
Refan melihat panggilan di teleponnya dari nomor yang tidak dikenal.
"Mas ada telepon" ucap Kinan mengingatkan.
"Biar saja, aku tidak mengenal nomornya" jawab Refan.
Tapi teleponnya terus berdering.
"Angkat saja Mas siapa tau ada berita penting" perintah Kinan.
Refan akhirnya menerima panggilan itu walau dengan berat hati.
"Halo" ucap Refan memulai pembicaraan.
"Halo Pak.. Maaf apakah saya berbicara dengan Bapak Refan?" tanya suara seorang pria dari seberang.
"Ya, saya Refan. Siapa ini?" tanya Refan balik.
"Maaf Pak kami dari Rutan XXX ingin mengabarkan kepada Bapak bahwa saat ini Bapak Arga Laksamana sedang sakit. Kondisinya sangat memprihatinkan. Beliau meminta tolong kepada kami untuk menghubungi Bapak dan meminta Bapak untuk datang menjenguk beliau. Saat ini beliau sedang di rawat intensif di RS. XXX" ungkap pria tersebut.
Refan sangat terkejut dan tidak mau menerima. Apa hubungan mereka sampai Arga meminta dia untuk menjenguknya di rumah sakit.
"Saya tidak ada hubungan dengan beliau. Apapun yang terjadi dengannya saya tidak perduli. Dia bukan siapa - siapa saya" tolak Refan.
"Tapi beliau sangat ingin bertemu dengan Bapak" ucap pria itu lagi.
"Itu bukan urusan saya dan saya tidak perduli" tegas Refan.
"Baiklah Pak yang penting pesan beliau sudah kami sampaikan kepada Bapak. Mohon di pertimbangkan kembali keputusan Bapak. Selamat siang" ucap pria di seberang.
"Siang" tutup Refan dengan nada emosi. Kinan merasa ada yang tidak beres dengan suaminya dan merasa sangat penasaran.
"Siapa Mas?" tanya Kinan ingin tau.
"Dari penjara" jawab Refan.
"Penjara? Penjara gimana maksud Mas?" tanya Kinan bingung.
__ADS_1
"Dari Rutan XXX tempat Arga di tahan. Mereka mengatakan kalau Arga saat ini sedang sakit dan kondisinya tidak baik. Dia meminta untuk bertemu denganku" ungkap Refan.
"Pasti ada yang ingin dia sampaikan pada Mas, hal yang sangat penting" ujar Kinan.
"Apa lagi? Masalah dengannya sudah selesai. Aku tidak mau berhubungan lagi dengannya" ucap Refan.
"Belum Mas, masalah kita dengan dia tidak akan pernah selesai. Ingat Naila itu adalah anaknya, darah dagingnya. Walau anak yang lahir di luar pernikahan tapi darah yang mengalir di tubuh Naila adalah darah Arga. Kita tidak bisa mengabaikan hal itu" ungkap Kinan mengingatkan.
Refan menarik nafas panjang.
"Mas kamu lihat dia di rumah sakit ya... siapa tau memang ada yang ingin dia sampaikan" bujuk Kinan.
Refan menatap lembut ke wajah istrinya.
Kamu memang baik sekali sayang.. dulu pada orang yang sudah membunuh almarhum suami kamu, kamu juga bisa memaafkannya. Kamu menerima Naila dengan kelapangan hati dan penuh cinta padahal dia bukan siapa - siapa kamu dan sekarang kamu malah membujukku untuk berdamai dengan pria yang sudah mengelabuiku selama bertahun-tahun. Apa aku bisa juga punya hati yang seluas hati kamu untuk memaafkan? Batin Refan.
"Maaaas... setidaknya coba dulu kamu lihat dia di Rumah Sakit, bagaimana keadaannya. Setelah itu akhirnya tidak akan memaksa kamu untuk bertemu atau menolaknya" bujuk Kinan lagi.
Mungkin tidak ada salahnya kalau aku mencoba saran Kinan. Sepertinya hidup dengan hati sepert Kinan membuat hidup lebih rongant, nyaman dan lebih bahagia. Aku ingin punya hati seperti itu. Putus Refan
Refan kembali menarik nafas panjang.
Kinan menggenggam lembut tangan suaminya dan tersenyum penuh kasih sayang.
"Alhamdulillah.. semoga ada hal baik yang terjadi di sana ya Mas. Bagaimanapun Arga akan mempertanggung jawabkan perbuatannya di dunia dan akhirat. Mungkin permintaannya ini untuk melapangkan jalannya menuju akhirat. Atau mungkin meringankan sakitnya dan dia bisa sembuh dan semangat hidup lagi" sambut Kinan.
"Semoga benar adanya seperti yang kamu harapkan sayang" balas Refan.
*******
Keesokan harinya Refan menjalankan keputusannya kemarin untuk bertemu dengan Arga. Sebelum pergi ke kantor Refan singgah terlebih dahulu ke Rumah Sakit tempat Arga di rawat.
Refan menanyakan kepada bagian informasi dimana kamar tempat Arga di rawat dan dia mendapatkannya. Pelan - pelan Refan berjalan menuju kamar itu.
Ada seorang perawat yang baru saja keluar dari kamar rawat inap Arga sehingga pintu kamarnya tidak tertutup rapat. Refan bisa melihat dari luar kamar bagaimana keadaan Arga di dalam sana.
Alangkah terkejutnya Refan ketika melihat tubuh Arga yang sangat kurus bahkan Refan hampir saja tidak mengenalinya.
__ADS_1
Wajah Arga sangat pucat dengan tubuh yang kurus dan lemah. Tidak terlihat lagi kegagahan yang selama ini sangat dia banggakan.
Refan mendekat ke pintu. Entah dorongan dari mana, tanpa sadar Refan membuka pintu itu dan masuk ke dalam.
"Naila... kamu kah yang datang naaak.... Naila maafkan papa... " ucap Arga meracau.
"Assalamu'alaikum... " ucap Refan.
Mata Arga terbuka lebar begitu melihat siapa orang yang datang melihatnya.
"Wa... wa' alai kum sa lam.. " jawab Arga terbata - bata.
"Re... fan... ma.. na.. Nai.. la.. a nak.. ku..?" tanya Arga langsung.
"Maaf Ga aku tidak membawanya" jawab Refan.
Entah mengapa ada rasa bersalah dari hati Refan karena tidak membawa Naila saat ini.
"Faaan... ma.. af.. kan.. a.. ku.. A.. ku sa ngat ber sa lah pa da ka mu. To long Faaaaan.. a ku i ngin se ka li ber te mu de ngan Nai laaaa. Mung kin un tuk yang ter akhir kali nya.. A ku tau wak tu ku ti dak la ma la gi. To long Faaaaan" pinta Arga dengan sangat sulit.
Refan merasa iba dan kasihan melihat keadaan Arga seperti ini.
"Mengapa kamu jadi seperti ini Ga? Apa yang terjadi dengan kamu?" tanya Refan.
"A ku ma nu sia pe nuh do sa. A ku ta u Allah meng hu kum ku ka re na se mua do sa - do sa ku. A ku men de ri ta kan ker ha ti Fan. Dan u mur ku ti dak a kan la ma la gi. Ber syu kur Allah ma sih ka sih a ku ke sem pa tan un tuk ber te mu ka mu. Mung kin ka mu pu nya ke baik kan ha ti. Un tuk mem ba wa Nai la ke si ni. A ku i ngin se ka li me me luk a nak ku, men cium nya. To long Fan, a ku i ngin ber te mu Nai la" walau dengan sangat sulit Arga mencoba memohon kepada Refan.
Refan merasa begitu jahat jika tidak mengabulkan permintaan Arga. Melihat kondisinya yang memang sangat parah, rasanya sangat jahat sekali jika tidak mengabulkan permintaan terakhir Arga.
"Baiklah Ga.. aku akan datang lagi besok membawa Naila ke sini untuk bertemu kamu. Aku harap kamu bisa bersabar menunggunya" jawab Refan.
"Al ham du lil laaaah.. a ku a kan ber sa bar Faaaan" jawab Arga.
Air mata keluar dari kedua sudut matanya dan mengalir mengenai bantal.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG