Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 277


__ADS_3

Refan menjadi diam saja sepanjang perjalanan pulang. Kinan mengerti dengan keadaan suaminya. Dia saja yang tidak mempunyai hubungan dengan Arga sangat kesal melihat sikap Arga.


Baru minggu lalu mereka bertemu gayanya sombong banget, seolah tidak ada yang terjadi antara dia dan Renita. Hari ini baru dia sadar karena istrinya sedang dalam bahaya. Astaghfirullah...


"Maaas.. " sapa Kinan lembut.


Refan tidak menanggapi.


"Maaas" Kinan menyenggol lengan suaminya.


"Eh.. ya sayaaang?" tanya Refan refleks.


"Bahaya lho nyetir kalau gak fokus" jawab Kinan.


"So.. sorry sayaaang" ujar Refan.


"Mas masih mikirin si Arga?" tanya Kinan.


"Iya yank. aku berfikir apa benar dia sudah bertaubat?" tanya Refan.


"Ya bisa saja Mas. Sangat mudah bagiag membulak balikkan hati" jawab Kinan.


"Tapi minggu lalu aja kita ketemu dia masih sombong banget" ujar Refan.


"Ya mungkin karena istrinya sedang dalam keadaan kritis Mas" jawab Kinan.


"Aku kok masih sulit percaya ya. Dengan kerasnya hatinya selama ini gak mungkin secepat itu dia berubah. Kecuali ada maksud tertentu" ungkap Refan.


"Maksud tertentu gimana Mas?" tanya Kinan penasaran.


"Ya siapa tau aja dia mau mengambil Naila" jawab Refan.


"Kalau benar begitu gimana?" tanya Kinan.


"Tidak.. tidak.. aku gak ikhlas. Dari pada sama dia mending diasuh Papa dan Mama. Atau bila perlu kita yang asuh. Dia juga gak punya hak kok yank. Hanya modal bibit doank. Secara agama nasab Naila adalah Mamanya sedangkan secara negara aku masih Papa kandung Naila" jawab Refan.


"Benar sih Mas tapi kalau dia punya niat baik kenapa nggak Mas. Demi kebahagiaan Naila. Biar Naila dapat kasih sayang utuh dari sebuah keluarga" sambut Kinan.


"Aku tetap gak mau. Kasihan Papa dan Mama, hanya tinggal Naila yang mereka punya sepeninggal RenitaRenita. Mereka juga sudah cukup memberikan kasih sayang kepada Naila" bantah Refan


"Tapi tetap saya dia Papanya Naila Mas" jawab Kinan.


"Aku Papanya Naila sampai kapanpun akan tetap menjadi Papa Naila. Lagian istrinya Arga belum tentu mau menerima Naila. Aku gak mau hidup Naila tersiksa" balas Refan.


"Nanti kan Mas bisa bicarakan dengan Om Reno Mas" ujar Kinan.


"Papa dan Mama pasti sama pemikirannya denganku. Dulu aja dia menghilang, setelah istrinya bahaya dan akan mengalami hal yang sama dengan Renita baru dia sadar atas kesalahannya. Kemana aja dia kemarin - kemarin?" tanya Refan emosi.

__ADS_1


"Maaas ada anak - anak" Kinan menyentuh bahunya dari belakang.


"Papa marah sama Om yang tadi kita ketemu di Rumah Sakit ya? Siapa Om itu, kenapa Papa dan Mama sebut - sebut Naila?" tanya Salman yang merasa bingung dengan pembicaraan orang tua nya yang sangat serius itu.


"Papa gak marah sayaang.. " potong Kinan menenangkan Salman.


Refan akhirnya diam saja sampai mereka tiba di rumah.


"Padahal rencananya tadi mau makan di luar tapi karena Mas marah - marah gak jadi deh" ujar Kinan saat dia mendorong kereta si Kembar.


"Maaf ya sayang aku masih emosi setia mengingat Arga" jawab Refan.


Bahkan sekarang kepalanya masih panas memikirkan pria itu. Dia harus segera melepaskan unek - unek di kepalanya.


"Yank, aku boleh keluar sebentar" ujar Refan.


"Mas mau kemana?" tanya Kinan.


"Mau ketemu teman - teman" jawab Refan.


"Oh.. tapi jangan malam banget ya pulangnya" pesan Kinan.


"Iya InsyaAllah gak sampai larut malam" balas Refan.


"Ya sudah, hati - hati ya Mas nyetirnya. Jangan melamun di jalan" ucap Kinan.


Refan kembali masuk ke mobil sedangkan Kinan menatap kepergian suaminya sampai jauh. Refan melajukan mobilnya menuju rumah Aril.


Barusan teman - temannya memberi kabar kalau mereka sedang berkumpul di apartemen Aril. Waktu yang pas, Refan ingin melepaskan penat di kepalanya akibat Arga.


Refan menjalankan mobilnya dengan kecepatan diatas rata - rata agar dia bisa segera sampai di apartemen Aril. Sekitar setengah jam Refan sudah sampai di rumah Aril. Dan ternyata semua teman - temannya sudah berkumpul kecuali Bimo.


"Kenapa wajah kamu kok serem amat?" sindir Aril.


Refan menghempaskan panta*nya di sofa apartemen Aril.


"Lagi berantem sama Kinan?" tanya Romi.


Refan menarik nafas panjang.


"Aku baru bertemu Arga" ujar Refan.


"Ha??? Ketemu lagi Fan?" tanya Riko terkejut.


"Ketemu la... gi? Berarti udah pernah ketemu sebelumnya?" tanya Bagus bingung.


"Seminggu yang lalu aku ke dokter kandungan sama Kinan. Ketemu di situ sama dia. Dia bawa istrinya lagi hamil besar" jawab Refan.

__ADS_1


"Terus kalian saling sapa?" tanya Aril.


"Dia mau jabat tangan aku tapi aku gak ladenin. Wajahnya sombong banget kayak gak ada masalah samaku" ungkap Refan.


"Gila ya" umpat Romi.


"Trus tadi gimana ceritanya?" tanya Riko penasaran.


"Aku dan Kinan lagi bawa si Kembar imunisasi lihat dia keluar dari mobil panik. Dokter dan perawat datang dan keluarin istrinya dari mobil dengan penuh darah" cerita Refan.


"Istrinya mau lahiran?" tanya Aril.


"Tenang dulu.. biar Refan cerita semuanya dulu" cegah Bagus.


"Istrinya jatuh dari kamar mandi, perut dan kepalanya terbentur" ungkap Refan.


"Innalillahi... " ujar Bagus dan teman - teman yang lain.


"Aku dan Kinan ya terus aja jalan ke praktek dokter anak - anak. Nah setelah selesai kami pulang melewati ruang operasi. Aku lihat dia dan dua orang tua setengah baya aku rasa mereka mertuanta Arga sedang duduk menunggu di depan ruang operasi dengan penuh kekhawatiran dan air mata. Begitu Arga melihat aku dia langsung berlari dan mengampiriku. Dia ingin menjabat tanganku tapi aku tepis" sambung Refan.


"Apa nasib kalian sama Fan? Dia juga kehilangan istrinya?" tanya Bagus.


"Dia bilang apa aja sama kamu Fan?" tanya Riko.


"Diam dulu, jangan tanya - tanya. Biar Refan cerita semuanya" kali ini Aril yang protes.


"Arga meminta maaf padaku dengan wajah yang sedih tapi aku yakin itu hanya sandiwara" ujar Refan.


"Sandiwara gimana? Kan dia emang benar lagi sedih karena istrinya sedang di ruang operasi. Jangan su'udzon Faaan" ucap Bagus mengingatkan.


"Aku bukan suudzon tapi feeling aku gak bisa aku hilangkan. Aku merasa semua itu palsu. Seminggu yang lalu mana kata maafnya. Tidak.. tidak.. bukan seminggu yang lalu tapi satu tahun lebih Renita sudah meninggal dan Naila lahir. Dia dimana? Hilang begitu saja seperti tidak ada sesuatu yang terjadi. Semua itu kan karena ulahnya. Naila itu anak kandungnya? Apa dia gak kecarian selama ini? Gak ngerasa punya benih di perut istri orang lain?" ucap Refan kesal.


"Sabar Fan.. " sambut Riko.


"Kepalaku rasanya mau pecah. Pengen banget aku meninju wajahnya tadi tapi saat itu di Rumah Sakit, suasanya tidak mendukung dan banyak orang. Termasuk istri dan anak - anakku" sambung Refan sangat sekal.


"Apa tujuan dia ya? Apa dia ingin meminta Naila pada kamu?" tanya Bagus.


Sontak semua menatap Bagus dengan pikiran mereka masing - masing.


.


.


BERSAMBUNG


Aku udah up dari pagi tapi belum masuk juga 😭😭

__ADS_1


__ADS_2