
Pesan Bimo yang sangat menohok hati Aril sehingga Aril tak bisa berbuat banyak.
"Setidaknya kamu memberikan aku kesempatan Bim untuk mendekati adik kamu. Aku akan berjuang untuk memenangkan hatinya" ungkap Aril.
"Kamu gak lihat pemuda itu juga mempunyai perasaan tersembunyi pada adikku?" tanya Bimo.
Bimo menunjuk ke arah Rizal temannya Bela.
"Aku lihat, sangat terlihat jelas perasaan pemuda itu kepada Bela. Tapi kamu tenang saja dia tidak akan berani berkutik lagi karena aku sudah mengatakan kepadanya kalau aku adalah calon suaminya Bela" jawab Aril.
"Hahahaha... Ternyata kamu sangat percaya diri sekali ya Ril" sindir Bimo.
"Itu sebuah trik Bi., agar pria itu tidak sembarangan lagi mengganggu Bela" ungkap Aril.
"Pengalaman yang mengajarkan kamu harus seperti itu ya" sindir Bimo.
"Yaaah bisa dibilang seperti itu. Aku sudah lama belajar untuk saat ini Bim. Jadi aku harap di saat hatiku berkata, dialah wanita yang tepat menjadi istriku. Aku bisa mengerahkan semua kekuatan, tenaga dan keahlianku yang selama ini sudah aku latih" ujar Aril.
"Apakah ini sebuah rayuan untukku agar aku mau merestui dan memberi izin kepada kamu agar kamu bisa bebas mendekati adikku?" tanya Bimo.
"Ini bukan rayuan Bim. Ini adalah sebuah kenyataan bahwa hatiku sudah memutuskan dan menjatuhkan pilihannya. Aku harap dan aku terus berdoa agar permintaanku dikabulkan" jawab Aril.
Bimo tersenyum tipis mendengar jawaban Aril.
"Kamu nih yang belum terbuka. Kamu sudah mulai menyukai Reni kan? Ayo... jujur saja padaku. Aku bisa membantu kamu untuk mendapatkan dukungan dari Refan" bujuk Aril.
Bimo menarik nafas panjang sambil menatap tiga dara yang sedang bersenang-senang berbelanja.
"Jujur aku memang sudah merasa nyaman di dekatnya bahkan aku merasa seperti kembali muda seperti anak remaja seumuran mereka. Padahal usia kita dengan mereka sangat terpaut jauh" ungkap Bimo.
"Apakah itu artinya kamu sedang jatuh cinta lagi seperti anak remaja seumuran mereka?" desak Aril.
"Aku memang mulai tertarik pada Reni Ril, seperti yang sudah sering kita bicarakan. Aku dan kamu juga punya kriteria wanita yang baik dan solehah untuk menjadi pasangan hidup selanjutnya. Dan aku melihat itu pada diri Reni. Tapi... peluang aku berbeda dengan kamu. Kamu bisa langsung action sedangkan aku harus menyelesaikan terlebih dahulu permasalahan masa laluku Ril. Aku tak mau terlalu cepat menjatuhkan hati dan pilihanku kepada Reni. Aku tidak mau mencelakakan dia. Apalagi kalau hatiku sudah sangat yakin kalau dia lagi wanita yang aku cari dan hatiku telah jatuh kepadanya. Aku tidak mau membahayakan nyawa wanita yang aku cintai. Aku takut kehilangan lagi wanita yang sangat aku sayang. Itu yang membuat aku harus berhati - hati dan bersabar Ril. Masa depan Reni masih panjang jangan sampai rusak karena aku menyukainya" ungkap Bimo sedih.
Aril menepuk bahu Bimo memberi semangat.
"Kamu jangan khawatir Bim, ikuti saja apa kata hatimu. Reni itu wanita yang kuat, bahkan rada gila karena ke usulannya. Dia wanita pemberani, kamu bayangin aja dia gadis cilik yang baru duduk di bangku sekolah dasar berani ngeprank aku dan teman - temanku yang sudah kuliah? walau dia anak bungsu tapi dia bukan gadis manja. Percaya deh padaku" ucap Aril meyakinkan.
Tak lama Reni, Bela dan teman-temannya keluar dari kedai tempat penjual oleh - oleh.
"Udah selesai?" tanya Bimo.
__ADS_1
"Sudah Mas" jawab Bela.
"Sudah puas belanjanya? Gak ada yang kurang lagi? Entar nyesal lho kalau kita sudah keluar dari sini?" tanya Aril.
"Aku sih sudah, lagian gak ada juga yang mau dikasih oleh - oleh. Paling Bapak sama Ibu. Gak tau nih Reni?" tanya Bela.
"Aku sudah selesai kok beli oleh - oleh untuk Salman, Mbak Kinan, Mas Refan, Mama, Om dan Tante juga Bik Mar dan Bik Nah" jawab Reni.
"Wah lengkap banget Ren?" puji Bela.
"Iya, gak enak kalau ada yang kebagian ada yang nggak. Entar dikira pilih kasih" jawab Reni.
"Tuh baik kan dia? Gak pelit lagi? Kamu mau melewatkan wanita seperti ini? Kalau kamu gak mau biar aku suruh aja Riko dan Romi yang ngelamar Reni kepada Refan" bisik Aril kepada Bimo sambil menyikut perut Bimo menggunakan siku Aril.
Bimo terdiam mendengar perkataan Aril barusan dan menatap kepergian Reni, Bela dan Ela di depan mereka. Kini Rizal, Bimo dan Aril menyusul mereka berjalan menuju mobil.
"Mas sebelum pulang kita makan dulu ya" pinta Bela.
"Iya" jawab Bimo.
Bimo menghampiri supir dan menyuruhnya mencari tempat makan yang bagus di daerah Bromo. Mobil melaju menuju Restoran yang sangat terkenal di daerah Bromo yaitu Taman Indie River View Resto.
Saat masuk ke dalam Restoran mereka sangat takjub dengan nuansa Jawa klasik di Restoran tersebut. Terasa unik dan sangat nyaman berada di dalamnya.
"Makanan apa ya yang jadi favorit disini?" tanya Reni.
"Kita tanya saja nanti sama pelayannya" jawab Bela.
Pelayan datang sambil membawa buku daftar menu.
"Mas hidangkan pada kami menu andalan Restoran ini untuk enam orang" pesan Aril.
Bela, Reni dan Ela tersenyum ketika mendengar perintah Aril pada pelayan Restoran.
"Mas Aril emang tau banget suara hari kami" puji Reni.
"Pasti donk, kami gak akan tega melihat kalian kelaperan dengan wajah jelek seperti itu" jawab Aril.
"Ciiih baru aja muji udah di lemparkan ke dalam jurang penindasan" umpat Reni.
"Pedasnya bibir kamu Reeen" sindir Aril.
__ADS_1
"Hahahaa... Mas Aril seperti udah ngerasain bibirmu Ren, kok bisa dia tau pedas ya" sambut Ela sambil tertawa.
Bimo langsung melirik ke arah bibir Reni yang manyun karena kesal.
Bibir seperti itu bukan pedas tapi malah sebaliknya, manis... Duh ada apa denganku? teriak batin Bimo.
Tak lama makanan mereka siap di hidangkan. Mereka menyantap makanan dengan semangat. Mungkin karena lapar, tadi sarapan pagi seadanya saja di daerah Bromo.
Setelah selesai makan siang, baru mereka melanjutkan perjalanan menuju Surabaya. Dan Sekitar jam empat sore mereka sudah sampai di rumah keluarga Akarsana.
Rizal merasa sangat sungkan berlama - lama di rumah Bela. Begitu mereka sampai Rizal langsung pamit pulang ke rumahnya.
Sedangkan Bela, Ela dan Reni masih asik ngobrol membahas tentang drama Korea yang lagi viral saat ini.
"Hey.. kalian mandi dulu gih" perintah Bu Akarsana.
"Eh iya Bu, seharian ini kami gak ada mandi" sambut Bela.
"Ih jorok banget" ujar Bu Akarsana.
"Namanya kami gak nginap Bu, dari sini langsung menuju Bromo dan jalan - jalan seharian sampai lupa mau mandi dimana" jawab Bela.
"Ya sudah mandi dulu sana gih, udah sore. Setelah itu bersiap untuk shalat maghrib berjamaah baru kita makan malam bareng. Ela kamu tidur di sini kan?" tanya Bu Akarsana.
"Iya Bu, aku udah izin sama Bapak dan Ibu" jawab Ela.
"Besok kami mau bawa Reni jalan - jalan keliling kota Surabaya Bu" sambut Bela.
"Iya harus itu, jarang - jarang Reni bisa ke sini. Jadi kalian harus menjamu tamu dengan baik" ujar Bu Akarsana.
"Tapi Mas Aril besok udah sibuk kerja Bu" ucap Reni.
"Kan ada Mas Bimo yang bisa kalian ajak" jawab Bu Akarsana.
"Eh iya lupa kalau ada Mas Bimo" sambut Reni.
Bu Akarsana tersenyum melihat sikap Reni yang seperti salah tingkah ketika menyebut nama putranya.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG