
Sudah hampir satu minggu Naila tinggal dirumah Opa kandungnya. Selama ini seluruh keluarganya selalu datang berganti membawakannya makanan atau barang - barang yang Naila suka.
Mereka memberikan perhatian dari jauh tanpa sedikitpun mengganggu Naila yang sedang ingin menyendiri memikirkan nasib dan masa depannya.
Hatinya selalu menghangat setiap kali dia mendapatkan laporan dari Bik Mar kalau Mama, Kakak dan adik - adiknya sering datang walau terkadang hanya sekedar mengecek keadaannya.
Tapi selama ini Papanya yang tidak pernah datang berkunjung. Membuat hati Naila bertanya - tanya mengapa Papanya tidak pernah datang ke rumah ini.
Padahal Papanya sangat sering menanyakan kabarnya lewat kirim pesan ke ponselnya. Tapi sekalipun Bik Mar tak pernah menceritakan kalau Papanya itu datang.
Entah mengapa tiba - tiba Naila ingin sekali berjalan - jalan keliling rumah ini. Naila berjalan ke semua sisi rumah ini, tak ada yang dia lewatkan.
Hingga terakhir Naila berhenti di sebuah kamar dan dia membuka pintu kamar itu. Naila masuk ke dalam dan saat dia sudah berada di dalam barulah dia tau kamar siapa yang dia masuki saat ini.
Naila banyak melihat foto - foto mesra Papanya dan seorang wanita yang mirip dengannya. Itu pasti Mamanya, selama ini Naila hanya tau makam Mamanya. Refan tak pernah memperlihatkan foto Mamanya dan Naila juga tidak pernah mau tau selama ini.
Naila mendekati bingkai - bingkai foto yang tersusun di dinding kamar. Beberapa foto ada yang tersusun rapi diatas nakas tempat tidur.
Foto Refan dan Renita saat dibangku SMU, foto mereka saat kuliah. Ada juga foto mereka ramai - ramai bersama para sahabat Refan. Foto mereka menikah dan foto - foto Renita saat hamil.
Naila meraih sebuah foto Renita yang sedang sendiri. Foto saat Renita sedang hamil memakai baju hamil tanpa lengan dan tersenyum sangat cantik. Naila mengelusnya perlahan.
__ADS_1
"Mama.... " ucap Naila.
Cekleeeek...
Terdengar suara pintu dibuka, Naila melirik ke arah suara dan dia melihat Refan sedang berada di depan pintu. Kemudian dia berjalan masuk ke dalam kamar.
"Ini adalah kamar Mama kamu sayang.. Dulu setiap kami menginap di rumah ini, Papa dan Mama kamu selalu tidur di kamar ini. Di kamar ini sangat banyak bukti - bukti yang menyimpan kenangan kami berdua" ucap Refan mendekati Naila.
Refan duduk di pinggir tempat tidur.
"Wajahku sangat mirip Mama ya Pa?" tanya Naila
Refan tersenyum lembut.
Naila ikut duduk disamping Refan.
"Apa Papa tidak pernah merasa sakit atau marah saat melihat aku?" tanya Naila.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu sayang?" Refan balik bertanya.
"Wajahku mirip Mama banget, setiap Papa lihat wajah aku pasti Papa akan ingat Mama dan ingat semua perbuatannya yang sudah menyakiti Papa" jawab Naila.
__ADS_1
Air matanya mulai mengalir dipipinya. Jangan tanya bagaimana rasa sayang Naila kepada Papanya, sehingga saat ini dia pasti sangat mengerti bagaimana perasaan Papanya yang sudah di khianati. Walau wanita itu adalah Mama kandungnya sendiri dan Refan bukanlah siapa - siapa tapi hati kecil Naila hanya memihak kepada Refan.
Refan mengelus lembut puncak kepala putrinya itu.
"Papa tidak pernah marah setiap melihat wajah kamu sayang.. karena setelah Papa mengetahui kebenarannya dan Papa berjuang untuk memaafkan perbuatan Mama kamu. Papa tidak seratus persen menyalahkan Mama kamu. Tidak akan ada asap kalau tidak ada api. Papa juga pasti punya salah. Mungkin Mama kamu punya alasan mengapa dia mengkhianati Papa. Papa hanya manusia biasa yang tak luput dari khilaf dan salah, Papa bukan manusia sempurna dan Papa masih punya banyak kekurangan yang tidak bisa memenuhi keinginan Mama kamu. Kekurangan Papa itu akhirnya dia dapatkan dari pria lain yang ternyata adalah Papa kandung kamu. Kesalahan mereka, mereka melakukan sebuah hubungan disaat mereka sama - sama masih berstatus berumah tangga. Bukan sebagai manusia bebas dan mereka tergelincir pada perbuatan dosa hingga kamu lahir. Tapi hanya perbuatan mereka yang mengandung dosa, kamu tetap lahir menjadi anak yang suci. Empat tahun menikah dengan Mama kamu Papa sangat mengharapkan seorang anak jadi begitu Mama kamu hamil Papa sudah sangat menyayangi kamu sayang. Papa sudah mencintai kamu sejak kamu ada di dalam perut Mama kamu. Saat - saat itu sangat indah, Papa tidak bisa menghapus semua kenangan itu. Tidak semuanya pahit. Lebih sepuluh tahun Papa mengenal Mama kamu dan berhubungan dengannya, salah kalau Papa bilang Papa tidak bahagia. Papa sangat bahagia karena dulu Papa sangat mencintai Mama kamu. Dia cinta pertama Papa, wanita yang sangat Papa sayangi sampai Papa harus melawan orang tua Papa untuk menolak perjodohan Papa dengan Mama Kinan. Marah, kecewa dan sakit hati karena di khianati itu pasti ada karena Papa punya perasaan. Tapi luka hati Papa bisa sembuh semua berkat Mama Kinan yang selalu ada di sisi Papa menemani Papa menjalani masa - masa sulit dalam hidup Papa. Mama Kinan mengajarkan Papa untuk memaafkan dan merelakan, ikhlas dengan rencana Allah. Papa juga mengambil hikmah dari semua permasalahan yang Papa jalani dulu. Hingga akhirnya Papa bisa menemukan kebahagian yang lain bersama kalian semua anak - anak Papa. Papa harap kamu berhenti merasa bersalah kepada Papa. Percayalah Papa sangat menyayangi kamu sayang, luka Papa akibat kesalahan Mama kamu sudah sembuh. Tidak ada lagi kaitannya dengan kamu. Kamu anak yang lahir penuh kebebasan. Papa sudah melepaskan semua beban yang akan menjerat kamu. Papa sudah menutup semua akses yang mungkin akan membongkar masa lalu kamu. Hiduplah dengan tenang sayang seperti sebelumnya. Jangan pernah merasa kecil hati atau merasa asing dan sendiri. Jadikan kisah hidup Papa, Mama kamu dan Mama Kinan sebagai pelajaran hidup. Bahwa dalam hidup ini kita mempunyai norma - norma dan hukum Allah yang tidak boleh kita langgar. Kalau tergelincir segeralah bangkit dan memohon ampunan Allah jangan malah terlena atas dosa. Sudah hampir satu minggu kamu disini menenangkan diri, Papa rasa sudah cukup waktu untuk kamu berpikir. Kembalilah ke rumah Nak, kami sangat merindukan kehadiran kamu. Kita adalah satu keluarga, tak lengkap rasanya tanpa kehadiran kamu " ungkap Refan bijaksana.
Naila menghapus air matanya dan menatap dalam ke arah mata Refan. Ada kasih sayang yang tulus disana dan sedikitpun Naila tidak menemukan kebencian di sana.
Naila segera memeluk erat tubuh Refan. Walau dia tau ada batas yang harus dijaga antara dia dan Refan karena mereka tidak mempunyai hubungan darah tapi rasa sayang yang membuatnya berani melanggar semua itu.
Refan juga tak kuasa menolaknya. Dia sudah menganggap Naila sebagai anak kandungnya sendiri. Tidak ada rasa apapun juga dalam hatinya. Semua murni rasa sayang seorang Papa pada anaknya.
"Terimakasih Pa.. Papa sudah memaafkan Mama, terimakasih Papa sudah membesarkanku dengan penuh kasih sayang dan terimakasih Papa sudah menjemput aku ke sini. Aku akan pulang bersama Papa ke rumah. Maafkan kalau perbuatan aku yang lalu membuat Papa kecewa" ungkap Naila merasa bersalah.
"Tidak sayang.. Papa tidak kecewa kepada kamu. Justru Papa sangat bangga kamu tumbuh menjadi gadis yang kuat. Memang pasti akan sulit menerima kenyataan hidup kamu tapi Papa bangga kamu bisa melewatinya. Sekarang kemasi barang - barang kamu. Bilang juga pada Bik Mar, kita pulang sore ini ke rumah" ujar Refan.
"Iya Pa" jawab Naila.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG