Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 345


__ADS_3

Refan dan Febri berjalan menuju kamar Naila.


Tok.. tok.. tok...


"Sayaaang boleh Papa masuk" ucap Refan depan pintu kamar Naila.


"Sebentar Pa" jawab Naila dari dalam.


Tak lama kemudian pintu kamar Naila terbuka.


"Masuk Pa" Naila sudah memakai jilbabnya.


Refan masuk ke kamar dan dibelakangnya ada Febri. Naila terkejut melihat siapa wanita yang bersama Papanya karena dia kira Mamanya yang ikut bersama Papanya.


"Yuk Feb, silahkan masuk" ajak Refan.


"Pa... " ucap Naila.


"Sayaaang ada yang ingin Papa dan Tante Febri ceritakan dengan kamu" ujar Refan.


Naila duduk di atas tempat tidur, disampingnya Febri duduk dan Refan duduk di kursi meja rias Naila. Naila diam dan menunggu Refan untuk memulai pembicaraan mereka.


"Silahkan Febri.. kamu yang bicara duluan" Refan mempersilahkan Febri untuk memulai pembicaraan mereka.


Febri menarik nafasnya panjang dan mulai berbicara.


"Naila... Tante benar - benar minta maaf sudah lancang menceritakan kisah Papa kamu yang belum kamu ketahui. Sehingga kamu sangat terkejut dan terluka akan hal itu" ucap Febri benar - benar tulus dan merasa bersalah.

__ADS_1


Naila hanya tertunduk diam.


"Apa kamu pernah melihat foto Papa kamu?" tanya Febri.


Naila menggelengkan kepalanya. Karena sejak dulu dia memang tidak pernah mau tau tentang orang tua kandungnya. Sehingga dia tidak pernah ingin mencari tau, apalagi Refan dan Kinan memang tidak pernah membicarakan tentang Papa kandungnya.


Febri mengeluarkan sebuah album foto dari tasnya dan menyerahkan nya kepada Naila. Naila membukanya dan melihat foto Febri yang belum memakai jilbab bersama seorang pria. Naila langsung mengerti kalau pria itu adalah Papa kandungnya.


Pria yang tampan dan gagah, walau kulitnya sedikit lebih gelap dari Papanya Refan.


"Dia pria yang baik, lemah lembut dan tidak pernah bersikap kasar walau memang dia mempunyai sifat yang keras. Dia seorang pria yang pekerja keras. Selama menikah dengan Tante, Papa kamu sangat baik sehingga Tante tidak pernah curiga kalau dia telah mengkhianati Tante. Tante yakin kamu sudah dewasa Naila. Dalam hidup kita akan bertemu dengan sebuah kegagalan. Tidak ada manusia yang terus - terusan beruntung dalam hidupnya. Begitu juga dalam hidup berumah tangga. Akan banyak cobaan dan masalah yang datang yang akan menguji cinta, kasih sayang dan kesabaran. Tante, Refan, Mama dan Papa kandung kamu gagal melaluinya. Saat kami muda, ilmu agama kami sangat dangkal Naila. Hidup kami sangat dekat dengan dunia bebas. Lingkungan sekitar kami sangat mendukung akan hal itu sehingga Papa dan Mama kamu tergelincir dalam perbuatan itu hingga akhirnya kamu lahir. Kegagalan itu sangat banyak memberikan pelajaran kepada Tante. Tante rasa Refan juga merasakan hal yang sama. Kegagalan itu membuat kami belajar untuk hidup lebih baik dan memperkuat ilmu agama sebagai pondasi kehidupan ini. Kami belajar dari kegagalan untuk tidak jatuh pada lobang yang sama seperti Papa dan Mama kandung kamu. Kami mencoba berdamai dengan masa lalu dan Allah memberi pengganti yang lebih baik. Tante harap kamu juga bisa mengambil hikmah dari kisah hidup kami. Jangan pernah melakukan kesalahan seperti Papa dan Mama kamu" ucap Febri.


Air mata Naila mulai mengalir di pipinya.


"Sayaaaang kita tidak bisa merubah masa lalu. Semua sudah terjadi. Apa yang Papa dan Mama kandung kamu alami semua sudah berlalu tidak ada yang perlu kamu sesali. Walau cara mereka salah tapi karena itu kamu lahir. Kehadiran kamu memberikan kebahagiaan bagi Papa. Kamu anak yang sangat Papa nanti - nantikan setelah bertahun - tahun menikah dengan Mama kamu. Jangan pernah merasa diri kamu tak berarti, kamu tak harus dilahirkan dan tak pantas untuk dicintai. Jangan sayaaaang... kamu harus percaya diri, kamu anak yang kuat, cantik dan pintar. Masalah Papa, Tante Febri dengan Papa dan Mama kandung kamu sudah selesai. Kami sudah memaafkan kesalahan mereka. Mereka juga sudah meminta maaf kepada Allah. Serahkan semua kepada Allah sayang. Allah lah yang Maha Adil dan Bijaksana. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Yakinlah Allah sudah memaafkan kedua orang tua kamu. Dan berterimakasih kepada mereka karena mereka kamu lahir kedunia ini. Bagaimana caranya? Kamu harus terus mendoakan mereka. Kamu satu - satunya harapan kedua orang tua kamu sayang. Pintalah pada Allah ampunan untuk kedua orang tua kamu. Setelah itu ikhlaskan semua tatap masa depan kamu. Hidup terus berlalu sayang, jangan menyerah pada masa lalu yang memang tidak akan pernah bisa kita ubah. Papa yakin kamu sangat kuat. Sejak kecil kamu sudah berhasil melalui kerasnya kehidupan ini, jadi masalah yang kamu hadapi sekarang anggap lah sebagai pelajaran hidup. Kelak kamu juga akan menikah, ambil hikmah dalam semua peristiwa ini" sambung Refan.


Febri merangkul bahu Kinan dengan lembut.


"Mengenai kematian Opa dan Oma kamu Papa juga sependapat dengan Tante Febri. Papa kamu tidak berniat untuk membunuh mereka. Opa dan Oma meninggal karena kecelakaan jadi jangan anggap kamu adalah anak dari seorang pembunuh" sambut Refan.


Naila mengangkat wajahnya menatap Refan.


"Papa... " ucapnya.


Refan tersenyum penuh kasih sayang.


"Sudah ya sayaaang... tangis - tangisan dan sedih - sedihannya selesai sampai disini. Papa tidak mau lagi melihat kamu sedih seperti ini. Lagian semua kisah tentang Papa dan Mama kandung kamu sudah kamu ketahui semua. Tidak ada lagi yang Papa sembunyikan. Sekarang saatnya kamu bangkit dan terus berjalan. Masa depan kamu masih panjang jangan terus melihat kebelakang karena itu akan membuat kamu tersandung dan jatuh saat berjalan. Lihat ke depan dan fokus pada masa depan kamu. Papa, Mama, Tante Febri dan semua saudara kamu ingin kamu bahagia. Tidak ada perbedaan kamu dengan mereka. Semuanya anak Papa" ungkap Refan penuh kelembutan.

__ADS_1


Naila langsung memeluk Refan.


"Terimakasih Papa... terimakasih.. aku sangat sayang Papa" ungkap Naila.


"Papa juga sayang kamu" jawab Refan lega.


Naila menatap Febri dan memeluk Febri.


"Tante terimakasih ya, Tante juga orang baik makanya Allah memberi kebahagiaan untuk Tante" ujar Naila.


"Kita semua bahagia dengan jalan hidup kita masing - masing Naila. Sekarang saatnya kamu yang berjalan menuju kebahagiaan kamu" sahut Febri.


Naila menghapus air matanya dan kembali duduk di pinggiran tempat tidur.


"Sekarang kamu gak mau keluar? Ada Om Rendy lho saudaranya Mama kandung kamu. Kamu gak mau berkenalan dengan dia?" tanya Refan.


Naila menganggukkan kepalanya.


"Mau Pa" jawab Naila.


Refan tersenyum penuh kasih sayang.


"Ya sudah yuk kita keluar, semua sudah menunggu kamu dari tadi" sambut Refan.


Refan berjalan di depan sedangkan Febri dan Naila mengikuti dari belakang sambil saling rangkul. Mereka berjalan menuju ruang keluarga.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2