Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 273


__ADS_3

Refan beserta rombongan sudah berangkat ke bandara. Di hotel hanya tinggal Bimo, Reni, Bapak dan Ibu Subrata beserta Naila.


Pak Reno dan Bu Tharita dicegah Reni dan Bimo ketika mau pulang. Mereka menjamu mereka untuk makan siang di hotel.


Mereka berjalan santai di Restoran sambil membawa Naila main karena di dalam Restoran Hotel ada tempat untuk anak - anak bermain.


Pak Reno dan Bimo duduk di satu meja sedangkan Bu Thalita dan Reni menemani Naila main.


"Ren... Tante lihat suami kamu kok mirip banget sama Salman ya?" tanya Bu Thalita.


Reni tersenyum mendengar pertanyaan mantan mertua kakaknya itu. Dulu sebenarnya dia membenci wanita ini. Karena saat Kakaknya Refan menikah dengan Renita. Thalita selalu menjadi penguasa di rumah mereka.


Setiap kali ada acara keluarga Thalita yang memegang semua perintah sehingga Mamanya Reni selalu mengalah. Wanita ini juga dulu sangat sombong sekali. Tapi kini dia benar - benar berubah.


Reni hampir tak percaya saat kemarin pertama kali mereka bertemu di tepi pantai. Saat Refan dan Kinan membawa mereka mendekat.


"Mas Bimo adalah Pakdenya Salman Tante" jawab Reni.


"Maksud kamu?" tanya Thalita bingung.


"Mas Bimo itu saudara kembarnya Papanya Salman" Reni menjelaskannya.


"Yang benar Ren?" Bu Thalita tampak tak percaya.


"Iya Tante.. " jawab Reni dengan senyuman.


"Pantesaaan mirip banget" sambut Bu Thalita.


"Mammaaaaa..... " panggil Naila.


"Tante nak" sambut Reni.


"Maaf Ren.. dia memang suka seperti itu. Panggil mama pada setiap wanita muda yang kami temui. Mungkin dia kangen sosok seorang Ibu" wajah Bu Thalita tampak sedih.


"Kenapa gak balik ke Jakarta aja Tante.. Biarkan Naila tinggal bersama Mbak Kinan dan Mas Refan, agar dia mendapat kasih sayang keluarga yang lengkap. Aku yakin Mas Refan dan Mbak Kinan pasti sangat senang dan bahagia menerima Naila kembali. Mereka akan menyayangi Naila dan membesarkannya seperti anaknya sendiri" ujar Reni.


Thalita hanya diam sambil memperhatikan cucunya bermain.


"Om dan Tante juga gak akan dilarang Mas Refan dan Mbak Kinan untuk menjenguk Naila" sambung Reni.

__ADS_1


Thalita menarik nafas panjang.


"Kami malu dengan Refan dan keluarga kalian. Anak kami sudah mengkhianati Refan samapai Naila lahir. Tapi Refan dan kalian semua masih menyayangi Naila dengan tulus dan juga menghormati kami. Keluarga kami sudah banyak bersalah kepada kalian. Tante dan Om tidak mungkin membiarkan mereka mengasuh cucu kami yang bukan siapa - siapa mereka. Lagian dari Naila kami banyak belajar, kami akhirnya bisa hidup seperti ini di sini semua demi Naila. Tante ikhlas meninggalkan semuanya..." Thalita menangis akhirnya.


Reni menyentuh lembut bahu Bu Renita.


"Om dan Tante sepakat hidup sederhana seperti ini disini dan fokus mengurus Naila berdua tanpa bantuan orang lain. Kami tidak ingin mengulang kesalahan kamu dimasa lalu. Kami juga memperbaiki hidup kami kembali, hubungan dengan Allah dan hidup dengan normal sebagai warga biasa di Labuhan Bajo ini. Di sini tidak ada yang mengenal siapa kami. Kami bisa hidup dengan tenang dan nyaman di sini. Warga di sini juga sangat baik dan para tetangga juga sering menolong kami" ungkap Reni.


"Alhamdulillah.. kalau Tante, Om dan Naila hidup tenang dan bahagia disini. Tapi kalau ada apa - apa dengan kalian seperti kata Mas Refan tadi jangan sungkan ya Tante kabari kami" sambut Reni.


"Iya Reni terimakasih" jawab Thalita.


"Yaaank.. yuk makan" panggil Bimo.


"Yuk Tante.. Mas Bimo udah panggil kita untuk makan. Ayo Naila sini Tante gendong" panggil Reni.


Naila berjalan menghampiri Reni dan langsung digendong. Mereka berjalan menuju tempat Bimo dan Pak Reno.


Ternyata makanan sudah tersaji di meja mereka. Mereka makan sambil berbincang - bincang.


"Jadi selama Om dan Tante tinggal di sini siapa yang urus perusahaan Om di Jakarta?" tanya Reni.


"Oh iya tolong rahasiakan keberadaab kami ya di sini. Hanya keluart dekat yang tau dimana kami tinggal. Jika Nak Bimo mengenal Arga Laksamana tolong jangan pernah ungkit masalah anak saya" pinta Pak Reno kepada Bimo.


"Tidak akan Pak, saya juga sudah lama tidak bertemu dengan dia lagi. Lagian apa hak saya bercerita tentang keluarga Bapak kepada dia. Dia juga pasti tidak akan pernah tau kalau kita saling kenal" sambut Bimo.


"Terimakasih Nak Bimo" jawab Pak Reno.


"Kalian berapa lama honeymoon disini?" tanya Bu Thalita.


"Sekitar seminggu Bu. Kami tidak bisa berlama - lama juga karena Mas Bimo masih ada pekerjaan yang tertunda di Jakarta" jawab Reni.


"Ini kartu nama saya Pak, Bu. Kalau bosan di rumah siapa tau mau cari suasana baru di hotel bawa Naila atau jalan - jalan dengan kapal pesiar tunjukkan saja kartu itu" Bimo mengerahkan kartu spesial untuk Pak Reno.


"Hahaha... kita dapat undangan Ma" sambut Pak Reno senang.


Bu Thalita ikut tersenyum menanggapi gurauan suaminya.


Akhirnya setelah selesai makan siang dan berbincang - bincang Pak Reno dan Bu Thalita pamit pulang. Naila juga tampaknya sangat ngantuk dan harus istirahat tidur siang.

__ADS_1


Kini hanya tinggal Reni dan Bimo berdua. Bimo membawa istrinya ke kamar pengantin mereka. Kamar yang sangat luas dengan pemandangan laut membentang luas.


Bimo dan Reni berdiri didepan dinding kaca yang sangat luas sambil berpelukan.


"Mas ini kamar utama?" tanya Reni.


"Ya... ada dua kamar yang seperti ini di sini" jawab Bimo sambil menghirup wangi parfum istrinya.


"Apakah kamar ini dulu kamu pernah kamu dan...?" tanya Reni terputus.


"Jangan pernah bertanya tentang suatu hal yang akan membuat hati kamu tersakiti sayang. Aku tidak tau harus bagaimana menjawabnya. Jujur ataupun bohong jawaban aku tetap kamu akan merasa sakit. Aku tau kemana tujuan pertanyaan kamu. Jangan pikirkan yang lain, cukup pikirkan tentang kita saat ini dan masa depan" potong Bimo.


"Pernikahan kita berbeda dengan pernikahan Refan dan Kinan. Kamu juga berbeda dengan Kinan sayang.. Aku sangat menyayangi kamu dan aku tidak ingin kamu tersakiti. Jangan pikirkan suatu hal yang sulit untuk diterima hati kamu. Pikirkan saja kebahagiaan kita. Kita sudah bahagia saat ini sayang, jangan kita kotori kebahagiaan kita ini dengan hal - hal yang sebenarnya sudah tidak penting lagi " sambung Bimo.


Reni terdiam sesaat. Ternyata suaminya tau kemana arah pertanyaannya. Bimo membalik tubuh Reni lembut, kini mereka berdiri saling berhadapan dan saling tatap.


"Aku menyayangi kamu. Kamulah sekarang hidup dan masa depanku, yakinkan hatimu.. " ungkap Bimo.


Reni menatap kedalam manik mata Bimo. Dia bisa merasakan cinta Bimo kepadanya yang begitu besar.


"Terimakasih Mas.. aku juga sangat mencintai Mas.." jawab Reni.


Bimo mengecup lembut bibir Reni.


"Hari ini kita wisata dikamar saja ya? Masih banyak tempat - tempat yang ingin Mas datangi" ujar Bimo dengan senyuman nakal.


Reni mencubit pinggang Bimo untuk menghilangkan groginya


"Maaas" ujar Reni malu.


"Hahaha.. cantiknya istriku yang masih malu - malu" goda Bimo.


"Maaaaas... " ucap Reni lagi.


Bimo membawa istrinya ke atas tempat tidur dan melakukan jelajah wisata diatas ranjang hanya berdua menikmati indahnya honeymoon mereka.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2