
Selama di perjalanan pulang Kinan lebih banyak diam. Dia kembali memikirkan siapa yang tadi dia lihat di parkiran Restoran. Walau samar - samar dan cahayanya juga kurang terang tapi rasanya dia benar - benar melihat Bima suaminya.
Mengapa pria itu mirip sekali dengan Mas Bima? Apakah mereka memang mirip? Tapi aku benar - benar seperti melihat Mas Bima tadi. Dan ini bukan pertama kali, ini sudah yang kedua kalinya.
Kinan teringat saat mereka baru tiba di Bandara kemarin siang dia juga sempat melihat orang yang sangat mirip Bima sebelum Kinan jatuh pingsan.
Ada apa dengan diriku? Apakah itu nyata atau hanya halusinasiku saja? Mas Bima kan sudah meninggal, mengapa dua hari ini aku seperti melihat wajahnya? tanya Kinan dalam hati.
Kinan menatap ke luar dari jendela mobil. Refan melihat Kinan diam saja dari tadi. Dia melirik dan bertanya kepada Kinan.
"Nan... " panggil Refan.
Kinan tidak menjawab, dia masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Sayaaaang... " panggil Refan lagi, kali ini lebih kuat tapi tetap dengan nada yang masih lembut.
"Eeh.. apa Mas? Mas tanya sesuatu?" tanya Kinan.
"Kamu kok melamun?" tanya Refan.
"Ha.. a.. aku hanya kekenyangan dan ngantuk Mas" jawab Kinan.
"Ya sudah, kalau ngantuk bobok aja. Nanti kalau sudah sampai rumah aku bangunin. Atau kalau kamu gak mau bangun aku gendong aja dan langsung aku bawa ke kamar" ujar Refan sambil membelai lembut kepala istrinya.
Kinan hanya membalasnya dengan senyuman. Lalu menyandarkan kepalanya ke kursi dan memejamkan matanya.
Mas Bima.. apakah kamu senang dengan keadaan aku sekarang? Apakah kamu ingin memberi kabar gembira untukku bahwa aku saat ini sedang mengandung? Aku sangat bahagia sekali Mas tapi bukan berarti aku melupakan kamu. Kamu tetap mempunyai tempat di sisi hatiku sampai kapanpun aku tidak pernah bisa melupakan kamu. Karena kamu telah mengajariku mencintai dengan tulus. Mencintai karena Allah. Kamu yang membuat aku menjadi wanita kuat, tegar dan mandiri seperti saat ini. Tangis Kinan dalam hati.
Tanpa sadar air mata Kinan menetes dari sudut matanya.
Sekitar tiga puluh menit kemudian mereka sudah sampai di rumah Refan. Dengan penuh kelembutan Kinan membangunkan Kinan.
"Yaaank.. Kinaaaa... Kinan sayaaaang... " panggil Refan sambil membelai mesra pipi Kinan.
"Naaan... " panggil Refan lagi.
"Ya Maaaas" jawab Kinan dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
"Sudah sampai di rumah, yuk turun. Mau turun sendiri atau mau aku gendong?" tanya Refan menawarkan.
"Turun sendiri aja Mas, malu sama Salman" jawab Kinan.
__ADS_1
Refan tersenyum mendengar jawaban istrinya. Semanja - manjanya Kinan hanya Refan yang tau. Dia tidak mau memperlihatkannya pada orang lain termasuk anaknya.
"Ya sudah yuk kita turun" ajak Refan.
Refan membantu Kinan turun dari mobil dan menuntunnya masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum" ucap Refan dan Kinan ketika memasuki rumah.
"Wa'alaiakumsalam" sambut Suci, Dhisti dan Ardianto.
"Sudah selesai dari dokternya? Kok lama? Dokter bilang apa?" tanya Suci tak sabar.
"Satu - satu donk Ma nanyanya" jawab Refan.
Refan membantu Kinan duduk di atas sofa.
"Salman mana Ma?" tanya Kinan.
"Salman sudah tidur" jawab Dhisti
"Gimana hasil pemeriksaaannya?" tanya Suci lagi.
"Apa? Anak kalian kembar?" tanya Suci dan Dhisti.
Kinan menjawabnya dengan senyuman.
"Iya Ma, alhamdulillah... " jawab Refan.
"Alhamdulillah... " sambut Ardianto, Dhisti dan Suci.
"Waaah Salman dapat adek langsung dua sekaligus" ucap Ardianto.
"Iya Pak, alhamdulillah.. aku senang sekali" jawab Refan sambil menggenggam tangan Kinan.
"Kalu begitu mulai sekarang Kinan gak boleh lagi masak di dapur ya.. biar Mama aja. Selama kamu hamil Mama akan tinggal di rumah kalian" ujar Suci.
"Syukurlah kalau kamu bisa tinggal di sini Ci" sambut Dhisti.
"Kamu gak ikutan juga Dhis?" tangan Suci.
"Kami gak bisa terus tinggal di sini, paling - paling sesekali nginap di sini saat weekend. Mas Ardi gak betah kalau lama - lama tinggal di rumah orang" jawab Dhisti.
__ADS_1
"Rumah kami kan rumah Papa juga, pintu kami selalu terbuka untuk Papa dan Mama semua. Anggap saja rumah ini adalah rumah kalian juga" ujar Refan.
"Nanti kalau kalian sudah tua pasti bisa merasakan. Seenak - enaknya di rumah orang lain lebih enak tinggal di rumah sendiri. Rasanya banyak yang bisa Papa kerjakan kalau di rumah. Kalau di sini Papa lebih banyak bengong" jawab Ardianto.
"Ya sudah Pa kalau begitu tapi kapan pun kalian mau tidur di sini silahkan saja, jangan sungkan" balas Refan.
"Makasih ya Ma udah mau temani kami di sini" ujar Kinan kepada mertuanya.
"Iya gak apa - apa Nan. Mama mikirnya Refan nanti mabuk darat, kalau mau minta apa - apa kan susah. Mending Mama di sini aja deh sekalian jaga kalian semua di rumah" ujar Suci.
"Aku jadi lega Ci kalau ada kamu di sini" sambut Dhisti.
"Aku ke kamar Salman dulu ya Ma.. Mau lihat dia tidur" Kinan pamit.
"Iya Nan" jawab Suci dan Dhisti.
Kinan berjalan menuju kamar Salman. Membuka kamarnya dan melihat Salman sudah tidur dengan nyenyak. Kinan mendekati putranya lalu membelai lembut kepala Salman.
Setelah itu Kinan mencium pipi dan kening Salman. Tiba - tiba Salman tersenyum dalam tidurnya kemudian berkata.
"Heheheh Papa.. Dah.. Papa... " ujar Salman masih dengan mata terpejam.
Dia tertawa setelau itu tersenyum.. Wajahnya terlihat sangat bahagia. Kinan membelai rambut Salman.
"Kamu mimpi ketemu Papa ya sayang... kamu kangen Papa? Besok kita ke makam Papa yuk.. Mama juga kangen sama Papa. Sudah lama gak ziarah ke makam Papa" ujar Kinan dengan nada sedih.
Air mata Kinan kembali menetes, ternyata bukan hanya dia yang kangen sama Bima. Salman juga merasakan hal yang sama. Apakah dia bersalah merasakan ini semua? Kinan tidak ingin mengkhianati suaminya tapi perasaan ini tak bisa dibendung. Rasanya hari ini dia kangen sekali sama almarhum suaminya Bima.
Tanpa Kinan sadari ternyata Refan sudah ada di belakang Kinan. Dia berdiri kaku dan menyaksikan kejadian itu. Refan terdiam dan tak bisa berkata apapun.
Haruskah aku cemburu pada orang yang sudah meninggal? Apakah kamu tidak bahagia menikah denganku Nan? Aku tau dulu kamu terpaksa menikah denganku. Tapi aku pikir seiring berjalannya waktu kamu bisa menerimaku. Apakah kamu tau Nan, saat ini aku sangat mencintai kamu. Aku tidak bisa lagi hidup tanpa kamu. Tidak bisa Nan.. kamu adalah hidupku. Tanpa kamu, hampa semua terasa.. Kamu sedang mengandung anakku Nan, anak kita berdua. Benih cinta tulus suciku yang kutitipkan di rahimmu. Ya Allah jadikanlah titipan MU itu sebagai penguat dalam rumah tangga kami. Aamiin.
Refan tak ingin Kinan mengetahui keberadaannya di kamar itu. Biarlah untuk malam ini Kinan menikmati waktu bersama putranya untuk bernostalgia pada kenangan almarhum suaminya.
Refan segera meninggalkan kamar Salman dan kembali ke kamarnya.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1