
"Apakah Bima dan Bimo sebelumnya selama ini sering bertengkar?" tanya Refan kepada Bapak Almarhum Bima.
"Mengapa Nak Refan bertanya begitu?" tanya Pak Akarsana.
"Maaf Pak, saya hanya ingin tau kebiasaan mereka. Sekaligus ingin menghubungkan dengan masalah yang ada saat ini. Apakah ada hubungannya dengan kisah di balik kematian Bima" jawab Refan.
Pak Akarsana mengerti dengan pertanyaan yang dilontarkan Refan kepadanya.
"Mereka hanya bertengkar biasa selama ini kayaknya pertengkaran seorang saudara. Apalagi mereka adalah saudara kembar. Saat kecil mereka sering bertengkar memperebutkan mainan dan juga makanan. Tapi semakin mereka tumbuh besar sudah tidak lagi. Apalagi hobby keduanya berbeda. Jadi mereka tidak saling berebutan sesuatu barang yang kami belikan untuk mereka. Bima dengan bolanya sedangkan Bimo dengan alat musiknya. Mereka juga saling dukung untuk melakukan sesuatu yang berprestasi. Saat SMU Bimo ikut Band di sekolahnya sedangkan Bima sibuk belajar untuk mempersiapkan kuliahnya. Mereka juga saling menyayangi dan melindungi. Saat Bimo melakukan kesalahan sebenarnya Bima sudah mengingatkan lebih dahulu, jangan sampai Bapak mengetahui keadaannya yang sudah berpacaran dengan wanita non muslim. Bima juga menutupinya dari Bapak, agar Bapak tidak tau dan berharap apa yang dilakukan Bimo hanya cinta remaja saja. Tetapi ternyata Bimo serius mencintai wanita itu hingga akhirnya ingin menikahi wanita itu. Pada saat Bapak marah dan mengusir Bimo dari rumah, Bima juga membelanya mati - matian. Tapi keputusan Bapak sudah bulat karena Bimo juga tidak mau mendengarkan nasehat Bapak lagi. Hati Bapak sangat sakit saat itu, Bapak merasa gagal mendidik anak padahal sedari kecil Bapak sudah menanamkan ilmu agama kepada mereka. Bapak tidak menyangka kalau Bimo akan bertindak seperti itu" ungkap Pak Akarsana sedih.
Refan mendengarkan semua penjelasan Pak Akarsana dengan serius tak ingin ada yang terlewatkan.
"Jadi Pak, maaf kalau saya terkesan ikut campur. Dalam kasus ini apakah bisa dibilang Bimo serius atau ada sesuatu dibalik semua ini?" tanya Aril.
Pak Akarsana tampak menarik nafas panjang.
"Bimo yang dulu Bapak kenal sebenarnya sangat sayang dan melindungi keluarganya. Sedari kecil Bapak selalu tanamkan kepada anak - anak Bapak rasa saling sayang menyayangi diantar mereka bersaudara. Bimo dan Bima juga sangat menyayangi Bela. Mereka sangat memanjakan Bela. Hanya satu saja kesalahan Bimo, dia mencintai wanita itu sangat dalam sehingga tidak bisa pindah ke lain hati atau melupakannya. Menurut Bapak apa yang Bimo katakan bisa kita percayai. Mungkin memang ada sesuatu di balik kematian Bima. Tapi lebih baik kita menilainya setelah kita bertemu dengan Bimo saja. Sudah lama kan berlalu waktu kita tidak tau apakah sepuluh tahun ini bisa merubah sifat Bimo. Bapak juga tidak bisa menjamin kau Bimo masih seperti dulu" jawab Pak Akarsana panjang.
"Kalau begitu saya akan atur pertemuan Bimo dengan Bapak ya" ucap Refan.
"Jangan... jangan bilang dia akan bertemu dengan saya. Dia ingin bertemu dengan Salman kan? Atur saja pertemuannya dengan Salman. Nanti Bapak akan perhatikan gimana reaksi dia bertemu dengan Salman setelah itu baru Bapak masuk" ungkap Pak Akarsana.
"Baik Pak, kalau begitu saya akan kabari Bimo mengenai pertemuannya dengan Salman kemudian susun rencana dan jadwalnya kapan" balas Refan.
"Maaaas ngobrolnya sambung nanti sore aja. Biar Bapak dan Ibu istirahat" ujar Kinan.
"Eh iya ya jadi keterusan. Silahkan Pak, Bu istirahat dulu. Nanti kita sambung lagi pembicaraan kita" sambut Refan.
"Yank tunjukkan kamar untuk Bapak dan Ibu" perintah Refan.
__ADS_1
Kinan langsung berdiri. Pak Akarsana dan istrinya melihat interaksi antara Refan dan Kinan. Mereka senang melihat Kinan juga hidup bahagia bersama suami barunya. Mereka sudah menganggap Kinan sebagai putri mereka sendiri sejak menikah dengan Bima.
Kinan menantu yang sangat baik, sopan dan pintar. Kinan juga istri solehah. Selama menikah dengan Bima mereka melihat Kinan merawat putra mereka dengan baik. Kinan juga patuh kepada Bima dan yang terpenting Bima sangat bahagian menikah dengan Kinan.
Setelah Bima meninggal perhatian Kinan tidak berubah, dia tetap berhubungan baik dengan mereka. Bahkan saat Kinan ingin menikah lagi, dia meminta izin kepada Bapak dan Ibu almarhum Bima. Padahal itu adalah hak Kinan sepenuhnya karena itu adalah hidup Kinan.
Mereka tidak punya hak untuk melarang dan mengatur hidup Kinan karena putra mereka sudah meninggal. Kinan selalu menolak kalau Bapak dan Ibu Akarsana ingin mengirimkan uang untuk Salman. Dengan alasan dia juga bekerja, gajinya sudah cukup untuk hidupnya dan juga Salman.
"Yuk Pak, Bu saya antar ke kamar kalian" ajak Kinan.
"Dek Dhisti kami pamit istirahat dulu ya" sambut Mama Almarhum Bima.
"Iya Mbak Yu, silahkan. Jangan sungkan ya, anggap saja di rumah sendiri" jawab Bu Dhisti.
"Iya" balas Ibu Akarsana.
Ibu Akarsana menarik tangan Kinan untuk duduk di pinggiran tempat tidur.
"Ada apa Bu?" tanya Kinan.
"Kelihatannya rumah tangga kamu dan Nak Refan sangat bahagia" ucap Bu Akarsana lemah lembut.
Kinan membalasnya dengan senyuman.
"Dia memperlakukan kamu dan Salman dengan baik?" selidik Pak Akarsana.
"Awal pernikahan tidak begitu Pak, dia kan masih terluka karena kematian istrinya di tambah lagi kami menikah karena di jodohkan jadi butuh waktu untuk adaptasi. Tapi kalau kepada Salman dia sangat sayang, karna Mas Refan menyukai anak - anak. Menikah lima tahun dengan istrinya tapi mereka belum juga dikaruniai keturunan. Tetapi sering berjalannya waktu Mas Refan berubah dan seperti yang Bapak dan Ibu lihat tadi bagaimana Mas Refan bersikap padaku" ungkap Kinan.
"Istrinya meninggal karena apa Nduk?" tanya Mama Bima.
__ADS_1
"Melahirkan Bu" jawab Kinan.
"Lho melahirkan? Tapi tadi kamu bilang dia gak punya anak selama menikah?" tanya Mama Bima.
Kinan tersenyum mendengar pertanyaan mantan mertuanya.
"Istrinya melahirkan anak dari pria lain Bu. saat kami menikah Mas Refan belum tau kalau istrinya selingkuh. Alasan aku mau menikah dengan Mas Refan ya karena putrinya Bu. Aku kasihan melihat bayi dua bulan tanpa Ibu. Jadi aku merima lamaran Mamanya tapi setelah beberapa bulan kami menikah kami mengetahui kalau anak itu bukannya anaknya Mas Refan. Dan sekarang anak itu sudah di asuh oleh neneknya Bu" ungkap Kinan.
"Ya Tuhan malang sekali nasib Refan. Dia tau di khianati istrinya setelah istrinya meninggal?" tanya Bu Akarsana.
"Ya begitu lah Bu" jawab Kinan.
"Sudah Bu.. orangnya sudah meninggal kita gak perlu menceritakan keburukannya" ujar Pak Akarsana.
"Maaf Pak, aku tadi tidak berniat seperti itu" ucap Kinan.
"Pantas saja ya dia sangat menyayangi kamu dan Salman. Dia memang terlihat sangat menyayangi anak - anak. Apalagi kamu sedang hamil anak kembar pasti dia sangat protek kepada kamu" sambut Bu Akarsana.
Kinan tersenyum mendengar ucapan mantan mertuanya.
"Ya sudah Pak, Bu istirahat ya.. aku keluar dulu mau tunjukin kamar Bela" ujar Kinan pamit.
Kinan keluar dari kamar tamu dan kembali ke ruang keluarga dimana semua keluarganya berkumpul.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1