dan Kinan.


"Eh pengantin baru sudah pulang?" tanya Kinan ramah.


"Udah Mbak kemarin" jawab Reni.


"Gak nambah lagi honeymoonnya?" tanya Kinan.


"Nggak. Kemarin nambah beberapa hari karena Mas Bimo emang lagi ada kerjaan di sana" jawab Reni.


Reni dan Bimo menjabat tangan seluruh keluarga.


"Refan mana Nan?" tanya Bimo.


"Lagi di ruang kerjanya Mas bareng Mas Riko" jawab Kinan.


"Lho Riko datang rupanya. Aku kesana ya" sambut Bimo.


Bimo berjalan menuju ruang kerja Refan dan langsung masuk ke dalam.


"Hai bro.. kapan pulang?" sapa Riko begitu melihat Bimo masuk.


"Alhamdulillah kemarin" Bimo merangkul Riko dan Refan bergantian.


"Kenapa dengan wajah kalian? Kok serius banget?" tanya Bimo penasaran.


"Hari ini kami baru pulang dari makam anaknya Arga" jawab Refan.


"Arga.. Laksamana?" tanya Bimo terkejut.


"Iya, kemarin istrinya kecelakaan jatuh di kamar mandi lagi hamil besar. Trus menjalani operasi di Rumah Sakit tapi sayang anaknya tidak bisa diselamatkan dan meninggal dunia jadi hari ini dimakamkan" ungkap Riko.


"Kalian datang, ngapain?" tanya Bimo curiga.


"Ingin lihat wajah kehilangannya? Selama ini Naila dia abaikan. Aku ingin lihat bagaimana dia kehilangan anaknya? anak yang dia nanti selama bertahun - tahun" jawab Refan.


"Terus apa yang kalian lihat dan dapatkan di sana?" tanya Bimo.


"Ya tentu saja dia bersedih dan kecewa karena kematian anaknya. Tapi tetap saja itu tidak adil untuk Naila" ujar Refan.

__ADS_1


Bimo menepuk bahu Refan.


"Sudah lah Fan... hapus dendam kamu. Naila juga sudah bahagia bersama Opa dan Omanya di Labuhan Bajo. Beberapa hari aku sibuk di sana, Reni berkunjung ke rumah mereka. Kasihan lihat Reni bosan sendirian di Hotel jadi aku suruh dia main ke rumah keluarga Subrata. Selama hampir seminggu Reni sering datang ke sana, dia jadi semakin dekat dengan Naila. Naila anaknya yang baik, ramah dan ceria. Reni mengaku senang setiap kali bertemu dengannya" ungkap Bimo.


"Aku .. aku hanya sedih setiap kali mengingat Naila. Sebegitu tidak diinginkannya kah Naila lahir di dunia ini? Sedikitpun tidak ada kasih sayang Arga atau kasih sayangnya sebagai orang tua Naila. Sekalipun selama ini dia tidak pernah mencari tau keberadaan Naila. Kecuali kemarin saat aku bertemu di rumah sakit. Itu juga karena dia tidak melihat gadis kecil diantara anak - anakku. Makanya dia bertanya dimana anaknya" ujar Refan kesal.


"Yah aku mengerti perasaan kamu Fan. Kita sama - sama pria yang mengharapkan seorang anak lama hadir dalam rumah tangga kita. Sama seperti Arga itu. Seharusnya memang dia bahagia saat Naila lahir, itu artinya dia sudah berhasil menunjukkan jati diri dia sebagai laki - laki. Ternyata dia sehat karena bisa menghasilkan seorang anak. Tapi ternyata dia memilih untuk menyia - nyiakannya" timpa Bimo.


"Dia lebih takut kehilangan harta dari pada darah daging sendiri" sambut Riko.


"Saat ini dia kan sudah merasakan bagaimana sakitnya kehilangan seorang anak, kita lihat saja nanti apa yang akan dia lakukan. Tapi kamu ingat pesan keluarga Subrata Fan. Baik Pak Reno ataupun Bu Thalita tidak ingin siapapun taiy dimana mereka tinggal" ucap Bimo mengingatkan.


"Iya aku ingat" sambut Refan.


"Yuk kita bergabung bersama yang lain di luar" ajak Bimo.


Mereka akhirnya berjalan keluar dan bergabung dengan yang lain di ruang keluarga.


"Mbak selama di Labuhan Bajo aku sering lho main ke rumah Opa Naila dan bertemu dengan Naila " ujar Reni.


"Oh ya... pasti Naila senang banget" sambut Kinan senang.


"Dia memanggilku Mama Mbak" ungkap Reni.


"Tapi Mama lihat mereka cocok tinggal disana? Selain Naila, Mas Reno dan Thalita juga sehat banget hidup di sana. Wajah mereka lebih fresh dan tenang tinggal disana. Habis disana pemandangan kotanya dan lautnya sangat indah" sambut Bu Suci


"Mama pengen ke sana lagi?" tanya Reni sambil tersenyum.


"Mau donk kalau diajak lagi" jawab Bu Suci cepat.


"Nanti kapan - kapan kita ke sana lagi ya Ma" sambut Bimo yang datang bersama Refan dan Riko.


"Mas tolong bawakan oleh - oleh di mobil. Tadi aku lupa ambilnya" pinta Reni.


"Kalian bawa oleh - oleh lagi? Kan kami juga baru dari sana juga" tanya Bu Suci.


"Gak apa - apa Ma, namanya baru pulang bepergian harus bawa buah tangan donk" jawab Bimo.


Bimo berjalan keluar mengambil oleh - oleh di dalam mobilnya kemudian kembali lagi masuk ke dalam rumah. Bimo duduk di samping istrinya Reni.


"Ayo yank cerita ke Refan" perintah Bimo.

__ADS_1


Refan melirik ke arah adiknya.


"Ada apa? Ada yang ingin kalian obrolan kan?" tanya Refan penasaran.


"Mmm.. anu Mas.. Aku mau resign dari kantor. Aku ingin full menjadi Ibu rumah tangga" ungkap Reni.


"Kamu yakin?" tanya Refan. Sebenarnya dia sudah tidak terkejut lagi. Sejak awal Reni menikah Refan sudah menduganya.


Bimo punya banyak usaha di luar kota, kalau Reni terus bekerja pasti akan sering di tinggal Bimo terus. Tapi kalau Reni berhenti bekerja dia pasti bisa ikut kemanapun Bimo pergi.


Lagian Bimo kan sudah berkecukupan, apa lagi yang ingin dicari Reni. Lebih baik Reni sibuk mengurus suami dan keluarganya. Apalagi nanti kalau Reni segera hamil, mending dia berhenti saja.


Sebenarnya Refan juga ingin Kinan sepet itu. Tapi karena Kinan PNS lebih ribet urusannya. Dan juga Refan tidak ingin memaksa Kinan untuk berhenti bekerja.


Refan tidak ingin memaksakan kehendaknya kepada istrinya tapi kalau istrinya meminta sendiri dengan senang hati dia akan mendukungnya.


Apalagi anak mereka sekarang sudah tiga dan si Kembar masih sangat kecil. Pasti kalau Kinan mulai kerja lagi nanti akan sangat repot. Dimana kedua bayi kembar mereka full ASI.


"Aku yakin Mas. Setelah urusan hukum tentang kematian Mas Bima selesai. Mas Bimo akan kembali fokus mengurus usahanya. Dia akan sering pergi keluar kota dan aku akan ditinggal terus kalau aku tetap bekerja. Jadi setelah beberapa hari berdiskusi, aku memutuskan untuk resign aja bekerja. Biar aku bisa mengurus Mas Bimo kemana saja dia pergi" jawab Reni.


"Bagus itu, memang begitulah tugas istri. Ibu setuju" sambut Bu Suci.


"Bu.. " Refan melirik ke arah Mamanya dan memberi kode, takut kata - kata Mamanya menyinggung perasaan istrinya.


"Iya Ren, kamu hebat bisa ambil keputusan seperti itu. Mbak juga setelah cuti selesai ingin cari - cari informasi. Bagaimana caranya untuk pensiun dini. Mbak juga mau fokus mengurus anak - anak" sambut Kinan.


Refan langsung menatap wajah istrinya terkejut tak percaya.


"Kamu serius sayang?" tanya Refan.


Kinan tersenyum membalas tatapan suaminya.


"Aku serius Mas. Nanti setelah kembali bekerja aku akan bertanya pada atasanku. Dan akan mengajukan pensiun dini. Apakah Mas menyetujuinya?" tanya Kinan kepada Refan.


"Aku setuju sayang, aku akan mendukung apapun keputusan kamu. Apalagi untuk masa depan rumah tangga kita dan anak - anak" sambut Refan bahagia.


Kinan tersenyum lega, ternyata keputusan yang dia ambil sangat tepat. Suaminya terlihat sangat mendukung sekali pada niat Kinan.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2